Tante Melinda

Tante Melinda
Jangan Terpengaruh


__ADS_3

Linda ingat betul, bagaimana sikap polisi Ferry, saat mereka berdua sudah menikah.


Kebahagiaan dan rasa cintanya pada Linda, dia tunjukkan secara terbuka, dan tanpa malu-malu, meskipun di depan orang lain.


Dia tak segan-segan untuk mengelap air yang ada di dahi Linda.


Memegang tangan Linda, ke mana saja.


Merangkul dan mencium keningnya Linda, meskipun di luar rumah.


Apalagi, pada malam pertama mereka, dan terbukti jika ternyata, Linda masih memiliki darah kembangaan setiap gadis.


Polisi Ferry semakin merasa sangat mencintai Linda.


"Ternyata, pengakuan yang kemarin itu tidak benar?" tanya polisi Ferry, saat tahu jika dialah orang pertama yang mendapatkan darah perawan Linda.


Linda hanya mengangguk saja. Karena semua juga sudah terjadi, dan kini, dia sudah menjadi seorang istri, dari polisi Ferry.


"Terima kasih ya Sayang. Ternyata, Kamu bisa menjaga untuk suamimu ini."


Polisi Ferry tidak tahu jika, apa yang dikatakan oleh Linda kemarin-kemarin, itu hanya sebuah alasan, agar dia mundur dari niatannya, menjadikan dirinya sebagai seorang istri.


Tapi, Linda juga memang tidak tahu, jika segelnya masih tetap ada. Karena dia berpikir bahwa, segelnya itu sudah tidak lagi dia miliki.


Kebahagiaan di awal pernikahan mereka berdua, menjadi buah bibir para tetangga Linda di desa.


Apalagi, Linda juga langsung di ajak pindah ke rumah, yang sudah dibeli oleh polisi Ferry, sebelum mereka menikah.


Mereka semua berpikir bahwa, Linda benar-benar beruntung sekali, karena mendapat seorang suami yang baik dan punya pekerjaan yang bagus juga.


"Linda kan cantik. Pantes saja, dapat polisi. Gak mungkin orang desa yang kuli juga."


"Iya sih. Semoga saja, anakku juga punya nasib yang sama seperti Linda kelak."


"Anak Kamu yang mana Yu?"


"Itu, yang kelas tiga SD."


"Haduh Yu. Jangan ketinggian jika berkhayal. Kalau gak kesampaian busa gila!"


"Hehehe... namanya juga berharap."


Begitulah perbincangan orang-orang desa, yang kagum atas keberuntungan nasibnya Linda.


Ank seorang petani miskin, yang sekarang sudah menjadi istri seorang polisi.

__ADS_1


Ibarat sebuah dongeng, dengan segala keberuntungan baik yang ada pada dirinya Linda, sang kembang desa.


Tapi itu dulu. Saat di awal-awal pernikahan Linda dengan polisi Ferry.


Sekarang, saat mereka tahu apa yang terjadi dan di alami Linda, jadi merasa prihatin dengan kondisi Linda.


Tubuh kurus kering, dengan wajahnya yang tidak terawat. Apalagi, dia juga mengurus bayinya.


Praktis, Linda tidak ada waktu untuk dirinya sendiri.


Sekarang, dia ada di rumah ibunya. Dia tidak mau kembali ke rumah suaminya. Meskipun sebenarnya, polisi Ferry sudah datang menjemputnya.


Polisi Ferry datang sore hari, saat dia baru saja pulang dari kantor. Dia mendapatkan surat teguran dan skorsing, selama tiga bulan.


"Ayo Dik pulang. Mas minta maaf."


Linda diam saja tanpa mau melihat ke arah suaminya. Dia diam saja di tempat duduk, dengan memangku anaknya yang sedang tertidur.


Ibu bapaknya Linda, ada di dalam kamarnya, dan berusaha untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


Meskipun sebenarnya, ada banyak sekali pikiran dan kecemasan yang ada di dalam hati kedua orang tuanya Linda.


Tapi, mereka berdua ingin melihat keadaan keluarga anaknya baik-baik saja, sama seperti pada awal pernikahan mereka dulu.


"Ini salah Ibu. Linda dulu sudah berusaha menolak tawaran nak Ferry. Ibu yang membujuknya supaya mau menerima dan menikah. Begini akhirnya Bu."


