
Kang Mus mengatakan bahwa, dia juga mendengar beberapa cerita dari para pegawai di pengilingan padi tersebut. Jika Ferry sering pergi ke luar bersama dengan mbak Nana dalam waktu yang cukup lama.
"Tapi maaf Nang. Ini bukan maksud Aku untuk menuduh mas ipar Kamu. Hanya saja, Aku gak tega, jika Linda harus dia bohongi terus menerus."
"Kamu boleh tanya ke beberapa pegawai di pengilingan padi sana. Atau Kamu bisa sekali-kali datang ke pengilingan padi untuk kroscek. Benar apa gak mas ipar Kamu ada di tempat kerjanya."
Danang cukup mengerti, apa maksud dari perkataan kang Mus. Dia juga tidak boleh asal menuduh dan percaya begitu saja. Jika belum mempunyai bukti atau melihatnya secara langsung.
"Tapi Nang. Jika ternyata keluarga mbak mu baik-baik saja, dan tidak ada perselingkuhan. Aku minta maaf. Mungkin, Aku dan pegawai-pegawai di sana yang terlalu berpikir buruk."
"Sekali lagi, Aku minta maaf."
"Oh, gak apa-apa kang Mus. Aku justru banyak berterima kasih ini. Udah di kasih info dan penjelasan juga.
"Ya sudah ya Nang. Aku mau lanjut jalan lagi."
"Iya Kang, hati-hati. Nanti tak mampir juga, sebelum bapak pulang besok."
Kang Mus hanya menanggapi dengan senyuman dan mengangguk kepala saja. Dia pun akhirnya melangkahkan kakinya lagi, untuk segera menemui adiknya yang sedang menunggui keponakannya yang sedang sakit.
Sedangkan Danang sendiri, mencoba untuk tidak berpikir buruk terlebih dahulu. Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke arah ruang administrasi rumah sakit.
Dia lupa, jika tadi sedang menghubungi kakaknya. Yang ternyata sudah ikut mendengarkan semua pembicaraannya dengan kang Mus barusan
Setelah beberapa saat kemudian, Danang ke luar dari ruang administrasi. Dia baru teringat, jika dia menelpon Linda.
"Eh, tadi kan Aku mau nelpon mbak Linda." Gumam Danang, melihat ke layar handphonenya.
"Hufhhh... untuk saja tadi mbak Linda gak langsung menerima panggilan telpon yang tadi. Bisa runyam jika dia dengar."
Namun sayangnya, pada saat Danang mau menghubungkan Linda lagi. Panggilan telponnya tetap saja tidak diangkat. Jadi Danang menyimpulkan bahwa, kakak perempuannya itu sedang sibuk. Sehingga sedari tadi tidak bisa menerima panggilan telponnya.
*****
Di tempat kerja.
Linda dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja, sejak telinganya mendengar perbincangan antara Danang dengan kang Mus.
Dulu, dia memang sempat curiga dengan orang yang menelpon suaminya dengan inisial mbak Nana.
Tapi karena dia berpikir bahwa, suaminya itu pedagang beras. Tentunya yang lebih banyak berinteraksi dengannya juga ibu-ibu. Dia juga tidak pernah menyangka jika, ternyata apa yang dulu pernah dia dengar di pengilingan padi ada kaitannya dengan semua ini.
__ADS_1
'Aku tidak peka dengan perkataan para pegawai pengilingan padi waktu itu.' batin Linda, menyesali ketidakpekaan dirinya.
'*Apa ini juga akibat dari apa yang Aku lakukan selama ini?'
'Aku bahkan melakukan semuanya dengan dua laki-laki sekaligus.Tanpa diketahui oleh mas Ferry juga*.'
Linda berpikir jika semuanya ini adalah karma dari perbuatannya sendiri. Sewaktu dia berselingkuh dengan pak Komarudin dan pak Rudi juga.
'Atau bisa jadi, mas Ferry juga melakukan semua ini karena dia tidak puas denganku? Sama seperti yang Aku lakukan juga. Kami sama-sama tidak terpuaskan. Apa iya begitu?'
Linda masih berusaha untuk menahan diri. Untuk tidak langsung bertanya ataupun marah pada suaminya.
Sekarang, dia menghela nafas panjang, dan membuangnya perlahan-lahan untuk membuat dadanya sedikit lebih longgar dari rasa sesak yang tiba-tiba saja datang.
