
Malam sudah mau mengantikan sore hari, saat Ferry menghubungi Linda. Dia mengatakan bahwa, baru saja sampai di rumah pemilik pengilingan padi.
Tapi karena masih capek, Ferry mengatakan bahwa ingin beristirahat sejenak sebelum menjemputnya ke rumah ibunya Linda.
..."Mas masih capek Dek. Nanti agak malam Mas jemput nya ya?"...
..."Iya Mas. Gak apa-apa. Lagian besok juga hari minggu. Linda libur."...
..."Senin jadi tugas ke Jakarta?"...
..."Jadi Mas. Kan surat tugas sudah Linda terima tempo hari."...
..."Kamu sudah bilang sama bapak dan ibu, jika sewaktu-waktu Mas gak bisa jagain Erli nitip ke mereka?"...
..."Belum Mas. Nanti Linda bicara dengan bapak dan ibu."...
..."Ya sudah kalau begitu. Ini Mas baru sampai beneran. Jadi mau istirahat sebentar ya!"...
..."Iya Mas. Hati-hati."...
Klik!
Erli masuk ke dalam kamar, di mana mamanya sedang menerima panggilan telpon dari papanya.
"Ma. Mama... Papa mana Ma?" tanya Erli, yang tidak melihat keberadaan papanya. Tapi, mendengar mamanya sedang berbicara dengan papanya tadi.
"Nanti malam, papa jemput kita Sayang." Linda memberikan penjelasan kepada anaknya itu.
"Mama sudah mandi? Mama mandi dulu!" Erli berpikir jika, mamanya itu belum mandi. Karena masih mengunakan pakaiannya yang tadi.
"Sudah Sayang," jawan Linda pada Erli, kemudian melanjutkan kalimatnya dalam hati, "Tadi di tempat yang mama kunjungi."
"Kok masih pakai baju tadi pagi!" Erli kembali bertanya pada mamanya.
Dan sekarang, Linda jadi bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu.
Tapi dengan cepat, Linda berdiri untuk berjalan menuju ke almari pakaian yang ada di kamarnya itu.
Kamar Linda, sewaktu masih gadis. Dan lemari pakaian dari kayu jati ini, masih ada di tempatnya semula. Lengkap dengan baju-baju miliknya yang dulu.
"Mama bajunya ada di sini Sayang. Tapi kebanyakan udah kecil. Gak nyaman jika dipakai. Apa mama pakai kaos sama celana kolor saja?"
Linda mencari-cari pakaian yang bisa dia kenakan saat ini. Akhirnya, dia menemukan kaos oblong dan sudah lama tidak dia kenakan.
Setelah itu, Linda mencari-cari celana panjang atau bawahan yang bisa dia pakai dengan nyaman.
__ADS_1
Tapi pada akhirnya, Linda mengambil celana panjang dengan model kolor. Dan itu membuat dirinya lebih nyaman.
"Mama," panggil Erli, melihat mamanya yang sudah berganti pakaian.
"Sudah ganti kan?"
Erli mengangguk cepat, kemudian berjalan mendekat sambil tersenyum melihat mamanya.
Erli tidur di sini? Mama juga? Papa nanti nyusul tidur di sini juga kan?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Erli banyak sekali. Padahal intinya, dia hanya ingin tidur di rumah simbahnya malam ini. Bersama dengan kedua orang tuanya juga.
"Nanti Sayang tanya sama Papa ya! Mama tidak bisa kasih jawabannya sekarang."
Erli mengangguk cepat. Dia senang sekali, jika bisa berada di rumah simbahnya ini. Karena dia akan ada banyak teman untuk bermain keesokan harinya.
Berbeda jika dia ada di rumah. Hanya ada mama dan papanya saja yang bersama dengannya.
Dan jika mamanya pergi bekerja pada hari kerja, dia akan bersama dengan papanya. Ikut di pengilingan padi bersama dengan orang-orang dewasa semua.
Lepas magrib, Ferry tiba di rumah mertuanya. Dia memarkirkan sepeda motornya, di depan rumah. Bersamaan dengan Erli dan Linda membuka pintu untuknya.
Erli langsung hafal dengan suara motor papanya. Sehingga dia dengan cepat mengajak mamanya untuk membukakan pintu.
Sedangkan bapak dan ibunya Linda, sedang ada di musholla. Mereka berdua, belum pulang dari sholat berjamaah di musolla, tak jauh dari rumahnya Linda.
Erli berteriak memanggil papanya, di saat pintu sudah terbuka.
