Tante Melinda

Tante Melinda
Hati Yang Buta


__ADS_3

Pagi hari seperti biasanya, Linda bersiap-siap berangkat kerja. Tidak ada yang membuatnya curiga sama sekali. Dengan tingkah laku suaminya, ataupun keadaan rumah. Karena dia berpikir bahwa, semuanya biasa saja.


Dia tidak tahu jika, kamar yang dia gunakan untuk tidur bersama dengan suaminya. Sudah digunakan Ferry untuk tidur bersama wanita lain.


Kamar mandi yang dia gunakan untuk mandi, juga sudah digunakan oleh wanita lainnya. Yang dibawa oleh suaminya kemarin.


Sepertinya, permainan Ferry sangat rapi. Bisa dipastikan, jika keadaan rumah dan kamar baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat Linda berpikir macam-macam.


"Dek. Aku mau ada keluar kota. Erli bagaimana ini?"


Pertanyaan yang diajukan oleh suaminya, membuat Linda mengerutkan keningnya. Memikirkan bagaimana keadaan anaknya, jika besok suaminya ini ada kerjaan ke luar kota. Sedangkan dirinya juga tidak bisa libur kerja.


Dia baru saja selesai mengambil cuti selama dua hari. Tidak mungkin mengambil cuti lagi, atau tiba-tiba libur tanpa alasan.


Sedangkan bapak atau ibunya, yang biasa membantunya untuk menjaga Erli, masih berada di rumah sakit.


"Jangan ambil kerjaan ke luar kota dulu Mas. Selama bapak masih sakit. Kasihan Erli. Gak ada yang jaga kan," jawab Linda, dengan wajah masam.


"Besok kan hari sabtu. Linda gak akan ambil lembur. Jadi Mas Ferry bisa ke luar kota. Tapi jika gak hari sabtu atau minggu, gak usah ambil."


Akhirnya Ferry mengangguk dengan tersenyum. Dia juga tahu, jika besok adalah hari sabtu. Itulah sebabnya, dia pura-pura bertanya, supaya istrinya itu tidak pergi bekerja. Atau ambil lemburan. Supaya bisa mengurus anaknya. Dan dia bisa bebas pergi bersama dengan mbak Nana.


Kegiatannya bersama dengan mbak Nana menjadi sebuah candu baginya. Hal yang menyenangkan, yang tidak mungkin bisa dia lewatkan begitu saja kesempatan itu.


Mana ada kucing yang rela melepaskan ikan yang ada di depan mata. Bahkan terus menerus memberikan dirinya untuk dinikmati kucing tersebut.


'Hanya Kucing bodoh yang tidak mau makan ikan itu' begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Ferry saat ini.


Sudah mendapat perlakuan enak, menikmati segala sesuatu yang selalu berbeda. Masih dikasih uang belanja lebih lagi. Dan yang pasti, dia bisa bermanja-manja dengan mbak Nana. Minta jatah berapapun, akan dipenuhi oleh wanita yang seperti kehausan akan belaian.


Dan Ferry seakan-akan bangga, karena selalu di puji mbak Nana sebagai laki-laki yang perkasa.


Sepeninggal Linda kerja, Ferry menyiapkan dirinya sendiri dan juga Erli, sama seperti biasanya. Dia terlihat sangat senang dan bersemangat. Karena akan memberitahukan kepada Mbak Nana, jika rencana mereka berdua untuk pergi ke luar kota, bisa dilakukan besok selama dua hari.

__ADS_1


"Pa. Papa senyum-senyum aja dari tadi. Mau kasih kejutan buat Erli ya Pa?" tanya Erli, yang melihat raut wajah papanya terlihat senang sedari tadi.


Erli justru salah paham. Dia berpikir bahwa, papanya itu sedang menyembunyikan sesuatu, untuk memberinya sebuah kejutan.


"Hooo... Erli mar kejutan apa Sayang?" tanya Ferry, yang tidak mau jika anaknya itu curiga.


"Emhhh..."


Erli tampak berpikir, dengan memegangi keningnya sendiri. Mirip Spongebob yang sedang berpikir jika ada suatu masalah.


"Hayo mau apa?" tanya Ferry, memotong kalimat Erli, yang belum juga dikatakan.


