Tante Melinda

Tante Melinda
Mencari Solusi


__ADS_3

Tiba di rumah, Linda menidurkan Erli di kamar terlebih dahulu.


Tapi sayangnya, Erli justru terbangun dan mendapati jika sudah berada di rumahnya sendiri.


"Mama. Rumah simbah..."


Erli tidak sadar jika, tadi dua juga sudah tertidur di rumah simbahnya. Meskipun sekarang dia sudah kembali lagi ke rumahnya sendiri.


"Sayang. Kita baru saja sampai. Kamu tadi kan tidur," ujar Linda, dengan menepuk-nepuk punggung tangan anaknya.


"Hiks... hiks... Simbah Mama... Simbah!"


Erli terus menangis, dan tidak mau tahu. Dia ingin berada di rumah simbahnya terlebih dahulu.


"Ada apa?" Ferry datang ke kamar anaknya, dan juga bertanya. Karena mendengar suara tangisannya Erli.


"Ini lho Mas. Erli minta ke rumah bapak lagi," jawab Linda, dengan masih memegangi tangan anaknya.


"Cup cup cup! Kita udah pulang ya Sayang. Besok saja pas udah pulang anter mama kerja, kita ke rumah simbah ya?"


Linda menoleh ke arah suaminya, yang mengatakan jika besok akan mengantar anaknya itu ke rumah bapaknya. Setelah mereka mengantarkan dirinya kerja di pagi hari.


"Gak apa-apa kan? Besok Mas ada pergi ke sawah. Mau beli padi yang masih ada di sawah Dek."


Ferry akhirnya menyatakan alasannya, kenapa dia mengatakan apa yang tadi dikatakan pada anaknya.


"Kok gak bilang dari tadi Mas? Kalau begitu kan kita bisa menginap di rumah ibu."


"Gak enak Dek. Udah deh gak apa-apa Besok pagi aja kasih tau ke Danang. Minta tolong kasih tau bapak juga, biar Erli di jaga bapak saja."


Erli diam mendengar perkataan dan pembicaraan kedua orang tuanya itu. Dan tentu saja, Erli merasa sangat senang. Karena besok dia bisa berada di rumah simbahnya, dan di jaga oleh simbah kakungnya juga.


"Mau-mau. Erli mau Pa!"


Dengan semangat, Erli mengatakan bahwa dia mau diajak ke rumah simbahnya besok pagi.


Linda jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena anaknya juga terlihat sangat senang dan bahagia, saat mendengar perkataan dari suaminya itu.


"Erli lapar gak?" tanya Ferry, yang memang jadi lebih dekat dengan Erli. Karena terbiasa bersama-sama setiap harinya.


Sekarang ini, waktu Erli lebih banyak bersama dengan papanya. Dibanding dengan mamanya.

__ADS_1


Semua sudah berubah dan tidak lagi sama seperti dulu. Sejak mamanya, Linda, bekerja di pabrik. Dan papanya, juga sudah tidak lagi menjadi seorang polisi.


Entah ini patut untuk disyukuri, atau tidak. Yang pasti, Erli lebih senang, dan bahagia. Karena tidak lagi melihat mamanya yang seringkali menangis seperti dulu.


"Lapar Ma. Makan ya Ma!"


Erli mengatakan bahwa dia lapar dan ingin makan.


"Mas. Tadi beli lauk gak?" tanya Linda, yang baru saja sadar jika tadi dia dan suaminya sudah makan di rumah ibunya.


Dan saat di jalan, dia lupa untuk membeli makanan atau lauk pauk untuk Erli.


"Lupa Dek."


"Emhhh... Erli mau telur dadar, atau mata sapi?" tanya Linda, yang memang sadar jika tidak ada lauk yang tersedia untuk Erli malam ini.


Akhirnya, Linda menemukan ide untuk lauk makan malam anaknya. Tapi, dia juga bertanya terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk membuatnya.


Dan dengan cepat, Erli menjawab pertanyaan tersebut.


"Dadar yang besar ya Ma!"


"Ok Sayang!"


"Biar Mas aja yang buat. Kamu mandi dulu saja sana!"


