
Sudah hampir seminggu ini linda tidak melihat keberadaan Romi. Ada rasa khawatir di hati Linda, karena tidak melihat mantan kekasihnya itu.
Dia berharap, bisa melihatnya, meskipun sekilas saja. Itu sudah membuat Linda merasa nyaman. Karena bisa memastikan bahwa Romi dalam keadaan baik-baik saja.
Entah apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini, karena jika bertemu dengan Romi, Linda merasa khawatir. Tapi jika tidak bertemu, dia merasa tidak tenang.
'Ada apa dengan hatiku ini?' batin Linda sering bertanya-tanya sendiri.
Untungnya, jika ada di rumah, Linda bisa mengendalikan perasaannya itu. Sehingga Ferry tidak mencurigainya. Apalagi sekarang, Erli sudah semakin besar dan pintar, dengan mengajak kedua orang tuanya itu untuk bercanda. Sehingga bisa tertawa-tawa sebagaimana sebuah hubungan keluarga yang harmonis.
Sama seperti malam ini, mereka bertiga sedang berada di depan televisi. Dengan Erli yang melihat kartun kesukaannya, Adit, Sopo Jarwo. Kartun asli anak bangsa Indonesia.
Sama seperti kemarin-kemarin saat dia melihat Adel, adiknya Adit yang lucu dan menggemaskan.
Dia akhirnya ingat dengan cerita teman-temannya di sekolahnya, yang sudah memiliki adik.
"Mama, temenku si Winda punya adik lagi, padahal dia udah punya adik satu."
"Si Arkan juga sudah punya adik, katanya udah bisa jalan Ma," sambung Erli menceritakan tentang keadaan teman-temannya yang memiliki adik.
Sebenarnya, Linda maupun Ferry tahu. Apa yang sedang ingin dibicarakan oleh anaknya. Sehingga Linda hanya diam dan tersenyum saja, mendengar cerita Erli.
Berbeda dengan Ferry, yang menanggapi dengan serius dengan sebuah pertanyaan, "Oh ya? Wah bagus dong. Mereka jadi ada teman bermain. Kayak Adit itu kan, jadi bisa bermain-main dan menjaga adiknya juga."
Ferry memberikan contoh dari film kartun Adit, Sopo, Jarwo. Yang saat ini sedang ditonton mereka bertiga.
"Kapan Erli punya adik Ma, Pa? ayok beli Pa! Di mana bisa beli adek bayi?"
Erli sangat antusias, saat membicarakan tentang adik yang dia inginkan.
Linda yang tadi hanya diam saja, ikut terkekeh bersama dengan suaminya. Mendengar permintaan anaknya yang ingin membeli adik bayi. Yang dia pikir sama seperti membeli sebuah boneka, yang bisa dibeli di toko.
"Sabar ya Sayang. Papa sedang berusaha untuk buat adek bayi. Jadi Erli harus ikut berdoa juga, biar bisa cepat punya adik."
"Kapan Pa?" tanya Erli ingin tahu.
__ADS_1
Ferry melirik ke arah istrinya, agar bisa membantunya menjawab pertanyaan dari anaknya itu.
Linda sendiri diam terpaku, berkecamuk dalam pikirannya sendiri. Apakah mungkin dia mampu punya anak lagi, sedangkan dia sudah tidak memiliki rasa. Meskipun di saat bercinta, dia bisa ikut menikmati permainan mereka, tapi untuk memiliki anak lagi, Linda belum punya pemikiran sejauh itu.
Dia juga belum berhenti dari suntik KB, yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Dan itu tanpa sepengetahuan Ferry juga.
Dalam hati linda bertanya, 'apakah Aku harus berhenti suntik KB, biar punya anak lagi? Tapi Aku belum siap, seandainya punya anak. Dan mas Ferry kumat lagi seperti dulu. Lebih repot lagi Aku nantinya.'
'Tapi Aku juga kasihan sama Erli, dan bisa jadi, anak itu akan mempererat ikatan kami menjadi lebih baik. Tapi... ah entahlah, Aku bingung.'
Ternyata Linda masih belum percaya sepenuhnya dengan Ferry. Dia takut, seandainya kejadian yang lalu terulang lagi, dalam keadaan dia yang sedang repot dengan kehadiran seorang bayi lagi.
