Tante Melinda

Tante Melinda
Bukan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Malam ini juga, Linda meminta pada adiknya itu, untuk menginap di rumahnya saja. Karena sekalian bisa membawa Erli besok paginya.


"Nginap di sini saja Nang. Jadi, besok pagi, Erli bisa sekalian Kamu ajak pulang. Mas mu ini juga akan pergi pagi-pagi sekali," ujar Linda memberikan penjelasan.


"Iya Mbak. Nanti, Danang akan kirim pesan sama tetangga dulu. Biar dikasih tau ke ibu atau bapak, jika Danang nginep di rumah mbak Linda."


"Takutnya, bapak dan ibu nyariin."


Danang menyahuti perkataan Linda. Dan menyetujui permintaan dari kakaknya itu.


Linda dan Ferry, jadi merasa lega. Karena mereka berdua bisa lebih tenang saat mereka berangkat kerja besok di pagi hari.


Erli juga tampak tersenyum senang. "Erli ke rumah om Danang? Main sama simbah?" tanya Erli dengan mata berbinar-binar.


"Iya. Erli suka?" tanya Linda, pada putri kecilnya.


Erli langsung menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan yang diajukan kepadanya.


"Ya sudah. Ayo di makan lagi martabaknya. Setelah itu pergi pipis dan gosok gigi. Mama temenin ke kamar mandi," tutur Linda, meminta pada anaknya itu untuk memakan kue martabak lagi.


"Udah Ma. Erli enyang!"


"Emhhh... ya sudah yuk!"


Erli meminum air putih terlebih dahulu, sebelum berdiri mengikuti mamanya ke kamar mandi.


Ferry dan Danang, masih tampak berbincang-bincang dengan perbincangan umum para laki-laki. Yaitu soal pertandingan bola.


"Mas udah jarang liat Nang. Udah udah gak ada waktu," ujar Ferry, yang mengeluhkan tentang waktunya untuk hobby menonton bola sudah tidak ada lagi.


"Danang juga di ajak teman kok Mas. Itu mumpung libur kerja, dan gak ada kegiatan di kampus."


"Skor nya berapa kemarin itu?" tanya Ferry ingin tahu. Bagaimana pertandingan bola yang sedang mereka berdua bicarakan.


"Payah Mas. Masak belum ada tiga menit kok udah gol!"


Ferry tercengang, mendengar jawaban yang diberikan oleh adik iparnya itu.


"Kok bisa?" tanya Ferry cepat.


Dia tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Danang. Karena yang sedang mereka bicarakan ini adalah club sepak bola yang lumayan unggul di kota mereka ini.


"Ya gak tau juga Mas. Nasib dan keberuntungan, sedang tidak berpihak pada club sepak bola itu mungkin," sahut Danang, sambil menaikkan kedua bahunya.


"Iya juga sih. Hemmm..." ucap Ferry, dengan membuang nafas panjang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Erli dan Linda tampak keluar dari dalam kamar mandi.


"Mas. Linda mau menemani Erli tidur dulu ya!" pamit Linda, pada suaminya.


*****


Keesokan paginya, Ferry sudah berangkat ke luar kota sejak jam tiga dini hari.


Linda jadi mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Untuk keperluan anaknya, Erli, yang akan pergi ke rumah ibunya, bersama dengan adiknya, Danang.


"Nang. Ini ada martabak manis yang semalam. Siapa tahu, Erli masih mau. Ada jajanan dan baju ganti Erli juga." Linda menyerahkan tas kecil, yang biasa digunakan untuk keperluan Erli.


Danang menerima tas tersebut, dan segera mengendong keponakannya.


Erli juga sudah mandi dan rapi.


"Ma. Nanti Mama nyusulin Erli ke rumah simbah kan?" tanya Erli, sebelum pergi bersama dengan Danang.


"Iya Sayang. Mama akan langsung ke rumah simbah, begitu pulang kerja nanti."


Erli tampak tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya. "Ayo Om berangkat!" ajak Erli, yang sudah berada di atas kursi bantu. Untuk tempat duduknya, jika sedang membonceng sepeda motor.


"Mbak beneran gak usah di anterin?" tanya Danang memastikan bahwa, kakak perempuannya itu bisa berangkat kerja sendiri, tanpa harus dia antar.


"Iya. Mbak naik ojek aja di depan. Kamu berangkat saja!"


