Tante Melinda

Tante Melinda
Ada Apa?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke arah kamar yang sudah disebutkan tadi, Linda terus mendengarkan perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi.


'*Apa ini juga, yang kemarin sudah dipesankan oleh pak Komarudin padaku. Aku diminta untuk berhati-hati, dan waspada.'


'Jika hanya dengan pak Rudi saja, Aku masih bisa bersikap seperti biasanya. Sama seperti jika sedang bersama pak Komarudin. Tapi jika dia mengundang manager lain, itu yang Aku takutkan.'


'Karena bisa jadi, manager-manager itu ada yang mempunyai kelainan dalam bercinta. Untungnya, pak Rudi bukan orang yang seperti itu. Punya kelainan untuk bermain kasar atau menyakiti pasangannya terlebih dahulu*.'


Linda berjalan dengan melamun. Sehingga dia tidak tahu jika, dia sudah melewati pintu kamar yang diberikan untuknya.


"Lin. Kamu dapat kamar nomor berapa?"


Pak Rudi menegur Linda yang masih terus berjalan. Karena ini sudah di ujung lorong.


Linda segera sadar. Dia melihat sekeliling, dan melihat nomor yang ada di kertas. Yang saat ini ada di genggaman tangannya.


"Nomer sebelas Pak," ucap Linda, memberitahu nomor kamar yang harus dia tempati.


"Sudah lewat Lin. Kamu melamun ya?" tebak pak Rudi dengan tepat.


Linda meringis karena merasa jika, pak Rudi tau apa yang sedang dia pikirkan. "Emhhh... bukan begitu Pak. Tadi, Saya tidak melihat nomor sebelas," elak Linda memberikan alasan.


Tapi karena pak Rudi adalah orang yang berpengalaman, tentu saja dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Linda.


"Ayo. Ini sudah kamar lima belas. Dan kamu lihat, itu sudah di ujung!"


Pak Rudi menunjuk ke belakang Linda, yang memang tidak ada jalan lagi. Sudah buntu, berupa dinding dengan cara fentilasi di atasnya.


Dengan menghela nafas panjang, Akhirnya Linda kembali berjalan berbalik arah.


Di lorong ini, sudah tampak sepi. Mungkin, orang-orang sudah pada masuk ke kamar mereka masing-masing.


Pintu yang berderet, ternyata saling berhadap-hadapan juga. Dan masing-masing nomor, juga sesuai dengan urutan pintu tersebut.


Yang nomor genap, ada di sebelah kanan. Sedangkan untuk nomer yang ganjil, ada di sebelah kiri.


Linda melihat angka sebelas di sebuah pintu kamar. Itu artinya, dia sudah sampai di kamar yang dia tuju.


"Saya masuk dulu Pak," pamit Linda, pada pak Rudi yang sedari tadi menemani dirinya mencari kamar ini.


"Iya silahkan. Jika perlu sesuatu, Kamu bisa datang langsung ke kamar nomor delapan. Itu kamarku," sahut pak Rudi memberitahu Linda.

__ADS_1


Dia langsung berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.


Sedangkan Linda, masih mematung di tempatnya berdiri tadi. Yaitu di depan pintu kamar nomor sebelas. Hingga pak Rudi membuka pintu dan bermaksud untuk masuk.


Di saat pak Rudi tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Linda, disitulah Linda tersadar dari lamunannya.


Buru-buru Linda masuk ke dalam kamar yang ada di depannya. Dan ternyata, pintu kamar tersebut tidak dalam keadaan terkunci. Di dalam kamar tersebut, juga sudah ada tiga orang leader yang lain. Yang memang mendapatkan kamar yang sama dengan dirinya.


"Hai... Maaf Saya terlambat," sapa Linda, dengan mengucapkan permintaan maafnya.


"Oh gak apa-apa. Kamu Linda kan?"


"Oh, ternyata yang satunya si bule ini."


"Wah, kita dapat teman yang cantik banget ini!"


Linda tidak tahu jika, namanya itu sudah di kenal oleh banyak orang. Dengan ciri-ciri dirinya, yang tentu saja berbeda dari orang lain.


Dengan tersenyum tipis, Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan mereka. Dia dipersilahkan untuk menata pakaian yang dia bawa, ke dalam almari pakaian yang tersedia di kamar tersebut.


