Tante Melinda

Tante Melinda
Kenangan


__ADS_3

Dua hari ijin tidak masuk kerja, benar-benar membuat Linda merasakan kebahagiaan tersendiri berada di rumah. Ada di dekat suami dan juga anaknya.


Menemani Erli dengan bermain, menidurkan anaknya itu, di tambah dengan permintaan Erli yang minta di buatkan makanan-makanan kesukaannya.


Linda juga merasakan kehangatan sebuah hubungan yang sudah lama terabaikan. Sejak dia merasa tertekan oleh perilaku dan sikap kasar Ferry beberapa tahun terakhir kemarin.


Yang pada puncaknya adalah pemecatan suaminya itu dari anggota kepolisian.


Linda menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Mengingat bagaimana lika-liku perjalanan hidupnya, selama menjadi istri dari Ferry.


Laki-laki yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya, dan sedikit memaksakan kehendaknya. Untuk menjadikan dirinya sebagai seorang istri.


Padahal, pada saat itu Linda sudah memiliki kekasih pujaan hatinya sendiri. Meskipun kekasihnya itu ada di kota besar, dan jarang pulang. Tapi Linda sangat mencintainya.


Sayangnya pada saat itu, ada seseorang yang tampak jelas dan pasti, datang meyakinkan Linda dan kedua orang tuanya. Dan ini pasti lebih dipertimbangkan. Daripada seseorang yang ada di dalam hatinya Linda sendiri, tapi tampak tidak ada keseriusan di mata kedua orang tuanya juga.


Linda kembali menghela nafas panjang. Saat ingat dengan semuanya yang sudah terjadi. Dia hanya berharap, agar Romi, kekasihnya yang dulu, bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik. Dan juga hidup berbahagia.


"Dek," panggil Ferry, saat Linda hanya diam saja. Dengan duduk di depan cermin hiasnya.


Sepertinya, Linda sedang melamun. Terbukti dengan diamnya Linda, saat suaminya itu memangil dirinya tadi.


Ferry mencoba untuk kembali memangil istrinya. "Dek. Kamu melamun?" tanya Ferry, karena sedari tadi Linda memang hanya diam saja.


"Eh, emhhh... gak Mas."


Linda tersadar, dan menjawab pertanyaan dari suaminya itu dengan gugup.


"Mikirin apa sih?" tanya Ferry lagi.


Kini, Ferry mencoba untuk mengubah posisi tidurnya. Agar bisa melihat istrinya itu dengan lebih jelas.


"Emhhh... besok, besok Linda kan udah masuk kerja Mas. Terus Erli dan Mas sendiri bagaimana?" Linda bertanya tentang kebingungan sendiri. Karena harus meninggalkan suami dan anaknya di rumah.


Sedangkan Ferry dalam keadaan seperti sekarang ini. Tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, tanpa bantuan orang lain.


"Ibu katanya mau ke sini kan? Ya sudah, sama ibu. Tapi, ajak bapak juga!"


Linda terdiam mendengar perkataan suaminya. Dia berpikir bahwa, itu ide yang cukup bagus juga. Setidaknya, dia bisa bekerja dengan lebih tenang. Karena Erli dan juga suaminya itu, ada yang menjaga dan menemani seharian ini.


"Danang kan cuma bisa mbonceng ibu saja. Bapak bagaimana?" Linda kebingungan juga dengan cara bapaknya datang ke rumahnya besok.


"Danang di bonceng ibu. Bapak minta tolong sama tetangga, untuk mengantarkan ke sini. Nanti kita kasih uang bensin untuk tetangga yang mau antar," ujar Ferry memberikan solusi bagi kedua orang tuanya Linda.

__ADS_1


"Emhhh... baiklah. Linda kasih kabar ke Danang dulu kalau begitu."


Akhirnya, Linda menghubungi adiknya. Dia mengatakan apa yang tadi dia dan suaminya rencanakan.


Tut tut tut!


..."Ya Mbak. Ada apa?" ...


..."Nang. Besok Kamu antar ibu ke sini ya! Mbak udah mulai masuk kerja kok." ...


..."Iya Mbak. "...


..."Eh Nang. Tapi sama bapak juga ya!" ...


..."Lah, yang mbonceng bapak siapa? Danang kan udah mboncengin ibu?" ...


