Tante Melinda

Tante Melinda
Perasaan Yang Aneh


__ADS_3

Ferry menyadari bahwa, mbak Nana itu ada rasa terhadap dirinya. Bukannya merasa GeEr dengan apa yang dia pikirkan. Tapi melihat bagaimana cara Mbak Nana berbicara dan memperlakukan dirinya, itu sudah menjadi hal yang bisa diartikan sendiri oleh Ferry.


Sebagai seorang laki-laki, Ferry tentu peka terhadap perhatian yang diberikan oleh Mbak Nana kepada dirinya.


Apalagi, mbak Nana juga sering kali datang ke pengilingan padi ini, bukan hanya sekedar untuk membeli beras. Tapi terkadang hanya membuat alasan, jika dia kebetulan lewat dan ingin mampir untuk memberi jajan atau sekedar minuman untuk Erli.


Selama ini, Ferry memang bukanlah seorang suami yang baik. Tapi bukan berarti dia suka bermain hati dengan para wanita.


Dia hanya terbiasa dengan hobinya saja. Yaitu berjudi.


Sama seperti waktu dulu, sekarang pun, Ferry masih suka berjudi. Meskipun atensinya tentu saja berbeda. Apalagi, dia harus mempertimbangkan keuangan yang dia miliki untuk melakukan hobinya itu.


Tapi mendapatkan perhatian khusus dari seorang wanita, seperti yang dilakukan oleh Mbak Nana, tentu saja membuat Ferry tersenyum.


Dia juga ingat, bagaimana keadaan di rumahnya sendiri. Bagaimana sikap istrinya, Linda, yang sekarang ini sudah banyak pasif. Tidak bisa mengimbangi permainan yang dilakukan, jika mereka berdua ada di dalam kamar.


Ferry seperti mendapatkan oase. Untuk kekeringan hati dan pikirannya sendiri.


Tapi, dia masih merasa belum siap. Jika harus mengkhianati kepercayaan istrinya. Apalagi dia juga merasa sadar diri jika, istrinya itu juga membantu dirinya untuk mencari nafkah.


Itulah sebabnya, Ferry masih mencoba untuk menahan diri, agar tidak tergoda dengan apa yang dilakukan oleh mbak Nana kepadanya.


Sama seperti saat ini. Mbak Nana yang kemarin baru saja membeli beras dalam jumlah yang besar untuk stok toko di rumahnya, datang lagi ke pengilingan padi ini.


Dia beralasan bahwa, dia hanya sekedar lewat dari pasar.


"Kebetulan saja tadi lewat. Ingat jika Erli pasti ikut. Makanya mau kasih dia jajanan pasar ini," kata Mbak Nana, dengan menyerahkan satu bungkus plastik berisi jajanan pasar yang tadi dia beli.


"Erli, bilang terima kasih pada tante Nana!"


Erli mengangguk mengiyakan perkataan papanya, Ferry. "Terima kasih Tante. Erli suka," ucap Erli, sambil tersenyum melihat wajah Nana yang juga sedang tersenyum ke arahnya.


"Ughhh... pinternya," ucap Mbak Nana sambil mencubit pipi Erli dengan gemas.


Dia tertawa renyah, dan melihat ke arah Ferry yang juga ikut tersenyum melihat ke arah anaknya.


"Terima kasih Mbak Nana. Saya jadi tidak enak hati ini. Mbak Nana sering kasih jajanan ke Erli." Ferry mengatakan apa yang dia rasakan pada mbak Nana.


"Gak apa-apa Mas Ferry. Saya senang kok. Apalagi liat Erli, membuat Saya jadi ingat dengan almarhum anak Saya yang telah tiada, di umurnya yang sama seperti Erli saat ini."

__ADS_1


Mbak Nana mengatakan bahwa, Erli seumuran dengan anaknya yang sudah tiada waktu itu.


"Oh maaf Mbak Nana. Saya tidak bermaksud untuk mengingatkan kembali pada anak Mbak Nana yang sudah tiada."


"Ya Mas. Gak apa-apa."


Dari cerita yang dituturkan oleh Mbak Nana, anaknya yang telah tiada, meningal dunia karena terserang penyakit demam berdarah.


