Tante Melinda

Tante Melinda
Selesai Juga


__ADS_3

"Huwaaa..."


"Huwaaa... Huwaaa..."


Dari arah kamar, terdengar suara tangisannya Erli. Dia bangun tidur. Dan ternyata...


"Erli!"


"Kenapa Bu?"


Tapi, ibunya Linda tidak langsung menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Dia berjalan dengan cepat, menuju ke dalam kamar tempat Erli tidur.


Setelah beberapa menit kemudian, ibunya Linda keluar dengan mengendong cucunya. Yang masih dalam keadaan menangis.


"Huhuhu..."


"Kenapa Bu?" tanya bapaknya Linda lagi.


Dia tidak tahu, kenapa cucunya itu bangun tidur langsung menangis.


"Dia jatuh Pak. Dari tempat tidur."


"Lho, glundung?"


Istrinya hanya mengangguk saja. Dia masih berusaha untuk mendiamkan Erli. Yang ada di dalam gendongannya.


"Kok bisa? Kan udah dikasih guling sama batal di pinggir-pinggir. Biar tidak jatuh," tanya suaminya lagi, dengan nada heran.


"Ibu kan sudah bilang. Dua tidur gak mau diem. Muter aja kayak gangsingan." Istrinya itu, mengeluhkan tentang cara tidur cucunya.


"Huhuhu..."


"Cup cup cup... Minum dulu ya!"


Erli mengangguk, masih dengan sesenggukan. Dia merasa sakit, kaget dan takut juga tadi. Di saat tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur.


"Di rumah, Erli tidur di kamar sendiri kan? pernah jatuh gak?" tanya simbah putrinya, sambil membantu Erli minum air putih di gelas.


Erli tampak mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh simbah putrinya itu. "Tapi gak pernah jatuh Mbah," jawab Erli. Setelah selesai minum.


"Kok bisa gak pernah jatuh?" tanya simbahnya lagi.


"Hiks... itu hiks, kasurnya gak tinggi kayak di sini."


Erli menjawab dan menjelaskan pada simbahnya lagi, masih dengan suara tangisannya yang tinggal satu-satu.


Simbah Putrinya itu, tampak bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Erli. Dengan melihat ke arah simbah kakungnya, Erli mengangguk mengiyakan.


"Mungkin di rumahnya sana, kasurnya atau tempat tidurnya, gak pakai ranjang Bu. Jadi ada di lantai. Demi keamanan Erli sendiri."

__ADS_1


Sekarang, istrinya itu tampak tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Sekarang, dia paham dengan apa yang di maksud oleh cucunya tadi.


"Kayak begitu ya Sayang?" tanya simbahnya memastikan.


Erli mengangguk cepat. Mengiyakan perkataan tersebut. Dan Erli, juga sudah tidak lagi dalam keadaan menangis.


"Kita makan dulu ya! Simbah mau masak sebentar. Kamu sama Mbah Kung ya?"


Erli kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari Simbah putrinya. Dia meminta turun dari gendongan, dan duduk di samping Simbah kakungnya.


Setelah itu, Simbah putrinya itu pergi berjalan menuju ke arah dapur.


"Kamu kalau tidur jangan ke sana ke mari. Jatuh kan jadinya," tutur simbah kakungnya, memberikan nasehat.


"Kan gak tahu Kung. Tiba-tiba jatuh sendiri," sanggah Erli, yang tidak mau disalahkan atas kejadian yang dia alami tadi.


"Hemmm... kalau begitu, besok-besok jika tidur di rumah ini, tidurnya pakai tikar saja ya! Di depan televisi ini," kata simbahnya, memberikannya usulan untuk cucunya itu.


Erli mengangguk mengiyakan perkataan simbahnya. Dia pun akhirnya berbaring lagi, di depan televisi bersama dengan Simbah kakungnya yang duduk di tikar.


"Masih ngantuk?" tanya simbahnya, yang melihat Erli menguap.


"Gak," jawab Erli, yang tidak sesuai dengan kenyataan. Karena jelas-jelas jika sedang menguap, tapi menjawab jika tidak mengantuk.


"Ya sudah sini!"


