Tante Melinda

Tante Melinda
Rasa Yang Aneh


__ADS_3

Ferry menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon dari mbak Nana.


..."Mas, katanya kecelakaan kerja ya kemarin sore?"...


Mbak Nana langsung bertanya pada Ferry, tentang kejadian yang menimpa selingkuhannya itu.


Untungnya, Ferry tidak memaksimalkan speaker handphonenya. Jadi Linda tidak akan bisa ikut mendengar suara mbak Nana.


..."Iya Mbak Nana. Itu beritanya dengar dari mana?"...


..."Dari orang-orang pengilingan ini Mas. Saya ada di pengilingan padi sekarang."...


..."Oh... emhhh, beras yang kemarin belum mbak Nana ambil, ada di dekat kursi. Tempat Saya itu lho! Minta tolong sama orang-orang yang ada di situ aja buat bawain ke atas boncengan motor."...


..."Gak apa-apa Mas. Besok-besok aja Saya ambil. Jika Mas Fery sudah sehat."...


..."Tapi ini lama Mbak. Saya harus istirahat, sampai kaki dan tangan Saya bisa digerakkan lagi dengan bebas."...


..."Parah ya Mas?"...


Mbak Nana langsung merasa kaget, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ferry. Jika dia tidak bisa berjualan beras dalam jangka waktu yang lama.


..."Lumayan Mbak. Mungkin satu atau dua bulan harus istirahat. Harus banyak latihan jalan juga ini."...


..."Oh... ya ampun. Kasihan sekali sih Mas! Saya bisa datang berkunjung gak? Mau nengok mas Ferry."...


..."Terima kasih Mbak. Gak usah repot-repot. Doakan saja, semoga Saya bisa cepat sehat dan bisa jalan lagi."...


..."Iya Mas. Itu sih pasti. Terus... emhhh, jika Aku kangen dan rindu bagaimana Mas?"...


..."Ya-ya, ambil saja Mbak. Minta tolong sama orang yang ada ya!"...


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang. Mbak Nana paham dengan maksud kode yang diberikan Ferry. Dengan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan, itu artinya, ada seseorang yang berada di dekatnya Ferry sekarang ini.


..."Ya sudah Mas kalau begitu. Semoga cepat sembuh ya!"...


..."Ya Mbak Nana. Terima kasih."...


Klik!


Ferry menutup panggilan telponnya. Dia melihat bagaimana Linda yang sedang melihat kearahnya.


"Kenapa Dek?" tanya Ferry, yang melihat bagaimana istrinya itu sedang memperhatikan dirinya.


"Gak apa-apa sih Mas. Emhhh...indah hanya berpikir bahwa, Linda harus datang ke pengilingan padi. Untuk menyelesaikan segala sesuatunya, agar Mas Ferry bisa beristirahat dengan tenang."


Linda menjeda kalimatnya sebentar, kemudian kembali melanjutkannya.


"Biar Mas bisa fokus gitu. Biar gak kepikiran tentang beras dan pesanan para pembeli yang belum selesai."


"Gak usah Dek. Kemarin Mas udah minta tolong, dan juga berpesan pada salah satu dari pekerja pengilingan. Supaya membantu membereskan kok," sahut Ferry dengan cepat.

__ADS_1


Tentu saja dia tidak ingin Linda datang ke pengilingan padi tersebut.


Selain karena Ferry tidak mau jika Linda sampai tahu kebenaran tentang mbak Nana. Dia juga tidak mau jika ada para pekerja pengilingan padi, yang rata-rata adalah para laki-laki.


Dia merasa khawatir jika, Linda akan di goda oleh orang-orang tersebut.


"Oh..."


Mulut Linda hanya membola saja. Dia tidak tahu jika, ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu.


*****


Di pabrik, sekitar jam sepuluh pagi.


Pak Rudi marah-marah pada semua supervisor dan leader bawahannya. Dia tidak good mood sedari pagi. Saat mengetahui bahwa, Linda tidak masuk kerja hari ini.


"Ini kenapa SPK kayak gini? Mana ada target produksi yang seperti biasanya?"


Nada bicaranya yang keras dan terlihat jelas jika sedang emosi, membuat semua orang menunduk. Tidak ada yang berani menjawab dan menyahuti perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi.


