Tante Melinda

Tante Melinda
Biarkan Berlalu


__ADS_3

Sebenarnya Linda merasa canggung saat berduaan dengan Romi. Apalagi ada banyak pasang mata yang memperhatikan bagaimana cara Romi mengajaknya untuk makan dan berbicara.


Kini, dia sedang menikmati makan siang bersama dengan Romi di sebuah warung yang cukup jauh dari tempat biasanya yang ada di depan pabrik.


Tidak ada Danang ataupun Della, sama seperti kemarin.


"Maaf Dek. Emhhh... apa Kamu gak suka dengan makanan di sini?" tanya Romi, saat melihat wajah Linda yang tampak gelisah.


"Eh, gak Kak. Enak kok," jawab Linda, dengan senyum yang dipaksakan.


Tapi Romi tentu saja tahu, jika Linda sedang dalam keadaan tidak tenang. Terlihat jelas dari pandangan mata Linda yang tidak fokus pada makanan atau pada dirinya.


"Apa Kamu gak nyaman sama Kakak sekarang ini?" tanya Romi lagi, langsung pada tebakannya yang memang benar adanya.


"Gak Kak. Gak apa-apa," sahut Linda dengan cepat. Dia tidak mau menyingung perasan Romi, yang sudah mengajaknya untuk makan siang kali ini.


Dia berpikir bahwa, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Romi padanya.


"Maaf jika Kamu gak nyaman. Kakak gak akan melakukannya lagi tanpa ada Danang ataupun Della."


Sepertinya Romi bisa membaca pikiran Linda, yang sedang gelisah sendiri sedari tadi.


Nyatanya, Linda hanya menundukkan kepalanya, mengaduk-aduk es teh yang dia minum dari sedotan. Sedikit demi sedikit, tanpa melihat ke arah Romi.


Linda tidak mau ketahuan oleh Romi, jika dia sedang berusaha untuk menenangkan hati dan dirinya sendiri.


Bersama dengan Romi, sebenarnya ada rasa was-was, tapi juga takut jika waktu akan segera berlalu begitu saja. Tanpa ada kesan yang bisa dilakukan.


Linda sendiri bingung dengan perasaannya sendiri, jika sedang bersama dengan Romi seperti sekarang.


"Apa Kamu takut jika ketahuan oleh suamimu?" tebak Romi, yang membuat Linda menaikkan wajahnya. Agar bisa melihat lebih jelas wajah Romi yang sekarang.


Deg deg deg!


Jantung Linda berdetak lebih kencang dari biasanya. Membuat Linda memegangi dada kirinya sendiri. Mengukur tingkat kecepatan jantungnya, yang tidak bisa diajak kompromi untuk tetap tenang.


Romi memiringkan kepalanya, memperhatikan bagaimana wajah Linda yang sedang menatapnya.


Pancaran mata Linda menyiratkan bahwa, ada pendar rindu yang ditahan mantan kekasihnya itu. Rasa yang sama seperti yang dirasakan oleh Romi juga.

__ADS_1


Sayangnya, keadaan yang membuat mereka berdua tidak lagi bisa meluapkan emosi dan perasaan mereka yang bertumpuk-tumpuk. Sebab, ada etika, profesi, dan perasaan seseorang yang harus mereka jaga sebaik mungkin. Dengan tidak mengedepankan kepentingan dan kepuasan mereka semata.


Kedewasaan Romi, ikut mempengaruhi Linda, yang akhirnya sama-sama diam dan memendam perasaan mereka sendiri dalam hati. Tanpa perlu diucapkan.


Banyak hal yang sudah mewakili perasaan mereka. Dari pancaran mata, yang tak perlu mengunakan sebuah kalimat yang disusun dari kata-kata pujian dan rayuan.


"Kak. Linda... Linda minta maaf."


Akhirnya kebisuan kedua dipatahkan oleh Linda sendiri, yang mengucapkan kata maaf.


"Maaf? untuk apa Dek?"


"Linda... maaf untuk masa lalu kita..."


Linda terdiam sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. "Maaf karena Linda mengambilnya keputusan atas apa yang dulu Linda lihat."


Akhirnya Linda bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan. Meskipun dia menundukkan wajahnya, tapi Romi tahu, jika apa yang dikatakan oleh Linda adalah sesuatu yang sebenarnya ingin disampaikan dari dulu.