Linda mengangguk mengiyakan. Dia tidak perlu repot-repot diantar oleh Danang, karena ada banyak tukang ojek di jalan besar. Tak jauh dari rumahnya ini.


Lagipula, dia juga tidak akan pergi ke pabrik tempatnya bekerja.


Tapi, Linda akan pergi ke suatu tempat, di mana dia sudah di tunggu oleh pak Komarudin di sana.


Setelah kepergian adik dan anaknya, Linda bersiap-siap untuk berangkat juga. Dia mengambil tas dan handphone miliknya, kemudian keluar dan mengunci pintu rumah.


Saat Linda baru saja berjalan menuju ke arah jalan besar, handphone miliknya berbunyi. Ada panggilan masuk untuknya.


Linda mengeluarkan handphone tersebut dari dalam tas. Dan saat melihat ke layar handphonenya, ada nama pak Komarudin yang melakukan panggilan.


..."Ya Pak. Saya sedang mencari ojek dulu." ...


..."Aku nunggu di tempat yang sudah kita sepakati bersama ya Lin!" ...


..."Iya Pak." ...


Klik!

__ADS_1


Linda pun mempercepat langkahnya, agar segera sampai di jalan besar, dan menemukan tukang ojek.


"Pak. Tolong antar ke perempat di sana ya!"


"Oh siap Mbak!"


Tukang ojek memberikan helm untuk dikenakan oleh Linda. Baru kemudian menghidupkan mesin motornya.


Linda berangkat menuju ke tempat, di mana dia sudah melakukan janji temu dengan pak Komarudin.


Beberapa saat kemudian, Linda sampai juga di tempat tujuan. Setelah turun dan membayar ongkos ojek, Linda berjalan menuju ke arah mobil pak Komarudin di parkir.


Tanpa menunggu lama, Linda masuk juga ke dalam mobil. Karena pak Komarudin, sudah membukakan pintu untuknya dari dalam.


Tanpa menunggu lama, pak Komarudin segera melajukan mobilnya.


"Sebenarnya, kita mau ke mana Pak?" tanya Linda, yang memang tidak tahu, ke mana sebenarnya dia diajak oleh pak Komarudin.


"Tenang saja Lin. Tempat ini akan membuat kita merasa sangat nyaman."


Pak Komarudin, tidak mengatakan jawaban yang benar. Dia juga tidak menjelaskan secara pasti, ke mana tujuan mereka saat ini.


Akhirnya, Linda hanya mengangguk saja, tanpa bertanya lagi. Dia pasrah saja, ke mana pak Komarudin akan membawanya. Apalagi, dia juga percaya jika, apa yang dikatakan oleh pak Komarudin tadi memang benar.


Karena selama ini, pak Komarudin bisa memberi dirinya kenyamanan, yang tidak pernah dia rasakan.


Setelah beberapa lama di perjalanan, pak Komarudin menghentikan mobilnya di suatu tempat. Dan tempat ini, belum pernah Linda kunjungi.


Tapi Linda tahu, jika tempat ini bukan hanya sekedar tempat wisata saja. Karena ada banyak restoran dan kafe, dan juga tempat untuk beristirahat atau menginap.


Jadi, tempat ini adalah tempat wisata, yang memberikan banyak fasilitas untuk para pengunjung.


Bukan hanya sekedar tempat untuk berwisata saja. Tapi juga untuk menikmati makanan dan beristirahat dengan tenang, jauh dari keramaian kota.


Tempat-tempat wisata seperti ini, sedang trend dan ramai di iklankan. Dan tidak semua orang, bisa datang untuk menikmati pelayanan yang baik di tempat seperti ini. Karena harga jual tiketnya tidak murah.


"Ayok Lin!" ajak pak Komarudin, begitu mesin mobil sudah dimatikan.


Linda keluar dari dalam mobil, berbarengan dengan pak Komarudin, yang juga keluar setelah mencabut kunci mobilnya.


Sekarang, Linda berjalan mengikuti langkah pak Komarudin.


"Sini, masa iya Kamu berjalan dibelakang. Kayak bodyguard saja!"


Linda mengangguk mengiyakan permintaan pak Komarudin. Dan sekarang, dia berjalan beriringan bersama atasannya itu.

__ADS_1


Mereka berdua, menuju ke arah loby, untuk melakukan pembayaran administrasi yang diperlukan untuk kegiatan mereka nanti.


__ADS_2