
Kadang kala, harapan yang kita inginkan, tidak bisa terjadi, karena beberapa hal, yang tentunya, tidak pernah kita sangka sebelumnya.
Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Linda saat ini.
Harapannya agar bisa memperbaiki hubungannya dengan suaminya, polisi Ferry, ternyata hanya sebuah harapan yang semu.
Beberapa bulan, setelah Linda kembali ke rumah, dan suaminya itu masih belum bertugas lagi karena hukuman skorsing, semuanya memang tenang dan baik-baik saja.
Bahkan, suaminya itu juga banyak membantu Linda, untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga anak mereka yang masih bayi.
Suaminya itu, polisi Ferry, juga melakukan beberapa pekerjaan, yang mungkin bisa dia lakukan sekarang, saat menganggur. Atau, bisa juga dikerjakan nanti, sambil bertugas, jika masa skorsing_nya selesai.
Linda sudah merasa cukup lega dan tenang, di saat melihat perubahan sikap polisi Ferry. Suaminya yang tidak lagi main tangan juga.
Tapi sepertinya itu hanya bertahan beberapa bulan saja, ketika suaminya ada di rumah.
Entah apa yang dipikirkan oleh suaminya itu, karena setelah dia bertugas lagi, dia pun kembali pada tabiat lamanya, yaitu kasar dan cepat sekali amarahnya naik.
Kebiasaan judi_nya, juga mulai dilakukan lagi, meskipun tidak sesering dulu.
Mungkin, polisi Ferry masih berpikir jika, dia belum cukup banyak uang, sehingga kebiasaan judi_nya, dia tahan dulu.
Tapi, setelah hampir satu tahun kemudian, polisi Ferry benar-benar sudah kembali lagi seperti semula.
Dia juga sudah tidak segan-segan lagi memukul Linda, dengan apa saja yang pada saat itu dia pegang, atau ada di dekatnya.
Dan pada puncaknya, Linda sampai pingsan, akibat dihajar oleh suaminya sendiri, yaitu polisi Ferry.
Setelah Linda tidak lagi bisa bergerak dari tempatnya terjatuh, sebenarnya polisi Ferry masih memukulnya beberapa kali. Dan dia baru berhenti, setelah anaknya yang pada saat itu sudah bisa berjalan, dan sedang tertidur, bangun dan menangis, dengan memanggil-manggil mamanya.
"Mamm... Mamaaa... hiks hiks hiks... Mamm... Mamaa...hiks... huwaaa..."
Anaknya, yang baru terbangun dari tidurnya, terus menerus menangis, mencari keberadaan mamanya.
"Lin, Linda!"
Polisi Ferry, berusaha untuk membangunkan istrinya itu, dengan cara menepuk-nepuk punggung dan juga pipinya.
Tapi karena Linda dalam keadaan pingsan, tentu saja tidak bisa mendengar suaranya, apalagi terbangun.
"Hah! apa dia mati?"
"Linda, Lin. Dek, dek!"
Polisi Ferry masih berusaha untuk membangunkan istrinya itu.
Sayangnya, dia tidak menyadari bahwa istrinya itu dalam keadaan seperti sekarang ini karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
"Arghhh... menyusahkan!"
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, polisi Ferry mengangkat tubuh istrinya itu, dan ditaruh di sofa ruang tamu.
Dia kembali menepuk-nepuk pipi istrinya, dan memanggil-manggil namanya juga.
"Dek Linda, Dek! Itu Erli bangun Dek!"
Tapi, Linda tetap diam dan tidak bisa bergerak.
Polisi Ferry mulai panik. Dia memeriksa denyut jantung dan nadi istrinya. Dia juga memeriksa kelopak mata Linda, dan memeriksa udara di hidung istrinya itu.
"Hah, dia pingsan? Bagaimana bisa dia pingsan begini? Itu tadi kan tadi tidak seberapa!"
Dasarnya polisi Ferry, dia tidak tahu, jika apa yang dia lakukan tadi, bisa berakibat fatal pada istrinya, Linda.
Polisi Ferry mengelengkan kepalanya beberapa kali, dengan membuka lebih lebar matanya.
Ternyata, polisi Ferry dalam keadaan masih belum sadar penuh. Dia ada dalam pengaruh oleh minuman, yang tadi di konsumsi saat bersama-sama dengan temannya, yang sedang bermain kartu.
Itulah sebabnya, dia mengamuk dan memukuli Linda, tanpa ampun.
Padahal sebenarnya, tadi hanya karena Linda sedikit terlambat membuka pintu rumah untuknya.
