Tante Melinda

Tante Melinda
Permintaan Maaf


__ADS_3

Dua minggu sudah Romi menjadi seorang suami untuk Linda.


Dia, belum pernah menyentuh linda sebagaimana mestinya. Karena dia memang fokus untuk penyembuhan Linda terlebih dahulu. Dan ini juga saran dari Pak kyai.


Meskipun sebenarnya, Pak kyai juga sudah memberikan penjelasan pada romi seandainya, dia tidak bisa menahan diri, sudah diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami istri. Tetapi setelah melakukan doa-doa, yang memang selalu dilakukan bersama-sama.


Pak kyai di rumahnya sendiri, sedangkan Romi dan Linda, juga di rumahnya sendiri.


Untuk itu, Romi tidak bisa pergi ke kota besar terlebih dahulu. Apalagi, dia juga sedang melakukan persiapan untuk acara pernikahannya secara negara. Untuk meresmikan hubungannya dengan Linda. Meskipun sebenarnya mereka berdua sudah menjadi sepasang suami istri secara agama.


Romi mengurus surat-surat, sebagai pelengkap untuk persyaratan yang seharusnya.


Misalnya saja untuk surat pengantar nikah dari desa atau kelurahan tempat tinggalnya. Fotokopi Akta Kelahirannya juga, ini berlaku untuk masing-masing calon pengantin. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) masing-masing calon pengantin dan masing-masing orang tua atau wali. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) masing-masing calon pengantin.


Karena Romi sudah tidak punya orang tua, dia hanya menggunakan akta kematian dari kedua orang tuanya.


Pesta pernikahan yang akan diselenggarakan mereka, tidak besar dan mewah.


Mereka berdua hanya akan angela resepsi secara sederhana saja.


Resepsi pernikahan adalah suatu pesta yang diadakan setelah pelaksanaan upacara pernikahan secara agama dilangsungkan. Jadi, seharusnya kemarin, sewaktu ada di rumah Pak kyai.


Tapi di sana sudah ada makan-makan atau acara walinahan, yang bisa artikan sebagai sebuah pesta setelah akad nikah.


Sebenarnya, Resepsi memegang peranan yang cukup penting, karena disinilah pihak keluarga pengantin pria dan wanita dapat membangun hubungan yang lebih erat.


Tapi, pernikahan tanpa resepsi tetap saja merupakan suatu pernikahan. Dalam Islam, sebuah akad nikah dikatakan sah jika telah memiliki syarat-syarat yang telah dipenuhi oleh para pihak yang terlibat dalam suatu pernikahan.


Apalagi, pihak keluarga dari pihak mempelai wanita yang seharusnya menanggung biaya resepsi pernikahan. Sementara pihak pria hanya memberi uang seserahan saja.


Uang seserahan tersebut bisa digunakan pihak wanita untuk tambahan biaya pesta pernikahan. Sumbangan yang diterima dari para tamu, tentu saja menjadi hak keluarga pengantin wanita.


Jadi, Romi dan Linda, atas persetujuan kedua orang tuanya Linda juga, mereka akan mengadakan pesta resepsi sederhana. Yang hanya melibatkan keluarga dekat dan para tetangga saja.


Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat sekitar bahwa, mereka berdua memang sudah sah menjadi suami istri.

__ADS_1


Apalagi, kematian Ferry belum genap satu tahun. Dan keadaan dan kondisi Linda, juga belum benar-benar sehat. Sebab, dia belum bisa berjalan secara normal.


Itulah sebabnya, mereka berdua memilih tema sederhana ini. Untuk meresmikan hubungan mereka sebagai anggota keluarga yang baru saja mereka bangun.


"Nanti, Kamu sama Erli ikut Kakak hidup di kota ya Dek," pinta Romi, di saat mereka berdua sedang duduk di ruang tamu. Setelah Linda berlatih berjalan.


Linda tidak langsung menjawab ajakan suaminya tersebut. Dia memikirkan banyak hal sebelum membuat keputusan.


Dia ingin bisa hidup bersama suaminya, dan juga anaknya. Dan ini sudah pasti menjadi prioritas utama dari Romi.


Linda juga ingin menghindari Pamannya Romi, agar dia tidak sering bertemu. Seandainya berada di rumah sendiri, dan tidak ada Romi yang bersama dengannya.


Tapi dia juga masih memikirkan pekerjaannya di pabrik, yang sementara ini ditinggalkan.


"Apa Kak Romi tidak merasa keberatan menanggung biaya kehidupanku dan juga Erli?" tanya Linda, memastikan keraguan dirinya pada Romi.


