Tante Melinda

Tante Melinda
Tak Terduga


__ADS_3

"Oh, Saya turut berduka cita. Maaf, Saya tidak tahu," ujar sang dokter meminta maaf pada Linda, karena menyinggung tentang suaminya yang sudah meninggal dunia.


"Tidak apa-apa Dok. Dokter memang tidak tahu, karena baru kali ini menanggani Saya."


Linda hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan permintaan maaf yang diucapkan oleh dokter tersebut.


"Oh ya, Saya Khan An."


Dokter tersebut memperkenalkan dirinya, dengan menyebutkan namanya terlebih dahulu.


"Emhhh... sudah tahu Dok," sahut Linda, dengan menahan senyumnya.


Jari telunjuk Linda, juga mengarah pada papan nama yang tersemat baju kebesaran sang dokter, di dada kanannya.


Menyadari apa yang di tunjuk oleh Linda, dokter Khan An tersenyum canggung.


"Ehhh, tapi lebih afdol jika menyebutkan nama secara langsung bukan? Karena sebagian dari bentuk perkenalan."


Dokter muda yang wajahnya mirip-mirip orang timur tengah ini, memang gagah dan tampan. Meskipun kulitnya tidak seputih orang-orang Cina atau Korea. Tapi cukup bersih dengan warna kulit coklat tuanya. Khas orang-orang yang berasal dari daerah sana.


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh sang dokter, Linda hanya menganggukkan kepala. Karena itu memang lebih baik dan terkesan lebih sopan.


"Lalu..."


"Lalu apa Dok?" tanya Linda bingung, dengan pertanyaan yang diajukan oleh sang dokter muda, Khan An.


"Menyebutkan nama," sahut dokter Khan An dengan tersenyum tipis.


Sebenarnya, dia juga malu untuk menjelaskan pada Linda, jika dia ingin tahu nama pasiennya ini secara langsung, dari mulut pasiennya sendiri. Meskipun sebenarnya dia sudah tahu, jika pasien yang menarik hatinya ini bernama Linda.


"Oh... Nama Saya Linda Dokter."


Akhirnya Linda menyebutkan namanya, dengan tersenyum canggung. Karena dia menyadari bahwa, dokter Khan An sedang mencari perhatian darinya.


Dari cara dokter Khan An bicara dan memandang, tentu saja, Linda sebagai seorang wanita yang sudah pernah dekat dengan beberapa laki-laki tahu tentang hal itu.


"Maaf Dok, ini terapinya kapan di mulai?"


Akhirnya Linda mengingatkan dokter Khan An, Katena sedari tadi hanya mengajaknya untuk berbincang-bincang saja. Dan belum melakukan terapi apa-apa.


"Hehehe... iya, Saya begitu terpesona dengan Mbak Linda. Jadi kelupaan ini. Maaf ya, maaf!" Dokter Khan An tersenyum canggung, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pasiennya kali ini.


Dan akhirnya, dokter Khan An mulai melakukan apa-apa yang memang seharusnya dia lakukan sebagai seorang dokter ahli tulang. Hingga satu jam lamanya.


"Ini sebuah kemajuan yang pesat Mbak Linda, dari laporan yang Saya baca."

__ADS_1


"Terima kasih Dok," ucap Linda.


Dia merasa senang, dengan hasil dari latihan yang dia lakukan di rumah. Karena itu akan mempercepat proses penyembuhan juga.


Tapi dokter Khan An berpesan pada Linda, supaya tidak memaksakan diri untuk bisa lebih cepat berjalan. Karena bisa pengaruh pada posisi pen yang ada di kakinya.


"Jika terlalu dipaksakan,bisa bergeser atau mekar. Dan itu bisa mengakibatkan iritasi pada bagian yang dipasangi pen ada di dalam." Terang dokter tersebut.


"Terima kasih Dok. Saya akan mengingat pesan Dokter." Linda ucapkan terima kasih, kemudian pamit untuk undur diri. "Ini sudah selesai kan Dok? Saya permisi dulu kalau begitu," pamit Linda.


"Oh ya, silahkan. Saya harap, Mbak Linda tidak kapok bertemu dengan Saya. Dan Saya juga berharap, supaya waktu lain kita bisa bertemu lagi." Dokter Khan An, bicara dengan penuh harap. Karena dia benar-benar merasa bersimpati kepada Linda.


