
Linda masih belum menjawab pertanyaan dari Pak Rudi. Dia berpikir bahwa, kemarin itu sudah memberikan jawaban atas tawaran yang sama seperti saat ini.
Lagipula, Linda tidak berambisi untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Karena menurutnya, jabatannya yang sekarang ini sudah membuatnya pusing. Karena selain tugas dan tanggung jawab yang besar, dia juga dituduh main belakang dengan ilmu mistis untuk mendapatkan semua itu.
Secara, Linda bekerja di pabrik ini belum genap setahun. Tapi dia dengan cepat bisa ada pada posisi yang sekarang. Yaitu supervisor.
Linda pernah mendengar beberapa orang yang sedang berbincang-bincang mengenai dirinya.
"Leader Linda itu katanya mau naik jabatan jadi supervisor ya?"
"Iya. Hebat ya!"
"Hebat apanya? Paling juga main dukun."
"Eh, tapi kan mbak Linda cantik. Bisa jadi, dia itu memang simpanan pak Komarudin. Kan mereka dekat."
"Iya lah. Mana ada anak baru, meskipun cantik, tapi langsung naik jabatan dengan mudahnya?"
"Nah iya benar itu!"
Linda jadi merasa tidak nyaman, dengan beberapa sangkaan mereka-mereka. Meskipun tidak semuanya salah, tapi tetap saja Linda kurang suka.
Dia tahu jika, dia tidak mendapatkan semua ini dari prestasi kerjanya.
Karena yang Linda tahu, orang-orang yang jujur dan benar-bener baik, kurang diperhatikan oleh para atasan.
Mungkin karena mereka tidak cari perhatian juga. Jadi mereka tidak dikenali..
Padahal menurut Linda sendiri, orang-orang yang benar-benar tulus dan bertanggung jawab atas pekerjaan mereka ada banyak. Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang sering juga mendapat bully-an.
"Bagaimana Lin?"
Pertanyaan yang diajukan oleh pak Rudi lagi, membuat Linda tersadar dari lamunannya.
"Emhhh... tidak ada kandidat lain yang lebih baik dari pada Linda Pak?" tanya Linda, mencoba agar pak Rudi melihat potensi dari supervisor lainnya.
"Aku memberikan tawaran ini pada Kamu lebih dulu. Tapi jika Kamu masih tetap tidak mau ya... Aku akan coba cari orang lain."
"Tapi Kamu akan melewatkan kesempatan bagus ini Lin. Apa Kamu tidak mau belajar dulu?"
Pak Rudi sepertinya masih ingin membujuk Linda, supaya mau menerima tawarannya tadi. Mungkin, ini juga keinginan pak Rudi, agar Linda tidak jauh-jauh dari dirinya.
Setelah Linda berpikir sejenak, dia ingin bertanya pada pak Rudi. Tentang beberapa kejadian yang menurutnya tidak masuk akal.
"Emhhh... apa Linda boleh bertanya sesuatu pada pak Rudi?"
__ADS_1
"Tanya apa Lin?" pak Rudi justru balik bertanya pada Linda. Dia ingin tahu, apa yang menjadi penyebab Linda tidak mau menerima tawarannya tadi.
"Sebenarnya hal ini sudah lama Linda ingin tanyakan. Tapi Linda selalu lupa. Dan sekarang Linda ingat. Jadi mumpung lagi ingat ya... Linda tanyakan saja."
"Ya-ya. Apa itu?"
Pak Rudi sepertinya tidak sabar, ingin mendengar pertanyaan yang akan diajukan oleh Linda padanya.
"Ini sudah lama Pak. Linda waktu itu masih jadi leader. Dan beberapa kejadian ini sama seperti kemarin juga."
Linda menghela nafas panjang, untuk menjeda kalimatnya sebentar.
"Kadang kala, Linda seperti mendengar suara seseorang yang memanggil-manggil nama Linda. Tapi jika Linda mencari dan bertanya pada orang disekitar Linda, selalu tidak ada."
Dengan susah payah, Linda terus melanjutkan kalimatnya lagi.
Dan pak Rudi, dengan serius mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh Linda padanya.
"Kadang Linda berpikir jika itu adalah halusinasi Linda. Atau mungkin ada yang sedang iseng. Tapi, kejadian di lorong devisi packing, Linda sangat yakin jika tidak ada orang pada waktu itu."
