
Linda saja selesai mandi dan berganti pakaian, kemudian melihat keadaan bapaknya yang sedang berada di dalam kamar.
"Mama!"
Erli menyambutnya, dengan berdiri dari tempat duduknya. Yang berada di tepi tempat tidur simbahnya.
"Duduk Lin," ajak ibunya, kemudian menggeser posisi duduknya sendiri. Memberikan tempat pada Linda, agar bisa ikut duduk bersama di tepi tempat tidur juga.
Linda pun mendudukkan dirinya, di tepi tempat tidur. Sama seperti yang dilakukan oleh ibunya.
"Bapak tidak ada keluhan kan Bu?" tanya Linda pada ibunya.
"Gak apa-apa. Ini tadi, pas magrib masih melek kok. Tidur abis suara adzan selesai. Di tunggu Erli juga sedari pulang ke rumah," ujar ibunya, memberikan jawaban.
Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh ibunya. Sedang tangannya mengusap-usap punggung tangan bapaknya.
Kulit tangan tersebut sudah menipis, dengan kerutan-kerutan khas orang tua yang melalui masa-masa sulit, keras dan penuh perjuangan.
"Hum... Linda, Linda minta maaf Pak. Tadi gak bisa ikut jemput Bapak."
Linda mengajak bapaknya bicara, meskipun dia juga tahu jika, bapaknya itu sedang dalam keadaan tertidur.
Pergerakan dada bapaknya yang turun naik karena tampak tenang. Bernafas dengan teratur. Dan tidak terusik dengan usapan tangan Linda di punggung tangannya.
"Danang ke mana Bu?"
Linda teringat dengan adiknya, Danang, yang tidak dia lihat sedari tadi.
"Danang ke masjid. Kan mumpung libur, bisa kumpul-kumpul bareng remaja masjid. Paling pulang lepas isyak nanti." Ibunya Linda, menjawab dengan memberikan penjelasan. Ke mana dan melakukan apa Danang sekarang ini.
Linda tidak lagi bertanya. Sekarang, dia ganti mengelus rambut anaknya, dengan tatapan mata yang sendu. Dia menahan diri agar tidak menangis, karena teringat dengan masalah yang sedang dia hadapi bersama dengan suaminya.
"Kamu pergilah makan dulu Lin. Itu Erli belum makan juga tadi. Suapi sana lho!"
Linda melihat ke arah anaknya, yang sekarang ini sedang menganggukkan kepalanya. Memberikan isyarat kepadanya, jika apa yang dikatakan oleh simbah putrinya memang benar.
"Erli mau makan?" tanya Linda, pada Erli.
"Iya Ma. Ayo makan yuk Ma!"
Erli turun dari tepian tempat tidur, kemudian menarik tangannya Linda. Supaya segera mengajaknya untuk makan malam.
"Iya-iya sebentar Sayang."
__ADS_1
"Bu, Linda makan duluan. Ini Erli kayaknya udah lapar beneran dia."
Ibunya hanya mengangguk saja, sambil tersenyum melihat ke arah cucunya. Sedangkan Erli masih saja menarik-narik tangan mamanya. Agar lebih cepat keluar dari dalam kamar, kemudian mengambil makan malam untuk mereka berdua.
Sekarang, Linda sedang makan dan menyuapi anaknya di depan televisi.
"Ma. Papa kapan pulang Ma?" tanya Erli tiba-tiba, dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Makan dulu Sayang. Bicara nanti saja kalau sudah selesai. Takutnya nanti tersedak lho," kata Linda memberikan nasehat pada Erli. Supaya tidak berbicara pada saat makan.
Erli pun akhirnya menurut. Dia tidak lagi bertanya tentang papanya, yang sedang pergi ke luar kota.
Itu adalah sepengetahuan Erli, karena tadi pagi, dia memang ikut mengantarkan papanya pergi ke luar kota. Meskipun hanya sampai di belakang pasar saja.
"Ma," panggil Erli lagi.
Dia lupa dengan nasehat yang baru saja diberikan oleh mamanya tadi.
"Hum..."
Linda pun hanya menyahuti dengan gumamam yang tidak jelas. Sehingga Erli kembali memanggilnya.
"Mama!"
"A.. ayo a dulu!" pinta Linda pada Erli, supaya membuka mulutnya untuk disuapi lagi.
