
Pasar yang di tuju oleh Romi, bisa di tempuh sekitar setengah jam saja. Tapi karena perjalanan Romi ada di jam-jam sibuk, akhirnya dia baru tiba di pasar setelah satu jam perjalanan.
Romi segera mencari tempat parkir motor, yang ada di depan bangunan pasar. Setelahnya, baru dia mencari keberadaan kios yang dia tuju.
Setelah melewati beberapa lorong pasar, akhirnya Romi menemukan keberadaan kios milik istrinya bapak kontrakan.
Meskipun sebenarnya Romi tidak pernah datang dan tahu letak kios tersebut, tapi karena pernah berbincang-bincang dan diberi tahu di mana letak kios tersebut di pasar ini, jadi dia tidak kesulitan untuk menemukan letak kiosnya.
Sebenarnya, Romi juga menelpon bapak kontrakan terlebih dahulu. Dia merasa sungkan, karena sudah banyak merepotkan dan mendapatkan kemudahan dari bapak kontrakannya itu.
"Assalamualaikum Pak haji, Bu haji."
Romi mengucapkan salam kepada kedua suami istri itu.
Bapak kontrakannya itu, memang biasa dipanggil dengan sebutan pak haji. Sedangkan untuk istrinya, biasa di panggil Bu haji.
"Waallaikumsalam..."
Kedua suami istri tersebut, menyahuti salam yang diucapkan oleh Romi.
Dan keduanya juga merasa kaget, dengan kedatangan Romi ke kios yang ada di pasar ini, untuk menemui mereka.
"Nak Romi, ada apa?"
"Kok gak ngasih kabar tadi?"
Keduanya, suami istri itu, sama-sama bertanya, yang pastinya, sama-sama bermaksud untuk meminta penjelasan, kenapa tidak memberitahu lebih dulu, jika ada keperluan dan butuh bantuan.
"Maaf Pak haji, Bu haji. Romi bikin kaget ya? Apa kedatangan Romi mengangu? Mungkin sedang sibuk-sibuknya ini."
"Gak. Bukan begitu Nak. Kami hanya merasa kaget saja."
Di kios, memang sedang ada beberapa pembeli. Meskipun ada dua orang yang membantu Bu haji dalam melayani pembeli, tapi mereka berdua, sebagai pemilik kios juga ikut serta melayani pembeli yang datang.
"Sini masuk Nak Romi!"
Pak haji mengajak Romi untuk masuk ke dalam kiosnya. Dia menyerahkan barang yang di minta pembeli pada istrinya.
"Bu, ini yang di minta pembeli itu ya. Tolong kasih, terus Ini saja yang lanjut layani. Sepertinya nak Romi butuh bantuan," tutur Pak haji, pada istrinya.
"Iya Pak," jawab istrinya pendek.
Romi masuk ke dalam kios. Ternyata, di dalam kios ada dua kursi, dan tempatnya juga tidak terlalu sempit.
Romi duduk setelah dipersilahkan duduk oleh pak haji.
__ADS_1
"Mari. Mari Nak Romi, duduk!"
"Ada perlu penting apakah gerangan, sehingga Nak Romi sampai datang ke pasar?" tanya Pak haji, yang pastinya berpikir jika, pemuda yang baik hati ini, ada keperluan penting yang akan disampaikan.
"Emhhh... begini Pak haji." Romi mulai mengutarakan maksudnya, sehingga dia datang ke pasar, untuk bertemu dengannya.
"Oh gitu ya Nak Romi. Emhhh..."
Akhirnya, Pak haji menghubungi keponakannya, yang akan menjadi calon istrinya Romi.
Kemarin, di saat dia mau memberikan nomor handphone milik keponakannya itu, Romi belum mau mengetahui nomer handphone milik calon istrinya itu.
Romi beralasan bahwa, dia lebih nyaman untuk tidak tahu terlebih dahulu. Besok saja, jika memang sudah mendekati hari, di mana dia meresmikan hubungan mereka berdua.
Tak lama kemudian, Pak haji sudah selesai menghubungi keponakannya, dengan maksud untuk meminta ukuran jari tangan. Karena Romi ingin membelikan cincin untuk pertunangan mereka nanti.
"Terima kasih Pak haji. Kalau begitu, Saya pamit terlebih dahulu."
"Nak, tidak usah dibuat berat ya. Pihak keluarga kami, tidak meminta banyak. Tidak usah dibuat susah."