Kening pak Rudi semakin mengkerut. Dia tampak ikut berpikir keras, dengan apa yang dia dengar tadi.
Tapi beberapa saat setelah itu, Linda belum juga melanjutkan kalimatnya.
"Terus?" tanya pak Rudi tidak sabar, untuk segera mendengarkan kelanjutan ceritanya Linda.
Dengan menatap Linda intens, pak Rudi mengangguk mengiyakan.
"Sedari pagi Linda pusing kan hari itu? Dan Linda juga tidak pergi makan siang pas jam istirahat. Linda tidur di ruangan Linda, dengan beberapa karton yang ada di sana."
Pak Rudi masih menyimak dengan apa yang dikatakan oleh Linda.
"Sewaktu Linda bangun, ada segelas coklat hangat yang tersedia di atas meja. Tanpa Linda ketahui, siapa yang membawa untuk Linda."
"Kamu gak tau siapa?" tanya pak Rudi heran.
Linda mengangguk pasti.
Mata pak Rudi Rudi jadi membola dengan lebar. Dia kaget saat mendengar cerita ini.
"Dan Kamu minum coklat panas itu?"
Linda kembali mengangguk mengiyakan dengan pasti.
"Lalu bagaimana rasanya? Emhhh... maksudku pait apa manis, apa asin gitu?"
__ADS_1
"Manis dan menenangkan," jawab Linda cepat.
"Kamu gak cari tau, siapa yang kasih?" tanya pak Rudi lagi. Yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Linda kemarin.
"Sudah. Tapi tidak ada yang tau juga."
Pak Rudi tampak menahan nafas, saat Linda menjawab jika tidak ada yang tau juga.
"Setelah itu bagaimana?"
"Linda merasa tenang dan pusing Linda juga hilang. Memang Bapak tau, kira-kira siapa?" tanya Linda, setelah menjawab pertanyaan dari pak Rudi.
Gelengan kepala pak Rudi mewakili jawaban yang dia berikan.
"Aku pikir, itu mungkin penghuni gedung ini Lin."
"Pak, jangan bikin takut Linda!"
Linda ketakutan saat pak Rudi mengatakan pemikirannya. Apalagi, pak Rudi juga mengatakannya dengan cara perlahan-lahan dan suara yang nyaris tidak bisa di dengar oleh telinga Linda.
"Ini hanya beberapa orang yang pernah di kasih lihat sama penghuni gedung Lin."
"Maksud Bapak?" tanya Linda cepat, dengan wajahnya yang tampak was-was
"Dari mana Aku harus memulai cerita ya," gumam pak Rudi, yang kebingungan sendiri, untuk menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya di gedung tempat dia bertugas ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi Pak?"
Dengan penasaran yang tinggi, tapi juga ras takut, Linda mencoba untuk mengetahui, tentang apa yang terjadi pada dirinya selama ini.
Menurut penuturan yang disampaikan oleh pak Rudi, akhirnya Linda tahu. Bagaimana bisa penghuni gedung ini menyapa dan memperlakukan dirinya dengan baik dan istimewa.
Selama ini, Linda memang tidak pernah mau ikut campur dalam urusan orang lain. Jika itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Linda juga tidak mau membicarakan tentang masalah orang lain, dengan sesama temannya.
Jadi, menurut penghuni gedung ini, Linda adalah orang yang baik.
"Orang yang baik? Apa Linda orang yang baik?" tanya Linda dengan cepat.
Dia merasa bukan orang yang seperti itu. Penilaian penghuni gedung terhadap dirinya salah besar.
Linda merasa jika dia adalah orang yang paling buruk di dunia ini. Bahkan itu sedari kecil. Dengan apa yang dia alami saat itu, dan menjadi kebiasaan yang tidak seharusnya dia lakukan setiap kali ingin merasakan kepuasan.
Bahkan sekarang, dia juga sudah gila dengan segala sesuatu yang berbau permainan ranjang. Dan itu bukan bersama dengan suaminya sendiri.
__ADS_1
Linda mengeleng beberapa kali, menyadari jika semua ini adalah sebuah kesalahan. Bukan penilaian yang baik untuk dirinya.