Tante Melinda

Tante Melinda
Sadar Diri


__ADS_3

Ternyata Erli tidak mau ikut pulang ke rumah simbahnya. Dia ingin bersama papa dan mamanya di rumah.


"Erli gak rewel. Erli gak nakal!"


"Erli mau di rumah aja, sama Papa dan Mama. Ya Ma. Erli di rumah ya Ma!"


Begitulah tadi, saat Erli menolak tawaran Simbah putrinya untuk diajak pulang ke rumahnya. Dia ingin tetap berada di rumahnya sendiri.


Setelah Danang dan ibunya pulang, Linda meminta pada anaknya itu, untuk menjaga papanya terlebih dahulu. Dia ingin menyiapkan air hangat. Untuk mengelap beberapa bagian tubuh suaminya. Supaya tidak terasa kaku.


"Sayang. Erli tungguin papa ya! Mama mau menyiapkan air hangat untuk papa."


Erli mengangguk patuh. Dia yang tadinya duduk di dekat pintu, sekarang menyeret kursinya agar lebih dekat dengan tempat tidur papanya.


Linda mengelus pucuk kepalanya anaknya, baru kemudian pergi ke luar. Dia menuju ke dapur.


"Pa. Masih ada yang sakit? Itu yang putih-putih apa Pa?" Erli bertanya pada papanya, dengan menunjuk ke beberapa bagian tubuhnya yang dibalut dengan perban.


Ferry tampak tersenyum senang, mendengar celotehan anaknya itu. Dengan perlahan-lahan, dia mengerakkan tangan dan kakinya, untuk bisa ada di posisi yang nyaman.


"Auwww... auwww!"


Ternyata, gerakan yang dilakukan oleh Ferry, menimbulkan rasa sakit di bagian-bagian yang memang seharusnya tidak digerakkan.


"Papa! Sakit ya Pa?" tanya Erli meringis. Dia kaget, saat papanya mengaduh.


Dia seperti ikut merasakan rasa sakit pada bagian tubuhnya, di saat melihat papanya yang tampak jelas jika sedang kesakitan.


"Ma, Mama! Papa sakit!"


Erli berteriak memanggil mamanya, supaya mamanya segera kembali ke dalam kamar.


"Eh, ada apa? Mas kenapa?" tanya Linda, begitu dia masuk dan melihat suaminya itu sedang meringis kesakitan.


"Gak. Ini... ini lho, tadi Aku gerak dikit. Tapi jika sakit semuanya ya?"


Ferry menjawab dengan terbata-bata. Karena masih menahan rasa sakit yang dia rasakan di kaki dan tangannya.


"Kenapa gerak-gerak? Mas butuh apa?"


"Gak apa-apa Dek. Ini, ini tadi cuma mau ke posisi yang lebih nyaman aja kok."


Ferry berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Linda. Jika dia tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin mendapatkan posisi tidurnya yang lebih nyaman.


Akhirnya Linda membantu Ferry, dengan memeluk tubuhnya. Kemudian diposisikan pada bantal dengan benar.


"Linda lap-lap dulu ya! Biar gak begitu lengket."

__ADS_1


Ferry mengangguk mengiyakan saja. Karena sebenarnya, dia memang sudah tidak merasa nyaman, dengan keadaan tubuhnya sendiri. Yang tentu saja terasa lengket, karena keringatnya seharian tadi.


Erli hanya memperhatikan, bagaimana cara mamanya membantu papanya membuka pakaian. Kemudian mengelap tubuhnya dengan air hangat, dengan bantuan handuk kecil.


Setelah di rasa lebih bersih dan nyaman, Ferry menyuruh Linda untuk menghentikan kegiatannya mengelap tubuhnya.


"Sudah Dek."


Linda mengangguk dan berhenti melakukan kegiatannya, kemudian membantu suaminya itu, untuk memakai pakaian yang baru saja dia ambil dari almari pakaian.


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah selesai. Linda membereskan semua peralatan yang dia gunakan tadi, kemudahan membawanya ke dapur. Pakaian yang tadi dikenakan oleh suaminya, juga dia bawa.


"Temani papa dulu ya Sayang!" pinta Linda, pada anaknya.


"Iya Ma," jawab Erli dengan tersenyum senang.


Dia ingin bisa ikut membantu papanya, meskipun hanya dengan menjaganya saja. Tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Papa. Mau minum tidak?" tanya Erli, menawari papanya untuk minum.


"Iya Sayang. Mau dong," sahut Ferry dengan tersenyum. Melihat anaknya yang terlihat begitu perduli dengan keadaannya sekarang ini.


