Tante Melinda

Tante Melinda
Tidak Bisa


__ADS_3

"Maaf Kang."


Linda mengucapkan permintaan maaf nya lagi, pada saat kang Mus terdiam.


"Siapa dia Lin? Aku tidak mau, jika calon suamimu itu mirip dengan Ferry secara kelakuannya," tanya kang Mus, yang mengingat perilaku Ferry di masa hidupnya.


Setidaknya, kang Mus tahu, bagaimana Ferry yang pernah memukuli Linda, dan juga menyelingkuhi wanita yang dia cintai ini.


Linda menundukkan kepalanya, mendengar pertanyaan dan kekhawatiran saudara ibunya itu. Sebab, yang dikatakan oleh kang Mus memang ada benarnya.


"Maaf Kang, tolong jangan ungkit lagi tentang keadaan almarhum suaminya Linda. Bagaimanapun juga, mas Ferry adalah suaminya Linda. Papa dari anaknya Linda juga Kang."


Kang Mus menghela nafas panjang kemudian meminta maaf kepada Linda. "Maaf Lin. Aku, Aku hanya khawatir saja."


Linda menganggukan kepalanya, seraya mengucapkan terima kasih. Atas simpati yang diberikan oleh Kang Mus padanya.


"Terima kasih Kang, atas kekhawatirannya. Semoga saja, calon suaminya Linda kali ini, lebih baik, dan bisa menerima Linda apa adanya. Karena Linda, untuk saat ini juga sudah ada Erli."


Kang Mus tampak sangat kecewa, karena ternyata, keinginannya untuk menjadikan Linda sebagai istri gagal lagi. Padahal waktu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Bahkan, Linda juga sudah berstatus janda. Tapi pada kenyataannya, keinginan itu tidak bisa terwujud.


Mungkin, waktu belum memberinya kesempatan untuk berjodoh dengan Linda.


"Ya sudah kalau begitu. Aku, Aku balik dulu Lin. Tapi, Aku berpesan padamu. Jika dia tidak memperlakukan mu dengan baik, cepatlah terpisah darinya. Jangan seperti kemarin, pada saat bersama dengan Ferry."


"Oh ya, untuk modal usaha yang sudah dikeluarkan oleh Ferry, sudah Aku hitung bersama dengan temanku. Apa Kamu mau mengambilnya sebagai uang cash lagi, atau meneruskan keinginan Ferry, untuk menanam modal di usaha penggilingan padi?"


Linda terdiam, mendengarkan penjelasan dan pertanyaan yang diberikan oleh kang Mus.


Dia tidak bisa menjawab dengan mudah, apa yang menjadi pertanyaan kang Mus. Sebab, almarhum suaminya, semasa hidupnya memang menginginkan untuk berwirausaha.


"Tapi sekarang dia sudah tidak ada. Lalu, bagaimana caranya menjalankan usaha tersebut Kang?"


"Jika Kamu ingin menarik uang itu lagi, Aku akan bicarakan dengan temanku. Nantinya, kami akan mencoba mencarikan sejumlah uang tersebut. Untuk pengganti. Tapi jika tidak, ya... Kamu cuma menanam modal. Kami akan memberikan prosentase keuntungan setiap bulannya, atau dikalkulasi setiap tahun. Tapi, keuntungan yang akan Kamu peroleh berbeda dengan kami, yang ikut mengurus secara langsung."


Linda mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh kamus. Dia mencoba untuk memahami sistem penanaman modal, dalam usaha yang sedang diusahakan oleh suaminya beberapa bulan yang lalu.


Akhirnya, Linda memikirkan bagaimana sebaiknya dia memutuskan. Sebab dia berpikir bahwa, kang Mus dan temannya itu masih membutuhkan modal usaha yang besar. Sebab, penggilingan padi yang mereka dengan bersama dengan nomormu suaminya baru berjalan sekitar sebulan yang lalu.


Jadi, jika harus mengembalikan modal yang sudah ditanam oleh Ferry, pastinya sangat memberatkan mereka berdua. Sebab, modal usaha uang yang dipakai sebagai pokok saat membangun, untuk berdagang, melepas uang dan sebagainya, yang dijadikan modal adalah harta benda, uang, barang dan sebagainya, kumpulan dari modal kang Mus, temannya, yang merupakan Bos pengilingan padi tempat Ferry berjualan beras. Bersama dengan uang Ferry, masih digunakan untuk menghasilkan sesuatu untuk menambah kelancaran usaha mereka tersebut.


Akhirnya, Linda memutuskan untuk meneruskan investasi almarhum suaminya.


Mungkin, laba yang akan diberikan setahun sekali oleh kang Mus, bisa digunakan sebagai tabungan untuk masa depan Erli. Jadi tetap ada manfaatnya.

__ADS_1


"Linda tidak menarik uang itu lagi Kang. Tapi gak apa-apa kan, misalnya itu hanya jadi modal yang di tanam, biar menjadi aset Erli saja di masa depan. Bisa digunakan untuk biaya pendidikannya nanti."