"Dek. Semua sudah berlalu. Kakak hanya bisa mendoakan untuk kebaikanmu. Tapi, jika Kamu merasa tidak bahagia, dan ingin lari. Kakak masih ada untuk Kamu Dek."


Pernyataan yang diucapkan oleh Romi, justru membuat Linda semakin menunduk. Bahkan dia mengambil tissue yang ada di depannya, kemudian mengelap cairan yang tiba-tiba keluar dari hidungnya.


Linda menangis dalam diam.


"Kak, maaf. Linda balik dulu ya! Terima kasih atas traktirannya siang ini."


Setelah selesai mengatakan kalimat tersebut, Linda bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Romi yang juga ikut berdiri, tapi tidak mengejarnya.


Romi cukup tahu diri, jika Linda sudah tidak bisa di ajak untuk berbicara lagi.


'Maaf Dek. Bukan maksudku ingin melihatmu menangis. Aku hanya ingin melihat senyummu seperti dulu, meskipun senyummu kini bukan untukku lagi,' batin Romi, memandang punggung Linda yang semakin menjauh dari tempatnya berada.


"Eh, itu kan supervisor Linda. Sama siapa itu? cakep juga ya!"


"Sekarang bukan supervisor lagi ya? kok seragamnya udah ganti."


"Mbak Linda itu selalu beruntung. Ada saja cowok cakep yang bisa dia dekati."


"Eh, itu sih bukan mbak Linda nya yang mendekati! tapi cowok-cowok nya aja yang minta perhatian mbak Linda. Hahaha..."

__ADS_1


"Iri? pengen kayak mbak Linda? ngaca dulu! wkwkwk..."


"Ihhh, Aku sih gak ngiri! tapi pengen nganan aja yang bisa cepet. Hihihi..."


"Wehhh Mbak Linda bule lewat..."


"Tante Melinda... godain kita dong!"


Di beberapa tempat, yang dilewati Linda, justru banyak orang baik cewek maupun cowok, yang membicarakan tentang Linda.


Baik itu pembicaraan yang baik, buruk atau hanya sekedar ingin bercanda saja.


Sayangnya, Linda sedang tidak mood untuk menanggapi perkataan mereka-mereka. Dia hanya ingin secepatnya sampai di tempat kerjanya, kemudian menenangkan hatinya sendiri di gudang material.


Di gudang material tersebut, ada banyak tumpukan material yang berjejer. Bisa digunakan untuk tidur, atau sekedar berbaring saja. Menghilangkan rasa penat untuk sementara waktu di jam istirahat kerja.


Begitu juga Linda.


Dia juga sering tidur-tiduran, sama seperti anak-anak gudang material yang lain.


*****


Di tempat yang lain.


Danang dan Della baru saja selesai makan siang bersama, sebagai sepasang kekasih. Tidak sama seperti kemarin-kemarin, yang hanya sebatas teman biasa.


"Kak. Apa tidak sebaiknya kita bilang sama mas Romi dan mbak Linda. Jika kita sudah resmi menjalin hubungan."


Danang diam, dan tidak langsung menyahuti perkataan Della.


Sebenarnya, dia juga berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh Della. Tapi, apa tidak terlalu cepat, jika hal ini diketahui oleh orang lain, meskipun itu adalah kakak-kakak mereka sendiri.


"Apa gak terlalu cepat Del? Atau biarkan saja mereka tahu dengan sendirinya?"


Della akhirnya berpikir, jika apa yang dikatakan oleh Danang tidak ada salahnya. Tapi dia hanya ingin mendapatkan kejelasan tentang hubungan mereka ini, supaya kakaknya juga tahu, jika Danang saat ini adalah kekasihnya. Meskipun Della juga tidak tahu, bagaimana reaksi dari kakaknya, jika tahu kebenaran tentang mereka berdua sekarang ini.


"Kita pikirkan pelan-pelan Del. Tidak usah dipaksakan. Nanti, lama-lama mereka juga tahu dengan sendirinya kan?"


Della tersenyum tipis, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Danang padanya.

__ADS_1


"Ya Kak. Kita juga harus bisa menjaga perasaan mereka ya," kesah Della sedih.


Della tahu, bagaimana perasaan kakaknya saat ini. Karena selain baru saja berpisah dengan istrinya, Romi juga akhirnya tahu, bagaimana keadaan Linda bersama dengan suaminya. Yang memang tidak bisa dikatakan sebagai keluarga yang bahagia.


__ADS_2