"Kerjaan Linda yang biasanya bener. Coba contoh dari laporan dan juga kinerjanya!"


Pak Rudi menyarankan kepada para supervisor dan leader tersebut, untuk belajar seperti yang Linda kerjakan.


Linda memang supervisor baru. Bahkan, saat menjadi leader, dia juga tidak tahu apa-apa.


Tapi ternyata, semua pekerjaan dan kinerjanya selama ini patut diacungi jempol. Rapi, dan bisa dijadikan sebagai contoh bagi para leader dan supervisor yang lain.


Meskipun sebagian orang mengira jika dia tidak bisa melakukan apa-apa. Itu hanya untuk sebuah pekerjaan lapangan. Jika sekedar untuk membuat laporan, Linda tetap bisa melakukannya.


"Pak. Nanti, jika tidak ada target produksi, apa bisa mengajukan lemburan?" tanya salah satu dari supervisor, saat pak Rudi tidak lagi marah-marah.


"Apa kata Kamu? Belum juga dicoba, minta lembaran!" Pak Rudi kembali marah. Emosinya tersulut lagi.


"Laporan nanti jam dua. Jika sampai tidak ada laporan, jangan harap ada lemburan untuk minggu ini dan juga minggu depan!"


Setelah berkata demikian, pak Rudi mengibaskan tangannya, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk pergi dari ruangannya.


"Hahhh..."


Pak Rudi membuang nafas kasar. Dia tidak habis pikir juga, kenapa tiba-tiba dia tidak bisa mengontrol emosi.


Padahal, selama ini dia terkenal sebagai seorang manajer yang jarang marah. Dia bisa mencari banyak solusi, dari setiap masalah yang dihadapi oleh anak buahnya.


Tapi pagi ini, saat dia mendengar kabar jika Linda tidak masuk kerja, tiba-tiba dia menjadi bad mood.


Tut tut tut!


Pak Rudi menekan nomer handphone milik Linda. Dia ingin mengembalikan mood nya, meskipun hanya dengan mendengarkan suaranya Linda saja.


Tut tut tut!

__ADS_1


Panggilan telpon darinya, belum tersambung. Linda tidak segera mengangkatnya.


Klik!


"Hufhhh..."


Pak Rudi mematikan panggilan telpon yang tidak diangkat oleh Linda. Dia juga membuang nafas panjang, saat menyadari jika semua yang dia rasakan saat ini ada kaitannya dengan Linda.


'Begitu besarnya pengaruh Linda terhadap perasaan yang ada di dalam hatiku.' batin pak Rudi berkata.


Sekarang, dia ingin mencoba kembali untuk menghubungi Linda.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Ya halo!" ...


Pak Rudi kaget, saat mendengar suara orang yang menerimanya telpon darinya.


..."Maaf. Saya mau bicara dengan Linda. Supervisor Melinda." ...


Pak Rudi tahu jika, yang menerima telponnya ini adalah suaminya Linda. Itulah sebabnya, dia menjelaskan dan menyebut nama lengkap Linda.


..."Dia sedang pergi belanja. Apa ada yang bisa Saya bantu? Saya suaminya Melinda."...


..."Oh, begitu ya! Kalau begitu nanti saja Saya telpon lagi." ...


..."Oh ya tidak apa-apa."...


..."Terima kasih."...


..."Sama-sama."...


Klik!


"Hah..."


Pak Rudi kembali membuang nafas kasar. Dia benar-benar tidak tahu, apa yang dia rasakan saat ini. Mood nya benar-benar hancur. Di saat dia tidak melihat Linda hari ini.


Sekarang, dia mencoba untuk menghubungi pak Komarudin. Teman dan juga rekan kerjanya yang sangat tahu, bagaimana keadaan dirinya selama ini.


Tut tut tut!


..."Halo pak Rudi. Ada apa pagi-pagi menelpon Saya?" ...


..."Hai! Apa Kamu bisa membantuku?" ...


..."Apa itu?" ...


Pak Rudi akhirnya menceritakan tentang keadaan dirinya sendiri saat ini. Dia sendiri tidak tahu, apa yang sebenarnya dia rasakan pada Linda. Sehingga dia bisa seperti ini.

__ADS_1


..."Ini karena pak Rudi kangen kan?" ...


..."Entahlah." ...


__ADS_2