
"Iya Erli tidur gih, sudah malam ini."
Simbah kakungnya meminta Erli, supaya menuruti ajakan mamanya. Apalagi malam ini memang terasa dingin. Jadi lebih baik cepat tidur, dan bergumul dengan selimut saja.
Meskipun hujan tidak lagi turun, hanya tinggal gerimis saja, tapi hawa dingin tetap saja mempengaruhi mata sehingga ingin cepat terpejam.
"Iya deh, Erli pergi tidur."
Akhirnya Erli menurut juga, setelah simbah kakungnya memintanya juga. Sekarang dia berjalan di samping mamanya, ke luar dari dalam kamar simbahnya.
"Ma," panggil Erli, begitu sudah keluar dari dalam kamar simbahnya yang tadi.
"Hum..."
Linda menyahuti panggilan Erli.
"Papa pulangnya besok langsung ke sini atau enggak Ma?" tanya Erli, saat mendengar mamanya menyahuti panggilannya tadi.
"Kenapa?"
Sekarang Linda yang bertanya, membalikkan pertanyaan yang diajukan oleh Erli padanya.
"Kan biasanya papa pasti pulang ke sini dulu Ma, buat jemput kita pulang Ma!" Erli tidak tahu situasi yang sedang dihadapi oleh papa dan mamanya.
"Hum..."
Linda hanya menyahuti penjelasan anaknya dengan gumamam yang tidak jelas. Bahkan mungkin tidak untuk dirinya sendiri juga. Dan dia tidak merasa yakin, jika besok Ferry akan datang ke rumahnya ini.
"Ma. Mama!"
Erli memanggil-manggil Linda, saat sudah berada di dalam kamar. Karena saat dia masuk ke dalam kamar, Linda masih mengecek pintu rumah terlebih dahulu.
Tenyata sudah dikunci. Mungkin ibunya atau adiknya, yang tadi sudah mengunci pintu rumah. Karena selain sudah malam, cuaca hujan seperti ini memang membuat suasana lebih sepi dari biasanya.
Tapi kadang kala, keadaan seperti ini juga sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan. Seperti mencuri atau hal yang lain. Sama seperti waktu dulu, saat awal-awal Linda mengenal Ferry. Yang sekarang ini sudah menjadi suaminya.
Mengingat kembali kejadian masa lalu, Linda jadi teringat dengan mantan kekasihnya yang ada di kota besar.
"Huhfff..."
Linda membuang nafas panjang. Dia mengelengkan kepalanya, mencoba untuk membuang pikirannya sendiri tentang Romi.
"Ma," panggil Erli dari ambang pintu kamar.
"Eh iya Sayang. Mama baru saja mengunci pintu rumah. Takutnya ada maling," jawab Linda, dengan memberikan penjelasan kepada anaknya.
Erli menuggu Linda di ambang pintu kamar. Karena Linda sudah selesai, dan sedang berjalan ke arah kamar juga.
__ADS_1
"Ayok kita tidur!"
"Ma. Besok Papa ke sini kan Ma?"
Erli menuruti ajakan mamanya, tapi dia juga bertanya lagi tentang papanya.
"Iya. Papa pulang ke sini dulu."
Akhirnya Linda memberikan jawaban yang diinginkan oleh Erli. Supaya anaknya itu tidak lagi bertanya-tanya tentang papanya.
"Asyikkk..."
Erli pun bersorak kegirangan, setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya. Dia tidak tahu, bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tuanya di rumah.
"Ya sudah. Sekarang Erli tidur. Besok bangun pagi-pagi. Siapa tahu, papa sudah datang ke sini."
"Iya Ma," sahut Erli cepat.
Dia bersemangat saat membayangkan bahwa, papanya akan datang besok pagi. Ke rumah simbahnya ini. Kemudian menjemputnya untuk pulang, sama seperti biasanya.
Linda hanya tersenyum tipis, melihat bagaimana anaknya itu yang tersenyum senang.
'Bagaimana bisa Mama egois untuk Kamu Sayang? Mama akan tetap berusaha untuk tetap melihat senyuman di bibir Kamu. Meskipun sebenarnya Aku tidak bisa memaafkan papa Kamu, dan juga diri Mama sendiri.'
"Hahhh!"
Linda membuang nafas kasar, pada saat ingat semua hal yang saat ini sedang dia hadapi.
"Iya Sayang. Mama tidak apa-apa kok," cicit Linda.
