Tante Melinda

Tante Melinda
Semua Tidak Lagi Sama


__ADS_3

Tiba di rumah, Linda langsung mempersiapkan segala sesuatu, yang tadi di minta oleh pihak penerima karyawan baru.


"Kok yang asli di kumpulin Sayang?" tanya suaminya, Ferry.


Ferry merasa heran, karena melihat Linda yang begitu datang, langsung pergi ke dalam kamar dan mengumpulkan semua berkas-berkas yang asli, yang kemarin sudah di foto copy.


"Pihak HRD minta berkas yang asli untuk mencocokan berkas lamaran yang foto copy," jawab Linda, memberikan penjelasan kepada suaminya itu.


"Tidak di minta yang asli untuk jadi berkas lamaran kan?" Ferry bertanya lagi dengan menyelidik.


"Gak. Cuma buat mencocokan aja kok," ujar Linda, mengulang jawabannya yang tadi.


Meskipun sebenarnya Ferry tidak begitu suka dengan apa yang diminta oleh pihak HRD perusahaan, tapi dia tidak bisa ikut apa-apa. Karena istrinya itu, Linda, memang membutuhkan pekerjaan untuk saat ini.


Beberapa hari yang lalu, Ferry sedang melakukan negosiasi dengan pihak penggilingan padi, untuk minta diberikan tempat, untuk usahanya dalam jual beli padi dan juga beras.


Usaha yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Ferry, sejak masih menjadi seorang polisi.


Tapi karena dulu dikerjakan dengan tidak serius, dan di kelola oleh orang lain, hasilnya tetap saja tidak ada.


Bahkan jadi merugi, karena modal usaha yang dikeluarkan oleh Ferry, tidak bisa kembali. Itulah sebabnya, usahanya yang dulu di penggilingan padi tidak dilanjutkan lagi.


Dan sekarang, di saat dia tidak lagi menjadi seorang polisi, Ferry ingin membangun usahanya itu lagi. Dengan dikelola oleh dirinya sendiri.


Ferry memilih usaha ini karena, keluarganya yang berada di luar kota, juga bekerja di bidang yang sama. Yaitu jual beli padi dan beras.


Sedangkan sampingannya bisa menjual dedak atau bekatul, untuk makanan ternak.


Dedak adalah hasil samping pada pabrik penggilingan padi dalam memproduksi beras. Dedak padi digunakan sebagai makanan ternak, karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, harganya relatif murah, mudah diperoleh, dan penggunaannya tidak bersaing dengan manusia.


Kebanyakan manusia tidak makan dedak. Meskipun riset terbaru di Amerika menyatakan bahwa, dedak adalah sumber nutrisi di masa depan.


**Apa ada yang mau coba buktikan dengan makan dedak?


Tapi, untuk sementara waktu ini, Ferry memang tidak memberitahu Linda. Dia ingin berusaha terlebih dahulu, dan jika berhasil, barulah akan memberitahu pada istrinya itu.


"Erli mana Mas?" tanya Linda, yang tidak melihat keberadaan Erli sedari dia pulang tadi.


"Tadi di ajak ke rumah ibu sama Danang."


"Di ajak Danang pulang?" Linda mengulang kembali jawaban yang diberikan oleh suaminya, dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


Dia merasa jika, dia ada salah dengar atau mengartikan dari jawaban yang diberikan oleh Ferry tadi.


Tapi ternyata, Ferry mengangguk mengiyakan pertanyaannya.


"Kok Mas bolehin?" tanya Linda lagi, dengan memicing melihat ke arah suaminya itu.


"Kenapa? Apa salah Erli di ajak Danang pulang ke rumah simbahnya?" tanya Ferry, yang merasa bingung dengan sikapnya Linda kali ini.


Biasanya, Linda tidak akan bersikap seperti ini, jika menyangkut keluarganya sendiri.


"Tapi Mas, Linda gak mau jika Erli gak mau di ajak pulang nantinya," ujar Linda, yang ternyata merasa khawatir jika, anaknya, Erli, akan sulit di ajak pulang ke rumah mereka sendiri. Karena sudah lama juga, Erli tidak diajak berkunjung ke rumah simbahnya.


Sejak Linda memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan polisi Ferry, meskipun sekarang juga suaminya itu sudah tidak lagi menjadi seorang polisi.


Dan ibu serta adiknya, Danang, tidak begitu suka dengan apa yang diputuskan oleh Linda.


