
Warung Lamongan yang dituju ternyata memang benar buka. Dan sudah tampak ramai.
Untungnya, teman Linda yang sedang berulang tahun dan bermaksud untuk mentraktir makan mereka-mereka, sudah datang lebih awal dan melakukan pesanan. Sehingga begitu mereka tiba, makanan sudah tersedia.
"Aduh, kok ada pak Rudi juga ini," ujar teman Linda merasa surprise.
"Ya, gak boleh ikut ya?" tanya pak Rudi datar.
"Eh, bukan. Bukan begitu Pak. Emhhh... takutnya gak selevel jika pak Rudi makan sama kita-kita."
"Hahaha... Makan mana ada level-level an. Emang level berapa pedasnya? hehehe..."
Pak Rudi malah terkekeh sendiri, karena candaannya yang terasa lempeng. Gak ada renyah-renyahanya.
"Ah, Saya justru merasa sangat senang Pak Rudi. Bapak mau ikut bersama Kami, yang makannya bukan level restoran tentunya," ujar teman Linda, dengan meringis karena canggung.
"Maaf ya. Aku gak kasih kabar jika pak Rudi ikut. Mendadak tadi," ucap Linda, yang tentunya merasa tidak enak hati. Karena keberadaan pak Rudi ada karena dia juga.
"Gak apa-apa kok mbak Linda. Yang penting dia nyaman aja ikut makan di warung tenda kayak gini."
"Eh, Aku denger lho ya!"
Pak Rudi menyahuti perkataan antara Linda dan temannya.
"Hehehe... maaf pak Rudi. Saya pesankan lagi satu porsi. Pak Rudi mau bebek apa ayam. Atau mau lele?" tanya teman Linda, yang memang sudah memesan makanan untuk teman-temannya.
"Samakan aja lah!"
"Oh, ok. Siap Pak!"
Akhirnya, Linda duduk lesehan bersama dengan yang lain. Dan pak Rudi, juga ikut duduk di antara mereka semua.
"Ayo makan-makan. Gak usah canggung hanya karena ada Aku. Kalau mau ngomong apa gosip silahkan. Anggap aja Aku sama seperti kalian juga."
Tentu saja, teman-temannya Linda yang notabene memang hanya karyawan produksi jarang berinteraksi secara langsung dengan pak Rudi.
Pastinya ada rasa canggung dan tidak enak hati, karena ada atasan mereka, yang tidak main-main jabatannya.
Linda hanya mengangguk saja, melihat ke arah teman-temannya. Yang secara kebetulan juga sedang melihat ke arah dirinya.
Mereka semua, tidak langsung makan. Karena ikut menunggu pesanan yang diperuntukkan bagi pak Rudi belum datang.
__ADS_1
"Maaf deh, jika Aku ikut malah bikin acara Kalian ini gak seru. Tapi, Kalian semua jangan khawatir. Aku di luar ya begini, jangan anggap Aku manager juga jika di luar kerajaan."
"Pak. Boleh tanya gak?"
Akhirnya, salah satu dari mereka ada yang berani bicara. Bahkan bertanya kepada pak Rudi.
"Hemmm... mau tanya apa?" tanya pak Rudi, yang langsung melihat ke arah orang tersebut.
"Kapan Saya jadi kayak mbak Linda Pak Rudi? Ada jabatan dan gak jadi operator terus? hehehe..." orang itu bertanya dengan terkekeh geli. Menyadari jika tadi Pak Rudi sudah memperingatkan bahwa, jangan menganggap dirinya sebagai manager, jika ada di luar perusahaan.
"Udah-udah, ayok makan!"
Teman Linda yang berulang tahun datang, dengan membawa pesanan pak Rudi, dibantu oleh sang penjual.
Baik temannya Linda, Pak Rudi maupun Linda sendiri, hanya mengangguk saja. Kemudian mengikuti apa yang dikatakan oleh yang punya hajat. Teman Linda yang sedang berulang tahun.
Karena mengingat waktu untuk istirahat hanya satu jam, dan ini sudah lewat dua puluh menit. Mereka semua segera memulai untuk makan siang mereka.
Beberapa menit kemudian.
Semua orang sudah bersiap-siap untuk kembali ke pabrik. Linda yang juga sudah berada di atas motor, menuggu pak Rudi yang sedang mencuci tangannya di dekat tempat memasak koki warung.