Mendengar jawaban dan keputusan yang diambil oleh Linda, membuat kamus menganggukkan kepalanya. Paham dengan maksud perkataan tersebut.


"Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini bersama temanku. Semoga usaha ini lancar ya, jadi bisa jadi tabungan Erli juga. Dari almarhum papanya yang sudah tiada."


Linda menganggukan kepalanya, dengan tersenyum tipis.


"Terima kasih ya Kang. Dan sekali lagi, Linda minta maaf pada kang Mus."


Kang Mus hanya menanggapi dengan senyuman, dan juga menganggukan kepalanya.


Setelah dirasa cukup, kang Mus benar-benar pamit itu untuk melanjutkan kegiatannya lagi.


"Aku pamit dulu ya Lin."


"Ya Kang, hati-hati."


*****


Di perusahaan.


Danang, yang sedang sibuk membuat perencanaan produksi untuk gedung yang dipimpin oleh pak Komarudin, mendapatkan kabar, jika ada panggilan dari HRD.


"Nang, Danang! Ada panggilan tuh ke HRD."


Dia langsung menghentikan aktivitasnya untuk sementara waktu, karena akan pergi ke HRD terlebih dahulu.


Dalam perjalanannya menuju ke HRD, dia berpikir tentang pemangilan yang dilakukan oleh pihak HRD.


"Ada apa ya?"


"Sepertinya, surat dokter untuk mbak Linda, baru aku kirim ke kemarin. Apa Della lupa ngasih ya?"


"Ah, semoga ini bukan tentang mbak Linda."


Setibanya di kantor HRD, Danang masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu.


Dan ruangan tersebut, yang sangat luas berada di lantai dua. Karena lantai satu, hanya digunakan untuk ruang metting para atasan di perusahaan ini.


Dia menemui Della terlebih dahulu, "Yang. Mas di panggil ke sini. Ada apa ya?" tanya Danang, setelah berada di depan meja istrinya. Yang memang bekerja di ruangan HRD juga.


"Lho, Della gak tahu Mas. Coba tanya pak Yus!" Della, justru memberikan saran pada suaminya itu, untuk langsung menghadap ke ruangan pak Yus, sebagai kepala HRD di perusahaan ini.

__ADS_1


Ruangan pak Yus, memang satu tempat di sini. Tapi, dia ada sekat tersendiri, yang merupakan ruangan khusus untuk ruangan kepala HRD.


Akhirnya Danang menyetujui saran dari istrinya. Sebab, temannya yang tadi memberikan berita padanya, juga tidak memberitahu, pada siapa dia harus menghadap ke HRD saat ini.


Dengan perasaan yang tidak menentu, Danang mengetuk pintu ruangan pak Yus.


Tok tok tok!


"Masuk," ucap pak Yus, mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Selamat pagi Pak Yus."


Danang masuk, setelah dipersilahkan untuk masuk. Kemudian mengucapkan salam pada ketua HRD tersebut.


"Silahkan duduk saudara Danang!"


Pak Yus mempersilahkan Danang untuk duduk, di kursi yang ada di depan meja kerjanya.


Tapi, pak Yus tidak langsung mengutarakan maksudnya, memanggil Danang ke ruangannya ini.


Dia justru memanggil salah satu bawahannya, untuk masuk ke dalam ruangannya juga.


Danang jadi deg degan sendiri, menantikan apa yang sebenarnya akan disampaikan oleh pak Yus padannya. Sebab, dia merasa tidak melakukan kesalahan ataupun sesuatu yang merugikan perusahaan.


Tok tok tok!


"Masuk."


Salah satu bawahan pak Yus masuk, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan oleh pak Yus untuk masuk ke dalam.


Orang tersebut, menyerahkan satu map berwarna merah kepada pak Yus, kemudian pamit untuk kembali ke tempat kerjanya lagi.


"Ini Pak, dan Saya permisi kembali kerja lagi."


"Ya silahkan. Terima kasih ya!"


Setelah orang itu pergi, pak Yus membuka map tersebut, dan membacanya sekilas. Setelahnya, dia kembali fokus pada Danang yang ada di depannya.


"Maaf ya saudara Danang. Jadi menunggu."


Pak Yus justru meminta maaf kepada Danang, sebab tidak langsung pada permasalahan, kenapa Danang dipanggil keuangannya.


Tapi, apa yang dikatakan oleh pak Yus selanjutnya membuat dendeng tidak percaya begitu saja. Karena dia tidak pernah berfikir sejauh itu.

__ADS_1


"Ini, Anda mendapatkan sebuah promosi kenaikan jabatan. Tapi... keputusan ini, juga tergantung dari Anda sendiri."


Danang masih diam menyimak, dengan apa yang dikatakan oleh pak Yus. Yang belum dia ketahui keseluruhannya, apa maksud dari kenaikan jabatan, dan keputusan yang dibicarakan oleh pak Yus tadi.


__ADS_2