Erli, anaknya masih dalam keadaan menangis. Anaknya itu, sudah ada di depan matanya sekarang.
"Huwaaa... Mamaaa... Mam... huwaaa..."
"Mama... Mama... huwaaa... Papa, Mamamama!"
Polisi Ferry membujuk Erli, supaya diam dan tidak lagi menangis.
"Cup cup cup... Erli, itu mama sedang tidur. Erli tidur juga ya. Papa mau pinjam mobil dulu," kata polisi Ferry, membujuk anaknya yang berusia dua tahun.
Tapi, Erli masih terus menerus memanggil mamanya. Lagipula kosa kata Erli, tentu belumlah banyak.
Dia hanya fasih dengan kata mama, dan juga kata papa. Sebutan atau kata yang tentunya untuk pertama kalinya dipelajari dan diucapkan oleh anak-anak pada masanya.
"Pappaaa... mammmaaa... ma huwaaa..." tangisan Erli tetap saja terdengar, dan itu membuat polisi Ferry semakin kebingungan.
Sedangkan Linda, belum juga terbangun dari pingsannya.
Setelah diperhatikan dengan cermat, polisi Ferry menemukan tetesan darah di kening istrinya. Dia mulai panik dan keluar dari rumah.
"Erli, diam ya. Nanti kita naik mobil. Kamu diam ya Sayang," bujuk polisi Ferry lagi, sambil mengendong anaknya itu, mencari pinjaman mobil, untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
Setelah beberapa saat kemudian, polisi Ferry sudah tampak menyetir mobil ke arah rumahnya.
__ADS_1
Tapi, Erli sudah tidak bersama dengannya lagi.
Mungkin, dia menitipkan anaknya itu pada tetangganya, karena dia akan kerepotan, jika harus membawa anak kecil ke rumah sakit, sendirian, dengan kondisi istrinya yang pingsan dan juga terluka.
*****
Di rumah sakit.
"Sus, suster. Tolong istri Saya Sus!"
Polisi Ferry, memanggil-manggil suster jaga dengan tergesa-gesa. Dia tampak panik, karena Linda tidak juga terbangun sedari tadi.
Dengan cekatan, suster mendorong brangkar pasien, untuk membawa Linda ke ruangan IGD.
"Bapak tunggu di luar ya. Silahkan ke bagian administrasi, untuk pendaftaran pasien."
Polisi Ferry mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh suster.
Setelah beberapa saat kemudian, tampak suster keluar dari ruangan IGD. Dia mencari-cari keberadaan polisi Ferry, yang tadi dia minta untuk pergi ke bagian administrasi rumah sakit.
"Suami ibu Melinda?"
"Eh iya. Saya Sus!"
Polisi Ferry berdiri dari tempat duduknya, di kursi tunggu bagian belakang.
"Bagaimana Sus istri Saya?" tanya polisi Ferry, begitu dia sampai di depan suster.
"Tadi ini Melinda pingsan dan terluka karena apa Pak? Ini kok ada beberapa bekas pukulan di bagian punggung dan juga tangannya?"
Suster tersebut, bertanya seperti ingin tahu, apa yang menyebabkan beberapa luka dan pingsannya pasien.
Polisi Ferry gelagapan dan tidak bisa langsung menjawab dengan cepat.
"Emhhh... itu Sus, Saya... Saya juga tidak tahu pasti. Soalnya, begitu Saya tiba di rumah, kondisi istri Saya sudah seperti itu," jawab polisi Ferry, membuat alasan, untuk mengelak dari kesalahan.
Sekarang, suster meminta polisi Ferry untuk ikut ke dalam. Sister akan menunjukkan beberapa luka di tubuh istrinya, yang cukup parah.
Dengan perasaan yang tidak menentu, polisi Ferry ikut ke dalam ruangan IGD. Melihat sendiri, bagaimana keadaan istrinya, yang belum juga sadar dari pingsannya.
Di samping istrinya, seorang dokter baru saja selesai memberikan obat dan perban di kening istrinya, Melinda.
Meskipun luka-luka dan memar yang ada di tubuh Linda sudah diobati, tentunya tetap terlihat jelas, karena masih luka baru.
Keningnya yang tadi berdarah, juga sudah di perban.
Polisi Ferry terlihat sedih, dan merasa sangat khawatir, dengan kondisi istrinya itu.
__ADS_1
"Dok, Sus. Tolong obati luka-luka istri Saya Sus. Kasihan dia Sus!"
*** Next Yess π€π€π€πππ