
Pagi hari, Romi ternyata menuggu kedatangan Linda di dekat jalan, di mana arah gudang kayu, yang menjadi tempat Linda bekerja.
"Kak Romi," sapa Linda, dengan terkejut saat melihat keberadaan Romi yang berdiri dan tersenyum kearahnya.
"Pagi Dek Linda."
Romi menjawab sapaan Linda, dan tersenyum dengan sumringah.
Bagi Linda, senyuman Romi itu, mengalahkan cerahnya sinar matahari, yang bersinar pagi ini.
"Kakak mau ke mana?" Tanya Linda, yang tidak mau menaruh harapan besar, dengan beranggapan bahwa, Romi dengan sengaja menunggu dirinya.
Linda berpikir jika, Romi secara tidak sengaja lewat, karena ada keperluan, dan melihat dirinya, sehingga menegurnya, karena Romi memang orang yang ramah.
"Kakak mau ke sini saja kok Dek."
Tapi Ternyata, jawaban yang diberikan oleh Romi, membuat Linda merasa terbang ke awan.
Padahal, jawaban seperti itu, sangat biasa saja. Dan bukan sesuatu yang istimewa.
Linda tersenyum tipis, dan melihat dengan gugup, karena ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya dan jga Romi pada saat ini.
"Kamu masuk kerja jam berapa Dek?" tanya Romi, pada Linda.
"Atau pulang kerja saja, Kakak ke sini ya?"
Romi kembali bertanya, pada Linda. Padahal, pertanyaan yang diajukan tadi, belum di jawab oleh Linda juga.
"Emhhh... emangnya mau ke mana Kak?" tanya Linda, yang tidak paham, dengan apa yang dikatakan oleh Romi tadi.
"Tidak ke mana-mana kok. Cuma pengen ngobrol-ngobrol sama Dek Linda saja. Apa Dek Linda keberatan?"
Linda langsung kalang kabut, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Romi untuknya.
Padahal, Linda tidak bermaksud seperti itu.
"Linda... Linda bisa kok Kak. Tapi jangan malam-malam ya Kak. Takut pulangnya."
Akhirnya, Linda menyetujui permintaan Romi, yang akan menjemput dirinya nanti sore, di saat waktunya pulang kerja.
Romi tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda barusan.
"Kakak datang nanti sore. Tunggu ya," kata Romi, dengan penuh semangat. Dan itu sangat jelas terlihat dari senyuman di wajahnya.
*****
__ADS_1
Seharian ini, Linda bekerja dengan selalu tersenyum. Ini karena dia merasakan kebahagiaan, atas perhatian yang diberikan oleh Romi kepada dirinya.
Apalagi nanti sore, Romi akan datang menjemput dirinya, sepulang kerja nanti sore.
Linda jadi merasa tidak sabar, menunggu waktu yang terasa lamban. Dan jarum jam, seperti tidak pernah berputar.
"Kok harinya terasa lama ya?" gumam Linda, yang bertanya tentang keanehan yang terjadi kada hari ini.
"Ada apa Lin? Sepertinya, Kamu sedang gelisah dan tidak tenang. Ada apa?" tanya Mbak Tami, yang memperhatikan bagaimana tingkah laku Linda sedari tadi.
Linda benar-benar merasa gelisah. Dua terus menerus, melihat ke arah jam dinding, yang ada di samping tempat duduknya, meja kerja mereka berdua.
"Emhhh... anu Mbak, itu... eh gak apa-apa kok."
Mbak Tami semakin bingung, dengan apa yang dikatakan oleh Linda.
Jawaban yang diberikan oleh Linda, terputus-putus, dan itu menandakan bahwa, Linda sedang dalam keadaan gelisah dan tidak tenang.
"Ada apa Linda. Bicara saja sama Mbak. Mungkin Mbak bisa bantu Kamu," tutur Mbak Tami, mencoba untuk menenangkan hatinya Linda.
Meskipun secara fisik Mbak Linda kalah dengan Linda, tapi dia tetap baik dan tidak merasa mendapatkan saingan.
Baik saat bekerja, atau dengan perhatian yang diberikan oleh pegawai-pegawai yang ada di gudang kayu ini.
