
Seminggu sudah Linda dan Ferry bekerja dengan bidang yang berbeda.
Linda bekerja di perusahaan multi internasional. Sedangkan suaminya, Ferry, membuka usahanya sendiri, sebagai penjual segala sesuatu, yang berhubungan dengan padi serta beras.
Karena Ferry yang bekerja juga lumayan Free, untuk aturan dan sebagainya, dia bisa membawa anaknya serta.
Jadi, Erli tidak harus dititipkan di rumah ibunya Linda. Meskipun yang menjaga Erli adalah bapaknya, dan bukan ibunya.
Tapi Ferry tidak mau jika, itu terjadi secara terus menerus. Karena itu akan membuat bapaknya repot juga.
Apalagi omongan orang-orang dan juga ibu mertuanya, ibunya Linda sendiri.
Meskipun sebenarnya Linda merasa khawatir juga, jika Erli harus ikut bersama dengan suaminya di pengilingan padi. Karena banyaknya tumpukan karung padi dan beras, yang ada di sana.
Linda merasa takut jika, anaknya itu akan jatuh atau tertimpa timbunan karung.
"Hati-hati jaga Erli Mas. Dia kan sedang aktif-aktifnya. Gak bisa diem dalam waktu yang lama."
Linda hanya bisa memberikan pesan dan nasehat pada suaminya, Ferry.
"Iya Dek. Mas juga hati-hati kok. Di pengilingan padi, ada beberapa bakul beras, yang baik-baik juga."
Bakul adalah kata lain untuk penjual di daerah Linda.
Tapi sepertinya Linda tetap merasa khawatir. Sehingga setiap hari, di saat suaminya itu mengantar dirinya pergi bekerja, dia akan memberinya pesan dan nasehat yang sama.
Sebenarnya, Ferry sudah meminta pada Linda supaya berhenti dari pekerjaannya di pabrik.
Ferry merasa jika, dia mampu memberikan keuangan yang stabil lagi.
Tapi Linda tidak mau. Dia merasa jika, belum saatnya dia berhenti dari pekerjaannya itu. Apalagi, dia juga ada ketakutan sendiri, jika semuanya akan kembali lagi seperti dulu. Di saat dia hanya berada di rumah saja, dan tidak menghasilkan uang.
"Kita bekerja untuk masa depan Erli Mas. Jadi, kita tabung saja gajinya Linda, jika keperluan rumah sudah dipenuhi oleh mas Ferry."
Begitulah jawaban yang diberikan oleh Linda, saat suaminya memintanya untuk berhenti kerja.
Linda tidak ingin mengalami hal yang sama, seperti saat dia hanya tergantung saja dari pemberian suaminya itu.
Dan Ferry, tidak lagi mau mendesak istrinya itu, agar berada di rumah saja.
*****
Di perusahaan.
Linda yang sudah bekerja selama seminggu ini, tentu saja sudah banyak belajar tentang cara kerja yang seharusnya dia lakukan.
__ADS_1
Kelompok yang dipimpin oleh Linda, ada dua puluh lima orang. Dan mereka, tidak hanya berasal dari daerahnya Linda.
Ada beberapa orang yang berasal dari suku Sunda di Jawa Barat. Ada juga yang dari luar Jawa, dengan logatnya yang khas. Bahkan, Linda kandang-kandang tidak paham, dengan perkataan mereka.
Kebanyakan mereka adalah orang-orang rantau, yang tadinya ada di kota besar, seperti Jakarta.
Karena sebenarnya, perusahaan ini memang dari Jakarta, sebagai pusat ekonomi, bisnis dan industri juga.
"Kok pindah ke daerah? Kan di sini termasuk daerah yang kecil dan jauh dari pelabuhan ataupun bandara."
Linda pernah bertanya pada salah satu dari anak buahnya, yang sudah berpengalaman dan pernah bekerja di beberapa perusahaan di kota besar sana.
Jawaban yang diberikan oleh orang yang ditanyai oleh Linda, membuat Linda akhirnya tahu juga, alasan kenapa sekarang ini, banyak perusahaan multi internasional yang berdiri dan di bangun di daerahnya.
Padahal daerah tempat Linda berasal, termasuk daerah yang lumayan kecil dan memang terpencil juga.
Sangat berbeda dengan sejarah yang ada. Yang mengatakan bahwa, daerahnya ini adalah sebuah kerajaan, yang dulunya adalah pusat perdagangan di Nusantara masa lalu. Pada jaman sebelum adanya bangsa barat yang menjajah Indonesia.