"Mau boneka yang besar, atau mainan untuk anak cewek? Yang itu lho, untuk masak-masak. Kan ada itu Sayang."


Tapi Erli justru mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak menginginkan semua hadiah yang tadi sebutkan oleh papanya. Tapi dua punya keinginan sendiri. Yang ingin dia sampaikan.


"Erli pengen piknik bersama Papa dan mama, ke kebun binatang."


"Kemarin, ada temen Erli di sekolah, yang bercerita. Jika dia bersama dengan papa dan mamanya, baru saja berlibur bersama minggu kemarin. Ke kebun binatang."


Rengekan anaknya ini, membuat Ferry merasa bersalah. Selama dia dan Linda sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Erli jadi tidak mendapatkan perhatian yang lebih.


Meskipun Erli tidak kekurangan apapun, dalam kebutuhan sehari-hari. Tapi waktu untuk bisa saling dekat sebagai keluarga, tampaknya tidak bisa terpenuhi.


"Bagaimana jika minggu depannya lagi? besok Papa ada pekerjaan ke luar kota Sayang. Simbah kung juga masih sakit."


Sekarang Erli teringat dengan Simbah kakungnya yang ada di rumah sakit. Dia jadi sedih, kemudian bertanya, "Simbah kung kapan pulang?"


Ferry tampak tersenyum. Dia berhasil mengalihkan perhatian anaknya, dari bahasan untuk berlibur.


"Nanti tanya om Danang ya? kan om Danang yang nunggu Simbah di rumah sakit. Mama kerja kan?" Ferry memberikan penjelasan kepada Erli. Agar anaknya itu tidak lagi bertanya-tanya.


"Ya sudah yuk! Kita berangkat ke sekolah."

__ADS_1


Sekarang, Erli mengangguk mengiyakan ajakan papanya. Karena dia memang harus berangkat sekolah hari ini.


*****


Setelah mengantar Erli ke sekolah, Ferry menghubungi mbak Nana. Dia mengatakan bahwa, besok dia siap untuk pergi bersama dengannya ke luar kota.


..."Jadi dua hari kita bisa melakukan apa saja dengan bebas kan Mas?" ...


..."Iya."...


..."Wahhh... Aku seneng banget Mas, dengar berita ini. Makasih mas Ferry Sayang!"...


..."Sama-sama Mbak Nana Sayang."...


..."Berarti, hari ini Aku gak ke pengilingan padi ya Mas. Mau mempersiapkan diri, dengan minum jamu dan perawatan. Biar besok bisa mengimbangi mas Ferry sampai puas. Mas kan gak pernah ada puasnya. Hehehe..."...


..."Ah, kamu juga suka kan. Minta tambah terus gitu kok!" ...


..."Hihihi... jangan ingatkan itu Mas. Aku bisa kalap hari ini juga. Jadi gak bisa nahan lho nanti!" ...


Sekarang, mereka berdua tidak lagi malu-malu, untuk membicarakan hal-hal yang sensitif. Untuk sebuah hubungan yang terlarang diantara mereka selama ini.


Baik mbak Nana maupun Ferry, seakan-akan sudah memiliki pemikiran jika, mereka berdua memang cocok untuk saling bermanja-manja. Melemparkan kata-kata yang bisa memancing sesuatu dalam diri mereka sendiri.


Setelah berbicara dengan mbak Nana. Ferry melanjutkan perjalanan menuju ke penggilingan padi. Dia harus bekerja, dan memberitahu beberapa bakul berasnya. Jika dua hari kedepannya nanti, dia akan libur kerja.


'*Ternyata menyenangkan juga. Seperti mendapat suntikan semangat. Jika setiap harinya bisa bermain dan mengeluarkan kepenatan dengan bercinta.'


'Aku seperti seorang laki-laki yang paling beruntung. Punya istri yang cantik, dan bisa mendapatkan kepuasan juga dari wanita lain*.'


Ferry bangga dengan apa yang dia lakukan bersama mbak Nana. Hal yang bisa menghancurkan dirinya sendiri. Bahkan keluarga kecilnya juga.


Mata hatinya sekarang buta dengan nafsu setan. Yang menutupi segala cinta yang dulu hanya untuk Linda seorang.

__ADS_1


Dia lupa dengan semua perjuangan yang dulu, pada saat ingin mendapat Linda.


__ADS_2