
"Apa, apa pemberian maaf ku bisa mengubah kehidupannya paman? dia akan menuai apa yang dia perbuat Mas," ujar Linda, menanggapi permintaan maaf Romi untuk Pamannya.
"Jika kita memaafkan orang lain, setidaknya, itu adalah perbuatan yang baik dan bisa jadi dicatat sebagai amal. Dan kita bisa saja mendapatkan balasan yang baik, dari perbuatan kita memberikan maaf orang lain."
Linda mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Romi, dan dia juga merasa jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang ada benarnya juga.
"Linda memaafkan paman Mas. Tapi, Linda tidak tahu. Apakah Linda tetap bisa merasa aman atau tidak, jika berhadapan secara langsung dengan nya."
Grep!
Romi memeluk istrinya itu, dengan maksud untuk memberikan penjelasan padanya bahwa, dia akan selalu ada untuk melindungi dirinya dari apapun.
Linda, sebelum belum pernah dipeluk oleh Romi se_erat ini, meskipun sudah menjadi istrinya beberapa minggu ini, merasa kaget. Tapi juga bahagia. Karena saat ini, dia merasakan dada bidang suaminya yang terasa sangat nyaman untuk digunakan sebagai sandaran kepalanya.
Cup cup cup!
Romi mengecup kening istrinya beberapa kali. Memastikan jika istrinya itu mempercayai apa yang dia katakan tadi.
"Aku tidak akan membiarkan Kamu merasakan rasa sakit sendirian Dek. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan sebisaku. Untuk tetap ada di sampingmu, di depanmu untuk melindungi diri mu."
Linda mempererat pelukannya pada saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Romi. Yang terasa menguatkan hatinya.
"Hiks... terima kasih Mas," ucap Linda, disertai isak tangis haru.
Dia merasa terlindungi, saat berada di dalam pelukan hangat suaminya. Dan Romi juga membalasnya dengan kembali memberikan beberapa kecupan di kening dan pucuk kepala istrinya itu.
Cup cup cup!
*****
Di rumah pamannya Romi.
Istri keduanya, yang kebetulan sedang datang untuk menjenguk, merasa sangat terkejut. Di saat melihat wajah suaminya yang berubah merah padam secara tiba-tiba.
Apalagi setelah itu, suaminya itu mengeram seperti suara harimau.
"Hauwww... Hauwww..."
"Mbak, Mbak! ini bapak kenapa?"
Istri keduanya itu langsung berteriak mencari istri pertama, karena dia merasa ketakutan dengan perubahan sikap suaminya itu.
Dia merasa jika, suaminya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Apalagi, keadaannya sepertinya semakin parah.
"Ada apa?" tanya istri keduanya, yang datang dengan tergesa-gesa sambil mengelap kedua tangannya pada daster rumahan yang dikenakan.
Tadi, istri pertama memang sedang berada di dapur, karena istri kedua sedang menunggu suami mereka.
Sekarang, keduanya berusaha untuk menenangkan sang suami, yang seperti orang kesurupan.
Tapi keduanya tidak bisa menahan pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh suaminya. Yang terasa sangat kuat, masih sambil mengeram seperti suara harimau.
Hal ini membuat mereka berdua ketakutan, sehingga mereka berteriak keluar rumah, untuk mencari orang-orang yang berada di luar untuk minta tolong.
__ADS_1
"Tolong... tolong..."
Tak lama kemudian, beberapa orang tetangga, yang kebetulan berada di luar rumah dan mendengar teriakannya berlari menuju ke tempat mereka.
"Ada apa, ada apa?
"Tolong, tolong suamiku!"
"Tolong suamiku!"
Akhirnya, mereka masuk ke dalam rumah untuk menenangkan tetangga mereka yang mirip orang kesurupan.
Tapi ternyata, beberapa laki-laki yang ikut membantu menenangkan, tetap tidak bisa.
Kekuatan pamannya Romi, seakan-akan bertambah kuat. Sama seperti seekor harimau yang sedang marah.
Hal ini membuat mereka semua yakin bahwa, pamannya Romi itu sedang kesurupan. Sehingga ada salah satu dari mereka yang berinisiatif untuk memanggil seorang Kyai.
Akhirnya, atas persetujuan dari kedua istrinya, mereka memanggil seorang Kyai, supaya membantu memberikan penanganan.
Tak lama kemudian, seorang kyai datang dan melihat keadaan pamannya Romi.
Setelah membacakan beberapa doa, pamannya Romi itu sudah tidak lagi melakukan pergerakan yang berbahaya, atau mengamuk. Tapi suara eraman yang mirip suara harimau, masih terdengar.
Bahkan, sampai pamannya Romi itu tertidur, suara dengkurannya, sama seperti suara harimau yang mengaum.
Hal ini tentu saja membuat perhatian orang-orang yang tadi datang menolong. Bahkan kedua istrinya juga merasa heran, dengan sikap dan perilaku suami mereka yang berubah, setelah sakit dan keluar dari rumah sakit.
Mereka berdua, bertanya pada Kyai yang tadi menolong suaminya, "sebenarnya, apa yang terjadi pada suami Saya pak Kyai?"
Dia juga merasa penasaran, dengan sosok harimau yang mengaum tadi.
Pak kyai menghela nafas panjang, sebelum memberikan penjelasan kepada dua wanita, yang menjadi istri dari laki-laki tadi. Dan pada beberapa orang, yang tadi ikut menolong dan masih berada di rumah ini.
