
Ternyata tawaran yang diberikan oleh pak Rudi pada Linda, kembali di tolak.
Linda dengan tegas menolak tawaran tersebut.
"Maaf pak Rudi. Linda belum merasa pantas saja, dengan jabatan wakil manajer." Linda mengatakan alasannya, dengan cara yang baik.
Dia tidak mau jika, penolakan terhadap tawaran pak Rudi ini, membuat manager tersebut sakit hati. Kemudian membuatnya kesulitan dalam bekerja nantinya.
Sedikit banyak, Linda tahu bagaimana sikap para atasan. Jika keinginannya tidak terlaksana. Pekerjaan yang akan menjadi dampak pelampiasan kemarahan mereka, tanpa harus mengunakan cara kekerasan dan terlihat jelas.
"Kamu bisa belajar Lin! Apa yang tidak mungkin di dunia ini?"
Ternyata, pak Rudi masih tetap tidak mau ditolak. Dia ingin Linda mengikuti keinginannya.
"Tapi, Linda belum ada setahun bekerja di sini. Ini akan membuat teman-teman yang lain menjadi cemburu, karena ketimpangan sosial."
Linda menghela nafas panjang, menjeda kalimatnya sebentar.
"Dan ini bisa mempengaruhi wibawa pak Rudi sebagai seorang manager," imbuh Linda, melengkapi kalimatnya yang tadi.
Pak Rudi membuang nafas kasar.
"Hah!"
Linda terlihat tetap tenang, dan tidak ada ekspresi.Ini membuat pak Rudi semakin penasaran, dengan kepribadian Linda yang menurutnya misterius.
Selain di sukai oleh makhluk yang ada di gedung ini, Linda terlihat lemah dan penurut.
Tapi ternyata, di balik semua itu ada sifat keras kepala yang tidak mudah untuk dipahami, dan juga ditundukkan.
"Lalu, jika ada tawaran yang baik dari TKA yang ada di sini, apa kamu akan menolaknya juga?" tanya pak Rudi ingin tahu, sampai di mana Linda akan tetap menolak tawaran darinya tadi.
Linda hanya mendengus dingin. Tapi dia tidak segera menjawab pertanyaan dari pak Rudi.
"Para TKA pasti punya penilaian kinerja yang menurutnya baik dan tidak. Dan biasanya, dia juga akan melihat bagaimana kedekatan manager dan wakilnya. Karena ini terkait dengan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka bersama.
Linda kembali menghela nafas panjang, dan memejamkan matanya. Mencoba untuk tetap bisa bersikap tenang dan tidak menimbulkan emosi pak Rudi.
"Apa kasus Bu Win sudah benar-benar di proses?" tanya Linda ingin tahu.
Dia belum mendengar, sejauh mana kasus yang menimpa bu Win. Karena Linda sendiri, memang tidak tahu apa yang terjadi pada bu Win, selain uang masuk dari para karyawan baru.
"Dia sudah tidak masuk sejak Kamu berangkat kerja kemarin itu kan?"
__ADS_1
Pak Rudi mengingatkan pada Linda, tentang ketidakhadiran Bu Win. Dan untuk sekarang ini, berarti Bu Win sudah absen selama tiga hari.
"Kenapa dia tidak mengajukan permohonan untuk pengunduran diri saja? Jadi tidak terkesan kabur," tanya Linda, yang menyayangkan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Bu Win.
Tapi pak Rudi hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia juga tidak tahu. Bagaimana bisa bu Win tidak bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan untuk kasusnya.
"Kamu tahu Lin? Gara-gara kasus Bu Win, gedung ini jadi sorotan para atasan. Dan Aku tidak tahu, bagaimana mengembalikan kepercayaan mereka semua padaku."
Dari nada bicara pak Rudi, ada kekesalan dan kesedihan yang tampak jelas.
Mungkin dari kasus ini, nama pak Rudi juga ikut diseret. Karena dikira ikut terlibat. Secara, pak Rudi adalah manager di gedung ini. Di mana bu Win menjabat sebagai asisten managernya pak Rudi sendiri.
"Jadi, bagaimana Lin? Kamu mau menerima dan belajar?" tanya pak Rudi sekali lagi, dengan mendesak Linda supaya mau menerima tawarannya yang tadi.
"Maaf Pak. Untuk saat ini Linda tidak bisa."