"Itu sudah ada sekat-sekat di almari. Dan itu yang masih kosong di isi saja. Pakaian kami sudah masuk semua kok," kata salah satu dari mereka bertiga.


"Oh iya, terima kasih Mbak."


Linda membuka tas miliknya, kemudahan mengeluarkan pakaian-pakaian miliknya. Setelah itu, dia menata semua pakaiannya itu ke dalam almari yang memang disediakan untuknya.


Sesekali, Linda menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mereka juga.


"Mbak Linda pacarnya pak Komarudin atau pak Rudi?"


Mendapatkan pertanyaan yang tidak pernah terduga itu, membuat Linda menoleh cepat. Dia tidak tahu, siapa dari mereka bertiga yang tadi bertanya kepada dirinya.


"Oh ya Mbak, Aku Susi."


"Aku Mila mbak Linda."


"Kalau Aku Sri Mbak Linda."


Ketiganya bersama-sama memperkenalkan dirinya sendiri, kepada Linda. Meskipun Linda tidak bertanya, tentu saja mereka akan terus berinteraksi satu sama lain selama satu minggu ke depan nanti.


"Oh iya. Maaf sampai kelupaan memperkenalkan diri tadi." Linda merasa tidak enak hati, lupa memperkenalkan dirinya sendiri pada, mereka bertiga, yang lebih dulu ada di kamar ini.

__ADS_1


"Hahaha... tidak apa-apa Mbak. Santai aja!"


"Woles Mbak Linda. Kami juga udah kenal sama Mbak Linda kok."


"Kami ini aja yang emang gak terkenal. Hahaha..."


Mereka bertiga, justru tertawa senang, dengan gurauan mereka sendiri.


"Maaf ya mbak Linda. Kami ini ya... emang seperti ini. Cuma bercanda aja kok!" kata salah satu dari mereka, agar Linda tidak salah paham dengan perkataan mereka tadi.


"Hehehe... iya Mbak. Gak apa-apa," sahut Linda dengan bibirnya yang tersenyum lebar.


"Oh ya, tadi pertanyaan kami belum Mbak Linda jawab lho!"


Salah satu dari mereka bertiga, memperingatkan Linda lagi, tentang pertanyaan yang belum di jawab oleh Linda.


"Yang mana?" tanya Linda pura-pura tidak mendengar pertanyaan yang mereka ajukan.


Dia juga tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan tersebut.


"Itu lho Mbah. Sebenarnya, mbak Linda ini pacarnya pak Komarudin atau pak Rudi?" tanya salah satu dari mereka, yang mengulang kembali pertanyaan yang tadi diajukan.


Meskipun Linda sendiri tidak merasa yakin bahwa, orang tersebutlah yang tadi bertanya kepadanya.


Karena yang bertanya pada saat ini adalah Mbak Susi. Sedangkan suara orang yang pertama bertanya, mirip dengan suara mbak Sri. Tapi juga mirip dengan suaranya mbak Mila.


"Emhhh... memang ada apa ya Mbak? Kok tanya seperti itu.


Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Linda justru balik bertanya pada Mbak Susi. Dia ingin tahu, apa yang mereka ketahui tentang dirinya.


Ternyata, menurut cerita dari Mbak Susi, nama Linda itu dikenal sebagai pacarnya pak Komarudin. Bukan hanya di gedung tempat Linda bekerja. Tapi juga di beberapa gedung yang dekat dengan tempatnya bertugas.


Dari desas desus yang beredar itulah, nama Linda terkenal. Meskipun orang-orang tidak mungkin berbicara di depannya. Apalagi, Linda juga leader baru di perusahaan tersebut.


"Kamu tahu tidak Lin, jika pak Komarudin dan pak Rudi itu sama?" Sekarang, ganti mbak Sri yang bertanya pada Linda.


"Maksudnya dengan sama itu apa ya Mbak?"


Linda tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia justru kembali bertanya balik. Karena dia memang tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan tersebut.


"Oh, berarti mbak Linda gak tahu apa-apa tentang pak Komarudin dan juga pak Rudi."

__ADS_1


Sekarang, mbak Mila yang memberikan tanggapan. Meskipun demikian, Linda tetap tidak tahu, apa yang sebenarnya mereka bertiga maksud.


__ADS_2