
Sudah hampir satu tahunan, Linda tidak pernah berhubungan dengan pak Rudi maupun pak Komarudin.
Devisi sewing tempatnya bertugas sekarang ini, sungguh-sungguh menguras tenaga dan waktunya. Tapi itu membuat devisi yang tadinya kacau, jadi lebih baik sekarang ini. Tidak lagi kacau seperti dulu.
Tapi ketenangan yang dirasakan Linda, tidak menghentikan beberapa omongan tentang dirinya. Sama seperti yang tadi pagi dikatakan oleh temannya Danang. Yang menilai Linda sebagai penyuka berondong. Sehingga sekarang ini, nama Linda lebih dikenal dengan sebutan Tante Linda, atau Tante Melinda.
Meskipun sebutan itu hanya untuk sekedar gurauan, dan cuma beberapa orang saja yang tahu, tapi ternyata terdengar juga sampai ditelinga pak Rudi.
Dia tidak suka, dan merasa tidak tenang dengan terkenalnya Linda itu.
Pak Rudi merasa tersaingi dengan laki-laki muda, yang dikabarkan sebagai pacarnya Linda. Oleh karena itu, dia segera menghubungi temannya, pak Komarudin. Untuk bertanya tentang kebenaran gosip tersebut.
..."Pak Komar. Kamu tahu tidak, siapa pacar brondongnya Linda?"...
..."Pacar berondong?"...
..."Iya. Aku dengar beberapa kali orang membicarakan tentang Linda dengan pacar mudanya."...
..."Lho pak Rudi bagaimana? Linda kan ada di gedung pak Rudi. Malah tanya ke Saya!"...
..."Siapa tahu Kamu pernah dengar juga."...
..."Makanya, kemarin tak minta pindah ke gedung Saya pak Rudi gak boleh sih. Sekarang aja pusing!"...
..."Ah siial Kamu! Terus bagaimana sekarang? Apa Kamu tahu?"...
..."Gak. Saya tidak tahu."...
..."Hahhh..."...
..."Ambil lagi ke Devisi yang Bapak pimpin. Beres kan?"...
..."Gak! Apa kata dunia? Pak Rudi ambil orang yang sudah dia buang."...
..."Halah... Gengsi aja dipelihara! Udah, minta pak Yus pindahin Linda ke gedung Saya. Di jamin aman pokoknya!"...
..."Ck, gak! Minta sendiri sana!"...
..."Ok."...
..."Eh, awas..."...
Tut tut tut...
Sambungan telpon ditutup sepihak oleh pak Komarudin.
__ADS_1
Pak Rudi jadi jengkel dan melempar pensil yang ada di atas meja kerjanya.
Takkk!
Tenggg!
Pensil terpental dan mengenai daun pintu di ruangan, kemudian terpental lagi dan jatuh ke rak lemari basi yang ada di samping pintu.
"Hufhhh..."
Pak Rudi membuang nafas panjang, dalam keadaan kacau. Karena sedari kemarin, ada saja yang dia dengar tentang Linda.
Dia merasa menyesal karena telah memindahkan tugas Linda setahun yang lalu. Karena dengan begitu, dia tidak ada kesempatan lagi untuk bisa mendekati dan mengajaknya main Linda.
Apalagi, Linda juga terkesan menghindar darinya selama dipindahtugaskan ke sewing.
"Aku harus cari cara, untuk mengambil lagi Linda. Tapi, alasan apa ya minta ke pak Yus?" gumam pak Rudi, yang bingung untuk mencari alasan.
Tapi akhirnya pak Rudi tersenyum sendiri. Dia segera mengetik ke layar handphone miliknya, untuk dikirimkan ke nomor handphone pak Yus. Orang yang ada di bagian HRD.
*****
Di tempat tugasnya Linda, di bagian sewing.
Dua hari cuti, membuat pekerjaan Linda menumpuk. Meskipun tidak terlalu banyak masalah, tapi ada saja barang produk reject atau rijek. Dan itu harus segera dimintakan untuk proses re_produksi lagi.
Re_Produksi atau biasa di sebut repro adalah permintaan untuk melakukan pembuatan barang produksi ulang, untuk mengantikan barang produksi yang rijek tadi.
