
Di dalam kamarnya, Linda tidak bisa tidur dengan nyaman dan cepat.
Dia memikirkan banyak hal, terutama tentang kedatangan Romi dan juga dokter Khan An. Yang kedatangan kedunya berbarengan malam ini.
Jika untuk kedatangan Romi, Linda sudah tahu maksud dari kedatangan kakak iparnya Danang itu. Tapi untuk dokter Khan An sendiri, Linda belum tahu apa maksudnya.
Apakah benar hanya ingin melihat keadaan Linda saja, atau memang kebetulan lewat jalan yang terdekat dengan rumahnya Linda.
"Hhh..."
Linda menghela nafas panjang, kemudian memejamkan matanya dalam jangka waktu yang lumayan lama.
Setelahnya, Linda membuka matanya lagi sambil mengusap wajahnya.
"Aku berharap semua akan baik-baik saja kedepannya nanti. Aku tidak mau jika ada persaingan cinta antara Kak Romi dan dokter Khan An. Ini akan mengulang sejarah di masa lalu," gumam Linda, yang sepertinya sudah tahu maksud dari dokter Khan An padanya.
Mungkin saja, sekarang ini Linda sudah bisa membedakan, antara laki-laki yang menyukainya dan tidak.
Jadi dia bisa tahu maksud dari kedatangan dokter Khan An. Meskipun sebenarnya dia juga tidak mau berbesar hati dan berbangga diri. Hanya karena mendapatkan perhatian dari seorang dokter muda.
Linda justru merasa takut, jika harus berhubungan dengan seorang dokter.
Dia berpikir bahwa seorang dokter, bisa pastilah dari latar belakang orang yang lebih kaya, dibandingkan orang-orang pada umumnya.
Dan orang tua dari dokter, pastilah menginginkan anaknya yang sudah menjadi dokter itu, mendapatkan istri atau pendamping hidup yang lebih baik, cantik dan tentunya juga punya titel. Setidaknya, titelnya itu juga harus sepadan dengan anaknya yang seorang dokter.
Bukan hanya sekedar cantik seperti Linda, yang sudah berstatus sebagai janda dan juga punya anak satu. Bahkan, pekerjaan Linda hanya sebagai buruh pabrik.
Tentu saja, Linda tidak sepadan dengan dokter Khan An.
Akhirnya, Linda menggelengkan kepalanya beberapa kali. Untuk mengusir bayangan tentang dokter Khan An.
Sekarang Linda memikirkan tentang Romi. Karena pada kenyataannya, Romi juga sudah menjadi seorang duda. Meskipun sebenarnya status Romi adalah duda cerai.
Tapi setidaknya, Linda sudah tahu bagaimana sifat dan karakter dari Romi. Yang meskipun seorang duda cerai, tapi terpaksa harus bercerai karena istrinya yang pergi meninggalkannya untuk pergi bersama dengan mantan kekasihnya.
"Hhh..."
Linda kembali menghilang napas panjang mengingat nasibnya Romi, yang merupakan mantan kekasihnya di masa lalu.
Nasib keduanya, baik Linda maupun Romi, hampir sama dengan lagu almarhum Didi kempot, yang mengisahkan tentang seorang janda dengan duda.
🎶🎶🎶
Deg-degan dik..dik…
Deg-degan dik..dik…
__ADS_1
Deg-degan, jantungku deg-degan
Nalikane aku krungu kabare
Ora nyono aku ora nglegewo
Opo bener sliramu uwis pisahan
Tratapan mas..mas…
Tratapan mas..mas…
Tratapan, jantungku tratapan
Ora ngiro kepanggih kalih sampeyan
Tak kiro sampenyan isih bujang
Alah jebulane sampeyan dudo anyaran
🎶🎶🎶
Meskipun kisahnya Linda pisah karena suaminya telah meninggal dunia, bukan berpisah karena cerai.
Setelah melamun cukup lama, akhirnya Linda mengantuk juga. Dia mulai berpindah dari posisi yang tadi duduk tegak ditengah-tengah tempat tidur, Juni kini dia menyandarkan punggungnya dengan tumpukan bantal di kepala ranjang.
*****
Di rumahnya Romi.
Romi masih melihat acara televisi, meskipun dia tidak tahu, acara apa itu. Sebab, pikiran dan perasaannya sedang tidak berada di tempat yang lain.
Dia melamun tentang kejadian yang tadi, di saat dia datang ke rumah lindt,a yang tak lama kemudian datanglah dokter Khan An.
"Dokter Khan An tadi, sebenarnya ingin mendatangi Linda secara khusus kan? bukan karena dia ingin melihat keadaannya Linda, pasca terapi?"
Romi tahu, bagaimana tatapan mata dokter Khan An, saat menatap Linda tanpa berkedip.
Saat itu, Romi memergoki sendiri. Bagaimana dokter itu menatap Linda, yang selalu menundukkan kepalanya saat bicara.
