Tante Melinda

Tante Melinda
Salah Paham


__ADS_3

Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya, dengan berbagai kesibukan para penduduk bumi. Yang mengatasnamakan kesibukan mereka sebagai tuntutan hidup.


Sama halnya dengan Danang dan Della, yang harus tetap melaksanakan tugasnya sebagai pekerja di sebuah perusahaan. Mentaati aturan-aturan yang berlaku di perusahaan tersebut.


Tapi karena kondisi Della yang semakin melemah, Danang akhirnya menganjurkan istrinya itu untuk mengundurkan diri saja.


Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada istrinya, yang justru akan berakibat lebih fatal bagi kesehatan Della sendiri.


"Lebih baik Kamu resign Yang, biar Aku saja yang kerja."


Della yang saat ini sedang berbaring di tempat tidur klinik perusahaan, menggeleng lemah. Dia tidak mau menyusahkan suaminya itu, jika dia sampai keluar dari pekerjaan ini.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Kita bicarakan ini nanti setelah di rumah."


Karena tidak mau berdebat di tempat yang bisa saja didengar oleh orang lain, Danang akhirnya pamit untuk kembali bekerja. Dan meminta pada istrinya itu untuk tetap beristirahat saja di klinik.


"Nanti, saat jam istirahat Aku akan datang ke sini lagi."


Della hanya mengangguk saja mendengar perkataan suaminya. Dia juga tidak mau berdebat dulu, karena saat ini tenggorokannya terasa sakit.


Sebenarnya, tadi pagi danang sudah menganjurkan kepada Della untuk beristirahat saja di rumah.


Tapi Della justru tidak mau, karena merasa sungkan. Sebab setiap minggunya dia pasti ada ijin untuk tidak masuk kerja.


Padahal, surat ijin kerja itu juga di dapat atas ijin dari dokter. Yang memang memintanya untuk beristirahat.


Tapi karena Della membangkang dan tidak menuruti permintaan suaminya, akhirnya sekitar jam 10.00 tadi pagi, dia harus dilarikan ke klinik perusahaan karena pingsan di HRD.


"Maaf Mas," gumam Della tidak jelas, pada saat Danang keluar dari klinik.


Dia sebenarnya juga ingin beristirahat di rumah atau resign saja. Tapi dia merasa sungkan, karena merasa akan menjadi beban suaminya saja nanti. Seandainya dia tidak bekerja.


Padahal Danang tidak pernah meributkan atau memperhitungkan hal tersebut.


Mungkin karena Della terbiasa mandiri, karena memang sejak kecil dia sudah tidak punya orang tua. Hanya pada Romi, kakaknya saja dia sering meminta bantuan. Bukan pada orang lain. Meskipun sebenarnya Danang juga bukan orang lain lagi baginya, tapi Della tidak ingin dianggap sebagai benalu. Karena belum punya kesibukan di rumah atau menjaga anak-anak mereka.


Mungkin ceritanya akan berbeda, seandainya dia sudah memiliki anak. Karena ada alasan untuk menjaga anak-anak, sehingga dia tidak merasa sungkan harus berada di rumah saja.


Tapi dengan kondisi kesehatannya yang seperti ini, sepertinya dia harus berpikir ulang seandainya memaksakan diri untuk terus bekerja.


Akhirnya, Della menghubungi kakaknya yang ada di kota besar, untuk meminta pendapat.


Tut tut tut...


..."Assalamualaikum Dek."...

__ADS_1


..."Waallaikumsalam Mas. Apa kabar Mas?"...


..."Kamu, Kamu kenapa suaranya seperti itu? Kamu sakit ya Dek? sakit apa Del?"...


Romi justru merasa khawatir, di saat mendengar suara adiknya yang terdengar lirih dan lemah. Seperti sedang menahan rasa sakit yang sangat.


..."Gak Mas. Della hanya..."...


..."Hanya kenapa Del?"...


..."Nanti Della kasih tahu lewat pesan saja ya Mas. Della..."...


Tut tut tut...


Panggilan telpon di tutup secara sepihak oleh Della, karena dia sudah tidak bisa mengucapkan sesuatu.


Tenggorokannya terasa tercekat dan sakit, sehingga terpaksa harus memutuskan hubungan telepon. Baru kemudian mengirim pesan pada kakaknya.


Dengan begini, dia tidak perlu mengeluarkan suaranya sehingga tidak semakin terasa sakit lagi tenggorokannya.


*****


Di kota besar.


Setelah itu, dia juga terlihat sibuk dengan berkirim pesan dengan seseorang, yang membuat Linda menyipitkan matanya. Memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Siapa Mas, kok kayaknya serius gitu tadi pas telpon? Dan sekarang jadi lanjut berkirim pesan juga," tanya Linda curiga.


Sepertinya, Linda saat ini memiliki sifat posesif. Dan sekarang ini Linda sedang mempraktekkannya pada suaminya, Romi.