"Bapak ini bagaimana? Ibu kan juga tidak tahu jika, nak Ferry ternyata seperti itu. Dulu kan tidak Pak."


Tentu saja, ibunya Linda juga tidak mau disalahkan. Dia hanya ingin agar anaknya itu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dengan menikahi seorang polisi.


Apalagi, Linda adalah gadis yang sangat cantik. Jadi, tidak pantas jika harus menikah dengan pemuda biasa, apalagi jika hanya bekerja sebagai seorang petani atau kuli bangunan.


Dengan menikah dengan seorang polisi, kehidupan Linda akan menjadi lebih baik dan terjamin.


Begitulah kira-kira pemikiran dari ibunya Linda, dulu.


Dan mungkin saja, pemikiran orang-orang juga sama bahwa, Linda akan menemukan kebahagiaan, sama seperti yang ada di dalam cerita-cerita dongeng atau cerita film-film layar lebar jaman dahulu.


"Kita pulang ya Dek," ajak polisi Ferry lagi, pada Linda.


"Mas janji, tidak akan melakukan hal itu lagi kedepannya nanti."


Linda mendongak, menatap ke arah suaminya. Dia ingin mencari kebenaran dalam ucapan suaminya itu.


Setelah itu, Linda beralih pada anaknya, yang tertidur di dalam pangkuannya.

__ADS_1


'Aku tidak ingin membuat anakku patah hati, karena besar tanpa ayahnya. Tapi, Aku juga takut jika, ayahnya akan kembali ke sifat aslinya, pada suatu hari nanti. Bagaimana ini?'


Linda berpikir dua kali, jika harus menerima kembali suaminya.


Tapi, Linda juga tidak mau jika, anaknya akan tumbuh tanpa ayahnya.


Dia sedang berada dalam posisi bingung, dengan apa yang harus dia putuskan untuk saat ini.


"Aku masih ingin di sini Mas," ujar Linda, saat polisi Ferry mengajaknya untuk pulang ke rumah mereka sendiri.


"Baiklah. Aku akan kembali besok untuk menjemput kalian berdua. Sekarang, tidak apa-apa jika masih ingin tidur di sini."


Akhirnya, polisi Ferry memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, dan membiarkan Linda tetap tidur di rumah orang tuanya, untuk sementara waktu.


Dia mencoba untuk melunakkan hati dan cara bicaranya, agar Linda mau ikut bersama dengannya lagi.


Polisi Ferry ingin memperbaiki hubungan antara dirinya dengan istrinya itu.


*****


Malam hari, saat Linda selesai makan malam.


"Linda. Kamu yakin Nak, jika besok mau ikut pulang bersama nak Ferry?" Bapaknya, yang sedang tidak sehat benar, bertanya pada Linda.


Sebagai orang tua, apalagi bapak, meskipun terkesan dengan diamnya, tapi dia juga mengkhawatirkan keadaan anaknya.


Meskipun anaknya itu sudah besar dan berumah tangga sendiri.


"Iya Pak. Linda berharap agar, suami Linda itu berubah. Apalagi, kami ini sudah punya anak Pak."


Bapaknya Linda mengangguk mengerti, dengan apa yang dipikirkan oleh anaknya itu.


"Kamu harus cerita, jika ada sesuatu yang terjadi pada Kamu. Jangan diam saja, dan tahu-tahu sudah seperti ini," ujar bapaknya Linda, memberikan nasehat pada Linda.


"Ngeh Pak," jawab Linda dengan mengangguk mengiyakan.


Dari arah dapur, ibunya muncul. Dia melihat suami dan anaknya, Linda, secara bergantian. Ada yang dia pikirkan, dan itu bukan sesuatu yang baik.


"Ada apa? Kenapa langsung diam?" tanya ibunya Linda, karena suami dan anaknya itu, terdiam di saat dia datang.


"Tidak ada apa-apa Bu. Kami hanya sedang berbincang-bincang saja," jawab suaminya, bapaknya Linda.


"Jangan mempengaruhi Linda ya Pak!"


"Mempengaruhi bagaimana Ibu ini?" tanya bapaknya Linda dengan bingung.

__ADS_1


"Jangan minta Linda untuk bercerai."


Bapaknya Linda, mengeleng cepat, mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.


__ADS_2