Tante Melinda

Tante Melinda
Membandingkan Wajah


__ADS_3

"Eh, Erli kan udah cantik Sayang."


Ferry menyahuti permintaan Erli, yang ingin terlihat cantik seperti mamanya. Yaitu Linda.


"Tapi kenapa wajahnya Erli gak sama seperti wajahnya Mama pa?" pertanyaan yang diajukan oleh Erli, tidak bisa dengan cepat dijawab oleh Ferry.


Dia tidak tahu, bagaimana caranya agar anaknya itu bisa mengerti dengan apa yang akan di jelaskan nanti.


Dengan perlahan-lahan, Ferry menjelaskan pada anaknya itu, jika wajahnya memang tidak sama seperti mamanya. Tapi, Erli memiliki wajah yang hampir sama dengan dirinya sendiri. Wajah papanya, Ferry.


"Kata orang, anak perempuan pertama akan mempunyai wajah yang mirip dengan Papanya itu sangat cantik. Kan Erli anaknya Papa!"


Erli mengangguk mengiyakan perkataan papanya.


"Jadi, Erli tetap cantik dengan mirip wajahnya Papa?" tanya Erli, menyakinkan dirinya sendiri dengan cara bertanya pada papanya lagi.


Ferry mengangguk mengiyakan pertanyaan dari anaknya. Dia juga tersenyum, untuk memberikan semangat pada Erli, agar tidak merasa tersaingi dengan wajah mamanya yang cantik layaknya bule blesteran Indonesia. Khususnya Jawa.


Clek!


Pintu kamar mandi terbuka. Muncul Linda yang sudah tampak cerah karena selesai mandi.


"Tuh, mama sudah selesai mandi!"


Ferry memberi tahu anaknya, saat istrinya keluar dari dalam kamar mandi.


"Ma, Mama!"


Erli berteriak memanggil mamanya, dengan berlari-lari kecil menuju ke arah mamanya yang menuju ke arah meja rias.


"Ada apa Sayang? Mama mau sisiran dulu ini." Linda bertanya pada anaknya, yang tadi dia pikir sudah kembali ke luar dari kamarnya.


"Mau liat Mama di cermin," jawab Erli, sambil tersenyum melihat ke arah wajah mamanya, lewat pantulan cermin.


"Ihhh, anak Mama cantik banget sih!"


Linda menangkup kedua pipi anaknya, dengan dua telapak tangannya. Dia merasa gemas sendiri, karena tingkah laku Erli yang memang imut.


Dari pantulan cermin, Linda melihat wajah anaknya. Di wajahnya Erli, wajah suaminya memang lebih mendominasi. Di banding dengan wajah bulenya Linda sendiri.

__ADS_1


Tapi karena itu juga, Erli jadi terlihat manis dan imut. Karena wajah tampan dan tegas Ferry ada di wajah gadis kecilnya itu.


"Erli cantik Ma?" tanya Erli pada Linda.


Dengan pasti, Linda menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu.


"Tapi, kata simbahnya temen Erli, yang rumahnya dekat rumah Mbah Putri, cantik wajahnya Mama."


Linda melihat wajah Erli yang tampak sedang bersedih. Dia berpikir bahwa, anaknya ini sedang membandingkan dirinya sendiri, dengan mamanya. Dan itu karena omongan orang lain, yang membandingkan wajah mereka berdua.


"Erli tetap cantik kok Nak!"


Dari arah tempat tidur, papanya berkata, memberikan penilaiannya terhadap wajahnya Erli.


"Tuh dengerin ya! Papa aja bilang jika Erli cantik kok!"


Linda berusaha untuk menyakinkan anaknya, agar tidak merasa tersaingi dengan wajahnya. Ini akan mempengaruhi mental Erli ketika beranjak remaja nanti.


"Beneran Ma, pa?"


Sekali lagi, Erli bertanya pada kedua orang tuanya, dengan berbalik arah menghadap ke arah mereka, yang tadi ada dibelakangnya.


Erli jadi merasa sangat senang, karena mama dan papanya, mengatakan bahwa dia sangat cantik. Sama seperti yang dikatakan oleh kedua simbahnya juga.