..."Minta tolong siapa saja lah! Nanti Mbak ganti untuk bensinnya. Itung-itung bapak naik ojek gitu Nang." ...


..."Iya Mbak baik. Besok pagi-pagi, Danang datang bersama dengan ibu. Jika bapak, bisa menyusul kemudian. Nanti biar di antar pak Lek dekat musolla, yang biasa ngojek di pasar." ...


..."Nah ya, gitu aja." ...


..."Ya Mbak."...


..."Iya Mbak." ...


Klik!


Linda tersenyum melihat ke arah Ferry, di saat di menutup panggilan teleponnya dengan Danang.


"Busa Mas. Ibu akan datang bersama dengan Danang paginya. Dan bapak sebisanya pak Lek yang tukang ojek di pasar. Dekat musolla."


Ferry mengangguk, dengan tersenyum. Dia merasa lega, karena ada kedua mertuanya besok pagi. Mereka berdua, akan ikut merawat dan menjaganya, bersama dengan Erli juga.


Meskipun dia tidak apa-apa sendirian, tapi tidak mungkin dengan Erli, anaknya.


Karena dia juga belum bisa berjalan, dan memantau Erli pada saat bermain. Meskipun itu hanya ada di dalam rumah.


Ada banyak saluran listrik, yang bisa membuat Erli tersengat listrik tanpa sengaja. Jika tidak ada yang menjaganya. Karena Erli juga anaknya aktif. Tidak bisa jika harus diminta berdiam diri di satu tempat, dalam jangka waktu yang lama.


Sekarang, Linda juga lebih tenang. Karena besok pagi, dia sudah bisa mulai bekerja. Meskipun sebenarnya dia juga masih ingin berlama-lama ada di rumah.


Tapi tanggung jawab pekerjaannya yang ada di pabrik, tidak mungkin bisa dia abaikan begitu saja.

__ADS_1


Linda beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke tempat tidur, menyusul suaminya yang memang berbaring di sana.


"Sini tidur Dek. Kamu pasti capek kan dua hari ini?"


Linda hanya tersenyum, menangapi pertanyaan dari suaminya, yang memang benar adanya. Sekarang, dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya, agar besok pagi bisa bangun dan kembali bekerja.


Mungkin besoknya, dia juga akan meminta ijin untuk bisa pulang lebih awal. Setidaknya, dia tidak harus ikut lembur bersama dengan anak-anak yang lain. Sehingga harus pulang setelah malam hari.


*****


Di sebuah rumah makan.


Pak Rudi dan pak Komarudin, baru saja selesai makan malam bersama dengan pak Yus dan beberapa manager lainnya.


Mereka semua, merayakan ulang tahun salah satu dari manager tersebut.


Pada saat perbicangan mereka sudah mulai ke arah panas, tiba-tiba ada salah satu dari mereka bertanya pada pak Rudi dan juga pak Komarudin.


"Pak Rudi, pak Komarudin. Bagaimana rasanya bule lokal?"


"Eh, mantap kali lah!" jawab pak Komarudin, dengan mengacungkan jari jempol tangannya.


"Hahaha..."


Pak Rudi menyambungnya dengan gelak tawa yang terlihat jelas, jika dia sedang dalam keadaan senang.


"Wah... boleh coba gak? Misalnya saja pak Rudi atau pak Komarudin bosen gitu," tanya yang lain.


Pak Rudi dan pak Komarudin, sama-sama saling pandang. Baru kemudian mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"No no no!"


"Tak boleh itu!"


Keduanya menjawab dengan pasti. Dan mereka berdua, juga tidak mau membagi Linda dengan yang lainnya.


Para laki-laki dewasa dengan pangkat yang mereka miliki, juga tidak ragu untuk bicara tentang wanita-wanita mereka.


Dengan begitu, mereka seperti memilki sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan pastinya akan merasa lebih jantan. Jika punya wanita yang menurut teman-teman yang lain hebat.


Termasuk Linda.


Dia adalah wanita-nya pak Rudi dan pak Komarudin. Dengan sosok Linda yang istimewa, dan tidak ada yang menyamai keistimewaan Linda. Membuat pak Rudi dan pak Komarudin mendapatkan kepuasan dan kebanggaan, diantara teman-temannya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2