Linda perhatikan, ternyata pak Rudi mendekati teman Linda yang sedang melakukan pembayaran.
Akhirnya, dengan wajah yang sulit untuk dijabarkan, teman Linda tadi menerima uang yang diberikan oleh pak Rudi. Dia melihat ke arah belakang, di mana Linda berada.
Tapi Linda pura-pura tidak tahu. Dia menoleh ke arah lain, supaya temannya itu tidak merasa jika sedang diperhatikan oleh Linda.
Tak lama kemudian, pak Rudi sudah ada di dekatnya Linda. Begitu juga dengan temannya.
"Yuk kita balik!" ajak pak Rudi, yang baru saja naik ke atas boncengan motor Linda.
Linda hanya mengangguk saja, kemudian menghidupkan mesin motornya. Dan berlaju menuju ke arah jalan pabrik.
Di belakangnya, motor temannya mengikuti. Dia sendirian dan tidak ada yang membonceng.
Dan delapan menit kemudian, mereka semua sudah sampai di parkiran motor milik perusahaan lagi.
Mereka berjalan bersama-sama, menuju ke arah gedung perusahaan lagi. Di mana mereka akan kembali bekerja, sama seperti biasanya.
"Aku mau ke office dulu ya! nanti atur untuk pengajuan over time bagi devisi yang Kamu pegang," pamit pak Rudi, di saat mereka berjalan dan ada di depan gedung office.
__ADS_1
"Ya Pak," jawab Linda pendek.
Setelah pak Rudi masuk ke dalam office, bagian HRD dan beberapa devisi yang lain, teman Linda segera menyusul dan berjalan bersisian dengan Linda.
"Mbak Linda. Aku malah gak enak ini."
Tiba-tiba, temannya itu mengatakan hal yang tidak diketahui oleh Linda.
"Gak enak bagaimana?" tanya Linda bingung.
Akhirnya, temannya Linda bercerita kepadanya tentang apa yang tadi dilakukan oleh pak Rudi.
Ternyata, tadi pak Rudi memberinya uang, untuk membayar semua tagihan makanan yang tadi mereka makan. Padahal, dia yang sudah berniat untuk mentraktir makan siang semuanya.
"Aku jadi gak merasa traktir dong jadinya," tutur temannya Linda, dengan wajah sedih.
"Anggap aja itu tadi hadiah dari pak Rudi. Tapi, Kamu gunakan untuk mentraktir kita-kita."
"Begitu ya Mbak Linda?" tanya temannya lagi, dengan wajah yang lebih sumringah.
Kesedihan yang tadi tampak di wajahnya, sudah tidak ada lagi. Berganti dengan wajah cerah, dan bahagia.
Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu.
"Wah, makasih Mbak Linda. Sekarang Aku tahu, kenapa Mbak Linda cepat naik jabatan."
Linda mengerutkan keningnya, mendengar perkataan temannya itu.
"Apa?" tanya Linda, yang ingin tahu, apa yang saat ini ada di dalam pikiran temannya.
"Itu karena mbak Linda cantik. Selain itu, mbak Linda juga pinter dan bijak."
"Ah Kamu bisa aja."
"Hehehe... tapi bener lho Mbak. Kan banyak itu yang iri dengan apa yang diraih mbak Linda selama ini. Masa kerja belum ada setahun aja udah jadi supervisor. Kam hebat itu!"
Linda hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Dia tidak mau bicara apa-apa. Karena temannya itu juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
Apalagi, sebagian orang memang menganggap Linda lebih misterius. Di banding dengan pak Rudi ataupun pak Komarudin yang secara jelas jika mereka berdua adalah buaya.
Mungkin ini karena Linda yang tidak punya teman akrab, dengan dengan siapapun. Tidak ada yang pernah tahu, bagaimana keadaan Linda yang sebenarnya.
__ADS_1
Yang mereka tahu hanya, Linda itu cantik dan bisa menarik perhatian siapa saja. Bukan hanya sekedar para pria yang ada di perusahaan ini.
Tapi para wanita-wanita yang sejenis dengannya pun, banyak yang mengagumi sosok Linda yang memang berbeda dengan yang lainnya.