
Pagi hari, Linda terbangun dari tidurnya. Dia memeriksa handphone miliknya, dan menemukan dua puluh panggilan tidak terjawab, dari kekasihnya, Romi.
"Kak Romi!" seru Linda, yang merasa senang, karena akhirnya Romi menghubungi dirinya lagi.
Meskipun semalam dia tidak bisa mendengar dan menerima panggilan telpon tersebut, tapi setidaknya, Linda tahu, jika Romi masih peduli terhadap dirinya, sebagai seorang kekasih.
Apalagi, saat Linda menemukan pesannya juga di balas oleh Romi.
"Kak Romi..."
Linda memangil nama kekasih hatinya, dengan mendekap handphone tersebut.
Tak lama kemudian, Linda mengetik pesan balasan, untuk Romi.
Dan setelah beberapa saat kemudian, telponnya berdering.
Romi, menelpon dirinya, di pagi hari, saat dia baru saja bangun tidur.
..."Halo Kak Romi. Linda... hiks, Linda..."...
..."Cup cup cup... maaf Dek. Kakak sedang ada masalah di kota besar."...
..."Masalah apa Kak? Kenapa tidak cerita? Linda jadi merasa sangat khawatir Kak. hiks hiks hiks..."...
..."Iya, maaf ya Dek. Kakak hanya tidak ingin membuat Kamu jadi kepikiran."...
..."Kapan Kakak pulang?"...
..."Untuk saat ini, Kakak tidak bisa pulang Dek. Ada pekerjaan, yang Kakak lakukan. Ini juga untuk masa depan kita nanti."...
..."Kak. Ada yang sangat penting. Dan ini berhubungan dengan kita berdua."...
..."Masalah apa Dek?" ...
Akhirnya, Linda menceritakan tentang lamaran, yang diajukan oleh polisi Ferry untuknya.
Linda meminta ketegasan dari hubungan yang ada di antara mereka berdua saat ini.
Romi terdiam sejenak, mendengar cerita Linda.
Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin melepaskan Linda, karena dia sangat mencintai gadis itu.
Tapi, usahanya di kota, juga baru saja dia rilis. Belum tampak hasil yang maksimal.
Romi tidak merasa yakin, jika harus bersaing dengan seorang polisi.
..."Bagaimana Kak?" ...
..."Baiklah. Beri Kakak waktu, untuk berpikir terlebih dahulu." ...
..."Tapi, ibu dan bapak, terus mendesak Linda. Linda tidak mungkin bisa terus-terusan tahan dengan desakan mereka berdua Kak." ...
__ADS_1
..."Kakak akan usahakan untuk pulang besok. Kamu, coba bertahan, dan menyakinkan ibu bapak, untuk hubungan kita ini ya." ...
..."Pasti Kak."...
..."Baiklah. Doakan saja, apa yang Kakak lakukan ini ada hasilnya."...
..."Aamiin. Linda tunggu ya Kak. Jangan lama-lama."...
..."Iya. Sampai ketemu dua hari lagi ya. "...
Klik!
Linda bernafas lega, setelah selesai menceritakan semuanya pada kekasihnya itu.
Dia tidak mau jika, dianggap sebagai seorang gadis, yang asal menerima lamaran. Padahal ada satu hati, yang masih mengikatnya, sebagai seseorang yang sedang diperjuangkan.
Meskipun sebenarnya Linda tidak pernah ada niatan dan hati, untuk menerima polisi Ferry, tapi melihat kebahagiaan yang tampak pada kedua orang tuanya, Londa merasa tidak tega juga.
Karena menurut ibu bapaknya, pekerjaan polisi, menjanjikan untuk kehidupan Linda sendiri di masa depan, daripada Romi, yang tidak jelas, bagaimana pekerjaannya, dan masa depannya sendiri.
Apalagi, Romi juga bekerja di kota besar, yang terkenal dengan ketidakberesan masalah pergaulannya.
Dan Romi, sebagai seorang laki-laki normal, tentu saja, tidak akan bisa tahan, jika harus menjalani kehidupan jarak jauh dengan istrinya nanti.
Karena semua perkataan ibunya itulah, yang membuat Linda sekarang ini menjadi ragu.
Tapi, ketakutan dan rasa was-was yang selalu ada di dalam hatinya Linda sendiri, juga membuat dirinya merasa tidak yakin, jika harus menjalani sebuah hubungan yang normal, layaknya seorang istri pada umumnya.
