
"Hahaha... tidak apa Fer. Aku juga gak relasi Bos juga."
Kang Mus mengelak dari perkataan Ferry, yang mengatakan bahwa dia adalah relasi bisnis bos pengilingan padi ini.
Untungnya, Bos pengilingan padi sedang tidak ikut bersamanya. Karena berbicara dengan karyawannya yang ada di gudang stok padi. Sehingga dia tidak tahu pembicaraan mereka bertiga.
"Ah, kang Mus merendah ini," sahut Ferry tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh kang Mus tadi.
"Mbah Likah apa kabar kang Mus?"
Mbah Likah adalah ibu dari kang Mus. Linda biasa memanggil namanya dengan sebutan Mbah Likah.
"Alhamdulillah ibu sehat. Cuma ya begitu, namanya juga orang tua. Umur tidak bisa diajak lagi untuk kompromi."
Kang Mus menceritakan tentang ibunya, yang saat ini sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa seperti dulu. Di saat masih sehat dan muda.
"Oh ya, ibu Kamu bagaimana Lin? Sehat juga kan?" tanya kang Mus, saat selesai menceritakan tentang keadaan ibunya.
"Ya kang. Alhamdulillah ibu masih sehat dan bisa mengerjakan pekerjaan yang biasanya juga. Cuma ya itu, bapak yang tidak bisa seperti dulu."
Sekarang, ganti Linda yang menceritakan tentang keadaan bapaknya.
Saat bercerita, sesekali Ferry meninggalkan keduanya, untuk melayani pembeli yang datang untuk membeli. Jadi, kang Mus juga bisa berbicara dengan Linda tentang Ferry.
"Suami Kamu itu, sudah tidak main tangan lagi kan Lin?"
Linda terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh kang Mus barusan. Dia tidak menyangka jika, kang Mus tahu tentang perilaku Ferry yang ringan tangan selama ini.
"Kang Mus..."
"Tidak. Bukan ibu ataupun bapak Kamu yang cerita. Tapi..."
Jawaban yang diberikan oleh kang Mus, tidak tuntas. Karena Ferry sudah kembali ke tempat mereka berbincang-bincang.
"Maaf kang Mus. Ditinggal-tinggal ini," ucap Ferry, yang merasa tidak enak hati. Karena harus meninggalkan mereka berbincang-bincang sendiri. Sedangkan dia melayani pembeli.
"Oh, gak apa-apa. Justru Aku yang tidak enak hati ini. Hahaha..."
__ADS_1
Gelak tawa kang Mus terdengar. Dia merasa bahagia. Karena bisa melihat bagaimana Linda yang tersenyum, dan masih bisa bersikap seperti biasanya. Setelah penolakannya saat ditawari untuk menikah dengan kang Mus. Bertahun-tahun yang lalu.
Sebenarnya, kang Mus sampai saat ini belum juga menikah. Tapi dia tidak lagi tinggal di rumah ibunya, yang ada di desanya Linda.
Dia sudah punya usaha sendiri, di kota lain. Tak jauh dari kotanya Linda ini. Masih dari provinsi, tapi beda kabupaten.
"Oh ya Lin. Adik Kamu, itu emhhh..."
"Danang Kang," sahut Linda, mengingatkan nama adiknya sendiri pada sepupu ibunya itu.
"Oh iya, si Danang sudah kerja pa masih sekolah dia?"
"Danang sudah kerja Kang. Begitu lulus kuliah, langsung melamar pekerjaan di pabrik tempat Linda bekerja juga."
"Oh..."
Kang Mus hanya menanggapi dengan mulut yang membola. Dia juga melihat Ferry, yang sedari hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Oh ya, Fer. Jika butuh sesuatu, Kamu bilang sama bos pengilingan padi. Jika dia tidak bisa bantu, dia pasti bilang sama Aku. Setidaknya, Aku juga punya modal di tempat ini kok," ujar kang Mus, memberitahu pada Ferry.
Berbeda dengan Linda. Dia tidak merasa kaget saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh kang Mus barusan. Karena dia sudah mendengar beberapa informasi dari ibunya, mengenai keluarga kang Mus.