Ingin rasanya Romi memukul wajah dokter tersebut. Karena melihat Linda, yang memang selalu tampak mempesona. Meski tanpa menggunakan make up apapun.
"Hhh... dek Linda. Apa iya, Aku harus mengalah lagi pada dokter itu, setelah Aku mengalah pada almarhum suamimu?"
Romi tidak tahu lagi, bagaimana nasib cintanya pada Linda. Yang dulunya pernah kandas, karena Linda yang memilih Ferry. Dan sekarang, setelah Ferry meninggal dunia, Linda menjadi janda.
Sedangkan dia sendiri juga sudah berstatus sebagai duda cerai. Membuat mereka berdua sebenarnya memiliki status yang sama, dan kebebasan dalam memilih pasangan untuk kedepannya nanti.
__ADS_1
Tapi Romi sendiri tidak bisa meyakini, bahwa Linda bukan menerimanya dengan mudah.
Pasti akan ada banyak pertimbangan yang dilakukan oleh Linda. Karena Linda termasuk orang yang sangat berhati-hati, apalagi dengan statusnya yang sekarang, dan tanggung jawab anaknya di kehidupannya saat ini.
Romi hanya berharap bahwa, Linda masih memberinya kesempatan untuk ada di dalam hatinya. Sehingga janda cantik itu masih mempertimbangkan dirinya, untuk bisa diterima dalam bagian hidup Linda bersama dengan Erli.
*****
Di rumah pamannya Romi.
Istri keduanya marah-marah karena suaminya pulang dalam keadaan kusut.
Kusut di sini artinya bukan karena pakaiannya yang berantakan. Tapi masalah yang dia bawa pulang ke rumah.
Sebab, suaminya itu harus membayar denda kepada pemilik warung makan Lamongan, yang jumlahnya cukup besar. Di tambah lagi dengan memberikan ganti rugi pada orang yang sudah dia pukuli.
Dan uang yang digunakan oleh suaminya untuk membayar denda tersebut, adalah uang yang seharusnya diberikan padanya. Atas permintaannya yang kemarin, untuk membeli perhiasan yang dia inginkan.
"Pak, Pak. Bagaimana sih kok bisa apes begitu!" keluh sang istri pada suaminya.
"Ah sudahlah Bu. Besok-besok bapak ganti uangnya. Tapi sekarang tidak ada, sudah Aku bayarkan semuanya."
"Hihhh... tapi temanku itu butuh uangnya besok Pak! kalau tidak Ibu kasih uangnya, dia akan menjual emasnya itu ke toko. Ibu gak bisa dapet dong Pak!"
Istri keduanya itu masih menggerutu dengan kesal. Karena keinginannya kali ini tidak bisa dituruti.
"Kalau begitu, Bapak gak usah kawin lagi! Ibu pokoknya gak ijinkan. Ibu gak setuju!" Mendengar ocehan istrinya itu, Pamannya Romi menutup kedua telinganya.
Dia sedang tidak ingin berdebat, karena sudah merasa pusing.
Semua rencana yang sudah disusun untuk malam ini gagal total. Bahkan, dia harus membayar ganti rugi yang sangat banyak.
Meskipun dia tidak akan pernah bangkrut, hanya karena mengeluarkan uang sebanyak itu. Sayangnya, istri keduanya ini mengomel sepanjang malam. Membuat dirinya ingin pergi dari rumah ini.
Tapi dia juga tidak mau pergi ke rumah istri pertamanya, sebab jika itu terjadi, dan dia dalam keadaan marah, maka anak-anaknya yang sudah semakin besar, akan membela Ibu mereka. Justru dia yang akan di marahi oleh anak-anaknya itu.
"Pokoknya, ibu setuju atau tidak, Bapak akan kawin lagi. Titik!"
Mendengar perkataan suaminya yang sudah mulai tegas, istrinya itu akhirnya terdiam. Dia tidak mau melawannya lagi karena itu memang percuma.
"Serah Bapak. Yang penting, jatah bulanan Ibu tambah lagi!"
Mendengar persyaratan yang sekarang diberikan oleh istrinya itu, membuat Pamannya romi menyingunkan senyuman miring.
"Halah, ujung-ujungnya duit juga! Tenang saja lah Bu. Bapak masih kasih tambahan uang bulanan. Tapi setelah bapak sudah kawin lagi." terang suaminya itu, dengan membusungkan dadanya.
Dia merasa bahwa, nantinya, Linda juga akan dengan mudah dikendalikan. Hanya dengan diberikan banyak yang setiap bulannya, sama seperti istri keduanya ini.
__ADS_1
Jadi di luar sana, dia juga masih bisa bebas dan tetap sama seperti biasanya. Bahkan, sama seperti orang yang tidak punya istri dan tanggungan apapun di rumah.