Meskipun sebenarnya dia juga sadar, jika kadang-kadang kehadiran seorang anak bisa mempererat sebuah hubungan. Dan bisa jadi adeknya Erli bisa membuat bahagian keluarga kecil mereka semakin bertambah.
Linda hanya bisa menghela nafas panjang, tanpa bisa memberikan jawaban dan penjelasan kepada anaknya.
Tak lama kemudian, Erli sudah tertidur dipangkunya.
"Mas. Linda pindahin Erli ke kamar dulu ya," pamit Linda pada suaminya.
Ferry juga beranjak dari tempat duduknya, setelah mematikan televisi terlebih dahulu. Kemudian berjalan menuju ke kamar mereka.
Setelah selesai menidurkan Erli, Linda masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Ferry sudah berbaring telentang di atas tempat tidur, meskipun matanya masih terjaga.
Begitu melihat kedatangan istrinya, Ferry menepuk-nepuk tempat tidur, agar Linda segera naik ke tempat tidur bersamanya.
"Bagaimana Dek, kita jadi kan buat adik buat Erli?" tanya Ferry, di saat Linda sudah berbaring di sampingnya.
"Mas Ferry yakin mau memberikan Erli adik? Tapi pekerjaanku tidak bisa ditinggal bagaimana Mas? terus kalau punya bayi, siapa yang akan menjaganya nanti? Kan Linda kerja."
Ferry terdiam sejenak, mendengar perkataan Linda yang ternyata punya banyak kekhawatiran yang memang mereka hadapi saat ini.
"Jangan takut Dek, semua pasti ada jalannya. Nanti Kamu gak usah kerja, tapi jika gak bisa berhenti, kita cari jalan keluar yang lainnya."
Linda terdiam, mendengar perkataan suaminya. Tapi, dia bekum siap jika harus keluar dari pekerjaannya yang sekarang ini.
__ADS_1
"Atau kita ambil pengasuh bayi?" usul Ferry, bertanya pada Linda.
"Mas percaya sama pengasuh? Linda kok gak percaya ya Mas. Takutnya anak kita malah kenapa-kenapa, kayak yang ada di berita-berita setiap hari di media sosial atau televisi. Kan sering terjadi."
"Masa iya harus merepotkan ibu terus Dek? menitipkan anak kita pada ibu lagi? gak enak Aku Dek." Ferry mengatakan apa yang dia rasakan, jika harus merepotkan ibu mertuanya, sama seperti jika sedang menitipkan Erli, waktu dulu-dulu.
Linda akhirnya merasa bimbang dengan apa yang dikatakan oleh Ferry, karena sebenarnya dia juga tidak mau merepotkan ibunya terus menerus. Apalagi keadaan bapaknya tidak lagi sesehat dulu.
*****
Danang baru saja keluar dari kamarnya, kemudian menghampiri ibu dan bapaknya yang sedang menonton TV.
"Pak, Bu. Danang mau bicara."
Bapak dan ibunya mengalihkan perhatian dari layar televisi ke anaknya, Danang, yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Duduk Nang. Kamu mau bicara apa?" tanya bapaknya, yang meminta pada Danang untuk duduk terlebih dahulu.
"Danang mau melamar seorang gadis, boleh gak Pak, Bu?"
Bapak dan ibunya tentu saja terkejut, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu.
"Kamu mau melamar seorang gadis, siapa? Ibu kok tidak pernah tahu, jika Kamu punya pacar," tanya ibunya, yang memang belum tahu jika Danang punya pacar.
"Kami baru jadian dua minggu yang lalu Bu. Tapi Danang sudah yakin, jadi mau langsung melamar saja. Tidak apa-apa kan Bu? tanya Danang lagi, yang ingin tahu bagaimana reaksi kedua orang tuanya itu.
"Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan Nang, kok mendadak sih? siapa gadis itu?kenalin dulu sama kita Nang."
Ibunya merasa khawatir, jika anak laki-lakinya itu berbuat apa-apa pada gadis tersebut. Sehingga ingin cepat-cepat meresmikan hubungan mereka.
"Pacar Kamu gak sedang hamil kan?" pertanyaan ibunya itu justru membuat Danang mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullah Bu. Gak! Danang gak berani macam-macam dengan anak gadis orang Bu.'
"Tapi, dia... adiknya kak Romi." Lanjut Danang memberitahu ibunya.
__ADS_1
Danang mengatakannya dengan kepala menunduk. Dia takut jika bapak dan ibunya tidak merestui hubungan mereka berdua.