Tante Melinda

Tante Melinda
Rencana Lembur


__ADS_3

Sepulang kerja, Linda di jemput oleh suaminya, Ferry.


"Mas. Kok Erli gak ikut?" tanya Linda, karena tidak melihat adanya Erli di sekitar suaminya parkir.


Padahal biasanya, Erli juga akan tetap ada bersama dengan suaminya di atas jok motor.


"Tadi di ajak Danang."


"Ke rumah ibu?" tanya Linda lagi, dengan cepat.


"Bukan. Tapi Danang ada di rumah. Katanya, Kamu sendiri yang telpon. Minta dia datang ke rumah," ujar Ferry, menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Oh iya. Sampai lupa Linda Mas."


Linda menepuk jidatnya sendiri, setelah mengingat kembali jika, tadi siang dia sudah menghubungi adiknya itu, untuk datang ke rumahnya.


"Linda pikir, dia akan datang nanti malam. Soalnya, dia kan ada kerja juga," ujar Linda, memberikan penjelasan kepada suaminya itu.


"Memangnya, uang untuk Danang sudah di ambil?" tanya Ferry. Bermaksud untuk mengingatkan kembali pada istrinya. Karena kedatangan adik iparnya ke rumah adalah, untuk mengambil uang yang dia butuhkan.


"Belum Mas," sahut Linda, yang sudah bersiap untuk naik ke atas boncengan motor.


"Lho kok belum?" tanya Ferry lagi, dengan kaget.


Sekarang, Ferry sudah menghidupkan mesin motornya dan bersiap untuk pergi dari area depan bangunan pabrik. Di mana istrinya bekerja.


"Nanti sajalah tanya sama si Danang Mas."


"Oh ya Mas. Mampir ke penjual kue martabak ya! Tadi pagi kan Erli minta dibelikan jajan," kata Linda, memberitahu untuk berhenti di gerobak penjual martabak.


Ferry tidak menyahuti perkataan dari Linda. Tapi, hanya mengangguk saja.


Setelah beberapa menit perjalanan, Ferry menepikan motornya, saat melihat keberadaan gerobak penjual kue martabak.


Penjual kue ini, biasanya memang sudah mulai menjajakan dagangannya pada sore hari. Di pinggir-pinggir jalan raya, yang ramai.


Linda turun dari atas boncengan motor. Dia mendekat ke tempat penjual, kemudian melakukan pesanan. "Pak, kue martabak manis satu. Yang toping biasanya ya Pak!"


"Oh ya, sekalian martabak telurnya satu juga!"


"Ya Mbak," sahut penjual martabak, dengan mengangguk.


Penjual tersebut paham, apa yang dimaksud dengan komplit itu. Yaitu toping untuk Meises, Parutan cokelat putih atau cokelat warna-warni, Nutella, Parutan keju cheddar, Parutan keju leleh/mozzarella, dan Kacang yang dicincang kasar.


Itu adalah toping yang disukai oleh banyak orang. Termasuk Erli.

__ADS_1


Sedangkan untuk Martabak telurnya, untuk Danang dan dirinya sendiri, yang tidak begitu suka dengan kue manis.


"Mas mau nambah?" tanya Linda, menawari suaminya.


"Gak. Itu sudah cukup Dek. Nanti Aku bisa minta Erli. Gak mungkin juga kan dia habis dari loyang?" Ferry berpikir jika, tidak usah beli terlalu banyak. Karena akan membutuhkan uang yang cukup banyak juga untuk membayarnya.


"Hehehe... iya Mas. Gak mungkin juga yang telur nanti dihabiskan Danang sama Linda sendiri."


Sambil menunggu pesanan selesai dibuat, Linda membicarakan tentang tugasnya ke Jakarta minggu depan.


Dia juga minta ijin, untuk lembur kerja besok pagi.


"Lho, Mas pikir Kamu libur Dek. Jadi Mas menerima tawaran pemilik pengilingan padi. Mau di ajak ke luar kota."


"Mas mau jadi supirnya," tutur Ferry, memberitahu rencananya besok pagi.


"Emhhh... gini aja. Linda kan gak full seharian jika ada lembur sabtu. Bagaimana jika Erli nitip ke bapak?"


Ferry tampak berpikir sejenak, sebelum memberikan persetujuan atas usulan dari istrinya itu.


"Gak apa-apa sama Erli nya?" tanya Ferry, yang sudah terbiasa dengan adanya Linda, jika hari sabtu minggu selalu ada di rumah. Untuk menjaga anaknya, Erli.


