Tante Melinda

Tante Melinda
Semakin Maju


__ADS_3

Di rumah sakit.


Linda yang sebenarnya sudah tidak dalam keadaan pingsan, tapi tertidur. Ini karena efek obat, yang disuntikkan oleh dokter, melalui selang infus, pada saat infus baru saja dipasang.


Suster, yang tadi diberikan pesan untuk menjaganya, sesekali menengoknya ke dalam kamar.


Tapi karena Linda masih belum terbangun, suster pun hanya melihat dan langsung kembali ke tempat tugasnya.


Hampir dua jam kemudian, polisi Ferry datang lagi, bersama dengan ibunya Linda.


"Sus. Istri Saya masih tidur?" tanya polisi Ferry, begitu melewati tempat suster tersebut berjaga.


"Eh iya Pak, masih."


"Terima kasih ya Sus," ucap Ferry, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sama-sama Pak."


Ibunya Linda, ikut tersenyum dan mengangguk sopan, kepada suster tersebut.


"Mari Bu. Linda ada di kamar nomor tiga."


Polisi Ferry, mengajak ibunya Linda, untuk pergi ke kamar, tempat Linda di rawat.


Begitu masuk ke dalam kamar, ibunya Linda merasa sangat prihatin, terhadap kondisi tubuh anaknya itu.


"Linda, Lin. Ini Ibu Lin."


Ibunya Linda, menahan diri, untuk tidak mengeluarkan suara tangisannya. Dia juga tidak ingin bertanya apa-apa lagi, pada menantunya itu.


Dia merasa yakin jika, semua yang dialami oleh Linda ini, berkaitan dengan suaminya sendiri.


"Bu. Saya permisi dulu ya. Ini mau ke kantor buat tugas. Sekalian nanti Saya minta ijin untuk libur beberapa hari."


Ibunya Linda, hanya mengangguk saja, tanpa ingin melihat wajah polisi Ferry. Dia terus saja melihat keadaan anaknya, Linda.


Dengan sangat menyesal, ibunya Linda hanya bisa diam saja tanpa ingin bicara dengan menantunya, yang dulu dia puja-puji dan dia banggakan.


Tapi, saat dia teringat dengan cucunya, Erli, ibunya Linda terpaksa keluar dari kamar, untuk mengejar polisi Ferry.


"Nak, nak Ferry!" panggil ibunya Linda, di saat polisi Ferry sudah berjalan.


"Iya Bu, ada apa?"

__ADS_1


"Erli. Erli bagaimana?" tanya ibunya Linda, yang merasa khawatir dengan keadaan cucunya.


"Nanti akan Saya ambil Bu."


"Kamu titipkan di mana?" tanya ibunya Linda, karena takut jika, cucunya kenapa-kenapa.


"Ada pada tetangga. Nanti Saya bawa pulang," jawab polisi Ferry, dengan tenang.


"Bawa ke rumah saja, biar di jaga bapak," ujar ibunya Linda, memberikan usulan.


"Tapi, bagaimana jika Erli rewel? kasian bapak Bu," sahut polisi Ferry, karena mengingat bahwa, bapak mertuanya itu tidak dalam keadaan sehat betul.


"Tidak apa-apa. Nanti juga di jaga si Danang. Ada banyak tetangga juga yang bisa ikut bantu jaga Erli."


Danang adalah adiknya Linda.


Akhirnya, polisi Ferry hanya bisa mengangguk saja, tanpa mau membantah lagi. Dia kembali pamit untuk pergi ke kantor.


Dia akan minta ijin untuk beberapa hari, karena harus mengurus istrinya, Linda, yang sedang di rawat di rumah sakit.


Sebenarnya, polisi Ferry merasa menyesal, telah menjadi brutal tadi. Entah apa yang terjadi pada dirinya.


Setiap melihat Linda, polisi Ferry menjadi cemburu. Ada rasa curiga di dalam hatinya, jika Linda ada main dengan laki-laki lain.


'Siapa sebenarnya yang saat ini sedang dekat dengan Linda? Tidak mungkin mantan pacarnya juga. Si Romi sudah tidak pernah pulang, dan sudah punya calon istri juga di sana.'