"Sayang. Jangan teriak-teriak. Ini udah malam lho!" Linda memperingatkan anaknya itu, supaya tidak berteriak-teriak. Karena selain hari sudah malam, di kampung ini juga tidak akan sopan jika harus berteriak.
Ferry datang menyambut uluran tangan anaknya yang sudah terentang lebar. Dengan cepat, keduanya berpelukan dengan erat. Kemudian mengangkat tubuh anaknya itu untuk dia gendong.
"Papa!"
"Sayangnya Papa."
"Mas ajak masuk Erli Mas!"
Linda mengingatkan pada suaminya itu, supaya segera masuk ke dalam rumah. Setelah itu, pintu kembali di tutup oleh Linda.
Dia berjalan dibelakang suaminya, yang sedang mengendong anaknya, Erli.
"Pa. Erli tidur di rumah simbah ya?" Dengan riang, Erli mulai berceloteh tentang keinginannya untuk menginap di rumah simbahnya ini.
"Kenapa? Mama yang ajak tidur di sini?" Ferry balik bertanya pada anaknya.
__ADS_1
Erli dengan cepat mengelengkan kepalanya beberapa kali. "Gak! Bukan mama yang minta. Erli pengen bisa main dengan teman-teman besok."
Ferry mendudukkan dirinya di depan TV, dengan Erli yang ada di atas pangkuannya.
"Mas. Mandi dulu, Erli sini!"
Linda melambai lambaikan tangan pada Erli, sedangkan dia berjalan menuju ke arah dapur. Dia mau membuatkan teh hangat untuk suaminya yang baru saja datang.
"Aku sudah mandi Dek. Bajunya aja yang belum ganti."
"Pa. Tadi mama juga begitu. Waktu Erli suruh mandi. Kok sama kayak Papa juga sekarang?" tanya Erli, mengingat kembali kejadian yang sama seperti yang tadi dia dengar saat bertanya pada mamanya.
Ferry menautkan kedua alisnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya itu.
"Aku carikan ganti di almari pakaian Mas. Gak enak kan itu pakaian di pakai seharian. Tapi setidaknya cuci tangan dulu," suruh Linda, memutuskan untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
Dia meletakkan nampan kecil berisi gelas teh yang masih hangat. "Ini di minum dulu Mas. Gak panas kok, cuma hangat." Linda menawarkan apa yang dia bawa.
"Sayang. Kita cari baju ganti untuk papa yuk!" ajak Linda pada Erli.
Dengan cepat, Erli bangkit dari tempat duduknya, di atas pangkuan papanya.
*****
Malam harinya, di saat semua orang sudah berkumpul di depan televisi. Makan malam juga sudah disediakan oleh ibunya Linda, di bantu oleh Linda juga.
"Ayo Nak Ferry, di makan. Seadanya ya!" Bapaknya Linda, mempersilahkan menantunya itu, untuk makan malam dengan apa yang ada. Dan sudah disediakan oleh istri bersama dengan anaknya.
"Ngeh Pak. Terima kasih."
Ferry mengangguk mengiyakan, dan menerima piring yang berisi nasi, yang diberikan oleh istrinya.
"Lauknya ambil sendiri ya Mas," kata Linda, yang sedang mengambil nasi lagi untuk dirinya sendiri dan Erli sekaligus.
Dia akan makan bersama anaknya, dalam satu piring.
Danang dan bapak ibunya, juga ikut makan malam bersama dengan mereka. Suasana makan malam di rumah ini, jadi bertambah ramai. Dengan celoteh-celoteh Erli yang menggemaskan.
Beberapa saat kemudian, Linda dan ibunya sedang berada di dapur untuk membersihkan peralatan makan mereka tadi.
"Bu. Linda ada tugas ke Jakarta besok senin. Dan ini selama satu minggu. Jika mas Ferry ada pekerjaan banyak dan tidak bisa membawa Erli, biar nitip di sini ya Bu?" Linda bertanya dan minta ijin pada ibunya. Agar bisa menjaga anaknya itu sesekali, selama satu minggu ke depannya.
"Lha Ferry sudah tahu, jika Kamu akan pergi tugas ke Jakarta?" ibunya balik bertanya pada Linda.
Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa Kamu masih kerja di pabrik? Dan kenapa tidak cari pembantu saja? biar ada yang jagain Erli."
Ibunya Linda bertanya kepada anaknya itu, karena merasa jika, perekonomian anaknya sudah kembali normal lagi. Meskipun menantunya, Ferry, sudah tidak menjadi seorang polisi.