Ibunya kang Mus, punya empat anak. Dari perempuan, yang paling tua. Kemudian kang Mus sendiri dan dua adik laki-lakinya yang semuanya sudah menikah. Tinggal kang Mus seorang diri, yang belum berumah tangga. Meskipun sebenarnya, dia sudah tidak lagi bisa dikatakan muda.
Entah apa yang dia inginkan, sehingga belum mau menikah hingga saat ini.
Padahal, dari adiknya yang paling kecil, yang seumuran dengan Danang, sudah menikah dan mempunyai anak. Karena adiknya yang itu, memang langsung menikah begitu lulus sekolah SMA.
Menurut keterangan ibunya Linda, kang Mus sudah hampir saja menikah dengan seorang guru sekolah dasar. Tapi entah kenapa, rencana pernikahan mereka batal.
Dan calon istrinya kang Mus, sekarang ini sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Kemudian pindah tugas, mengikuti domisili suaminya.
Tak lama kemudian, kang Mus pamit untuk pergi. Dia masih ada banyak pekerjaan, yang harus dia kerjakan bersama dengan pemilik pengilingan padi ini.
"Aku duluan ya Lin, Fer." Pamit kang Mus, saat Bos pengilingan padi mendekati tempat mereka berbincang-bincang.
Linda dan juga Ferry, mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Wah, kerja yang semangat Fer. Mumpung ditunggui sang istri. Hahaha..."
Pemilik pengilingan padi, menegur dan bercanda, dengan maksud untuk menggoda Ferry dan juga Linda.
"Hehehe... iya pak Bos!" Linda menyahut godaan bos pengilingan padi, dengan mengiyakan saja.
Berbeda dengan Ferry, yang hanya tersenyum tipis. Karena dia memang sudah curiga jika, bos pengilingan padi ini punya rasa suka dengan istrinya itu.
Tapi, tadi dia juga melihat bagaimana cara kang Mus melihat Linda. Cara pandang orang yang memiliki perasaan, tentu saja berbeda dengan orang yang tidak punya perasaan apa-apa. Dengan orang yang dia ajak bicara.
Ferry memperhatikan itu tadi. Dia jadi sedikit menyesal, karena sudah mengajak istrinya itu untuk ikut bersama dengannya ke pengilingan padi ini.
"Pesona Linda memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Semakin dia bertambah usia, semakin terlihat keanggunan dan kecantikannya." Ferry bergumam seorang diri, saat Linda menimpali perkataan bos pengilingan padi.
*****
Di pabrik, pak Komarudin dan pak Rudi sedang berdebat.
Mereka berdua, saling menyalahkan satu sama lain. Dengan menjauhnya Linda dari mereka. Karena sejak Linda pindah tugas ke devisi sewing, mereka berdua tidak ada kesempatan untuk bertemu.
"Makanya, dulu Aku sudah bilang kan pak Rudi. Pindahkan saja Linda ke gedung baru! Di sana ada Aku yang menjaganya. Kamu ini tidak bisa diandalkan. Ego Kamu gak bisa diturunkan. Begini jadinya!"
Tapi pak Rudi yang memang selalu bisa menang, tidak mau diam saja disalahkan oleh teman dan rivalnya itu.
"Hah! Itu kan salah dia juga. Bukan murni dari Aku," kata pak Rudi membela diri.
"Aku sudah minta pada pihak HDR, untuk memindahkan tugas Linda ke gedung ku. Tapi kata pak Yus, Kamu yang meminta supaya tidak ada yang boleh meminta Linda. Jika itu bukan dari Kamu sendiri. Bagaimana yang benar ini?"
Pak Komarudin sudah jengah dengan semua alasan pak Rudi. Karena sudah setahun ini, dia dan Linda tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Tentu saja, pak Komarudin menyalahkan pak Rudi. Karena secara tidak langsung, pak Rudi juga yang menjauhkan dirinya dari Linda.
Padahal, pak Rudi juga tidak bisa dekat dengan Linda lagi.
Selain devisi yang berbeda, saat ini ada pemisahan tugas antara bagian-bagian tertentu di gedung-gedung.
Dan ini memang dilakukan oleh para pekerja TKA, untuk meminimalisir terjadinya proses suap dan kong kalikong. Yang sering terjadi diantara para petinggi yang bertanggung jawab atas gedung tersebut.
__ADS_1