Dia bertekad untuk bertanya pada suaminya. Tapi dengan tidak langsung menuduhnya sebagai seorang laki-laki yang berselingkuh.
'Aku harus bisa berhati-hati. Karena siapa tahu, mas Ferry sebenernya juga tahu. Apa yang telah Aku lakukan dibelakangnya.'
Linda tidak mau gegabah. Karena dia juga merasa bersalah, dan ada rasa ketakutan juga di dalam hatinya. Seandainya suaminya itu mengetahui tentang perselingkuhannya juga.
*****
Sore hari, saat Linda pulang kerja. Dia menghubungi adiknya, untuk bertanya tentang keadaan bapaknya.
Tut tut tut!
..."Ya Mbak Linda. Sudah pulang kerja?"...
..."Iya ini baru sampai di parkiran. Tadi Kamu nelpon Mbak ya?" ...
..."Iya Mbak. ini lho Mbak... emhhh, bapak udah diperbolehkan pulang besok pagi. Mbak gak lembur kan besok?"...
..."Alhamdulillah... gak kok. Mbak sengaja gak ambil lembur. Sewing Mbak libur semua. Sepi orderan."...
Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Linda sengaja tidak ambil lemburan, karena sudah tahu. Jika bapaknya akan pulang besok pagi.
Apalagi, tadi dia juga mendengar tentang berita suaminya. Dia ingin membuktikan kebenarannya sendiri. Seandainya Ferry masih berkelit dan tidak mau mengaku, saat Linda bertanya nanti malam.
..."Mbak? Mbak Linda?"...
..."Eh iya.... iya Nang. Bagaimana?" ...
__ADS_1
Linda tidak mendengar perkataan adiknya. Karena melamun sendiri, sehingga dua tidak mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Danang.
..."Mbak Linda gak apa-apa?" ...
..."Gak. Mbak Linda gak kenapa-kenapa kok. Bagaimana?" ...
..."Mas Ferry bisa pinjam mobil untuk jemput bapak tidak?" ...
..."Emhhh... mas Ferry ada pekerjaan ke luar kota Nang besok dan hari minggu. Kita cari mobil sewaan yang biasa ada di depan rumah sakit aja ya?" ...
..."Oh... ya sudah Mbak. Gak apa-apa."...
..."Ya udah. Mbak pulang dulu. Nanti malam mbak ke rumah sakit." ...
..."Ya Mbak." ...
Klik!
"Huhfff..."
Linda membuang nafas panjang. Baru kemudian menghidupkan mesin motornya. Pergi dari area parkir pabrik.
Tiba di rumah, Ferry sudah sudah ada di rumah bersama dengan Erli.
Dia pun menyapa sebagaimana biasanya, kemudian segera pamit untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. "Mama mandi dulu ya."
Ferry dan Erli mengangguk mengiyakan. Kemudian melanjutkan kegiatan mereka yang tadi.
Selesai mandi, Linda menyiapkan makanan untuk mereka makan nanti.
"Mas. Nanti Linda ke rumah sakit sebentar ya? Mas Ferry di rumah aja sama Erli."
"Oh, bagaimana keadaan bapak?" tanya Ferry, dengan tidak langsung menjawab pertanyaan Linda.
"Besok pagi pulang. Makanya ini mau liat nanti. Gak apa-apa kan? Mas Ferry kan besok gak bisa jemput juga."
"Emhhh... bagaimana jika kita berangkat ke rumah sakit bareng? nanti Erli kita jaga gantian di luar. Atau bisa minta Danang yang jaga Erli di luar, saat kita masuk ke dalam."
Linda mengangguk setuju. Tapi dia tidak membahas tentang perselingkuhan Ferry yang tadi dia dengar. Dia tidak mau jika anaknya ikut mendengar pembicaraan mereka berdua yang tidak baik-baik.
"Ayo kita makan dulu. Baru kemudian kita ke rumah sakit. Nanti selesai makan kita berangkat ke rumah sakit."
__ADS_1
"Horeee... mau jenguk Mbah Kung!"
Erli pun bersorak kegirangan, karena dia berpikir jika akan bisa ikut masuk ke dalam rumah sakit. Untuk melihat mbah kung nya yang sudah beberapa hari ini tidak dia jumpai.