Romi mengambil kedua tangan Linda, kemudian digenggamnya sambil diremas-remas pelan.


"Dek. Jika Aku tidak siap untuk menghidupi keluarga, Aku tidak mungkin siap untuk menikah lagi." Terang Romi, memberikan penjelasan kepada istrinya.


Tapi Linda hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin dia merasa takut jika, Erli dan dirinya akan menjadi beban untuk Romi kedepannya nanti. Apalagi, Erli hanya anak tiri bagi Romi.


"Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Kakak tidak pernah membedakan Erli, yang bukan darah daging ku sendiri. Tapi aku menyayanginya, sebagaimana Kamu juga menyayangi dia."


Linda menangis haru, mendengar pernyataan yang dibuat oleh Romi saat ini. Sekarang, dia ikut meremas jemari Romi, sambil mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih Kak. Semoga saja, Kakak akan selalu menyayangiku dan juga menyayangi Erli, sama seperti Kakak menyayangi anak-anak kita nanti."


Linda, yang belum terbiasa memanggil Mas untuk sebutan Romi, kadangkala masih menyebutnya dengan sebutan Kakak.


Tapi itu tidak menjadi soal bagi Romi sendiri. Sebab, Linda sudah bersikap normal atau sebagaimana biasanya saja, dia sudah sangat senang. Tidak seperti kemarin-kemarin, di saat Linda yang seperti orang linglung atau hilang ingatan.


Kini, keduanya sama-sama tersenyum dengan saling berpegangan tangan. Untuk saling memberikan dukungan dan kepercayaan diri pada masing-masing.


"Oh ya Dek. Sebenarnya, Mas mau bicarakan soal ini dari kemarin-kemarin. Tapi, Mas ragu, jika Kamu bisa menerimanya dengan lapang dada." Romi mau membahas tentang pamannya pada Linda.

__ADS_1


"Soal apa Mas?"


"Ini, ini tentang Paman."


"Tapi, ini tidak ada kaitannya dengan perasaan Paman sama Kamu Dek."


Romi dengan cepat meralat maksud dari perkataannya, supaya Linda tidak sama paham padanya. Yang akan membahas mengenai pamannya, yang saat ini masih belum stabil emosinya.


Akhirnya, wajah Linda yang tadi lihat pegang berangsur-angsur membaik.


Romi, perlahan-lahan mulai menceritakan tentang keadaan pamannya. Yang saat ini seperti sedang mendapatkan sebuah tekanan. Sehingga emosinya tidak stabil.


Menurut penuturan bibinya, pamannya itu kadangkala marah-marah tidak jelas. Bahkan, kadang kala meminum habis semua obat yang berada di atas meja.


Jadi, pamannya itu sekarang ini mendapatkan pengawasan yang ekstra ketat dari istrinya. Untungnya, istri keduanya kadang-kadang datang untuk menjenguk dan ikut merawatnya juga. Meskipun tidak terlalu sering, sebab memang berbeda rumah.


Tapi, keadaan ekonomi keluarga pamannya, sekarang ini sedang morat-marit.


Selain pamannya yang sudah tidak bisa melakukan pekerjaan lagi, karena ketidak stabilan emosinya juga, modal yang dulu pernah dia memiliki, juga sudah habis di bawah lari oleh temannya yang ternyata seorang penipu.


Jika menurut medis, penyakit Pamannya ini adalah tekanan batin. Karena pamannya itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah jatuh bangkrut.


Padahal jika ditelusuri lebih jauh, semua yang terjadi pada pamannya saat ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.


Terutama pada Linda, yang ingin di guna-guna. Sebab keinginannya untuk bisa menjadikan Linda sebagai istrinya gagal.


Linda mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu dengan wajah yang sangat serius. Dia tidak pernah menyangka jika, pamannya Romi melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya.


"Itulah makanya Dek. Mas secepatnya melamar mu. Sayangnya, waktu Mas mau ngajak Kamu langsung nikah, Kamu nya gak mau. Sebab masih menunggu satu tahun lagi. Tapi ternyata, takdir berkehendak lain. Sekarang kita sudah menjadi suami istri."


"Mas harap, apapun yang terjadi, kedepannya Kamu harus bicara sama Aku."


Linda menangis haru, mendengarkan semua permintaan suaminya ini. Dia benar-benar merasa sangat bahagia, dengan keputusannya untuk menerima Romi menjadi suaminya.


"Kamu, Kamu mau kan, memaafkan paman?" tanya Romi, dengan hati-hati.

__ADS_1


Dia kembali bertanya pada istrinya, berharap supaya maaf dari Linda nanti, bisa sedikit memberikan keringanan untuk pamannya.


__ADS_2