
..."Entahlah."...
Pak Rudi menjawab pertanyaan pak Komarudin tanpa kejelasan. Dan itu membuat pak Komarudin menjadi tertawa terbahak-bahak.
..."Hahaha... galau aja sih Pak. Kayak ABG baru jatuh cinta."...
Pak Komarudin, justru meledek rekan kerjanya itu. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain terhadap pak Rudi.
Orang lain tidak mungkin berani melakukan semua itu pada pak Rudi.
..."Diam Kamu! sialan."...
..."Hahaha..."...
Pak Rudi mengumpat pak Komarudin, yang meledeknya. Sedang pak Komarudin, hanya tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan pak Rudi padanya.
..."Sudahlah. Kerja lagi sana!"...
Klik!
Pak Rudi memutuskan hubungan panggilan telpon tersebut, karena dia sudah tidak mau mendengar suara pak Komarudin yang meledeknya.
Tapi ternyata, hati pak Rudi tidak lagi jengkel seperti tadi.
"Hah! Hanya bicara dengan Komarudin saja, Aku bisa lebih lega sekarang. Bukankah ini aneh?" gumam pak Rudi, bertanya tentang keadaan dirinya sendiri.
Setelahnya, dia kembali fokus pada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.
"Ini gara-gara Linda nih. Aku jadi gak konsen begini," gumam pak Rudi lagi, saat melihat beberapa laporan yang ada di mejanya.
Dia menyalahkan Linda, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Drettt drettt drettt!
Tiba-tiba, handphone miliknya yang ada di atas meja bergetar. Tanda jika ada panggilan masuk untuknya.
"Hah, Linda!"
Pak Rudi merasa surprise, melihat ke layar handphonenya. Yang menampakan nama Linda di sana.
Dengan cepat, pak Rudi menekan tombol hijau. Untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.
..."Halo Lin!"...
..."Ya halo Pak. Apa tadi Bapak menelpon Linda?"...
..."Ya Lin. Tadi Aku menelpon Kamu. Oh ya, itu Kamu ijin gak masuk berapa hari?"...
Pak Rudi pura-pura bertanya. Padahal, dia sudah tahu dari pak Yus, yang ada di bagian HRD.
..."Dua hari Pak Rudi."...
..."Hai, kenapa dua hari?"...
__ADS_1
..."Kenapa Pak? Apa kurang lama? Jika iya, nanti Saya akan mengirim surat ijin susulan lagi."...
..."Eh, bukan begitu Lin!"...
..."Bagaimana Pak?"...
Pak Rudi jadi kesal sendiri. Karena Linda tidak paham dengan apa yang dia katakan tadi.
Dia juga semakin merasa kesal, karena Linda juga tidak tahu. Apa yang dia rasakan sedari pagi.
..."Hah sudahlah! Kamu cepat masuk kerja ya! Ada banyak pekerjaan yang harus Kamu selesaikan."...
^^^"Iya Pak. Maaf, karena Linda terpaksa harus ijin untuk bisa merawat suaminya Linda."^^^
..."Ya-ya. Tidak apa-apa."...
Klik!
Pak Rudi tersenyum sendiri. Dia merasa jika, telpon dari Linda merupakan mood booster untuknya hari ini.
Sekarang dia bisa lebih bersemangat untuk bisa menyelesaikan semua pekerjaannya itu.
Dengan tersenyum senang, dia kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya, yang sempat tertunda karena panggilan telpon dari Linda.
*****
Di gedung lain. Di ruangan PPIC.
Dia dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan di PPIC ini. Apalagi, banyak teman-temannya Danang, yang sesama bekerja di PPIC membantu dirinya.
"Mas Danang. Katanya adiknya Mbak Linda ya? yang wajahnya dan postur tubuhnya kayak bule itu. Yang jadi supervisor di gedung pak Rudi," tanya salah satu dari temannya, yang ada di ruangan PPIC ini.
Sebenarnya, ini bukan pertanyaan yang diajukan untuk pertama kalinya pada Danang. Karena sedari kemarin-kemarin, ada saja yang merasa penasaran dan bertanya hal yang sama seperti tadi.
Danang hanya mengangguk saja, sambil tersenyum tipis. Dia sebenarnya juga jengah, dengan semua pertanyaan yang sama seperti ini sedari kemarin.
