
..."Halo, bantu apa ya Mbak?"...
..."Ini Mas, ban motor Saya kempes di tengah jalan. Bocor gitu lho Mas. Padahal, Saya harus pergi ke pasar pagi-pagi. Apa Mas Ferry bisa jemput?"...
Ferry bingung dengan permintaan mbak Nana. Karena dia masih bersama dengan Erli juga. Repot jika dia menjemput mbak Nana, tapi masih ada Erli bersama dengannya juga. Karena jarak antara pasar kecamatan dengan rumah mertuanya juga lumayan jauh.
..."Tapi Saya mau ke rumah mertua Saya ini Mbak. Mau nitipin Erli ke sana."...
..."Oh, ya sudah tidak apa-apa Mas. Saya bisa nunggu kok. Ini biar saya tuntun pelan-pelan buat nyari bengkel."...
..."Oh, ya sudah kalau begitu. Saya pergi dulu ya Mbak."...
..."Iya Mas. Hati-hati!"...
Klik!
Sambungan telpon tertutup. Erli mendongak menatap ke arah papanya.
"Pa. Jadi ke rumah simbah kan?" tanya Erli khawatir.
Dia mendengar perkataan papanya. Sehingga Erli merasa takut jika, papanya itu batal mengantar dirinya ke rumah simbahnya.
"Iya. Kita ke rumah simbah sekarang yuk!"
"Horeee..."
*****
Setengah jam kemudian, Ferry sudah berada di jalan, menuju ke arah pasar kecamatan. Dia mengendarai sepeda motornya dengan perlahan-lahan. Dia juga harus melihat ke arah pinggir jalan, untuk mencari keberadaan mbak Nana. Yang katanya masih menunggu kedatangan dirinya hingga saat ini.
Dari kejauhan, terlihat Mbak Nana yang berdiri di samping sepeda motor yang terparkir. Ada di depan sebuah bengkel. Tapi bengkel tersebut belum buka.
"Mas, maaf Mas Ferry. Saya jadi merepotkan ini," ucap mbak Nana, begitu Ferry menghentikan sepeda motor, di dekat motornya yang terparkir.
Ferry hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar suara mbak Nana yang terdengar tidak enak hati.
"Saya udah coba cari bengkel tadi, tapi cuma ketemu ini. Sayangnya, bengkel juga masih tutup Mas," kata mbak Nana lagi, memberikan penjelasan kepada Ferry.
"Sekarang gini aja Mbak. Emhhh..." Ferry memperhatikan kondisi motor milik mbak Nana.
"Mbak Nana pergi ke pasar dengan motor Saya. Dan motornya mbak Nana Saya jaga di sini. Siapa tahu, saat mbak Nana sudah pulang dari pasar, bengkel sudah buka juga."
"Syukur-syukur kalau motornya juga sudah selesai di tambal ban nya."
Ferry mencoba mengutarakan niatnya, untuk bisa membantu kesulitan mbak Nana kali ini. Karena jika dia harus mengantar Mbak Nana ke pasar, motor miliknya mbak Nana tidak ada yang jaga juga di bengkel yang masih dalam keadaan tutup.
"Begitu ya Mas, aduh maaf lho Mas ini Saya jadi bener-bener gak enak ini," ujar mbak Nana yang merasa canggung.
Dia merasa ada pada situasi yang tidak tahu, apa yang seharusnya dia lakukan.
"Iya mbak Nana, gak apa-apa. Namanya juga ini gak disengaja." Ferry mencoba untuk menyakinkan mbak Nana. Supaya mengikuti usulannya tadi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Mas. Sekali lagi, Saya minta maaf, dan juga berterima kasih Mas. Saya sudah merepotkan pagi-pagi ini," ucap mbak Nana, dengan menerima kunci sepeda motor yang diberikan oleh Ferry kepadanya.
Sebelum menghidupkan mesin motor, mbak Nana sekali lagi menoleh ke arah Ferry, yang masih berdiri melihat dirinya.
"Saya duluan ya Mas," pamit mbak Nana, begitu mesin motor sudah dihidupkan dan siap pergi.
Dengan hanya mengangguk, Ferry membiarkan motornya di bawa oleh mbak Nana. Sedangkan dirinya sendiri, menunggui sepeda motor miliknya mbak Nana.
Dia berharap, bengkel motor ini akan segera di buka oleh pemiliknya. Agar dia bisa secepatnya pergi untuk mencari nafkah ke pengilingan padi.
*****
Setengah jam kemudian.
Motor mbak Nana sudah selesai diperbaiki. Ban motor tersebut, ternyata bocor karena tertusuk paku kecil.
"Terima kasih ya Pak," ucap Ferry, pada pemilik bengkel.
"Sama-sama Mas," jawab pemilik bengkel.