Itulah sebabnya, Linda jadi tidak pernah lagi datang ke rumah ibunya. Dia tidak mau jika ibunya itu, akan memberikan masukan-masukan kepadanya, untuk berpisah dengan suaminya sendiri.


Meskipun dulu, ibunya juga yang paling bersemangat, untuk menyatukan Linda dengan polisi Ferry.


Tapi sekarang ini, ibunya juga yang menginginkan agar anaknya itu, Linda, berpisah dengan suaminya juga.


Jadi, menurut ibunya Linda, seharusnya Linda bisa hidup enak, dengan bersuami orang yang kaya, atau setidaknya bisa menghidupi Linda secara materi.


Ibunya Linda, tentunya berpikir sama seperti orang-orang pada umumnya, jika kecantikan seorang wanita, bisa membawa kehidupan mereka ke depannya menjadi lebih baik. Meskipun itu hanya dilihat dari segi materi saja.


Tapi karena Linda tidak mempunyai pikiran yang sama seperti pikiran ibunya, akhirnya hubungan mereka berdua jadi tidak lagi sama seperti dulu.


Ada semacam sekat, yang membuat mereka berdua tidak bisa satu tujuan dan sepemikiran.


Tapi kali ini Linda tidak mau kalah dengan ibunya. Dia tidak menuruti perkataan ibunya, untuk berpisah dengan suaminya.


Meskipun Linda merasa tidak nyaman juga dengan pernikahannya. Tapi ini dijadikan Linda sebagai bukti juga kepada ibunya itu, jika penilaian dan keputusannya di waktu yang dulu, saat meminta Linda untuk menerima polisi Ferry sebagai suaminya, itu adalah keputusan yang salah.


Linda menjadikan dirinya sebagai jawaban, atas apa yang diinginkan oleh ibunya pada saat itu.


Dan Linda merasa sangat puas, dengan apa yang dia lakukan saat ini. Melihat ibunya kecewa dan menyesali keputusannya.


Tapi ini Linda lakukan juga untuk anaknya, Erli. Bukan keegoisannya semata.


*****

__ADS_1


Di rumah ibunya Linda.


Danang yang baru saja datang, menurunkan keponakannya itu dari becak.


Jadi, tadi Danang datang ke rumah Ferry, untuk mengambil Erli dengan mengunakan kendaraan becak.


Becak itu dia pinjam dari tetangganya, yang kebetulan sedang libur kerja.


"Assalamualaikum..."


Danang mengucapkan salam, pada saat membuka pintu rumah.


"Waallaikumsalam..."


Dari dalam rumah, terdengar suara bapaknya, yang memang lebih sering berada di rumah dari pada pergi bekerja ke luar rumah.


"Eh... ada Erli. Sini Sayang, sama Mbah Kung!"


Erli dengan senang hati, minta pindah dari gendongan Danang. Dia ganti ingin digendong simbah kakungnya, karena sudah lama juga tidak bertemu.


Sekarang, bapaknya Linda sedang mengajak cucunya itu, untuk bermain di ruang tamu.


"Ini mainan Erli masih ada banyak di rumah simbah," kata bapaknya Linda, dengan membawakan beberapa mainan Erli, yang memang berada di rumahnya.


"Mbah... Mbah," panggil Erli, yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena dia susah untuk menyebutkan satu persatu mainan yang dia inginkan.


"Apa Sayang? Erli mau mainan yang mana?" tanya simbah kakungnya itu, dengan memilih-milih mainan yang ada di dalam kardus.


Mungkin saja, ada mainan yang bisa dia temukan, dan disukai oleh Erli.


"Nang, tadi mbakmu gak ngomong apa-apa!" tanya bapaknya Linda, yang ingin tahu, bagaimana keadaan anaknya itu.


"Mbak Linda tidak ada di rumah Pak," ujar Danang, menjawab pertanyaan dari bapaknya.


"Lho, kok gak ada di rumah? Memangnya ke mana mbak Kamu itu?"


Pertanyaan yang diajukan oleh bapaknya itu, seperti orang yang sedang merasa khawatir.


Tentu saja, bapaknya Linda merasa sangat khawatir, dengan keadaan anaknya itu. Dia tidak mau jika, terjadi sesuatu pada Linda.


Kejadian yang dulu pernah dialami oleh Linda, sadar atau tidak, telah membuat bapaknya itu menjadi trauma. Meskipun dia tidak pernah mengatakannya, dan hanya lebih banyak diam saja.

__ADS_1


__ADS_2