Tante Melinda

Tante Melinda
Mimpi


__ADS_3

"Sekarang, bagaimana keadaannya Paman?" tanya Romi, yang merasa prihatin dengan nasib mantan istrinya.


Meskipun sudah berstatus mantan istrinya, tapi mendengar berita duka seperti ini, tentu saja dia tidak mungkin merasa bahagia. Karena rasa peduli terhadap sesama manusia, apalagi orang yang pernah hidup bersama dengannya.


"Paman ke sini, bukan memintamu untuk pergi ke sana. Tapi, mewakili keponakan Paman, untuk memintakan maaf. Dia punya banyak sekali kesalahan padamu. Jadi, tolong maafkan dia ya nak Romi!"


"Paman tahu, sangat sulit untuk memaafkan dirinya. Karena dia memang sudah membuat kesalahan yang sangat besar. Dengan mengkhianati cinta dan ikatan pernikahan kalian. Tapi, Paman mohon. Maafkan dia nak Romi. Demi kesembuhannya, baik kemudahan dokter untuk menyembuhkannya, atau untuk kemudahan jalan yang lain."


Ternyata, paman mantan istrinya itu datang untuk meminta maaf untuk keponakannya. Karena keadaannya di luar negeri sana, sedang kritis.


Sang paman sampai menangis sesenggukan, karena merasakan rasa sedih. Sebab, keponakannya itu memang sudah salah besar pada Romi. Seorang pemuda, yang dulu dia tawarkan untuk keponakannya.


Sayangnya, keponakannya itu justru membuat kesalahan. Dengan mengkhianati pemuda tersebut, yang sudah menjadi suaminya demi pergi mengejar cintanya yang sudah hidup di luar negeri.


Jadi, dengan memintakan maaf pada mantan suaminya, jika memang sudah tidak tertolong, bisa pergi dengan tenang. Karena sebagian dari kesalahan yang mungkin saja menghambat jalannya ajal, telah termaafkan.


"Paman. Romi... Romi sudah menafikan dia Paman. Romi hanya berpikir, jika jalan jodoh Romi dengannya memang cukup sampai di tengah jalan. Semua ada diatur oleh Allah subhanahu wa ta'ala."


Romi benar-benar merasa ikut bersedih hati, mendengar berita ini.


Tak lama kemudian, paman mantan istrinya itu pamit untuk pulang. Dia sudah merasa lega, karena romi sudah memberikan maaf untuk keponakannya yang kritis di luar negeri.


"Hhh..."


Romi menghela nafas panjang, mengingat semua hal yang telah terjadi antara dirinya dan mantan istrinya itu.


Tapi Romi segera mengelengkan kepalanya beberapa kali, membuang pikiran dan rasa sesak yang ada di dalam dadanya. Karena luka di hatinya, yang kemarin-kemarin sudah sedikit terlupakan kini kembali lagi.


Meskipun dia secara pribadi sudah memberikan maafnya, tapi rasa sedih dan kecewa tetap saja ada. Menguasai perasaannya yang tentu saja sama seperti manusia pada umumnya.


Ting!


Ponselnya yang ada di atas lemari pendek di ruang tamu, memberikan pemberitahuan notifikasi pesan.


Romi terdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan untuk mengambil handphone miliknya. Dia ingin melihat, pesan dari siapa yang masuk.


Dan ternyata itu pesan dari biro bus yang memberitahukan jadwal keberangkatan.


Akhirnya romi segera berkemas-kemas dan bersiap-siap, untuk segera berangkat ke pangkalan bus yang sudah menjadi langganannya.


Dia akan pulang ke kampung hari ini juga.


*****


Di rumah ibunya Linda.


Linda tidak bisa tidur dengan nyaman, karena teringat dengan cerita bapaknya. Tentang pamannya Romi.

__ADS_1


Dia merasa takut, seandainya sewaktu-waktu pamannya Romi itu akan datang ke rumah ini lagi. Pamannya Romi itu, tidak akan sungkan untuk berbincang-bincang lebih lama dengan bapaknya, karena merasa sudah menjadi bagian dari keluarga besan.


Linda merasa khawatir dan juga takut, seandainya sakit kepalanya akan kambuh lagi. Jika mendengar suara orang tersebut, atau bahkan melihatnya secara langsung.


Jadi, Linda punya pikiran untuk kembali ke rumahnya sendiri. Rumah peninggalan dari almarhum suaminya Ferry.


Tapi dia juga merasa cemas, karena dia belum bisa melakukan apa-apa sendiri.


"Apa yang harus Aku lakukan?"