Tapi, lima menit kemudian, mbak Nana belum juga muncul. Akhirnya, Ferry menghubungi mbak Nana terlebih dahulu.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Halo Mas Ferry. Maaf, ini baru mau pergi ke bengkel tadi Mas. Saya baru pulang dari pasar."...
..."Oh gitu ya Mas. Iya-iya Mas. Saya langsung ke sana ini."...
..."Iya Mbak. Gitu aja biar gak repot muter-muter lagi "...
..."Ya Mas. Terima kasih."...
Klik!
Telpon terputus. Ferry menghidupkan mesin motor, kemudian pergi dari bengkel tersebut, setelah membayar biaya tambal ban.
"Terima kasih ya Pak!"
"Iya Mas, sama-sama."
Ferry segera melajukan motor milik mbak Nana, menuju ke pengilingan padi.
Setelah beberapa menit kemudian, dia sudah sampai di pengilingan padi. Dan ternyata, mbak Nana juga sudah sampai di pengilingan padi ini.
"Aduh Mas. Terima kasih banget lho Mas. Udah ditunggui motornya. Dan sekali lagi, Saya minta maaf. Karena udah bikin repot pagi-pagi."
Mbak Nana lagi-lagi meminta maaf dan juga mengucapkan terima kasihnya pada Ferry.
"Iya Mbak. Gak apa-apa."
__ADS_1
"Oh ya Mas. Ini ada sarapan dan jajanan. Di makan ya Mas!"
Mbak Nana menyerahkan satu bungkus plastik besar, pada Ferry.
"Yah Mbak, gak usah gini juga kali. Gak usah repot-repot!" Ferry merasa tidak enak hati, dengan apa yang diberikan oleh mbak Nana kaki ini.
Apalagi, tidak ada Erli juga yang ikut bersamanya pagi ini.
"Gak apa-apa Mas. Ini tadi jajanan, Saya beli di pasar. Kalau sarapan Saya buat sendiri tadi pagi-pagi sekali."
Akhirnya, Ferry mengalah. Dia menerima plastik pemberian dari Mbak Nana. Dia tidak mau jika dilihat oleh banyak orang. Karena pengilingan padi juga mulai rame. Sebab, memang sudah waktunya untuk mulai bekerja.
*****
Di tempat kerja Linda.
Pak Rudi marah-marah pada semua leader dan supervisor bawahannya. Bersama dengan asisten managernya yang baru. Dia baru saja mendapat teguran dari TKA, yang ikut mengawasi gedung tempatnya bertugas ini.
"Waktunya kerja ya kerja! SPK sudah ada harus target juga."
"Absensi jangan ada yang merah. Kasih peringatan untuk anak buahnya, jika absensi sering bolong!"
Semua leader dan supervisor, menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan asisten manager yang baru,di saat mendengar perkataan pak Rudi yang sedang dalam keadaan marah seperti ini.
Satu jam yang lalu, semua manager gedung di panggil Big Bos yang memegang perusahaan ini, untuk metting. Termasuk pada TKA juga.
Dalam pembahasan metting tersebut, disingung tentang absensi dan target SPK yang jauh dari kata baik. Karena banyak sekali karyawan yang absen setiap harinya.
Tidak pernah ada satu hari absen itu full.
Ada saja alasan dan surat dokter yang masuk ke HRD.
Dan dengan alasan ini juga, target produksi tidak bisa terpenuhi sesuai dengan SPK yang ada.
Beberapa saat kemudian, pak Rudi menyudahi pertemuannya. Tapi dia meminta asisten manager dan supervisor tetap tinggal di tempat.
Hanya para leader yang kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
Setelah semua leader pergi, pak Rudi memberikan beberapa nasehat pada supervisor. Termasuk Linda juga.
Apalagi, Linda adalah supervisor baru, yang harus menjadi pemimpin dari lima leader di lapangan produksi.
Dan untuk asisten manager nya yang baru, pak Rudi mempersoalkan tentang banyaknya desas-desus yang dia dengar. Karena beberapa hari kemarin, asisten manager nya itu, seorang ibu-ibu, memasukkan beberapa karyawan baru dengan meminta uang sebagai kompensasi.
Dan itu tentu menyalahi aturan perusahaan. Jika sampai ketahuan jika itu benar, asisten manager tersebut akan terancam untuk dipecat secara tidak hormat.
Bahkan, namanya juga akan di blacklist. Untuk perusahaan yang setara dengan perusahaan ini.
Takutnya lagi, assisten manager tersebut akan membawa nama-nama lain yang ikut terlibat.
Ini bisa merembet dan akan banyak sekali orang-orang yang akan terkena masalah. Karena kasus seperti ini, biasanya melibatkan banyak orang.
__ADS_1