Tante Melinda

Tante Melinda
Merasakan Hal Baru


__ADS_3

Linda berjalan bersama dengan pak Yus, menuju ke arah pabrik. Karena letak parkiran dengan gedung pabrik, berbeda tempat.


Parkiran kendaraan, ada di luar gerbang perusahaan. Ada tempat khusus, yang memang dirancang untuk area parkir.


Jadi, para karyawan tetao merasa tenang. Meskipun area parkir ada di luar bangunan perusahaan. Karena selain tempatnya berada di depan pabrik, ada beberapa orang, selain security, yang dipekerjakan khusus sebagai tukang parkir di tempat tersebut.


Mereka, para tukang parkir, bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di area parkir yang diperuntukan bagi para karyawan pabrik.


"Oh ya Pak yus. Linda mau tanya boleh?"


Linda mencoba untuk memulai pembicaraan dengan pak Yus. Tapi tidak mengenai tawaran yang tadi dibicarakan oleh pak Yus dengannya.


"Tanya apa mbak Linda?"


"Kira-kira, ada lowongan pekerjaan gak di office? Buat cowok Pak. Adiknya Linda sendiri," tanya Linda, dengan memberikan penjelasan pada pak Yus.


"Emhhh... lulusan apa ya Mbak Linda?"


Pak Yus tidak langsung menjawab pertanyaan dari Linda, sesuai dengan apa yang tadi ditanyakan. Tapi dia ingin tahu, bagaimana latar belakang pendidikan adiknya Linda.


"Sarjana pak Yus. Tapi baru wisuda minggu-minggu ini," jawab Lin.da, memberitahu pada pak Yus tentang adiknya.


Pak Yus tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda barusan. Dia berpikir sejenak, sebelum akhirnya memberikan beberapa pilihan untuk Linda.


"Ada sih Mbak. Tapi bukan pada bagian penerima karyawan baru. Ini ada di bagian administrasi, biasanya cewek yang mendapat posisi ini."


"Satu lagi, ada di bagian mengurus Jamsostek. Jadi, semua urusan karyawan, tentang Jamsostek dia tangani. Kebetulan, yang lama sudah mengajukan resain untuk bulan depan."


"Dia ada panggilan kerja di Pertamina Jakarta katanya."


Linda mengangguk senang. Dia pikir, Danang bisa masuk ke bagian yang tadi disebutkan oleh pak Yus.


"Jika boleh, buat adiknya Linda pak Yus," ujar Linda, dengan wajah tersenyum senang.


Dia merasa bersyukur, karena bisa bertemu dan bicara dengan pak Yus pagi ini.


"Tapi Pak Yus, Linda boleh tanya lagi?"

__ADS_1


Linda bertanya dengan takut-takut. Dia ingin bertanya tentang apa yang tadi dikatakan oleh Danang. Jika pelamar cowok, kebanyakan membawa uang pelicin. Agar lamaran pekerjaan yang diajukan lolos.


"Tanya apa Mbak Linda?"


Pak Yus ikut bertanya juga. Karena sedari tadi, Linda sudah banyak mengajukan pertanyaan padanya.


Akhirnya, Linda menjelaskan tentang apa yang ingin dia tanyakan. Karena dia juga ingin mendapatkan kejelasan tentang berita yang dia dengar tadi pagi.


Jika apa yang dikatakan oleh Danang tadi pagi benar adanya, berarti Bu Wiwin, yang kemarin mendapatkan peringatan dari pak Rudi ada benarnya juga. Itu artinya, Bu Wiwin bisa terancam untuk dipecat dari perusahaan ini.


Pak Yus mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda.


Sebenarnya, pak Yus ingin memberikan jawaban dan penjelasan juga pada Linda. Tapi karena sekarang mereka berdua juga sudah sampai di persimpangan jalan, antara gedung HRD, dengan gedung tempat Linda bertugas. Akhirnya pak Yus hanya bisa menghela nafas panjang.


"Kapan-kapan kita bahas ini mbak Linda. Yang penting, adiknya mbak Linda langsung buat lamaran kerja saja. Begitu dia selesai wisuda nanti."


Linda mengangguk mengiyakan. Dia juga mengucapkan terima kasih, kepada pak Yus. Atas semua bantuan yang diberikan.


"Terima kasih pak Yus. Saya akan memberikan kabar pada adik Saya. Supaya dia menyiapkan segala sesuatunya untuk melengkapi berkas lamaran nanti."


Mereka berdua akhirnya berpisah. Berjalan menuju ke arah tempat kerja masing-masing.


