
Semakin lama, Linda merasakan tengkuknya merinding. Bulu kuduknya berdiri, tanpa dia tahu sebabnya.
Dengan mengajak temannya, Linda mempercepat langkahnya agar segera sampai di ruangan sendiri.
Begitu dia tiba di ruangannya, pak Komarudin mengajaknya pergi ke ruangan pak Komarudin sendiri.
"Sebentar Pak. Ini kertas over time biar di tanda tangani oleh teman-teman dulu."
Linda menyerahkan kertas over time pada salah satu temannya, baru kemudian dia ikut bersama dengan pak Komarudin.
"Ada apa ya Pak?" tanya Linda, saat berjalan dengan asisten manager tersebut ke ruangan sebelahnya.
Yaitu ruangannya asisten manager.
"Kamu lembur sampai malam kan? apa di jemput oleh suamimu?" tanya pak Komarudin, begitu mereka sampai di dalam ruangan.
"Emhhh..."
"Jika tidak, biar Aku yang antar."
Ternyata, pak Komarudin ingin mengajak Linda untuk pulang bersama. Dengan maksud untuk mengantar dirinya pulang nanti malam.
"Tapi, arah jalan rumah kontrakan pak Komarudin kan beda dengan jalur ke rumah Saya," ujar Linda, menjawab pertanyaan dari pak asisten manager.
Linda tahu, jika asisten manager tersebut, punya tempat tinggal sendiri, yang dua kontrak dari penduduk setempat.
Karena rumahnya yang asli, ada di daerah Jakarta. Dan daerah asal asisten manager tersebut dari luar pulau Jawa.
"Tidak apa-apa. Sekalian kita cari makan juga nanti," sahut pak Komarudin, meminta persetujuan dari Linda.
Akhirnya Linda hanya bisa mengangguk saja, tanpa melakukan penolakan terhadap permintaan dari asisten manager tersebut.
"Oh ya Pak. Tadi Saya mau tanya pada HRD kok lupa ya."
Tiba-tiba Linda ingat jika, dia ingin meminta penjelasan. Tentang keinginan untuk mencari pinjaman dari pihak perusahaan.
"Tanya apa?"
Pak Komarudin, bertanya dengan cepat. Karena Linda bertanya sesuatu, yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya.
Dia berpikir seperti itu karena, jika menyangkut hal pekerjaan dan tugasnya sebagai leader di gedung ini, tidak mungkin Linda akan bertanya pada pihak HRD.
"Saya kan karyawan baru. Apa bisa membuat permintaan untuk pinjaman dari perusahaan?"
Linda menjelaskan tentang keinginannya, yang tadi tidak sempat dia tanyakan pada pihak HRD. Karena sebenarnya, tadinya dia sudah ke HRD juga. Untuk menerima surat tugasnya ke Jakarta minggu depan.
"Kamu butuh uang?" tanya pak Komarudin, yang akhirnya tahu, apa yang dibutuhkan oleh Linda saat ini.
__ADS_1
Dengan mengangguk ragu, Linda tersenyum tipis. Dia merasa sungkan untuk membicarakan tentang keadaan finansial keluarganya.
"Kamu butuh berapa? Siapa tahu Saya ada. Jadi gak perlu pinjam ke perusahaan."
Pak Komarudin bertanya, untuk bisa membantu wanita yang sudah menarik perhatian dan hatinya. Dia ingin, supaya Linda tidak bisa jauh-jauh darinya.
"Saya lagi butuh banyak uang Pak. Ini untuk adik Saya, yang akan wisuda sebentar lagi."
Dengan memberikan penjelasan, Linda berharap supaya pak Komarudin tidak punya keinginan untuk memberikan uang kepadanya.
Karena dia juga tahu jika, asisten manager tersebut, sudah punya keluarga sendiri yang perlu dibiayai.
"Katakan saja Linda. Berapa banyak yang Kamu butuhkan?"
Tapi sepertinya pak Komarudin tidak ada keinginan untuk mundur. Dia mendesak Linda, supaya menyebutkan berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk biaya adiknya Linda.
"Emhhh... sekitar dua puluh juta Pak."
"Sebenarnya, bapaknya Linda mau jual sawah sih. Cuma Linda kasihan pada bapak jika sawah itu dijual."
Linda buru-buru memberikan penjelasan, saat dia selesai menyebutkan sejumlah uang yang dia butuhkan.