"Terima kasih Dok," ucap Linda sekali lagi.


Sekarang, dia benar-benar keluar dari ruangan sang dokter. Linda menemui ibunya, yang menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana Lin?" tanya ibunya, begitu linda menghampirinya.


"Alhamdulillah Bu. Semuanya baik-baik saja."


"Alhamdulillah..."


Ibunya Linda ikut mengucapkan syukur karena terapi anaknya berjalan dengan lancar.


"Bu. Maaf ya, Linda merepotkan Ibu terus."


"Ngomong apa sih Kamu Lin! Ibu gak pernah merasa direpotkan. Ibu juga tidak bisa membantu hal yang lain, kecuali hanya seperti ini saja."


Linda mengusap-usap pundak tangan ibunya, yang berada di belakang punggungnya. Karena sedang mendorong kursi roda yang dia gunakan sebagai alat bantu jalan.


*****


"Apa? Pamannya kak Romi ke sini?" tanya Linda dengan wajah pucat pasi.


Dia terkejut mendengar cerita bapaknya, yang mengatakan bahwa, tadi ada tamu. Dan tamu tersebut adalah pamannya Romi.


Dengan segera, Linda pamit pada ibu dan bapaknya, untuk masuk ke dalam kamarnya. Dengan alasan ingin beristirahat, karena merasa kecapekan.


Sekarang dia justru merasa khawatir, jika pamannya Della itu akan ingat kejadian di masa lalu. Yang membuat dirinya menjadi korban, hingga dampaknya masih dia rasakan sampai sekarang.


"Semoga pamannya kak Romi tidak mengingat kembali kejadian yang dia lakukan di masa lalu. Jika sampai itu terjadi, Aku tidak tahu, apa yang akan di katakan. Dan Aku juga tidak tahu, bagaimana perasaan kita harus menghadapi semua itu."


Linda bergumam seorang diri di dalam kamarnya. Dia juga tidak mau, jika pamannya Della itu, harus sering ke rumah ini. Seandainya berkunjung ke rumah temannya yaitu Pak dongkol.


"Berarti waktu itu, Pamannya kak Romi itu adalah tamu dari Pak dongkol. Pada saat pesta pernikahan anaknya. Yang pada saat itu ada hiburan orkes dangdutnya."

__ADS_1


Linda mengingat semua kejadian itu seperti, sebuah permainan yang sedang di reply.


Dia jadi berkeringat, mengingat semua hal yang membuatnya jadi seperti ini. Tidak normal secara hormon dan spikisnya.


*****


Di kota besar.


Romi sedang mempersiapkan segala sesuatunya, yang akan dia bawa pulang, untuk bertemu dengan Linda.


Tok tok tok!


"Assalamualaikum..."


Pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari luar. Dan sepertinya itu adalah tamu yang sudah dikenal.


"Waallaikumsalam..." Romi menjawab salam dari tamunya, yang masih ada di luar.


Clek!


"Nak Romi mau ke mana?"


Ternyata, tamunya itu adalah paman dari mantan istrinya. Orang yang dulu mencomblangi dirinya dengan istrinya, yang saat ini sudah berada di luar negeri, bersama dengan suami barunya.


Orang yang sebelumnya punya rumah ini. Rumah yang dulu dikontrak oleh Romi, dan sekarang, sudah menjadi hak miliknya.


"Ada apa Paman? Apa ada yang bisa Romi bantu?" tanya Romi, yang berpikir bahwa pamannya ini, dia sudah terbiasa dengan panggilan Paman untuk orang tersebut.


"Sebelumnya, Paman minta maaf nak Romi. Tapi, ini adalah hal yang sangat penting. Paman sebenarnya merasa malu, jika merepotkan nak Romi terus. Tapi ini adalah urusan nyawa. Jadi, Paman terus menyampaikannya segera."


Kening Romi berkerut, mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh tamunya kali ini.


"Istrimu... maksudnya mantan istrimu, dia kecelakaan di luar negeri sana."


Deg!


Romi terkejut mendengar berita ini.


*****


Promo novel dari author ummi asya.


mampir yuk πŸ‘


__ADS_1


__ADS_2