Sepertinya kali ini Linda tidak bisa ikut terpengaruh oleh ajakan pak Rudi.
"Ya sudah. Kembalilah bekerja!"
Suara pak Rudi terdengar menahan amarah. Dia tentu merasa kesal. Karena Linda tidak mau menuruti permintaan dan perkataannya lagi.
*****
"Mbak Linda di minta pak Rudi untuk ikut lembur anak-anak. Mungkin sampai jam delapan atau sembilan malam mbak."
Linda tampak terkejut, mendengar perkataan temannya itu.
Dia yakin, pak Rudi yang biasanya menghubungi dirinya sendiri atau datang langsung untuk menemui dirinya, kini marah. Akibat penolakan yang dia lakukan untuk tawarannya yang tadi.
"Tapi Mbak, Linda mau minta ijin untuk bisa pulang jam kerja aja. Kan suaminya Linda abis kecelakaan kerja Mbak. Gak bisa jalan, dan masih perlu bantuan."
"Aduh, bagaimana ya Mbak Linda? Emhhh... coba mbak Linda tanya langsung ke pak Rudi aja ya!" supervisor tersebut, meminta Linda untuk ijin dan bicara sendiri dengan pak Rudi soal ijinnya itu.
"Biasanya pak Rudi kan apa-apa nurut sama mbak Linda. Coba sendiri ya Mbak!"
Akhirnya Linda hanya bisa mengangguk saja. Tapi dia sedang berpikir bahwa, pak Rudi sedang ngambek dan juga kesal dengan keputusan yang dia ambil.
'Tapi jika Aku tidak mencoba untuk bicara, Aku juga tidak tahu. Lebih baik aku minta ijin langsung nanti.' Linda membatin, dengan keinginannya untuk bisa pulang lebih awal.
Tut tut tut!
Linda mencoba untuk menghubungi pak Rudi. Karena dia tidak mau bertemu secara langsung.
__ADS_1
Dia tidak mau, jika pak Rudi akan marah-marah dan tidak memberinya ijin.
Ini akan lebih terasa menyakitkan bagi Linda. Jadi dia memutuskan untuk bicara melalui telpon saja.
Tut tut tut!
..."Ada apa?" ...
Suara pak Rudi sudah terdengar tidak bersahabat.
Linda mencoba untuk menenangkan diri, agar bisa mengatakan bahwa dia ingin meminta ijin.
..."Maaf pak Rudi. Untuk hari ini, Linda tidak bisa ikut menemani anak-anak lembur. Linda ijin pulang tepat jam kerja saja." ...
..."Bagaimana bisa Kamu membiarkan anak-anak lembur tanpa di awasi? Ini tidak akan berjalan maksimal." ...
..."Tapi Pak. Suami Linda masih butuh bantuan.Dia belum bisa berjalan ke mana-mana." ...
Linda mencoba untuk memberikan penjelasan kepada pak Rudi, agar diberikan ijin.
..."Terserah Kamu Lin. Aku tidak mau ikut bertanggung jawab, seandainya devisi Kamu keteteran dan tidak memenuhi target produksi untuk ekspor." ...
Klik!
Pak Rudi langsung memutuskan hubungan panggilan dari Linda. Setelah selesai mengatakan keberatan atas ijin yang diminta oleh Linda.
Sekarang Linda yang bingung, dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
Dia tidak tega, jika membiarkan ibu dan bapaknya sendiri mengurus suami dan anaknya di rumah.
Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja, apa yang dikatakan oleh pak Rudi barusan.
Linda menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia harus berpikir ulang, dan mempertimbangkan segala sesuatunya. Demi kebaikan ke depannya nanti.
Akhirnya, Linda berjalan ke arah area produksi. Berkeliling melihat keadaan para pekerja, yang sedang bekerja.
Dia menemui leader yang akan lembur malam nanti.
"Mbak. Devisi Kamu ada lembur sampai jam delapan atau sembilan kan nanti malam?" tanya Linda pada leader tersebut.
"Iya Mbak Linda."
"Kamu jaga anak-anak ya! Aku tidak bisa ikut lembur. Aku pulang sore, karena suamiku masih belum bisa jalan."
__ADS_1
Linda akhirnya meminta pada leader tersebut, untuk menjaga anak buahnya yang akan lembur nanti malam.