Selain mengusap-usap kepala Erli, simbahnya itu juga mengepuk-ngepuk badan bagian belakang. Supaya Erli bisa cepat tertidur lagi.


Puk-puk!


Begitu terus hingga Erli benar-benar kembali terpejam.


"Lho Pak, tidur lagi dia?"


Dari arah dapur, istrinya muncul dan bertanya tentang cucunya, yang sedang terbaring di samping suaminya.


"Iya. Dia pasti tadi belum waktunya bangun. Cuma karena jatuh saja, jadi kebangun dan nangis."


Istrinya tampak mengangguk. Kemudian berjalan kembali menuju ke dapur, untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi dua tinggal.


Baru setelah beberapa menit kemudian, ibunya Linda selesai memasak dan menyiapkan makanan untuk suaminya.


"Ayok Pak makan dulu. Nanti biar Erli Ibu suapi jika sudah bangun," ajak istrinya, dengan membawa hasil masakannya ke depan tv.


Dia melayani suaminya, sebelum dia sendiri mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


*****


Di tempat wisata.

__ADS_1


Pak Komarudin mengelap keringat dan ceceran cairan, yang ada di badannya. Hasil dari kegiatannya bersama dengan Linda.


Dia juga mengelap bagian tubuh Linda, yang tentunya mengeluarkan banyak cairan. Dia melakukannya dengan pelan dan lembut. Mengunakan handuk kecil yang masih baru.


Sebenarnya, Linda merasa risih dan ingin membersihkannya sendiri.


Tapi dia di minta untuk tetap diam dan berbaring saja.


"Kamu capek Lin. Gak apa-apa, biar Aku saja. Lagipula, ini juga karena Aku kok," ujar pak Komarudin, yang tidak memperbolehkan Linda mengambil handuk yang dia pegang.


Linda merasa tersanjung dengan perkataan dan perlakuan yang diberikan oleh pak Komarudin kepadanya.


"Tidurlah. Biar Kamu bisa rileks sebentar. Atau Kamu mau sesuatu yang baru, yang belum pernah Kamu lakukan sebelumnya?"


Linda menautkan kedua alisnya bingung. Dia tidak mengerti, apa yang diinginkan dan maksud dari perkataan yang diucapkan oleh pak Komarudin barusan.


"Bukan. Ini bukan hal yang sama seperti yang ada di film tadi. Kasar dan brutal. Aku juga tidak suka."


"Ini... ah, Aku tidak yakin. Tapi, jika Kamu merasakannya dan suka, pasti akan ketagihan!"


"Apa itu Pak?" tanya Linda cepat.


Sepertinya, Linda merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh pak Komarudin.


Dia juga ingin tahu, apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan pengalaman baru, dan ketagihan tadi.


"Jika Kamu setuju, Aku akan menghubungi seseorang. Dia ada di sini juga. Dan yang pasti, Kamu juga sudah kenal siapa dia," ujar pak Komarudin, memberitahu Linda.


Linda semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh pak Komarudin. Dia merasa tidak kenal dengan siapapun di tempat ini.


"Tapi, jika Kamu tidak nyaman, dan gak mau, ya gak apa-apa. Sama Aku saja ya!"


Linda mengangguk sambil tersenyum. Dia memejamkan matanya, mengusir rasa penasaran yang tadi belum terjawab. Karena pak Komarudin, tidak memberikan penjelasan yang lebih jelas lagi.


"Sudah, Tidurlah!"


Pak Komarudin, menata bantal senyaman mungkin untuk digunakan Linda.


Dan benar saja, tak lama kemudian Linda tertidur pulas, setelah selesai dengan aktivitasnya bersama dengan pak Komarudin tadi.


Dia tampak nyaman, tertidur dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


Pak Komarudin tersenyum melihatnya. Setelah itu, barulah pak Komarudin beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Pak Komarudin, sudah selesai membersihkan dirinya sendiri.


Dia berjalan menuju ke sofa, dan duduk untuk menganti acara TV, yang tadi menayangkan film yang tak sengaja dia temukan.


Setelah selesai, dia minum sebentar, baru kemudian menyalakan handphonenya yang tadi dia non aktifkan.

__ADS_1


__ADS_2