Suaminya, Ferry, datang menyusul ke dapur. Ferry meminta pada Linda, supaya pergi mandi. Karena dia yang akan membuatkan telur dadar untuk anaknya.


"Gak apa-apa Mas. Bentar aja kok," sahut Linda, dengan menyalakan kompor gas dan menyiapkan penggorengan.


Akhirnya, Ferry mengalah dan membiarkan Linda melakukan pekerjaannya di dapur. Sedangkan dia sendiri, kembali ke dalam kamarnya Erli. Mengajaknya untuk keluar dan bersiap untuk makan malamnya yang tertunda.


"Mama makan? Papa makan?"


Erli menanyai papanya, apakah mama dan papanya ikut makan bersama dengannya atau tidak. Dan Ferry hanya mengangguk saja, tanpa memberikan keterangan dan alasan, jika mereka berdua tadi sudah makan di rumah simbahnya.


*****


Di kamar, sebelum Linda dan Ferry tidur.


"Mas."

__ADS_1


"Hemmm... ada apa?" tanya Ferry, karena Linda memanggilnya.


"Itu... emhhh, bapak mau jual sawahnya. Buat pelunasan pembayaran kuliah Danang."


Linda mencoba untuk memberitahukan kepada suaminya itu, jika bapaknya punya niatan untuk menjual sawah milik keluarganya.


"Terus?"


"Sebenarnya sayang Mas, jika sawahnya di jual. Kasian juga bapak. Tapi..."


"Mas belum ada uang Dek. Ini, besok Mas ke sawah liat padi buat dibeli, juga ikut teman Mas yang punya pengilingan itu."


Ferry mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya. Tapi, dia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang baru saja memulai usahanya.


"Pinjam teman Kamu Mas?" tanya Linda, dengan segala kemungkinan. Yang dia pikir bisa dilakukan untuk menyelamatkan sawah bapaknya.


"Gak enak Mas Dek. Selama ini, Mas udah banyak merepotkan dia. Masa masalah gini mau buat repot juga?"


Linda diam sejenak, sebelum akhirnya menemukan ide untuk bisa dikatakan pada teman suaminya itu. "Minta temannya Mas itu aja yang beli! Nanti, jika dia gak suka, dan kita udah ada yang kita ganti beli ke dia. Bagaimana?" tanya Linda, memberikan usulan supaya bos pengilingan padi saja yang beli sawah bapaknya.


Ferry memikirkan apa yang dikatakan oleh Linda. Dia mengangguk saja, kemudian berkata, "Mas coba bicara besok waktu perjalanan ke sawah liat padi."


"Iya Mas. Terima kasih. Diusahakan Mas. Biar kapan-kapan, kita ada kesempatan untuk beli sawah itu lagi."


Linda masih belum bisa merelakan sawah bapaknya itu, jika sampai jatuh ke tangan orang lain. Karena hanya sawah tersebut, yang menjadi pegangan bapaknya selama ini.


"Tapi, Linda juga akan coba untuk mencari pinjaman dari teman atau perusahaan jika boleh Mas. Siapa tahu, Linda bisa dapat."


Linda menuturkan bahwa, dia sebenarnya ingin membeli sendiri atau setidaknya bisa menutup kekurangan administrasi yang belum dilunasi oleh Danang. Supaya bapaknya juga tidak lagi kepikiran, dan bisa tetap menjaga kesehatannya.


"Ya gak apa-apa. Kita usahakan sama-sama. Siapa yang bisa dapat, ya itu yang dipakai. Tapi, jika apa yang kita usahakan gak ada hasil, terpaksa itu terserah bapak kan?"


Linda mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Dia tersenyum, mendengar perkataan yang baru saja disampaikan oleh suaminya malam ini.


"Terima kasih ya Mas."


Linda mengucapkan terima kasih, meskipun belum ada hasil yang bisa di lihat.


"Belum Dek. Belum berhasil."


"Hahaha... gak apa-apa. Setidaknya udah terasa nyaman aja, karena ada harapan," ujar Linda, dengan perasaan yang tenang.

__ADS_1


Sekarang, Ferry memegang pipi Linda, yang masih tersenyum bahagia.


Dan Linda tahu, apa yang diinginkan oleh suaminya itu.


__ADS_2