Tapi ternyata Erli menolak. Dia tidak mau membuka mulutnya, untuk menerima suapan yang diberikan oleh Linda.
"Baru sedikit sayang. Ayo a lagi!" cicit Linda tidak peduli.
Dia juga menyodorkan sendok yang dua pegang, untuk menyuapi anaknya lagi. Tapi Erli tetap mengelengkan kepalanya tidak mau.
"Makan Erli!"
Kesabaran Linda tidak bisa dia tahan, sehingga meninggikan suaranya. Dia membentak Erli, yang tidak mau dia suapi lagi. Karena merasa sudah kenyang.
Mendengar bentakan mamanya, Erli jadi ketakutan. Matanya berkaca-kaca, mengingat kembali suara mamanya yang tinggi.
"Huuu... Erli udah kenyang Ma. Gak mau makan lagi. Huuu..."
"Mbak, apaan sih kok bikin Erli nangis?"
Tiba-tiba saja Danang sudah ada di dekat mereka, dengan memberikan pertanyaan yang dia ajukan untuk Linda.
__ADS_1
Danang merasa jika kakak perempuannya itu sedang dalam keadaan tertekan. Sehingga membuat emosinya tidak bisa dikontrol. Dan sasarannya adalah anaknya sendiri, Erli, yang kebetulan sedang tidak mau menurut padanya.
Linda terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh adiknya. Dia tahu jika dia salah. Tapi dia juga tidak bermaksud untuk membentak Erli tadi.
"Ma_maaf. Maafkan Mama Sayang. Mama tidak bermaksud untuk membentak Erli tadi. Ini... ini Mama..."
"Mbak istirahat saja. Biar Danang yang mendiamkan Erli."
Danang meminta pada Linda, supaya beristirahat terlebih dahulu. Karena saat ini, Erli masih dalam keadaan menangis. Tanpa tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada mamanya.
Linda mengelus pucuk kepalanya Erli, saat dia berdiri dari tempat duduknya.
"Maafkan Mama Sayang," ucap Linda, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Erli, yang berada di dalam pelukan Danang.
Dia pergi ke kamarnya sendiri, untuk beristirahat. Sama seperti yang dikatakan oleh adiknya tadi.
Erli tidak menyahut. Dia masih menangis di dalam dekapan om nya, Danang. Yang tadi meminta pada mamanya, supaya pergi untuk beristirahat.
"Huhuhu..."
"Cup cup cup Sayang. Erli kan anak pintar ya, jadi gak perlu nangis. Mama cuma capek aja kok tadi." Danang berusaha untuk mendiamkan keponakannya itu, supaya tidak menangis lagi.
Tangisan Erli masih terdengar, sehingga membuat Simbah putrinya keluar dari dalam kamar. Untuk melihat keadaannya.
"Ada apa?"
Ibunya keluar dari dalam kamar, menuju ke depan televisi. Di mana dia menemukan anak laki-lakinya, yang sedang berusaha untuk mendiamkan cucunya.
"Lho Nang, Erli kenapa itu? Mbak mu mana?"
Ibunya merasa heran, karena tidak melihat keberadaan anaknya, Linda. Yang tadi sedang makan bersama dengan cucunya, Erli.
"Baru saja masuk ke dalam kamar. Mbak Linda ngantuk Bu. Ini biar Danang yang urus."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Danang, ibunya menautkan kedua alisnya. Dia merasa jika sedang terjadi sesuatu pada anaknya.
"Mbak mu ada masalah?" tanya ibunya lagi.
Tapi Danang tidak memberikan jawaban ataupun penjelasan apapun. Dia justru memberikan isyarat, agar ibunya tidak lagi bertanya-tanya atau bicara soal kakaknya, Linda.
"Huwaaa... huuu..."
Tangis Erli semakin keras, di saat Simbah putrinya itu bertanya pada Om nya, mengenai mamanya.
__ADS_1
"Eh... eh, cup cup cup Sayang. Nanti simbah Kakung bangun lho! kan kasian itu Mbah Kung. Sedang sakit kan Simbah?" ibunya Linda, berusaha untuk mendiamkan cucunya yang menangis dengan kencang.
Dan ternyata, perkataannya itu membuat Erli tersadar. Jika sekarang ini, Simbah kakungnya memang sedang sakit. Dan tadi pagi baru saja pulang dari rumah sakit.