Dia berusaha untuk tidak lagi bersikap aneh, menekan rasa kesal dan kecewanya. Karena hal itu bisa membuat kesalahan. Dan takutnya, Erli yang menjadi pelampiasannya nanti. Sama seperti tadi, di saat dia menyuapi anaknya ini makan di depan televisi.
Akhirnya, Linda me_nina bobokan Erli dengan menepuk-nepuk pantattt_ nya. Hal ini biasa dilakukan untuk mempercepat anak-anak tertidur.
Dan benar saja, tak lama kemudian Erli pun terpejam dan berada di alam mimpi.
Justru sekarang, Linda yang tidak bisa tidur. Matanya tetap awas dan tidak bisa dia ajak untuk terpejam.
"Coba cek ponsel mas Ferry aja lah," gumam Linda beranjak dari tempat tidur.
Dia mengambil ponsel milik suaminya, yang dia letakkan di laci lemari. Kemudian mengaktifkannya lagi.
Ting!
Drettt!
Tut!
__ADS_1
Berbagai macam jenis notifikasi muncul di layar handphone tersebut. Dan yang paling banyak memang dari mbak Nana.
"Ini perempuan maunya apa sih?" runtuk Linda kesal.
Tapi karena merasa penasaran, Linda mencoba untuk membaca pesan-pesan yang dikirim oleh mbak Nana untuk suaminya.
^^^Mas, Kamu ke mana sih? kenapa gak bales pesanku? ( ditambah emoji mata berkaca-kaca )^^^
^^^Sayang... mas Ferry! Aku khawatir Mas. Kamu baik-baik saja kan Mas. Besok sudah jualan lagi kan mas??? ( dengan tanda tanya lebih dari satu ) ^^^
^^^Aku mau menyampaikan kabar baik Mas. Apa Kamu gak mau tahu, apa kabar baik yang akan Aku sampaikan? ( emoji mata penuh cinta )^^^
^^^Mas Ferry. Jika Kamu membaca pesan ini, tolong segera jawab ya Mas. ( emoji menangis dengan air mata deras di kedua pipi beberapa biji )^^^
Linda tidak sanggup lagi membaca pesan-pesan yang disampaikan oleh mbak Nana pada suaminya.
"Apa sudah begitu dalam rasa cinta mbak Nana pada mas Ferry? apa mas Ferry juga mencintai mbak Nana?"
"Apa Aku yang seharusnya pergi, biar mereka bahagia? Tapi Erli bagaimana?"
"Aku harus tanyakan ini pada mas Ferry langsung. Jika dia ternyata mau bersama mbak Nana, buat apa Aku pertahankan ini? meskipun sebenarnya semua ini untuk Erli."
"Apa sih yang sebenarnya ingin Aku pertahankan? Cuma demi Erli kan? Lalu... Aku bagaimana? Apa ini tidak akan semakin membuatku tidak nyaman?"
"Rasa curiga dan was-was, pasti akan selalu ada di dalam hatiku. Ini tidak sehat juga untuk hubungan kami. Terutama untuk diriku."
"Hemmm... bagaimana seharusnya?"
"Bapak... ah, Aku juga bisa melihat keadaan bapak semakin memburuk. Bagaimana cara Aku mengatakan pada bapak nanti?"
Berbagai macam pertanyaan membuat Linda bingung sendiri. Dia bergumam seorang diri di malam yang semakin sepi dan sunyi. Di antara gerimis yang mulai datang lagi.
Linda pun tidak menemukan jawaban demi jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan yang dia miliki.
*****
Di rumah Ferry.
Dia bergelung sendiri di tempat tidur, di dalam kamarnya. Tapi matanya juga tidak bisa dia pejamkan sedari tadi.
Pikirannya melayang jauh ke tempat mertuanya. Di sana, ada istri dan anaknya. Sama seperti biasanya jika dia sedang ada di luar kota.
Karena setiap dia ijin ada kerjaan di luar kota, istri dan anaknya memang menginap di rumah mertuanya. Sebab, selain Linda bekerja, Erli juga suka jika menginap di sana.
"Dek, Mas kangen."
"Erli, maafkan papa Sayang."
__ADS_1
Ferry bergumam seorang diri, kemudian beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan menuju ke kamar anaknya, Erli.
Sekarang, dia merebahkan diri di tempat tidur anaknya. Mencoba untuk memejamkan mata di kamarnya Erli.