Beberapa saat kemudian, Linda datang lagi dengan membawa sepiring nasi. "Makan dulu ya Mas! Habis itu minum obat, biar badannya gak terasa kaku dan ngilu," kata Linda, kemudian duduk di pinggir tempat tidur.


"Ma. Erli mau dong!"


"Ok Sayang," sahut Linda, dengan wajah tersenyum senang.


Dia merasa sangat bersyukur, karena anaknya ini tidak banyak menuntut dan tahu keadaan papanya yang sedang sakit.


Biasanya, anaknya itu akan merengek minta pada papanya. Dan jika tidak dituruti, dia akan mengunakan jurus pamungkas nya. Yaitu dengan menangis.


Linda merawat suaminya dengan telaten. Dia tidak mungkin mengabaikan begitu saja, dengan keadaan suaminya yang seperti sekarang ini. Meskipun sebenarnya dia tidak ada perasaan istimewa dengan suaminya sendiri.


Tapi karena adanya Erli juga, Linda bisa bertahan hingga pada saat ini.


Linda tidak ingin menyakiti hatinya Erli. Itulah sebabnya, di saat dulu Ferry yang tidak bisa bersikap baik dengan dirinya, Linda hanya bisa bersabar.


Karena itu juga, Linda tidak mau mengikuti kemauan suaminya itu. Agar dirinya resain dari pekerjaannya di pabrik.


Selain mendapatkan gaji yang lumayan besar, dia juga menemukan kebebasan. Kebahagiaan dengan segala petualangan yang dia lakukan. Juga teman-teman yang banyak. Meskipun sebenarnya tidak ada yang bisa lebih dekat dengan dirinya juga.


*****


Pagi datang mengantikan malam.


Ferry, beberapa kali terbangun dan mengaduh. Mengeluhkan rasa sakit yang dia rasakan.

__ADS_1


"Kamu gak kerja Dek?" tanya Ferry, di saat melihat Linda masih sibuk dengan pekerjaan rumah, dan juga Erli.


"Gak Mas. Linda ijin. Gak mungkin juga Linda meninggalkan Mas sendiri di rumah," jawab Linda, dengan memberikan alasannya.


"Makasih ya Dek. Maaf, Mas jadi merepotkan Kamu."


"Gak apa-apa Mas. Kemarin itu Aku juga seharian agak pusing kok. Dan kebetulan aja ini. Jadi sekalian istirahat di rumah."


Jawaban Linda justru membuat Ferry merasa bersalah.


"Kalau begitu Kamu juga istirahat aja Dek! kok malah kerjain apa aja itu." Ferry meminta pada Linda, supaya tidak bekerja dan melakukan sesuatu, yang bisa membuatnya kembali pusing nantinya.


"Gak apa-apa Mas. Sudah gak pusing kok," sahut Linda dengan tersenyum.


Ferry membuang nafas panjang. Dia jadi merasa tidak enak hati, karena sudah merepotkan istrinya.


"Dek," panggil Ferry, dengan melambaikan tangan. Meminta pada Linda supaya mendekat ke tempatnya berbaring.


"Maafkan Mas ya! Mas merepotkan Kamu terus."


Ferry mengatakan apa yang dia rasakan saat ini. Dengan satu tangannya yang tidak sakit, dia meraih tangan istrinya itu. Dia menggenggamnya erat.


Linda mengangguk sambil tersenyum. Melihat bagaimana keadaan suaminya saat ini, Linda juga merasa bersalah.


"Maafkan Linda juga ya Mas."


Dengan satu tangan yang lain, Linda menepuk-nepuk punggung tangan suaminya, yang saat ini mengengam tangannya.


Kring... kring... kring...


Handphone milik Ferry berdering nyaring. ada panggilan telpon yang masuk untuk segera diangkat.


"Sebentar Mas, Linda ambil."


Linda berdiri, kemudian meraih handphone milik suaminya, yang ada di atas meja dekat dengan tempat tidur.


"Mbak Nana?" gumam Linda dengan bertanya, saat melihat layar handphone tersebut.


"Siapa Dek, Mbak Nana?"


Ternyata Ferry mendengar suaranya Linda. Dia jadi cepat bertanya. Dia merasa khawatir jika, yang menelponnya kali ini benar mbak Nana.


Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya. Kemudian menyerahkan handphone tersebut, ke tangan suaminya yang tidak terluka.


"Oh, dia langganan beras Mas. Kemarin dia beli dua karung, tapi baru diambil satu. Masih ada satu karung di tempat pengilingan."


Linda mengangguk. Dia memaklumi kondisi pekerjaan suaminya yang berdagang beras. Karena beras, tentunya identik dengan ibu-ibu atau para wanita. Karena beras berkaitan dengan dapur.

__ADS_1


__ADS_2