Mungkin karena Linda rasa takut kehilangan, setelah dia mengalami banyak hal dalam kehidupannya kemarin-kemarin. Baik saat berumah tangga maupun saat di bekerja di pabrik sepatu.


"Della Dek. Katanya dia sakit, dan saat ini sedang berada di klinik perusahaan."


Romi menjawab pertanyaan Linda, tanpa merasa curiga, jika istrinya saat ini sedang cemburu padanya.


"Della sakit, sakit apa Mas?"


Linda justru terkejut, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya. Dia tidak tahu jika adik iparnya itu sedang sakit, karena pada saat bicara terakhir kali dengan Danang melalui panggilan telpon, adiknya itu tidak menceritakan tentang kondisi istrinya, atau membicarakan tentang keluhan yang lain.


"Gak tahu juga Dek. Ini katanya tenggorokannya sakit, terus kalau makan gak ada nafsu. Jadi dia malas makan gitu. Kan jadi pengaruh ke beratnya. Sekarang ini kondisinya tubuhnya lemah. Udah sering gak masuk kerja, dan tadi Danang minta dia supaya resign saja. Biar istirahat untuk kesehatannya."


Linda mendengarkan penjelasan suaminya dengan sesekali menganggukkan kepalanya.


"Iya kan itu benar Mas, Danang menganjurkan Della supaya berhenti kerja dulu."

__ADS_1


"Iya, Mas juga tahu. Tapi ini Della yang ngeyel, karena dia itu merasa, kalau gak kerja nanti jadi beban Danang."


Linda sebenernya paham dan mengerti jalan pikiran Della. Karena dia juga pernah mengalami hal tersebut, pada saat masih menjadi istrinya Ferry, dan Ferry masih bekerja sebagai polisi.


Dia juga akhirnya dianggap sebagai beban kehidupan suaminya, yang pada akhirnya suaminya itu ringan tangan.


"Sebaiknya Della di nasehati pelan-pelan Mas. Jangan ditekan dan di paksa juga. Nanti takutnya dia malah semakin stress, dan itu mempengaruhi kesehatan dia."


Romi menganggukkan kepalanya, mendengar nasehat yang diberikan oleh istrinya. Dia juga merasa tidak tenang, mendengar adiknya yang sedang sakit.


"Apa kita pulang dulu ya Dek, buat kasih nasehat dan dorongan semangat buat Della."


Mendengar usulan tersebut, Linda sebenarnya merasa sangat senang. Karena dengan begitu, dia bisa pulang dan bertemu dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya juga. Tapi dia juga tidak bisa menyepelekan urusan sekolah Erli, yang baru saja pindah ke kota besar ini.


"Linda sebenarnya sih mau Mas pulang, tapi Erli bagaimana? dia kan baru saja pindah, belum juga ada dua bulan. Masak iya sudah ijin pulang kampung, dan itu tidak bisa ditentukan waktunya."


Romi akhirnya sadar jika sekarang ini, banyak hal yang harus dipikirkan sebelum membuat keputusan.


Setelah mereka berdua saling diam, akhirnya Linda pamit untuk menjemput anaknya, Erli, yang sudah waktunya untuk pulang sekolah.


"Linda pergi jemput Erli dulu ya Mas."


Mendengar istrinya yang ingin pergi, Romi akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Aku ikut Dek!"


Linda tersenyum mendengar permintaan dari suaminya, yang akhirnya mereka berdua berboncengan menuju ke sekolah Erli.


Romi tidak mau jika Linda merasa diabaikan, karena dia sedang memikirkan adiknya.


Dia akan meminta pada adiknya itu untuk beristirahat di rumah, dan tidak memikirkan pekerjaan terlebih dahulu.


Yang penting, untuk saat ini Della harus menjaga kesehatannya. Supaya bisa kembali sehat dan nantinya juga bisa beraktivitas lagi.


Romi akan meminta pada Danang, supaya Della dioperasi saja. Sesuai dengan saran dari dokter.


Tadi, romi sempat berkirim pesan pada adik iparnya, Danang. Dan Danang menceritakan bahwa, sebenarnya dokter Santi sudah memberikan saran pada Della untuk operasi. Tapi Della sendiri yang tidak mau, karena merasa takut. Sehingga koperasi tersebut tertunda.


"Dek, jika Aku mengirim uang kita pada Della, supaya dia mau dioperasi dan tidak memikirkan uang untuk kehidupannya, saat dia tidak kerja gak apa-apa kan?"


Linda, mendengarkan pertanyaan suaminya itu dengan mendekatkan telinganya ke leher suaminya, karena pada saat ini mereka sedang berboncengan menuju sekolah Erli.


"Lho, gak apa-apa Mas. Tapi, Danang kan juga kerja. Kenapa Della gak bicarakan hal ini pada Danang?"


Sepertinya, mereka berdua salah paham dengan maksud Della yang tidak mau berhenti dari bekerja. Padahal semua yang menjadi alasan Della, bukan hanya soal uang saja. Tapi sepertinya ada sesuatu yang ditakutkan Della, yang tidak bisa dia ceritakan pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2