
Ternyata, Erli tidak mau tidur karena sudah kangen dengan om Danang nya. Dia ingin tidur bersama Om nya itu.
"Sayang. Om Danang sedang ada di rumah Tante Della. Jadi, besok saja ya," ujar Linda mencoba untuk menjelaskan pada anaknya.
Tapi Erli tetap mengeleng cepat.
Dia tidak mau tidur, karena ingin tidur dengan Danang. Bukan dengan simbah ataupun dengan mamanya.
"Pokoknya Erli mau tidur sama om Danang! Kan Erli gak bisa tidur sama papa lagi. Huhuhu..." Erli justru menangis, mengatakan keinginannya yang sekarang.
Linda, yang masih duduk di kursi roda, hanya bisa mengusap air matanya sendiri. Karena dia juga ikutan menangis. Dengan sikap anaknya yang seperti ini, sejak di Ferry meninggal dunia.
"Lin. Telpon Danang saja Lin," usul ibunya, yang sebenarnya tahu. Jika Linda tidak akan mau menghubungi adiknya.
Jika Danang ada di rumah Della. Linda tidak pernah mau menyusahkan adiknya itu, hanya untuk bisa memenuhi keinginan anaknya.
Dia berasalan bahwa, Erli akan terbiasa manja, jika apa-apa selalu di turuti.
Meskipun Erli anak yatim, tapi segala sesuatunya tidak mesti diistimewakan. Harus ada batasan-batasan juga, supaya dia bisa terbiasa di kemudian hari.
Jika harus dipenuhi semua keinginannya, Linda takut jika Erli akan menjadi kebiasaan dan begitu seterusnya. Sehingga Erli akan tumbuh kembang menjadi anak yang egois. Dengan mengandalkan statusnya yang sekarang, yaitu sebagai anak yatim.
"Bu."
Linda mengeleng beberapa kali, saat mendengar perkataan ibunya. Yang mengusulkan agar menghubungi Danang, untuk di minta pulang.
"Tapi Erli bisa..."
"Jika dia capek, nanti juga akan tertidur dengan sendirinya. Jangan selalu memanjakan apa yang dia inginkan. Linda tidak mau jika dia akan lebih egois lagi, seandainya Danang dan Della sudah memiliki anak nantinya."
Menurut Linda, bisa-bisa Erli akan cemburu pada anaknya Danang nanti. Seandainya Danang akan lebih mengutamakan anaknya sendiri, dibandingkan dengan dirinya.
Linda juga tidak enak hati pada Della, jika terus menerus merepotkan mereka. Apalagi hanya untuk menidurkan Erli yang sedang ngambek seperti saat ini.
Dan ibunya, tidak lagi memaksa Linda. Supaya menghubungi adiknya agar pulang ke rumah.
Dan memang benar, tak lama kemudian, Erli sudah tertidur dengan posisi telungkup karena ngambeknya tadi.
__ADS_1
Tapi Linda tidak bisa membenarkan posisi anaknya yang tertidur dengan posisi seperti itu. Karena selain keadaan dirinya yang memang tidak bisa, tubuh anaknya itu juga cukup padat berisi.
Akhirnya Linda memanggil ibunya, supaya membantu dirinya untuk merubah posisi tidur Erli yang menelungkup.
"Bu. Tolong benarkah posisi Erli. Dia tidurnya tengkurap."
Ibunya yang masih ada di depan TV, bersama dengan suaminya, akhirnya berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamar Linda.
"Sebaiknya ibu angkat ke kamar ibu saja ya Lin?" tanya ibunya, meminta ijin pada anaknya.
"Tidak udah Bu. Biar sama Linda saja," jawab Linda, yang tidak mau jika nanti tengah malam Erli terbangun, akan mencari-cari keberadaannya.
Akhirnya ibunya hanya membenarkan posisi tidur cucunya, yang masih sesenggukan sekali-kali. Meskipun dalam keadaan sudah tertidur pulas.