Sedang devisi QC adalah quality control. Tugas qc adalah, melakukan pengecekan barang produksi suatu perusahaan, untuk bisa membuat produk dengan standar yang sudah ditentukan. Bahkan, quality control juga bisa memperbaiki kualitas produk menjadi lebih baik sebelum sampai ke tangan konsumen.
Dan jika dinilai tidak bisa memenuhi standar, maka barang tersebut menjadi barang rijek, sehingga harus dilakukan re_produksi atau repro. Dan ini harus melalui permintaan dengan mengunakan memo. Yang harus mendapatkan persetujuan dari beberapa pihak terkait. Termasuk tanda tangan TKA yang berwenang dan juga manager gedung.
Mau tidak mau, Linda juga harus membuat memo untuk repro yang dia urus. Biasanya, ada ada orang khusus yang menangani repro. Sayangnya, orang tersebut sedang cuti melahirkan. Dan tidak ada yang mau mengantikan posisi tersebut. Karena memang harus berhadapan dengan beberapa orang yang ada diposisi atas, sehingga harus bisa berbicara dengan baik dalam jelas dalam penyampaian. Sehingga bisa mendapat tanda tangan yang diinginkan.
"Mbak Linda. Tolong mintakan tanda tangan ke pak Rudi ya Mbak. Soalnya ini udah mau ekspor. Jadi harus cepat diselesaikan."
"Iya."
Linda hanya menjawab singkat, dan membuang nafas panjang. Baru kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ke arah tempat pak Rudi berada.
Ruangan pak Rudi, ada di lantai atas. Di ujung bangunan gedung ini. Sedangkan tempat tugas Linda, ada di lantai bawah dan ada di tengah-tengah bangunan gedung.
Itulah sebabnya, Linda dan pak Rudi tidak pernah bertemu. Meskipun ada di dalam satu bangunan gedung. Karena satu gedung, ada ribuan ribuan karyawan, dari berbagai devisi yang dipimpin oleh pak Rudi sendiri.
Tok tok tok!
__ADS_1
Ruangan pak Rudi sepi. Sepertinya tidak ada orang di dalam ruangan tersebut.
Tok tok tok!
Linda kembali mengetuk pintu ruangan pak Rudi. Berharap agar pekerjaan yang dia miliki ini cepat selesai.
Hampir saja Linda kembali mengetuk pintu, di saat ada orang yang memberitahu Linda dengan keberadaan pak Rudi, dari arah belakang. "Pak Rudi tadi barusan keluar Mbak."
"Eh, keluar ke mana?"
Linda bertanya dengan cepat. Dia juga sedikit terkejut dengan keberadaan orang yang sedang berbicara dengannya saat ini. Karena tidak ada tanda-tanda jika ada orang yang sedang lewat tadi.
"Tidak tahu Mbak. Coba telpon saja Mbak!"
"Mbak pasti punya nomor handphone pak Rudi kan? secara semua supervisor dan leader di gedung ini pasti punya."
Linda mengangguk mengiyakan.
"Iya. Tadi Saya pikir langsung ke ruangannya saja. Soalnya ini minta tanda tangan. Gak pantas jika lewat telpon." Linda mengatakan alasannya, kenapa dia datang ke ruangan pak Rudi.
"Ya sudah telpon saja sekarang! Dari pada mencari-cari, tapi gak ketemu juga nanti."
"Iya. Terima kasih."
Akhirnya Linda merogoh saku celananya, untuk mengambil handphone miliknya. Dia akan menghubungi pak Rudi, karena kepentingan tanda tangan yang harus segera dia selesaikan.
"Saya permisi dulu ya Mbak!"
Linda mengangguk, di saat orang tadi pamit untuk pergi.
Tut tut tut!
Panggilan telpon untuk pak Rudi belum juga diangkat. Tapi Linda tetap bersabar, demi selesainya pekerjaan yang harus dia lakukan.
Tut tut tut!
..."Halo Linda Sayang... Akhirnya Kamu menghubungi Aku juga. Apakah Kamu kangen dengan belaian lembut tanganku?"...
..."Maaf Pak Rudi. Ini Linda mau minta tanda tangan untuk keperluan repro sepatu yang rijek." ...
..."Ah, kenapa soal pekerjaan?" ...
..."Ini jam kerja pak Rudi. Maaf!" ...
..."Hemmm..." ...
__ADS_1
..."Baiklah. Tunggu Aku di ruangan!" ...