Tante Melinda

Tante Melinda
Berita Terkait


__ADS_3

"Sayang, emhhh... besok hari sabtu mau kan, Kamu main ke rumahku?" tanya Danang, saat bertemu dengan Della pada jam istirahat.


Keduanya keluar pada jam istirahat, untuk mencari makan siang. Dan saat ini, mereka berdua sama-sama menunggu pesanan di sebuah rumah makan Padang.


"Ke rumah Kakak?" tanya Della meyakinkan bahwa, dia tidak salah dengar tadi.


"Ya. Ibu, ibu mau kenalan sama Kamu."


Danang menjawab pertanyaan ulang dari Della, dengan mata berbinar-binar senang. Dia sudah tidak sabar untuk mempertemukan kekasihnya itu dengan ibu dan bapaknya.


Tapi Della justru gugup. Ada rasa was-was dan ragu, dengan ajakan Danang yang tiba-tiba. Tanpa dibicarakan sebelum ini.


"Kakak yakin, mau ajak Della main ke rumah?" Della sekali lagi menyakinkan niatannya Danang.


Dia takut, seandainya ibu dan bapaknya Danang tidak menyukai kehadirannya nanti.


Tapi nyatanya Danang mengangguk pasti. Kemudian berkata untuk memberikan penjelasan kepada Della.


"Iya, kakak yakin Del. Bapak sama ibu setuju-setuju saja dengan pilihanku. Makanya mereka ingin bertemu denganmu, menyakinkan Kamu, apakah Kamu benar-benar mau menerima Aku, anaknya, apa adanya. Secara kami kan bukan orang berada. Mungkin, bapak sama ibu takut jika, mas Romi akan memperlakukan Aku sebagai dulu mereka memperlakukan mas Romi."


"Beneran Kak mereka setuju?" Della kembali mengulang perkataan Danang tadi, dengan kalimat tanya.


Matanya berkaca-kaca, karena dia tidak percaya begitu saja, jika ibu dan bapaknya Danang menyetujui hubungan mereka.


Danang mengangguk mengiyakan, untuk menyakinkan pacarnya. Dia tidak ingin berlama-lama untuk menyembunyikan hubungan mereka berdua.


Dia ingin segera meresmikan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius lagi.


Danang juga tidak mau jika disangka hanya mempermainkan Della, atau membalas dendam karena hubungan Linda dan romi yang tidak bisa bersatu.


"Iya Kak, Della mau. Terima kasih ya Kak, sudah mau membuka hubungan kita ini pada ibu dan bapak." Akhirnya Della tersenyum senang, membayangkan bagaimana dia bisa bertemu dengan ibu dan bapaknya Danang besok hari sabtu.


"Emhhh... tapi Kak, besok Della ke sana pakai baju apa?" Della bertanya tentang baju yang cocok untuk dua kenakan saat datang untuk bertemu dengan ibu dan bapaknya Danang.


"Ya... pakai baju biasa saja Sayang. Memangnya mau pakai baju tidur?" tanya Danang dengan gemas, karena pertanyaan yang diajukan oleh kekasihnya itu.

__ADS_1


"Dell kan gak tahu kalau mau ketemu calon mertua itu harus pakai baju yang pantas atau sebaliknya," cicit Della, yang merasa cemas dengan penampilannya nanti. Saat berkunjung ke rumah Danang, untuk bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya itu.


"Baju biasa aja Sayang. Semua baju yang Kamu kenakan cocok kok, secara Sayangku ini adalah, cewek tercantik di mataku. Lagipula, ini hanya bertemu untuk perkenalan. Bukan lamaran atau pernikahan," ujar Danang, dengan mencubit kedua pipi pacarnya itu dengan gemasnya.


Della tentunya sama seperti gadis pada umumnya, yang juga punya rasa takut, was-was dan juga cemas. Jika mau bertemu dengan calon mertuanya.


"Ihhh, wajarlah Kak jika Della takut. Namanya juga ini kan pertama buat Della mau ketemuan dengan camer." sungut Della dengan bibir cemberut. Tapi tak lama kemudian, dia langsung menutup mulutnya sendiri. Karena ingat dengan pesan dari kakaknya, yang tidak boleh mengerucutkan bibirnya, ketika sedang bersama dengan kekasihnya.


"Kenapa Sayang," tanya Danang heran, karena melihat Della yang sedang menutup mulutnya sendiri, begitu selesai berbicara.


"Gak papa Kak," sahut Della cepat, dengan meringis. Karena tidak mau mengatakan alasannya menutup mulutnya sendiri.