Setelah selesai, ibunya kembali keluar, setelah menawarkan diri, untuk membantu Linda naik ke atas tempat tidur. Tapi linda tidak mau.
"Linda bisa sendiri kok Bu. Terima kasih."
*****
Pamannya Della, tiba-tiba datang ke rumah Linda pada siang hari.
"Saya baru dapat kabar, jika pak dongkol itu sakit stroke Pak," kata pamannya Della, saat berbincang dengan bapaknya Linda.
*dongkol adalah sebutan untuk mantan pak lurah atau kepala desa di daerahnya Linda.
"Pak dongkol memang sudah mengalami stroke hampir dua bulan ini."
Akhirnya mereka berbincang-bincang di teras depan rumah. Karena saat dipersilahkan masuk, pamannya Della tidak mau.
Dia beralasan bahwa, dia lebih suka ada di luar rumah yang sejuk. Karena baru saja dari perjalanan.
Untungnya, Linda sedang pergi ke rumah sakit untuk terapi, di antar ibunya dengan meminta bantuan pada salah satu tetangga mereka yang punya mobil.
Sedang Erli baru saja pulang sekolah, dan bermain di rumah tetangga.
Karena tidak ada Linda di rumah, pamannya Della juga tidak lama-lama di rumah ini. Dia segera pamit untuk pulang. Katena masih ada banyak urusan yang harus dia kerjakan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Pak. Saya permisi dulu. Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..." Bapaknya Linda, menjawab salam dari pamannya Della, dengan menganggukan kepalanya.
Tapi di saat tamunya itu memberinya sejumlah uang, bapaknya Linda menolak. Dia tidak mau menerima uang tersebut.
"Tidak usah repot-repot. Jika ingin mampir, mampir saja ke sini," ujar bapaknya Linda. Yang tidak mau menerima uang pemberiannya.
"Jika Bapak tidak mau, besok-besok Saya tidak mau mampir lagi!"
Pamannya Della ternyata mengunakan taktik yang membuat bapaknya Linda bingung dengan canggung.
Dia merasa tidak enak hati, jika menerima uang tersebut. Tapi dia juga tidak ingin dianggap sombong, jika paman dari menantunya itu berkata demikian.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, bapaknya Linda menerima uang tersebut. Dan setelah mengucapkan terima kasih, pamannya Linda benar-benar pergi dari rumahnya.
Di tengah jalan, pamannya Della mengerutu sendiri. Karena usahanya untuk bisa bertemu dan berbincang dengan Linda gagal.
"Sialll! Ternyata dia tidak ada di rumah. Terpaksa harus mampir di rumah dongkol, supaya jika sewaktu-waktu mereka berbincang bisa nyambung. Jika aku tidak mampir, bisa ketahuan bohong nanti."
*****
Di rumah sakit, dokter terapi yang menangani Linda sedang ada tugas ke luar kota. Jadi yang mengantikan posisinya adalah dokter magang, yang baru saja bertugas selama satu minggu ini.
Dokter muda tersebut, melihat Linda dengan tatapan mata yang kagum. Dia merasa kasihan, melihat keadaan Linda yang seperti sekarang ini.
'Dia cantik sekali. Tidak kalah dengan para artis di kota besar, dan juga model. Tapi menurutku dia lebih cantik karena tidak ada permakan sehingga alami.'
Di saat dokter tersebut punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Linda, sambil melakukan terapi, dia sedikit bertanya-tanya tentang hal pribadi.
"Maaf. Apa Mbak ini sudah punya suami?" tanya dokter tersebut hati-hati.
Dia tidak mau jika menyingung perasaan pasiennya yang terasa spesial di matanya.
"Sudah Dok. Saya kecelakaan ini juga bersama dengan suami Saya. Tapi... dia sudah pergi terlebih dahulu."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda, dokter tersebut tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Dia turut prihatin, terhadap nasibnya Linda. Tapi dia juga merasa senang, karena ternyata Linda tidak memiliki suami.
Jadi dia berpikir bahwa, dia bisa melakukan pendekatan dengan pasiennya ini.