"Anu Mbak, itu... Linda ada janji ketemu dengan teman lama Linda."
Akhirnya, dengan gugup, Linda bisa juga mengatakan, apa yang ditanyakan oleh Mbak Tami tadi.
"Teman?" ulang Mbak Tami, sebuah pertanyaan juga.
Linda hanya mengangguk saja, kemudian kembali melakukan pekerjaannya, yang tadi belum dia selesaikan.
Rasa gugup dan takut ketahuan, jika dia akan bertemu dengan seorang cowok, membuat Linda harus bisa menghindari setiap pertanyaan dan hal-hal yang membuat mbak Tami curiga.
Padahal, sikap Linda yang seperti ini, justru membuat mbak Tami bertanyalah.
Namun, mbak Tami tidak akan lagi bertanya pada Linda. Dia tidak ingin membuat Linda merasa tidak nyaman, jika dia bertanya, dan seperti sedang menyelidiki sesuatu.
Mbak Tami berpikir bahwa, Linda sudah cukup dewasa, untuk berpikir sesuatu yang baik dan tidak merugikan dirinya sendiri.
*****
Hari yang terasa lama, karena di tunggu-tunggu oleh Linda, akhirnya berganti juga dengan sore hari.
Dengan bersemangat, Linda membereskan semua buku-buku dan nota, yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
"Aku balik duku ya Lin, sudah di tunggu di depan. Kamu hati-hati ya pulangnya!"
Mbak Tami pamit untuk pulang terlebih dahulu, karena tunangannya, sudah datang menjemput.
"Iya Mbak," jawab Linda pendek.
Semua pegawai, juga sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Lin, kunci gudang Kamu yang pegang ya. Besok Aku tidak masuk kerja. Pak Mandor gak datang-datang ini, buat ambil kunci. Tolong Kamu kasih ke sana ya. Aku buru-buru ini."
Linda bingung, karena dia belum pernah membawa tangung jawab kunci gudang kayu ini.
Biasanya, salah satu dari pegawai atau cowok-cowok itu, yang membawanya, dan di serahkan pada pak mandor yang berada di gudang produksi sebelah.
Tapi karena orang tersebut meminta tolong kepadanya, Linda pun akhirnya tidak bisa menolak permintaannya itu.
"Iya Mas. Nanti Linda kasih ke pak mandor."
Beberapa saat kemudian, Linda mengunci pintu gudang kayu. Setelah itu, dia berjalan terlebih dahulu menuju ke tempat gudang produksi di sebelah gudang kayu tempat dia bekerja.
"Tumben Linda datang ke sini?"
Dari arah samping, pak mandor menegur kedatangan Linda ke gudang produksi.
"Emhhh... ini Pak, Linda... Linda mau nyerahin kunci gudang kayu."
Linda menyerahkan kunci, yang dia pegang sedari tadi, pada pak mandor.
"Lho, kok tumben Kamu yang kasih, yang biasa ke mana?"
Linda menerangkan kepada pak mandor bahwa, orang yang biasa memegang kunci gudang, sedang buru-buru, dan besoknya tidak masuk kerja.
"Mbak Tami juga sudah pulang Pak," kata Linda, mengakhiri penjelasannya.
Pak mandor mengangguk-angguk mengerti, dan dia ada ide, untuk bisa mengajak Linda pulang bareng, bersama dengannya nanti.
"Kamu bisa tunggu sebentar gak? Aku akan ajak Kamu pulang bareng."
Maksud pak mandor adalah, dia ingin mengantar Linda pulang, sekalian dia ingin tahu rumahnya Linda.
"Maaf Pak, Linda pulang sekarang saja," jawab Linda, menolak tawaran pak mandor.
"Aku bawa motor Lin, jadi gak akan kemalaman sampai di rumah," tutur pak mandor, memberikan penjelasan, karena dia mengira bahwa, Linda takut kemalaman jika naik angkutan desa.
**Pada waktu itu, motor tidak sebanyak sekarang. Yang punya kendaraan bermotor, juga tidak sembarang orang, dan jumlahnya tidak banyak. Ini karena, pembelian harus tunai dan sistem kredit, belum berlaku sama seperti saat sekarang ini.
__ADS_1