"Dia kena tulah nya sendiri."
"Tulah? Apa itu pak Kyai?"
"Tulah itu adalah kemalangan yang disebabkan oleh kutuk, karena perbuatan yang kurang baik, atau karena perbuatan melanggar larangan. Bisa juga diartikan sebagai kwalat, karma, atas kelakuannya yang tidak baik pada orang lain."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Pak kyai, tentu saja tanggapan orang-orang dan kedua istrinya itu juga berbeda-beda.
Istri pertamanya beranggapan bahwa, suaminya menuai perbuatan karena telah menyakitinya selama ini, dengan mencari istri lagi. Bahkan suaminya dianggap lebih memanjakan istri keduanya, dibandingkan dirinya yang sebenarnya istri pertama, dan ikut merasakan masa-masa sulit suaminya.
Sedangkan untuk istri keduanya, beranggapan bahwa, suaminya itu stress karena tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untuk kedua istrinya. Terutama untuk memanjakan dirinya yang masih cantik.
Tapi untuk orang-orang lain, yang merupakan tetangga dan tahu tentang kebenaran tentang perilaku dari pamannya Romi, hanya bisa saling bergumam satu sama lain.
"Iyalah, dia menuai karma. Sombong banget jadi orang!"
"Mentang-mentang orang kaya, suka menjelek-jelekkan orang lain yang dia anggap di bawahnya."
"Orang gak pernah dikasih cobaan sakit, ehhhh... sekali nya sakit, ya seperti itu."
__ADS_1
"Karma di bayar tunai!"
"Wes lah yok pulang!"
Akhirnya, setelah kejadian itu, di sekitar tempat tinggal Pamannya Romi beredar kabar bahwa, pamannya Romi itu telah menuai karma. Ada juga yang menggambarkan bahwa, itu adalah hasil dari ilmu hitam yang dipelajari oleh pamannya Romi. Tapi dia tidak kuat menahan pantangan, sehingga mengakibatkan dirinya seperti itu.
"Ora kuat ngowo ilmune!" ( Tidak kuat membawa ilmu yang dipelajari )
Ilmu di sini, artinya bukanlah ilmu pelajaran, sama seperti yang didapat di sekolah atau sebuah universitas.
Tapi sebuah ilmu batin yang tidak baik, yang diterima melalui beberapa perilaku atau persyaratan yang harus dilaksanakan oleh orang yang menginginkan, supaya bisa mendapatkan ilmu tersebut.
Kebanyakan bisa disamakan seperti sebuah santet atau tenung.
Santet merupakan salah satu bentuk balas dendam seseorang kepada orang lain yang dibencinya. Tenung ialah pengembangan ilmu hitam dari santet serta teluh.
Untuk media yang digunakan sebagai perantaranya, tenung bisa memakai barang hidup ataupun mati buat menyerang sang korban. Metode mengirim ilmu ini umumnya lewat perantara tanah, air dan alat-alat serta barang yang tidak lazim.
Setelah beberapa hari kejadian ini masih terjadi seperti ini terus, akhirnya kedua istrinya sepakat untuk membawa suaminya itu ke rumah sakit jiwa.
Mungkin, secara medis suaminya itu mengalami tekanan batin karena stress, memikirkan banyaknya permasalahan hidup yang tidak bisa dia tanggung.
Apalagi, saat terakhir kejadian yang paling mengejutkan adalah dibawanya kabur uang modal yang dia miliki.
Hal ini membuat suaminya terkejut dan tidak lagi bisa berpikir jernih.
Istri pertamanya, memberitahukan hal ini kepada Romi. Melalui panggilan telpon yang dia lakukan dengan menggunakan ponsel suaminya.
Dia menceritakan tentang keadaan suaminya, yang merupakan pamannya Romi sendiri.
..."Pamanmu sekarang ada di rumah sakit jiwa Rom. Bibi tidak bisa merawatnya sendiri, soalnya dia sering mengamuk kalau kumat. Dan berperilaku aneh. Bahkan suaranya itu seperti suara harimau Rom."...
..."Separah itukah Paman?"...
..."Iya Rom. Kata salah satu kyai yang kami mintai tolong, katanya pamanmu itu kena tulah Rom. Ilmu yang tidak bisa dia emban karena tidak sanggup."...
..."Nanti, jika Romi ada waktu akan Romi sempatkan untuk datang menjenguk paman. Sekarang ini, Romi sedang persiapan pernikahan Romi Bibi."...
..."Iya, tidak apa-apa Rom. Kamu doakan saja, semoga pamanmu itu bisa melewati semua ujian ini."...
..."Pasti Bi, pasti."...
..."Oh iya, maaf ya kalau paman maupun Bibi tidak bisa membantu persiapan pernikahan kamu itu."...
..."Iya Bi. Tidak apa-apa. Bibi jaga diri ya!"...
..."Iya Rom. Maafkan pamanmu ya, jika dia ada banyak salah sama Kamu."...
..."Iya Bi. Romi sudah memaafkan paman sejak dulu. Bagaimanapun, paman adalah orang yang penting bagi Romi, Katena dia adalah pengganti ayahnya Romi."...
..."Hiks hiks, terima kasih ya Rom."...
..."Sama-sama Bi."...
__ADS_1
Klik!
Romi tidak pernah menyangka, jika akhir dari kisah pamannya yang merasa paling kuat, akan berakhir di rumah sakit jiwa.