Selama bekerja di pabrik, Linda memang jarang sekali lembur hari sabtu. Dan jika harus lembur, Erli ada bersama dengan Ferry, sama seperti biasanya.


Tapi sabtu ini, ternyata suaminya itu ada pekerjaan lainnya, ke luar kota. Karena selama ini, suaminya itu juga sering dijadikan supir serep oleh pemilik pengilingan padi. Jika dia ada keperluan ke luar kota.


"Emhhh... Kamu berangkat kerjanya bagaimana?" tanya Ferry, yang ingat jika, dia harus berangkat pagi-pagi sekali. Sebelum subuh.


"Gampang Mas. Linda bisa naik ojek," jawan Linda, yang tidak mau membuat suaminya itu merasa bersalah. Karena tidak bisa mengantar dirinya kerja besok pagi.


Di pabrik tempat Linda. Setiap hari sabtu memang selalu ada saja bagian yang lembur.


Bahkan, kadang kala semuanya juga lembur.


Tapi sayangnya, untuk besok pagi di tempat Linda bertugas tidak ada lembur. Karena jadwal target untuk ekspor, sudah terpenuhi. Untuk ekspor yang minggu ini, juga sudah dia lembur sampai malam hari kemarin itu.


Lembur ini hanya untuk alasan Linda saja. Dia ingin memenuhi permintaan pak Komarudin, yang ingin mengajaknya keluar untuk berdua saja.


*****


Tiba di rumah, Erli tampak menyambut kedatangan mama dan papanya di depan pintu. Begitu dia mendengar suara motor papanya, yang sangat dia hafal.


"Mama... Papa..."


Erli berteriak menyambut kedatangan mereka berdua. Dia juga merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut pelukan dari mamanya, Linda.

__ADS_1


Danang juga di belakang Erli.


"Maaf ya Nang. Lama nunggu," ucap Linda, pada adiknya itu. Dia melepaskan pelukannya pada Erli, dan beralih pada Danang.


"Iya Mbak. Gak apa-apa."


Danang menyalami tangan Linda, dan menerima plastik yang disodorkan oleh kakak perempuannya itu.


"Ini bawa ke dalam sama erli. Mbak mau langsung mandi dulu ya!"


Danang mengangguk mengiyakan permintaan dari Linda.


Sedangkan Ferry, memarkirkan sepeda motornya di samping sepeda motor tua milik Danang.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah duduk bersama di ruang tamu.


Erli sudah tampak belepotan dengan martabak manis yang dia makan. Meises dan keju, tampak berceceran di sekitar tempat duduknya Erli.


"Sayang, pelan-pelan makanannya!"


Linda menasehati anaknya itu, supaya tidak tergesa-gesa saat makan.


"Ma. Ini enak. Besok beliin lagi ya!"


Dengan tersenyum senang, Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari anaknya itu.


Danang dan juga Ferry, juga menikmati martabak telur yang ada di kotak kardus yang lain. Di sebelah martabak manis.


"Erli mau coba yang Om makan gak?" tanya Danang, menawari keponakannya. Dengan memperlihatkan martabak telur yang dia pegang.


"Gak. Gak mau! Itu gak manis."


"Hehehe... mana ada martabak telur kok manis. Yang manis itu Erli," sahut Danang, sambil tertawa senang.


Erli tampak tersenyum senang, mendengar pujian dari Om nya itu. Dia melanjutkan kegiatannya makannya.


Dan Linda, mulai membicarakan tentang uang untuk pelunasan kuliah adiknya itu.


"Nang. Kamu ada nomer rekening kan?" tanya Linda, yang memang belum pernah bertanya tentang nomer rekening pada adiknya.


"Ada Mbak."


"Atau Kamu kasih nomer rekening kampus saja. Biar Mbak langsung transfer ke rekening kampus. Nanti buktinya bisa Mbak kirim ke handphone Kamu. Jadi besoknya bisa Kamu tunjukkan ke bagian administrasi."


Danang setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Linda. Dia juga tidak mau jika, uang yang diberikan oleh kakaknya itu hilang atau ada kejadian yang tidak diinginkan. Seandainya harus membawanya dalam bentuk uang tunai.

__ADS_1


Ferry juga mengangguk setuju. Karena uang itu cukup banyak untuk mereka semua.


"Iya. Lebih baik begitu saja."


__ADS_2