Untungnya, sebelum Danang mengajukan pertanyaan lagi, pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan.


*****


Di tempat kerja.


Saat ini Linda sedang diteror pak Rudi, karena pak Rudi mendapatkan laporan dari pak Komarudin. Jika Linda menolak tawarannya kemarin.


Pak Rudi bahkan menyebarkan isu jika, Linda sedang mengejar-ngejarnya lagi. Supaya dijadikan supervisor di gedung tempat pak Rudi memimpin.


Tapi Linda hanya diam saja, dan hanya tersenyum. Setelah mendengar berita tersebut.


"Mbak Linda, berita itu bener gak sih? berita yang mengabarkan bahwa mbak Linda mau pindah ke gedungnya pak Rudi lagi, Dengan jabatan sebagai supervisor lagi. Sama seperti dulu." tanya Febriyanto ingin tahu, di saat dia mendapatkan berita tersebut.


"Kamu dengar dari mana, jika Saya mau pindah?" Linda justru bertanya balik pada Febriyanto.


"Tapi itu gak bener kan Mbak?" Febriyanto justru mengajukan pertanyaan yang sama seperti tadi, karena Linda belum memberikan jawabannya.


"Tidak Feb. Kamu denger dari mana sih berita ini?" selidik Linda yang merasa jika berita tentang dirinya selaku saja cepat beredar.


"Barusan tadi dari gedungnya pak Komarudin. Ada banyak yang ngomongin mbak Linda, jika mau balik ke gedung yang dulu. Gedungnya Pak Rudi. Apalagi mbak Linda juga akan diangkat lagi menjadi supervisor katanya."


Febriyanto mengatakan apa yang dia dengar tadi, saat dia mengantarkan material ke gedungnya pak Komarudin.

__ADS_1


"Apa Mbak Linda yang minta sama pak Rudi, untuk jadi supervisor lagi?"


Linda memiringkan kepalanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Febriyanto yang terakhir ini.


Plak!


Linda memukul lengan Febriyanto, karena melihat perubahan wajah anak buahnya itu yang tampak sedang bersedih hati.


"Kamu kenapa sih Feb? Kok malah jadi melow gitu?" tanya Linda, saat Febriyanto mengelus-elus lengannya yang dipukul Linda.


"Jika mbak Linda balik ke gedung sana, Aku gak bisa liat wajah cantik mbak Linda lagi," jawab Febriyanto jujur. Tapi segera meringis malu, karena tak sadar jika dia mengatakan isi hatinya sendiri pada Linda.


"Hahaha... Apaan sih Feb, cewek cantik-cantik di sono banyak! ngapain juga Aku yang udah tua. Ihsss... Kamu ngeledek Aku ya!"


"Hehehe... Aku kurang ganteng Mbak, gak pede sama cewek-cewek pabrik yang biasanya liat dari tampang, kemudian isi kantong dan dompet."


Secara tidak langsung, Febriyanto sedang curhat dengan perasannya sendiri.


Tapi Febriyanto tidak lagi melanjutkan curhatannya, karena ada Aria yang mendekat kearah mereka berdua.


"Eh, seru banget ngobrolnya. Kayaknya lagi seneng banget ini!" Aria ingin tahu, apa yang sedang dibicarakan oleh Linda dengan temannya itu.


"Ini cowok kok kayak cewek aja, kepo_an!" ledek febrianto pada rekan kerjanya, Aria.


"Emang gak boleh? secara Aku kan juga kerja di sini. Emangnya Kamu aja yang bisa berbincang-bincang dengan mbak Linda?"


Aria yang biasanya ketus dan dingin dengan Linda, sepertinya sudah mulai merubah sikapnya.


Dia tidak lagi kaku dan ketus, saat berbincang dengan Linda, sama seperti pada awal-awal kemarin. Di saat Linda baru saja datang bertugas di gudang material ini.


"Sebenarnya gak ada apa-apa kok Ar. Febri cuma menyampaikan isu dan berita yang baru saja dia dengar tadi."


Akhirnya Linda memberikan penjelasan kepada anak buahnya yang sedikit pendiam dan tidak suka banyak bicara itu.


"Berita dan isu, apa?" Aria justru mengajukan pertanyaan kepada Linda, karena dia juga ingin tahu, apa yang tadi mereka berdua bicarakan.

__ADS_1


"Kepo ah!" sahut Febriyanto, sambil tersenyum sinis pada temannya yang kemarin-kemarin memilih untuk tidak dekat-dekat dengan Linda.


__ADS_2