Tante Melinda

Tante Melinda
Mengelak


__ADS_3

Tok tok tok!


Pinjol mengetuk pintu kamar hotel yang dia tuju. Meskipun sebenarnya, dia juga membawa kunci serep pintu kamar tersebut.


Tok tok tok!


Pinjol mengetuk pintu kamar sekali lagi.


Clek!


Pintu di buka hanya sedikit dari dalam. Dan yang keluar dari dalam kamar adalah mbak Nana. Tapi hanya menampakkan kepalanya saja.


"Ada apa ya mas?" tanya mbak Nana, yang melihat keberadaan pegawai hotel di depan pintu kamar.


"Maaf Mbak. Ada tamu yang ingin bertemu."


Dalam kebingungan mbak Nana, mendengar jawaban dari pegawai hotel, Linda menampakkan dirinya. Yang tentunya membuat mbak Nana terkejut.


Dia hampir saja menutup pintu kamar kembali, tapi ternyata, ada Danang yang menahan pintu tersebut. Agar tidak bisa di tutup dari dalam.


"Awas!" teriak mbak Nana, yang jelas jika sedang dalam keadaan panik.


Tapi dia juga tidak bisa menahan dorongan pintu kamar, yang dilakukan oleh Danang. Sehingga mau tidak mau, daun pintu tersebut justru semakin terbuka lebar.


Dan Linda dengan mudah bisa masuk ke dalam kamar tersebut.


"Mbak, Mbak awas! Kamu siapa? Aku tidak kenal Mbak!"


Mbak Nana panik. Dia berteriak-teriak, berusaha untuk menghentikan langkahnya Linda. Karena dia tahu, siapa tamu tak diundang, yang berani masuk ke dalam kamar hotel ini. Kamar yang sudah dia booking bersama dengan Ferry, hingga besok pagi.


Meskipun dia tidak mengenal Linda. Tapi dia sudah pernah melihat wajah Linda, yang terpajang dalam figura foto, di beberapa tempat. Yang ada di rumah dan kamar, pada saat dia diajak pulang ke rumah oleh Ferry.


Tentu saja dia sangat terkejut dan takut. Karena saat ini, mereka berdua sedang kepergok di dalam satu kamar hotel. Hanya berdua saja.


Tapi Linda tidak menghiraukan teriakan dan panggilan mbak Nana. Dia terus melangkah maju, untuk masuk ke dalam kamar. Dan ujung tempat tidur sudah bisa dia lihat.


"Mbak tunggu!"


Mbak Nana masih berusaha untuk mencegah Linda, supaya tidak melanjutkan langkahnya. Dia hampir saja menarik tangan Linda. Tapi dicegah oleh Danang, yang dengan sigap menarik bahunya.


"Diam Kamu ditempat, atau Aku akan panggil polisi sekarang juga!" ancam Danang dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Mbak Nana langsung kicep. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, dengan mulut tertutup rapat. Sehingga Linda melanjutkan langkahnya dengan cepat.


Linda sudah tidak sabar ingin melihat keberadaan suaminya.


Sepertinya Ferry cukup peka. Karena setelah mendengar keributan kecil di depan pintu kamar, dia langsung mencari tempat untuk sembunyi.


Di kamar tersebut, tidak ada Ferry atau siapapun.


Mbak Nana yang tetap melangkah dari arah belakang Linda, merasa lega. Kini dia tersenyum miring, karena Ferry tidak terlihat ada di dalam kamarnya ini.


"Aku sendirian Mbak. Mbak cari siapa?" tanya mbak Nana dengan bangga. Karena merasa jika, dia menang.


"Anda tidak perlu tahu."


Linda hanya menjawab singkat, tapi matanya masih awas menyelidik.


Begitu juga dengan Danang. Dia merasa heran, karena kamar tersebut kosong. Tidak ada kakak iparnya, atau siapapun kecuali mbak Nana yang tadi membukakan pintu.


Tapi tentu saja, karena tergesa-gesa. Ferry melupakan keberadaan handphone miliknya, yang saat ini tergeletak di atas meja. Lengkap dengan dompetnya juga.


Pada saat Linda ingin mengambil handphone dan dompet tersebut, mbak Nana juga cepat menyambarnya.


"Ini punyaku. Mau apa Anda mbak?" protes mbak Nana, dengan wajah merah.