Pak Komarudin tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan tentang kebutuhan yang harus dipersiapkan oleh Linda dalam waktu dekat ini.
"Emhhh... Saya ada. Tapi..."
Dan Linda ternyata hanya bisa diam, menunggu bagaimana kelanjutan dari kalimat pak Komarudin yang belum diselesaikan.
Meskipun sebenarnya Linda juga was-was. Jika apa yang diinginkan oleh asisten manager tersebut adalah dirinya, sebagai bentuk yang lain.
"Ehem!"
Deheman yang dilakukan oleh pak Komarudin, mengalihkan perhatian Linda.
"Kamu ngerti kan apa yang Saya maksud?" tanya pak Komarudin, memastikan jika Linda tahu, apa yang sebenarnya dia inginkan dari leader barunya itu.
Dengan arah pandangan matanya, pak Komarudin memberikan penjelasan pada Linda. Dan itu adalah apa yang dipikirkan oleh Linda tadi.
"Bagaimana?" tanya pak Komarudin memastikan.
"Apa dari kemarin Saya bisa menolak?" tanya Linda, yang membuat pak Komarudin tersenyum puas.
Tentu saja asisten manager tersebut merasa sangat senang. Karena Linda sangat tahu apa yang dia inginkan. Tanpa harus memberikan penjelasan dan mengatakannya secara langsung.
"Kirim no rekening Kamu. Nanti Aku transfer segera."
Linda mengangguk mengiyakan, kemudian pamit untuk kembali ke tempatnya kerja.
__ADS_1
*****
Di sawah, Ferry yang sedang melihat-lihat padi bersama dengan bos pengilingan padi memperhatikan bagaimana padi yang sudah siap untuk dipanen minggu ini.
Bos pengilingan padi, sedang melakukan tawar-menawar harga padi, dengan pemilik sawah.
Dari sini Ferry juga di ajak belajar oleh temannya itu, bagaimana cara untuk mendapatkan padi yang bagus dan juga cara menentukan harga padi yang masih ada di sawah.
Karena harga padi yang masih belum di panen dan ada di sawah, tentu saja berbeda dengan padi yang sudah ada di rumah petaninya.
Akan lebih murah jika padi tersebut masih seperti saat ini. Yaitu ada di sawah.
Namun sebagai pembeli padi yang masih ada di sawah, juga harus memperhatikan bagaimana kondisi sawah dan padinya juga.
Karena ini terkait dengan biaya untuk panen, atau mengambil pagi tersebut. Tenaga yang diperlukan untuk panen, dan ongkos angkutannya. Juga jarak sawah dari jalan besar, di mana mobil untuk mengangkut berada.
Untungnya, bos pengilingan padi mau memberikan keterangan dan penjelasan pada Ferry.
"Sebagai pengusaha, meskipun tanpa besar, tetap harus memperhatikan banyak hal Ferr. Dan Kamu, harus belajar dari sekarang."
Begitulah kata-kata yang diucapkan oleh bos pengilingan padi pada Ferry, yang ikut bersama dengannya ke sawah.
Ferry, mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh bos pengilingan padi, yang merupakan temannya juga.
Setelah semuanya selesai, mereka berdua berjalan beriringan dari pematang sawah menuju ke jalan.
"Bos. Aku mau menawarkan sawah mertuaku. Siapa tahu Kamu minat."
"Atau sistem gadai juga tidak apa-apa. Biar sewaktu-waktu nanti, saat Aku punya uang bisa Aku ambil lagi."
Bos pengilingan padi, menoleh ke arah Ferry, yang berjalan dibelakangnya.
"Buat apa sawahnya di jual?" tanyanya ingin tahu.
"Itu, adikku mau wisuda. Buat pelunasan pembayaran kuliah dan wisuda juga."
Bos pengilingan padi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ferry.
"Butuhnya kapan?" tanyanya lagi.
"Bulan depan harus sudah lunas katanya," jawab Ferry memberitahu.
"Aku usahakan Minggu depan ada. Ini ada untuk bayar padi tadi Ferr. Gak apa-apa kan?"
Ferry tersenyum senang, mendengar perkataan yang diucapkan oleh temannya itu.
Bos pengilingan padi, yang akhir-akhir ini sudah banyak membantu dirinya untuk semua usaha yang dia lakukan.
__ADS_1