Namun, seiring berjalannya waktu dan sejarah. Daerah Linda justru terbalik menjadi daerah yang jauh dari kata maju.
Tapi sepertinya sekarang ini, daerah Linda sudah mulai kembali maju, dengan menjadi pusat kegiatan industri.
Karena tidak hanya satu perusahaan besar yang di bangun di daerahnya. Tapi ada beberapa perusahaan, dengan bermacam-macam jenis produksi yang dihasilkan.
Pak Komarudin memanggil Linda, dari tempatnya berdiri. Di depan pintu masuk, ruangan yang menjadi tempat kerjanya Linda.
"Ya Pak!"
Linda menyahuti panggilan tersebut, dengan berdiri dari tempat duduknya.
Namun, pada saat Linda berjalan menuju ke tempat pak Komarudin berada, ternyata bukan hanya ada pak Komarudin saja di sana.
Tapi, ada satu orang lagi, yang berdiri di samping pak asisten manager nya itu.
Tapi, dari wajah orang tersebut, dia juga bukan dari daerahnya Linda. Bahkan, bukan juga dari daerah Jawa.
"Linda. Ini adalah pak Rudi. Dia adalah manager di gedung ini. Kamu kan belum pernah ketemu dengan beliau. Soalnya, baru pulang dari tugasnya di Jakarta kemarin itu."
Akhirnya Linda tahu, siapa orang yang datang bersama dengan pak Komarudin.
Memang benar yang dikatakan oleh pak Komarudin. Bahwa Linda seminggu ini tentu saja, tidak pernah bertemu dengan manager gedung.
Dan karena dia adalah karyawan dan leader baru, tentu saja, harus tahu siapa manager gedung yang sebenarnya. Karena manager itulah, pemimpin yang paling tinggi, di gedungnya itu.
"Melinda. Biasa dipanggil Linda."
__ADS_1
Linda mengulurkan tangannya, untuk berkenalan dengan pak Rudi.
Pak Rudi juga mengulurkan tangannya, untuk menyambut tangan Linda yang terulur untuknya. Mereka berdua berkenalan.
"Panggil saja aku Pak Rudi."
Dengan menganggukkan kepalanya, pak Rudi juga memperkenalkan dirinya sendiri pada Linda.
Tak lama kemudian, pak Rudi dan pak Komarudin, pamit pada Linda.
"Mari Mbak Linda. Silahkan dilanjutkan pekerjaannya. Yang rapi dan target ya!"
Linda hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Pak managernya itu.
*****
Di ruangan Pak manager.
"Dia baru dan belum berpengalaman dalam bidang ini. Kenapa Pak Komar langsung memintanya untuk menjadi leader? bagaimana jika dia tidak bisa target dan sesuai dengan pekerjaan yang seharusnya?"
Pak Rudi meminta penjelasan dari asistennya itu, karena dia memang tidak ada di tempat, pada saat Linda masuk dan diangkat oleh pak Komarudin.
"Saya yakin dia bisa Pak. Dan apa Pak Rudi tidak tertarik dengan Linda?" pak Komarudin justru balik bertanya pada atasannya itu.
"Hahaha... Kamu mendapatkan mangsa baru? tapi sepertinya Kamu belum pernah mencobanya."
Mereka berdua, saling bicara soal Linda. Tapi bukan masalah pekerjaan. Dan itu adalah perbincangan antara dua orang dewasa, dengan semua kebiasaan mereka.
"Tapi hati-hati Pak. Dia sudah berkeluarga. Dan dia juga orang asli daerah sini."
Pak Rudi mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh asistennya.
Tapi, sepertinya dia memang tertarik pada Linda, saat pertama kali melihatnya tadi.
Meskipun sebenarnya, tadi dia berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya di depan Linda.
Pak Rudi tidak mau jika, Linda menilainya sebagai seorang laki-laki buaya, yang suka tebar pesona di awal perkenalan.
"Atur supaya dia tidak bisa pergi dari pekerjaannya ini. Jika ada kesempatan, buat dia ada di dekatku."
Pak Rudi akhirnya memberikan instruksi kepada pak Komarudin, untuk posisi pekerjaan Linda.
Dia ingin segera menjadi orang pertama Linda di perusahaan ini. Sebelum ada laki-laki lain yang mendekati bule daerahnya ini, yang tentunya terkenal dengan kecantikannya.
Dan Linda, tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri, kedepannya nanti.
__ADS_1