Tante Melinda

Tante Melinda
Bukan Bodoh


__ADS_3

Di dalam kamar, ternyata Linda sudah berbaring di tempat tidur. Tapi belum tidur, karena matanya masih terbuka.


Entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Dek," panggil Ferry, ketika beranjak naik ke tempat tidur.


"Tidurlah Mas," pinta Linda, tanpa bertanya pada suaminya. Apa maksud dari penggaliannya tadi.


"Mas mau bicara sebentar, bisa?" tanya Ferry ragu, karena melihat sikap Linda yang sepertinya masih belum melunak, jika sedang dalam keadaan seperti ini.


Hanya berdua saja dengan-nya.


Linda akan bersikap manis dan tampak biasa saja, di depan orang lain. Apalagi jika bersama dengan Erli. Sehingga hubungan keduanya tetap tidak ada yang curiga, jika sedang bermasalah.


Mendengar permintaan suaminya, Linda mengubah posisi tidurnya dengan duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Mau bicara soal apa Mas?" tanya Linda, meminta pada suaminya itu untuk segera bicara, apa yang ingin dia sampaikan kepada Linda malam ini.


"Emhhh... sebelumnya, Mas minta maaf..."


"Udah Mas. Gak usah bahas itu lagi!" potong Linda, sebelum Ferry selesai bicara.


Ferry menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan Linda yang memotong kalimatnya barusan.


Sebenarnya dia juga tidak mau membuat masalah baru, tapi jika sikap Linda seperti ini terus menerus jika sedang berdua dengannya, Ferry tidak bisa tahan lagi.


Dia ingin mengakhiri perang dingin antara mereka berdua.


Jika mau, Linda akan dia ajak pindah ke kota asalnya saja. Agar tidak lagi punya kenangan pahit, tentang permasalahan mereka berdua beberapa waktu terakhir ini.


"Dek. Mas paham jika Kamu masih marah dan tidak bisa dengan mudah memaafkan Mas. Tapi mau sampai kapan kita begini terus?"


"Erli semakin besar. Dia pasti akan curiga, dengan keadaan kita ini. Jadi, ayolah Dek... kita akhiri perang dingin antara kita ini. Kamu bisa kan, menerima Aku lagi?"


"Jika perlu, ayok kita pindah dari rumah ini. Jika Kamu mau, kita pindah saja ke kotaku. Bagaimana?"


Ferry mengajukan pertanyaan, setelah dia selesai mengutarakan maksud dari ajakannya untuk bicara dengan Linda. Karena dia juga ingin, supaya Linda bisa benar-benar memaafkan kesalahannya yang sudah berselingkuh dengan mbak Nana.

__ADS_1


Linda memejamkan matanya, dengan menahan nafas untuk beberapa detik. Begitu Ferry selesai bicara.


Setelahnya, dia menegakkan badannya, dengan duduk menghadap ke arah suaminya.


"Mas. Apa dengan pindah ke kotamu, ada jaminan, Kamu gak bakalan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kemarin itu?" tanya Linda memastikan perkataan yang diucapkan oleh suaminya barusan.


"Kita gak tahu waktu kedepannya Dek. Mas gak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi Mas akan berusaha untuk tetap setia sama Kamu."


Linda tersenyum tipis, miris mendengar jawaban dan kalimat yang diucapkan oleh suaminya saat ini.


"Mas. Mengubah diri sendiri itu sulit. Linda tidak meminta Mas Ferry untuk menjanjikan apa-apa ke depannya. Tapi jika mas Ferry minta Linda ikut pindah ke kotanya mas Ferry, sepertinya Linda tidak bisa Mas."


"Bukannya Linda tidak mau, ikut bersama mas Ferry. Tapi di sana, Linda tidak punya siapa-siapa. Seandainya kejadian seperti kemarin terulang."


"Ke mana Linda bisa mencari bantuan? Pada siapa Linda minta tolong? Semua tidak Linda kenal. Semua adalah saudaranya mas Ferry. Yang tentunya, akan tetap berusaha melindungi mas Ferry, meskipun dalam keadaan bersalah."


"Di sini, Linda tidak menuntut apa-apa. Tidak menjelekkan mas Ferry pada siapapun. Meskipun Danang tahu, dia tetap saja baik dengan mas Ferry."