Romi mengangguk mengiyakan perkataan Pak haji. Dia tahu jika, keluarga pak haji ini, taat beragama. Sehingga tahu, dan tidak membebani calon suami, karena tahu juga, bagaimana keadaan calon suaminya yang memang anak rantau. Dan tidak punya apa-apa.
*****
"Ini Pak. Berkas-berkas lamaran yang aslinya," kata Linda, dengan menyerahkan amplop coklat yang dia bawa.
Pihak penerima karyawan baru, menerima amplop coklat tersebut. Dan segera membukanya.
Beberapa lembar berkas asli, dia cocokan dengan berkas yang foto copy.
Tak lama kemudian, orang tersebut tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berkomentar lagi.
"Yus. Asli semua ini!"
Orang yang dipanggil dengan sebutan nama Yus, menolehkan kepalanya menatap ke arah orang yang memanggil.
Yus, juga melihat keberadaan Linda. Yus tampak tersenyum senang, karena bisa melihat Linda yang kembali lagi, sesuai dengan permintaan mereka kemarin.
"Baguslah. Berkas-berkas yang asli kembalikan saja. Yang untuk melamar, bawa ke sini!"
Akhirnya, orang yang ada di depannya Linda, kembali menyerahkan semua berkas-berkas yang asli ke dalam satu amplop coklat, kepada Linda.
"Ini yang asli Mbak. Terus, yang untuk melamar, tolong sekalian bawa ke depan pak Yus, yang tadi itu ya!"
Orang yang bernama Yus itu adalah, seorang pria paruh baya, yang merupakan ketua tim penerima karyawan baru di PT tersebut.
__ADS_1
Linda mengangguk mengiyakan perkataan orang, yang tadi memeriksa semua berkas-berkasnya. Dan orang itu, juga menunjuk ke arah orang yang bernama Yus.
Akhirnya, Linda pergi pindah ke tempat duduknya pak Yus.
Pak Yus sedang menata semua berkas-berkas lamaran yang ada di atas mejanya.
"Selamat pagi Mbak..."
"Linda. Melinda Pak," sahut Linda, memperkenalkan dirinya pada pak Yus.
"Ya-ya. Mbak Linda."
Akhirnya, pak Yus yang pura-pura lupa dengan nama Linda, mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebenarnya, pak Yus sudah tahu namanya Linda. Karena kemarin, saat ada kesempatan untuk bertanya, dia mencatat nama Linda di dalam otaknya.
Pelamar, yang tentunya tidak sama seperti pelamar pekerjaan yang lain.
Karena segi fisik Linda yang berbeda dari pelamar yang lainnya. Itulah sebabnya, dia langsung tertarik dengan sosok Linda yang menurutnya unik.
Biasanya, pak Yus tidak pernah menangani pelamar secara langsung. Karena ada beberapa anak buahnya, yang juga bertugas membantu dirinya.
"Mbak Linda sudah berkeluarga ya?" tanya Pak Yus, dengan maksud mewawancarai.
"Ya Pak sudah," jawab Linda jujur. Toh keterangan status Linda juga ada di dalam riwayat hidup dan indentitas dirinya yang lain.
"Apa tidak sayang sama keluarga, atau sedang ada masalah? sehingga mbak Linda harus bekerja?"
Pertanyaan ini, membuat Linda tidak nyaman untuk menjawabnya. Dia berpikir bahwa, tidak ada hubungannya antara permasalahan pribadi pelamar, dengan lamaran kerja yang diajukan.
Karena itu juga, Linda hanya diam saja dan tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Emhhh... maaf. Maaf Mbak Linda. Saya tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadi Mbak Linda. Hanya merasa penasaran saja."
Linda hanya tersenyum tipis, mendengar alasan pak Yus bertanya tentang urusan pribadinya tadi.
Setelah berbasa-basi sebentar, untuk formalitas wawancara, akhirnya Linda diminta untuk datang kembali besok pagi.
"Selamat bergabung di perusahaan kami. Semoga mbak Linda betah dan bisa bekerja sama dengan kami untuk kemajuan perusahaan."
Pak Yus menjabat tangan Linda, pada saat selesai berkata demikian.
Linda pun menyambut uluran tangan pak Yus, yang bermaksud untuk memberikan ucapan selamat padanya.
"Terima kasih Pak. Mohon bimbingannya, dalam pekerjaan Saya nanti."
__ADS_1