Mungkin, mereka-mereka yang bertanya merasa penasaran. Karena secara fisik, dia dengan kakaknya, Linda, memang sangat jauh berbeda.
Selain memiliki wajah dan postur tubuh bule, secara tidak langsung, fisiknya juga memang bule banget.
Putih pucat, tubuh yang tinggi besar, tapi tetap proporsional. Rambut Linda juga agak pirang. Dan memang pirang itu sedari kecil.
Sedangkan untuk Danang, wajahnya njawani. Gak ada ciri-ciri bule. Karena warna kulit dan rambutnya, juga mencerminkan bahwa dia adalah orang Jawa.
Jadi, orang yang tidak begitu mengenal keluarga mereka, pasti akan memiliki pertanyaan yang sama seperti tadi.
Karena tidak akan ada yang percaya begitu saja. Jika melihat perbedaan diantara mereka berdua.
"Mas Danang sudah punya pacar belum?" tanya temannya lagi.
"Hehehe... kenapa Mas?" Danang balik bertanya pada orang tersebut.
"Yah... jika belum punya, Aku mau kenalin cewek mas Danang. Karena dari kemarin itu, Kami pikir mas Danang adalah brondongnya mbak Linda."
__ADS_1
"Hehehe... kan mbak Linda itu pantes punya brodong. Kami yang ada di PPIC aja pada mau jika dijadikan brodongnya Tante Linda."
"Eh, maaf ya mas Danang. Kami di office PPIC sini, ada julukan khusus untuk mbak Linda itu."
Danang mengerutkan keningnya, mendengar semua perkataan orang tersebut.
"Sebutan apa?" tanya Danang penasaran.
"Menyebut mbak Linda dengan Tante Melinda. Yah... secara, mbak Linda itu menurut kami, semakin tua akan semakin cantik."
"Makanya, gak salah jika nantinya mbak Linda itu punya brodong. Gitu lho mas Danang. Hahaha... Tapi ini cuma bercanda lho ya!"
Orang tadi menjelaskan banyak hal, tentang apa yang biasanya menjadi pembicaraan mereka di office PPIC ini.
Danang hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh temannya, soal kakaknya.
Dia merasa jika kakaknya Linda, sudah banyak menghipnotis orang-orang yang ada di perusahaan ini.
Padahal menurut Danang, kakaknya itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa, selain fisiknya yang memang terlihat bule.
Tapi Danang juga tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia membiarkan mereka pada kesenangan yang ada. Yang penting, itu tidak merugikan kakaknya, Linda, dan juga dirinya.
*****
Di rumah Linda, sebelum dia menghubungi pak Rudi.
Ferry mengatakan pada istrinya, jika tadi ada atasannya yang menghubungi dirinya.
"Tadi ada pak... siapa ya tadi? Emhhh... pokoknya, dia bilang jika itu adalah manager Kamu Dek."
Linda menerima handphone miliknya yang disodorkan oleh suaminya itu.
"Oh... pak Rudi. Dia pesan apa Mas tadi?" tanya Linda datar.
Dia tidak tampak terkejut ataupun merasa khawatir. Yang bisa membuat suaminya itu merasa curiga.
"Gak ada sih. Hanya pesan jika dia menelpon. Mungkin ada sesuatu yang mau dia tanyakan pada Kamu Dek," tebak Ferry, dengan telpon dari pak Rudi tadi.
"Mungkin," sahut Linda pendek.
"Ya sudah. Coba Linda telpon balik."
Akhirnya, Linda menekan nomer handphone milik pak Rudi. Untuk menghubungi atasannya itu.
Dan secara kebetulan, pak Rudi juga langsung menerima panggilan telpon darinya.
Setelah selesai menghubungi pak Rudi, Linda kembali menaruh handphone miliknya, di atas meja. Ada di sebelah handphone milik suaminya juga.
"Erli ke mana Dek?" tanya Ferry, yang tidak melihat keberadaan anaknya sedari tadi.
"Ada di depan TV Mas. Lihat cartoon kesukaannya, Spongebob." Linda menjawab pertanyaan dari suaminya. Dengan menyiapkan obat yang harus diminum oleh suaminya itu.
Dia tersenyum tipis, saat ingat bagaimana tadi cara bicara pak Rudi, yang sama seperti anak-anak kecil yang sedang merajuk.
__ADS_1