"Apa Danang pernah mengancam mas Ferry setelah kejadian kemarin? Gak kan? Apa bapaknya Linda menyelidiki kebenaran tentang cerita orang-orang, atau dari jawaban yang Linda berikan?"


"Tidak Mas. Linda juga tidak mau apa-apa. Kami sekeluarga itu orang biasa. Tidak sama seperti keluarganya mas Ferry."


Grep!


Ferry memeluk tubuh Linda yang sedang duduk di depannya. Dia menangis di pundak istrinya itu.


"Hhh.... maaf Dek. Hhh... Mas yang tidak tahu keadaan dan tidak tahu diri."


"Seharusnya Mas lebih sabar dan berusaha keras, menunggu hingga hatimu luluh. Mungkin, jika wanita lain, Mas sudah di usir dari dulu. Di laporkan ke polisi atau diamuk keluargamu."


"Maafkan Mas Dek!"


Linda akhirnya memutuskan untuk menyambut pelukan suaminya, yang saat ini masih tersedu-sedu di atas bahunya.


Keduanya sama-sama mencoba untuk menenangkan hati mereka sendiri, dengan mengenang masa-masa di mana mereka telah melewati banyak rintangan dan cobaan.


Ferry sadar, jika selama ini dia belum bisa membahagiakan istrinya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Linda sendiri.


Dia juga sadar, jika dia belum bisa menjadi seorang istri yang baik dan setia. Karena selalu berdiam diri dalam keadaan apapun. Bahkan kesalahannya sendiri sebenarnya lebih banyak dibandingkan dengan suaminya.


"Sudah Mas, nanti Erli terbangun mendengar suara tangisannya mas Ferry."


Linda menepuk-nepuk dan mengelus-elus punggung Ferry, yang masih memeluknya.


Tapi sepertinya Ferry belum puas meluapkan rasa bersalahnya, kesedihannya dan juga perasaan yang tidak bisa dia katakan.


Akhirnya Linda berinisiatif untuk mengecup pipi suaminya itu, untuk membuatnya lebih tenang dan tidak lagi menangis.


Tapi ternyata, apa yang dilakukan oleh Linda membuat Ferry ter_guguk lebih kencang.


Linda pun panik, karena takut jika tiba-tiba Erli mendengar suara papanya yang sedang menangis malam-malam.


Jadi, dengan terpaksa Linda mencium bibir suaminya, supaya Ferry diam dan tidak menangis lagi. Dan ternyata inisiatifnya itu berhasil membuat Ferry diam.


Nyatanya, Ferry terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Linda. Dan dengan cepat, dia pun membalas ciuman Linda dengan lembut.


Meskipun Ferry masih sesekali sesenggukan, tapi itu tidak membuatnya kewalahan dengan caranya mencium bibir Linda.


Kini keduanya sama-sama saling berbagi rasa, dengan cara mereka.


Mencoba untuk membuang rasa egois masing-masing, demi kebaikan mereka berdua, terutama Erli.


Jika masih bisa dipertahankan dan diperbaiki, tidak ada salahnya untuk tetap bersatu dalam ikatan pernikahan. Yang tentunya sangat sakral, bukan sekedar permainan.


Mereka melakukan sesuatu, untuk memperkuat hubungan mereka, yang membuat setan marah, karena gagal memisahkan dua anak adam dalam perceraian yang di halalkan, tapi paling dibenci oleh Tuhan. Dalam agama manapun.


Beberapa saat kemudian.


"Terima kasih Dek. masih memberikan kesempatan pada Mas untuk tetap melihat senyummu dan juga Erli esok dan esok lagi."


Linda hanya mengangguk saja, dalam pelukan hangat suaminya itu.


Dia sendiri memantapkan hatinya, agar bisa melindungi hati dan pikirannya dari hal-hal yang dulu pernah dia lakukan. Dan itu tanpa sepengetahuan dari Ferry juga.

__ADS_1


Linda juga tidak mau, jika apa yang dulu dia lakukan diketahui oleh Ferry. Sebab, itu semua bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangganya lagi.


Dan jika itu sampai terjadi, bisa dipastikan, Ferry tidak mungkin bisa memanfaatkan dirinya. Sama seperti dirinya yang bisa memberikan kesempatan kepada Ferry lagi, dan lagi.


__ADS_2