Kegundahan yang dirasakan oleh Linda, membuatnya merasa pusing. Sehingga dia mengambil obat, supaya bisa tertidur lebih cepat. Karena sebenarnya, saat ini sudah hampir tengah malam.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Linda akhirnya tertidur dengan memeluk Erli. Yang sudah tidur dengan pulas sedari tadi.


Tapi tak lama kemudian, Linda justru bermimpi dengan kejadian di masa lalu. Di mana potongan-potongan kejadian itu terekam dalam ingatannya.


"Tidak... tidak... huhuhu...


"Tidak mau..."


Linda berteriak dalam mimpinya, hingga membangunkan Erli yang tidur disampingnya.


"Mama... mama! huhuhu..."


Ibu dan bapaknya, datang ke kamarnya karena mendengar jeritan Erli.


"Lin, Linda!"


"Linda!"


"Bangun Lin! Istighfar Lin!"


"Linda..."


Akhirnya Linda terbangun juga. Dengan nafas yang memburu.


"Hahhh... hahhh..."


"Hohsss... hohsss...


"Istighfar Lin, istighfar!"


"Astaghfirullah... Astaghfirullah..."


"Nyebut ya Lin, nyebut!"


"Astaghfirullah... Allahuakbar."

__ADS_1


"Kamu mimpi apa Lin?" tanya ibunya, dengan memberikan segelas air putih untuk diminum oleh Linda.


"Hemmm... entahlah Bu. Linda... Linda hanya ketakutan saja." Linda tidak memberikan jawaban dan penjelasan yang pasti pada ibunya, dengan alasan mimpi itu. Dia bilang hanya merasa takut aja.


"Bu. Sebaiknya Kamu temani Linda dan Erli tidur di sini saja," usul bapaknya Linda.


Apalagi, dia melihat Erli yang ikut menangis, karena melihat keadaan mamanya yang sedang ketakutan. Meskipun itu hanya dalam mimpi saja.


"Iya. Ibu tidur di sini Pak," sahut ibunya Linda, sambil memeluk cucunya, Erli, yang masih menangis.


"Cup Sayang. Sudah ya! Yok bobok lagi," ajak ibunya Linda, dengan membaringkan Erli ke tempat tidur. Kemudian di puk-puk, supaya cepat tertidur.


Linda masih duduk dengan pikiran menerawang. Rasanya, dia bekum bisa melupakan mimpinya yang tadi.


"Mimpi itu seperti nyata, pada waktu dulu," gumam Linda tanpa sadar.


Ibunya hanya memperhatikan anaknya, sambil menunggui Erli tertidur. Karena Erli masih sesenggukan dan belum benar-benar kembali tertidur.


Tak lama kemudian.


"Linda. Kamu mimpi apa tadi Lin?" tanya ibunya, dengan membenarkan posisi tidur cucunya yang tadi miring ke arahnya.


"Hemmm... tidak apa-apa Bu. Namanya juga mimpi. Kita tidak bisa minta untuk sebuah mimpi, yang menjadi bunga tidur." Linda tidak mengatakan yang sebenarnya.


Dia tidak mau membuat ibunya lebih khawatir lagi, jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya di masa lalu.


Linda tidak ingin mengorek luka lama, yang masih muncul di dalam hati dan pikirannya.


Dia hanya berharap, agar pamannya Romi itu tidak akan pernah muncul lagi ke kemudian hari. Dalam keadaan apapun.


*****


Dalam perjalanan pulang ke kampung.


Di dalam bus, yang membawa Romi pulang ke kampung. Ada seorang wanita yang sedang menangis dengan memeluk anaknya yang masih kecil.


Semua orang sedang tertidur pulas, karena waktu tiba di kampung masih lama.


Tapi wanita itu masih menangis, dengan sesekali mengusap kepala anaknya.


Romi, yang duduk tak jauh dari wanita tersebut, merasa penasaran. Karena tempat duduk di sebelah wanita itu, ada anak kecil lainnya yang lebih besar dari yang ada dalam pelukannya.


"Maaf Bu. Anaknya kenapa?" tanya Romi hati-hati. Dia tidak mau jika dianggap sebagai seseorang yang suka ikut campur urusan orang lain.


"Anak Saya... ini, panas tinggi. Dia, dia... hiks..."


Wanita tersebut justru menangis dan tidak bisa bicara dengan lancar.

__ADS_1


Dan Romi segera memegangi kening anak kecil tersebut. Sehingga dia merasa terkejut, di saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada penumpang ini.


__ADS_2