*****
Senyuman terbit di bibirnya, yang belakangan ini lebih banyak terkantup dan tidak sumringah.
"Tumben Lin. Kamu dapat apa dari polisi Ferry?"
Mbak Tami bertanya kepada Linda, tentang hubungannya dengan polisi Ferry.
Linda memang menceritakan tentang polisi Ferry, pada Mbak Tami. Dia ingin, mendapatkan pandangan lain, dari orang lain juga, yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya sendiri.
Ini bisa menjadi pertimbangan bagi Linda, karena mbak Tami juga tidak mungkin tahu, bagaimana keadaan keluarganya yang sebenarnya saat ini.
"Maksudnya apa Mbak?" tanya Linda, yang merasa bingung sendiri, dengan pertanyaan yang diajukan oleh mbak Tami tadi.
"Itu tumbenan bibir merekah senyum," tutur Mbak Tami, memberikan jawaban.
"Hihihi... Mbak bisa aja."
"Eh, coba tebak Mbak, apa yang sedang Aku rasakan saat ini? di saat bangun tidur pagi tadi."
Mbak Tami tampak berpikir sejenak, sebelum mengatakan apa yang dia lihat sekarang ini, pada dirinya Linda.
"Kamu dapat hadiah ya, dari pak polisi cinta? Hahaha..."
__ADS_1
Tawa mbak Tami bergema, karena merasa jika, tembakkannya tadi salah besar.
Ini karena mbak Tami tahu, jika Linda tidak ada hati dengan polisi Ferry.
"Ihhh... Mbak Tami apa-apaan sih!"
Linda pura-pura kesal, dan marah, atas jawaban yang diberikan oleh mbak Tami barusan.
"Terus apa dong Lin. Mbak nyerah deh!"
Akhirnya, Linda menceritakan tentang apa yang tadi dia bicarakan dengan Romi, melalui panggilan telpon.
"Jadi, Romi sudah menghubungi Kamu lagi?" tanya Mbak Tami, yang memang tahu jika, Romi sudah tidak bisa di hubungi oleh Linda, beberapa hari terakhir ini.
"Iya sudah Mbak."
"Terus-terus, dia gimana tanggapanya?"
Mbak Tami terus bertanya, tentang keputusan yang dikatakan oleh Romi, pada saat Linda menceritakan tentang polisi Ferry, tadi pagi, melalui panggilan telpon.
"Kak Romi akan pulang dari kota besar sore ini. Jadi, dia akan sampai di sini, tengah malam nanti."
"Besok paginya, Kak Romi bisa langsung bertemu dengannya Mbak. Uhhh, Linda sangat senang, karena kak Romi pada akhirnya pulang juga."
Linda terus bercerita pada mbak Tami, bagaimana keadaan hatinya saat ini.
Tapi Linda juga menceritakan tentang kebingungannya sendiri, soal lamaran dan caranya menolak polisi Ferry, tanpa harus menyingung perasaan polisi tersebut.
"Bagaimana ya Lin. Mbak juga bingung bagaimana harus bersikap dan memutuskan, jika ada pada posisi Kamu saat ini."
Mbak Tami tidak bisa membantu Linda, untuk bisa menghadapi dan memutuskan yang terbaik, bagi kehidupannya sendiri ke depan nantinya.
Apalagi sekarang ini, polisi Ferry terus menerus datang ke rumah Linda, dengan selalu membawa barang-barang dan makanan untu keluarganya.
Polisi Ferry juga terus berusaha, untuk bisa mendapatkan perhatian dan hatinya Linda, dengan memberinya hadiah-hadiah menarik, untuk dipakai oleh seorang wanita.
Linda jadi merasa tersanjung, dengan apa yang dilakukan oleh polisi Ferry untuknya.
Linda mulai goyah, meskipun dia masih tetap berharap, agar Romi bisa secepatnya datang, dan melamarnya juga.
*****
Sayangnya, di kota besar, Romi sedang mendapatkan masalah.
Beberapa pekerjaan yang dia lakukan, tidak bisa dia lakukan dengan cara yang baik dan benar, sama seperti biasanya.
Mungkin, Romi juga kepikiran tentang kekasihnya, yang saat ini sedang dalam keadaan bingung.
Romi jadi ikut-ikutan bingung, dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Dan Romi, tidak mungkin bisa pulang ke kampung, sama seperti yang dia janjikan pada Linda. Karena perbaikan pada pekerjaannya yang dia kerjakan ini, tidak bisa terselesaikan dengan waktu yang singkat.
__ADS_1