Waktu itu sudah dibawa ke rumah sakit. Dan setelah beberapa hari di rumah sakit, keadaan anaknya sudah mulai membaik. Tapi pada saat akan di bawa pulang ke rumah, keadaannya kembali memburuk.


Bahkan sempat koma beberapa jam, sebelum akhirnya meninggal dunia.


Itulah sebabnya, mbak Nana belum berani untuk memiliki seorang anak lagi sampai saat ini.


Ferry jadi ikut merasa bersedih dan bersalah juga. Karena telah mengingatkan kembali pada kenangan tentang anaknya mbak Nana yang telah tiada.


"Maaf Mbak. Maaf. Saya tidak tahu. Semoga saja, mbak Nana bisa cepat mendapat ganti sebagai anak yang telah pergi."


"Iya Mas. Terima kasih," ucap Mbak Nana, kemudian pamit untuk pulang.


"Saya pulang dulu Mas."


Erli hanya mengangguk saja sambil tersenyum senang. Mendengar apa yang tadi dikatakan oleh mbak Nana kepadanya.


Ferry jadi merasa bersalah. Karena maksud baiknya untuk mengingatkan mbak Nana, justru membuat wanita itu merasakan kesedihan lagi.


Dia menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Di saat Mbak Nana sudah tidak lagi berada di tempatnya duduk.


Sekarang, Ferry melihat bagaimana anaknya, Erli, membuka bungkus jajanan pemberian mbak Nana tadi.


"Kasian sekali mbak Nana," gumam Ferry tanpa sadar.


*****


Di pabrik, tempat Linda bekerja.


Hari ini, akan ada peninjauan dari salah satu visitor, atau tamu asing yang datang bersama dengan pemimpin HRD, untuk melihat kondisi lapangan kerja di semua gedung.


Linda sudah memberikan beberapa perintah pada anak buahnya. Supaya menyapu dan mengelap apa saja yang tampak kotor.

__ADS_1


Dia sudah diberitahu oleh pak Rudi, jika pihak HRD, bersama dengan tamu asing tersebut akan tiba di gedungnya sekitar jam sepuluh pagi ini.


"Mbak, tolong mesin-mesin di lap dan dibersihkan ya!"


"Itu laci atau apa itu yang ada juga dibersihkan. Barang-barang yang tidak terpakai dibuang saja ke tempat sampah!"


Linda memberikan penjelasan pada anak buahnya. Dia tidak mau jika di komplain dari pihak visitor atau pihak HRD sendiri.


Itu bisa membuat devisi yang dia pimpin mendapat nilai yang tidak baik.


Devisi merupakan bagian-bagian di dalam perusahaan atau industri, yang menanggulangi satu bidang tertentu, serta mempunyai fungsi serta kewenangannya masing-masing. Pendek kata, divisi dalam industri kerap dimaksud sebagai unit bisnis.


Dan di gedung tempat Linda bertugas, ada beberapa devisi, yang termasuk tempat Linda bertugas.


"Lin. Jangan lupa SPK juga dipersiapkan ya!"


"Ya Pak," jawab Linda, di saat pak Rudi melakukan pengecekan secara berkeliling, du beberapa devisi yang dia pimpin.


Pada saat waktu mendekati jam sepuluh, semua orang sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan visitor yang akan datang bersama dengan pemimpin HRD.


Linda juga sudah siap di tempatnya, bersama dengan anak buahnya yang tetap melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya.


Dan Linda yang sedang mengawasi pekerjaan mereka, dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba memangilnya. Sama seperti beberapa waktu lalu.


Di mana ada suara orang yang sedang memanggil namanya, tapi ternyata tidak ada seorang pun yang merasa memanggil dirinya.


"Mbak Linda... Mbak Linda!"


"Siapa yang manggil?" tanya Linda, pada anak buahnya yang masih berada di tempat mereka bekerja.


"Gak ada mbak Linda. Memang siapa yang manggil?"


Salah satu dari mereka justru bertanya balik. Karena memang tidak ada satupun dari mereka yang merasa memanggil namanya.


Linda mengelengkan kepalanya beberapa kali, membuang perasannya yang tiba-tiba terasa tidak nyaman.


Dia merasa jika, akan terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. Untuk kedepannya nanti.


Entah apa itu, tapi Linda merasa ini bukan hanya sekedar ilusinya saja.

__ADS_1


__ADS_2