Ternyata selama ini, polisi Ferry masih memantau mantan kekasih istrinya itu.


Apalagi dia merasa jika, alasan Linda, yang mengatakan bahwa, dia sudah tidak lagi gadis, hanya sebuah alasan, agar dia tidak lagi punya keinginan untuk menjadikan sebagai seorang istri.


Itu artinya, Linda menerima dirinya, hanya karena merasa kecewa dengan pacarnya saja.


Dan bukan benar-benar menerima kenyataan, jika polisi Ferry_lah calon suaminya, pada waktu itu.


*****


Di kota besar.


Usaha yang digeluti oleh Romi, mulai menampakan hasil.


Dia sudah banyak punya pelanggan, dan juga dua anak buah, yang bisa membantu dirinya, untuk menyelesaikan pekerjaan dan pesanan para pelanggan bengkel las miliknya.


Dengan demikian, Romi juga sudah memiliki banyak tabungan, dan bisa membeli sebuah rumah kecil untuk tempat tinggalnya.

__ADS_1


Rumahnya Romi, tidak jauh dari tempat usahanya. Jadi, dia bisa dengan mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh dia anak buahnya juga.


Sebenarnya rumahnya itu, dulunya dia kontrak dari penduduk setempat.


Karena kelakuan Romi yang ramah dan baik hati, akhirnya pemilik rumah kontrakan itu menawari Romi, supaya membeli rumah tersebut.


"Kamu beli saja sekalian nak Romi. Bapak sedang butuh uang, untuk biaya pesta pernikahan anaknya Bapak yang bontot," kata pemilik rumah kontrakan, yang ternyata sedang butuh uang yang cukup besar.


"Tapi Pak, Saya tidak mungkin bisa membayar rumah ini. Pasti mahal. Kan daerah sini termahal daerah yang ramai, karena udah di wilayah kota. Bukan pinggiran juga."


Romi merasa ragu, jika dia mampu dan punya uang sebanyak, harga pasaran di daerah tersebut.


"Nak Romi tenang saja. Bapak kan sering dibantu sama Nak Romi. Jika Bapak sedang tidak punya uang, eh tiba-tiba nak Romi ngajak makan ke luar. Di kasih uang atau rokok."


"Bapak mah senang sama nak Romi. Sayangnya, Bapak tidak ada anak cewek, jadi ya... gak bisa ambil nak Romi sebagai menantu. Hehehe..."


"Hehehe... Bapak bisa saja," ujar Romi, di saat pemilik rumah kontrakan mengatakan semua yang ada di dalam hatinya.


"Bapak kan tau, jika Romi udah tidak punya orang tua. Jadi ya, Romi cuma membayangkan bahwa, Bapak itu sama seperti bapaknya Romi sendiri."


Si bapak tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Romi padanya.


"Ya sudah. Nak Romi kasih uang seadanya dulu. Besok-besok, jika sudah ada ngumpul lagi, dan Bapak butuh, baru Bapak minta lagi."


Tentu saja, Romi tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


Di kota besar, masih ada orang yang mau menyerahkan rumah yang di jual, dengan cara pembayaran yang di cicil.


Ini rumah bukan perumahan, yang memang bisa di bayarkan dengan cara mencicil dan ada jaminan dari pihak bank tertentu.


Romi tentunya merasa sangat bersyukur, atas apa yang dikatakan oleh pemilik rumah tersebut.


Dia tidak pernah menyangka jika, apa yang dia lakukan, sangat dihargai oleh seseorang.


Bapak itu percaya pada dirinya, karena selama mengenal Romi, anak muda itu berkelakuan baik dan taat beribadah.


"Besok-besok, pas ada pesta pernikahan anak Bapak, banyak keponakan-keponakan Bapak yang dari luar kota. Jika Kamu merasa ada yang cocok, ngomong sama Bapak ya!"


Romi hanya mengangguk dan tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh bapak tersebut.


Dia belum pernah berpikir untuk mencari kekasih ataupun jodoh.


Hati Romi, masih terpaut pada Linda. Kekasihnya yang sekarang ini sudah menikah dan menjadi istrinya polisi Ferry.

__ADS_1


__ADS_2