"Benarkah itu ponsel Anda?" tanya Linda, dengan memiringkan kepalanya. Untuk memperhatikan bagaimana Mbak Nana menyembunyikan keberadaan handphone dan dompet tersebut.


"Iya, ini punyaku."


"Coba Anda aktifkan handphone Anda Mbak. Terus sebutkan nomornya juga. Biar Aku coba menelponnya nanti."


Perkataan dan perintah dari Linda, membuat mbak Nana gelagapan. Dia tidak tahu, bagaimana membuat alasan lagi. Agar tamu yang menjadi pengacau di kamarnya ini segera pergi.


"Batere ponsel saya ini habis. Belum sempat isi tadi," kata mbak Nana, memberikan alasannya.


"Terus itu, dompetnya. Kenapa dompet laki-laki?" Linda bertanya lagi, untuk menekan kejiwaan mbak Nana.


"Ini... ini dompet milik suami Saya. Karena... karena Saya sangat sayang pada suami. Jadi... jadi Saya minta dompetnya ini." Akhirnya mbak Nana mengutarakan alasannya lagi, meskipun dengan kalimat yang terputus-putus. Meskipun terdengar tidak masuk akal juga.


Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh selingkuhan suaminya itu.


"Pihak hotel. Saya mau minta penjelasan dari pihak hotel. Kenapa ini ada tamu yang mengacaukan istirahat Saya di sini!"

__ADS_1


Sepertinya mbak Nana kembali menemukan keberanian dan kepercayaan dirinya. Dia hampir saja berbalik, untuk keluar dari dalam kamar.


Dia ingin meminta pertanggungjawaban pada pihak hotel, karena privasinya di hotel ini merasa terganggu.


"Tunggu!"


Linda berjalan mendekat, meminta pada mbak Nana untuk tidak pergi terlebih dahulu. Dengan sedikit memaksa, Linda juga menarik handphone dan dompet milik suami.


"Ini... Sepertinya ini milik seseorang, yang tadi ada di kamar ini. Dan kamar ini, tidak ada pintu penghubung lain. Jadi..."


Linda sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, dan hanya menggantungkan saja. Ini dia lakukan untuk membuat mbak Nana panik. Begutu juga dengan Ferry, yang kemungkinan besar sedang bersembunyi. Entah ada di kolong tempat tidur atau di dalam kamar mandi.


Atau, bisa jadi di dalam lemari kecil. Yang ada di dalam kamar ini.


Wajah mbak Nana pucat pasi. Dia merasa sangat ketakutan, jika Linda benar-benar membuka dompet tersebut. Karena dompet itu memang miliknya Ferry.


"Sini! Jangan lancang Kamu! Cantik-cantik kok kelakuan minus."


Mbak Nana berteriak memaki Linda, yang hampir saja membuka dompet suaminya itu.


Tapi karena mbak Nana berhasil merebut kembali dompet tersebut. Linda hanya bisa menghela nafas berat.


"Huhfff..."


"Baiklah. Aku akan mencari mas Ferry di tempat lain."


Perkataan Linda yang seperti sedang putus asa, membuat mbak Nana merasa senang. Dia tidak tahu, jika yang dimaksud oleh Linda dengan tempat lain adalah kamar mandi.


"Hai!"


Mbak Nana kembali berteriak keras, dengan wajahnya yang bertambah pucat. Di saat melihat Linda yang memang berjalan menuju ke arah kamar mandi.


"Apa lagi?" tanya Linda, yang hanya menolehkan kepalanya saja.


"Katanya mau cari ke tempat lain? Ya keluar sana!" seru mbak Nana, dengan wajah paniknya. Dengan menunjuk ke arah pintu, meminta pada Linda untuk segera keluar dari dalam kamarnya.


"Ini juga ke tempat yang lain," ujar Linda dengan tersenyum sinis ke arah mbak Nana.


Sekarang dia yakin, jika suaminya memang ada di dalam kamar ini. Meskipun sekarang keberadaannya tidak diketahui ada di mana, tempat yang digunakan untuk bersembunyi.


"Dasar wanita tidak tahu diri!" umpat mbak Nana, yang sengaja memancing emosi Linda.

__ADS_1


Dia hanya ingin membuat Linda emosi, kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi. Karena dia merasa takut jika, Ferry memang sedang bersembunyi di dalam kamar mandi itu.


__ADS_2