Di dalam kamar hotel.


Ferry sedang bersiap-siap untuk pulang. Tapi Mbak Nana, sepertinya masih ingin mengulang kembali, apa yang mereka lakukan semalaman ini.


"Nanti aja sih Mas. Masih terlalu pagi ini," ujar mbak Nana memberikan alasan.


"Tapi Mbak. Saya sudah memberikan kabar pada istri Saya, jika akan pulang pagi ini."


Ferry tidak mau jika, istrinya akan merasa curiga. Dia tidak mau Linda sampai tahu, apa yang dia lakukan bersama dengan mbak Nana sedari kemarin.


"Mas. Perjalanan dari kota ke sini itu butuh waktu sekitar tiga atau empat jam. Sedangkan dari hotel ini ke tempat pengilingan padi, cuma butuh waktu satu jam saja. Jadi, setidaknya masih ada dua jam untuk kita bersama lho," kata mbak Nana memberikan penjelasan dan penjabaran. Sesuai dengan perhitungan waktu yang sudah dia pelajari sebelumnya.


Akhirnya Ferry mengalah. Dia menghela nafas panjang, kemudian kembali duduk di tepian tempat tidur.


Sedangkan mbak Nana yang belum bersiap-siap sedari tadi, kembali melakukan sesuatu. Yang bisa membangkitkan gairah Ferry lagi.

__ADS_1


Hal yang menjadi candu baru bagi mbak Nana. Karena dia tidak ingin membuang kesempatan. Untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dari Ferry.


Karena semua yang ada pada Ferry, membuatnya merasa puas dan terus menerus menginginkan dirinya.


Hal yang selama ini tidak bisa dia dapatkan dari suaminya sendiri. Apalagi suaminya itu juga tidak pernah ada di rumah. Pekerjaan sebagai seorang pelaut, membuatnya harus sering ditinggal sendirian berbulan-bulan. Bahkan, bisa jadi bertahun-tahun lamanya.


Itulah sebabnya, mbak Nana seperti mendapat oase. Untuk penyegaran kehidupannya yang sepi dan gersang selama ini.


Dia memang tidak pernah kesusahan dalam urusan uang. Tapi dia tidak merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Karena dia juga tidak ada anak, yang bisa mengisi waktunya yang terbuang banyak.


Toko di rumah, hanya untuk kesibukan semata. Bukan untuk benar-benar sebagai ladang penghasilan untuk keluarganya.


Dan akhirnya, Ferry mengalah. Dia kalah dengan apa yang dilakukan mbak Nana pada semua bagian tubuhnya.


Apalagi, mbak Nana seakan-akan tahu pasti. Ada di bagian mana dari tubuh Ferry, yang bisa dia ajak untuk bekerja sama. Dan Ferry juga mengakui bahwa, mbak Nana ini lihai dalam urusan seperti ini.


Berbeda dengan Linda, istrinya itu, yang belum tahu apa-apa. Semenjak mereka menikah dan memulai hidup bersama sebagai seorang suami istri.


Linda itu penurut. Tidak banyak menuntut. Baik dalam urusan pekerjaan rumah, ataupun urusan di dalam kamar.


Jadi Ferry seperti mendapatkan sesuatu yang baru. Dan belum pernah dia rasakan selama bersama dengan Linda. Yang sudah menjadi istrinya selama hampir lima tahun ini.


"Mas, jangan nolak Aku ya!"


Perkataan yang diucapkan oleh mbak Nana, membuat Ferry merasa di cintai dan dibutuhkan.


Dia benar-benar merasa terbuai. Dengan apa yang dikatakan oleh mbak Nana. Apa yang dilakukan oleh mbak Nana juga.


'Maaf Lin. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati rumah tangga kita. Tapi, Aku hanya ingin sebuah hubungan, yang belum pernah Aku lakukan selama ini.'


Ferry membatin dalam keadaan sedang berada di atas tubuh mbak Nana.


Dia membayangkan bahwa, mbak Nana adalah Linda. Istri yang sebenarnya sangat dia cintai.


Sayangnya, keadaan yang membuatnya lupa dan tidak bisa konsisten.


Dia seakan melupakan semua kata-kata yang pernah dia ucapkan pada Linda dulu.

__ADS_1


Ferry tidak tahu, jika apa yang dia lakukan ini, juga sudah dilakukan oleh istrinya sendiri. Tanpa dia sadari, sebenarnya mereka berdua sama saja.


Tidak ada yang berbeda. Dan itu, tidak pernah mereka sangka sebelumnya.


__ADS_2