Jadi tadi pagi, sebelum Simbah kakungnya pingsan. Erli bertanya pada kedua simbahnya itu, dengan pertanyaan yang sama seperti sekarang ini.


Ferry dan Linda saling pandang tanpa bicara apa-apa. Mereka berdua juga tidak mau jika, Erli akan merasa rendah diri, karena kalah bersaing dengan wajah cantik mamanya yang bule.


Memang tidak masuk akal. Tapi jika sedari kecil Erli sudah dibanding-bandingkan seperti ini, nanti di masa yang akan datang, dia akan memiliki rasa bersaing dengan mamanya. Hanya karena masalah wajah keduanya yang tidak sama.


Sekarang, Erli berlari-lari kecil, menuju ke luar kamar. Dia ingin menemui simbah putri dan kakungnya. Mengatakan pada keduanya jika, mama dan papanya juga mengatakan jika dia memang cantik.


Beberapa saat kemudian, setelah Erli keluar dari dalam kamar.


"Mas. Sebaiknya Erli segera masuk TK dan TPA. Agar tidak punya waktu bermain lebih lama."


"Jika dia seperti ini terus, dia akan menganggap Linda saingannya nanti," ujar Linda yang merasa khawatir.


"Iya Dek. Mas juga berpikir hal yang sama tadi," sahut Ferry, menyetujui usulan dari istrinya itu.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan yang antar jemput Erli?" tanya Ferry, menyambung perkataannya yang tadi.


"Kita pikirkan nanti Mas. Yang penting, Erli didaftarkan ke sekolah dulu. Pas ini waktunya pendaftaran."


Ferry, hanya mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dalam keadaannya yang sekarang ini.


"Maaf ya Dek. Mas belum bisa melakukan apa-apa ini," ucap Ferry dengan wajah sedih.


"Iya Mas. Gak apa-apa Mas. Yang penting Mas sabar dan telaten, dalam belajar gerak dan berjalan. Melangkahkan kaki satu persatu."


Lagi-lagi Ferry mengangguk mengiyakan perkataan Linda. Dia tahu jika, semuanya memang memerlukan kesabaran yang lebih besar. Karena dia jadi tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, sejak sore di saat dia jatuh di pengilingan padi.


Bahkan, sepeda motornya yang ada di pengilingan padi, di antar oleh karyawan pengilingan padi.


Dan barang dagangan berasnya, dijualkan oleh pihak pengilingan padi juga. Atas persetujuan dari Ferry langsung.


Ini adalah bantuan dari pihak pengilingan padi, yang merupakan Bos dan temannya Ferry juga.


Dan sejak Ferry tidak berjualan beras lagi di pengilingan padi tersebut, mbak Nana juga tidak pernah datang. Setelah mengambil satu karung beras yang dia tinggalkan waktu itu.


Dari cerita yang disampaikan oleh karyawan pengilingan padi, beberapa bakul beras yang biasanya beli pada Ferry, juga sudah tidak pernah datang lagi.


Tapi menitip pesan, jika Ferry sudah sembuh dan bisa kembali berjualan, minta segera untuk dihubungi lagi.


Jadi, Ferry tetap akan mempunyai pelanggan bakul beras, yang memang sudah menjadi pelanggannya.


Sebenarnya, Ferry sudah tidak lagi memikirkan banyak hal tentang beras dan berdagang. Dia hanya ingin fokus pada kesembuhan kakinya.


Dia ingin bisa kembali berjalan seperti dulu lagi. Tidak mengantungkan diri pada bantuan dari istri, atau kedua mertuanya.


"Mas. Makan dulu!"


Linda menyuruh suaminya itu untuk makan terlebih dahulu, sebelum meminum obatnya.


Ferry jadi tersadar dari lamunannya. Dengan semua yang dia jalani sebagai pedagang beras.


'Bagaimana jika mbak Nana benar-bener hamil? Apa dia tidak akan menuntutku? Jadi apa yang harus Aku lakukan nanti?'


Ferry kembali melamun. Dan dia tidak segera menyuap makanan, yang sudah ada di pangkuannya.

__ADS_1


Dia memang sudah bisa makan makanan sendiri, Dan tidak harus disuapi oleh orang lain lagi. Sama seperti waktu pertama-tama kemarin itu.


__ADS_2