
Sepanjang perjalanan, Erli berbicara tentang Mbah Kung, sekolah dan teman-temannya. Dia tampak senang sekali.
Ferry sesekali menyahuti perkataan yang diucapkan oleh anaknya itu. Sedangkan untuk Linda sendiri, lebih banyak diam dan tidak ikut bicara. Menyahuti perkataan yang diucapkan oleh Erli dan juga suaminya.
"Ma. Mama!"
Erli memanggil-manggil mamanya, yang dibelakangnya. Karena Erli duduk diantara papa dan mamanya. Di tengah-tengah jok motor.
Tapi karena panggilannya tidak dihiraukan oleh mamanya, Erli menarik-narik tangan mamanya.
"Eh iya Sayang. Ada apa?"
"Ihsss... Mama gak dengerin Erli ngomong ya dari tadi?"
Linda hanya menanggapi dengan senyuman. Dia memang tidak tahu, apa yang Erli tanyakan tadi.
"Ah Mama..."
Bibir Erli cemberut. Dia merasa jika mamanya tidak memberikannya ijin. Karena tadi dia sedang bertanya pada mamanya, apakah boleh tidur di rumah simbahnya atau tidak. Di saat simbahnya sudah pulang dari rumah sakit besok.
Pada saat berhenti di jalan, untuk mengisi bahan bakar ke pom bensin. Erli kembali bertanya lagi pada mamanya. "Erli boleh tidur di rumah Simbah kan Ma?"
Akhirnya Linda sadar dengan apa yang terjadi pada anaknya ini. "Iya-iya boleh. Nanti sama Mama sekalian ya! Kan papa ada kerjaan ke luar kota," jawab Linda dengan wajah tersenyum.
Dia tidak ingin anaknya ini kembali cemberut seperti tadi.
"Horeee... asyik..."
Dan benar saja. Erli bersorak kegirangan. Setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya.
Ferry yang baru saja selesai mengisi bahan bakar, bertanya pada mereka berdua. Karena mendengar sorak sorai anaknya tadi. "Ada apa?"
"Erli sama Mama mau nginep di rumah Simbah Pa," jawab Erli cepat. Memberikan penjelasan kepada papanya.
Linda hanya tersenyum tipis, melihat ke arah suaminya itu.
"Oh..."
Ferry hanya menanggapi dengan mulut membola. Dia juga merasa keberatan dengan rencana mereka berdua. Karena dia sendiri ada pekerjaan yang harus dia kerjakan mulai besok pagi.
Tak lama kemudian, keluarga kecil itu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah rumah sakit.
*****
Setibanya di rumah sakit.
__ADS_1
"Linda telpon Danang dulunya Mas. Biar dia atau ibu keluar, untuk jagain Erli. Kita bisa masuk ke dalam untuk melihat keadaan bapak."
"Ya," jawab Ferry pendek.
"Erli gak bisa ikut ke dalam ya Ma. Gak bisa liat simbah Kung?" tanya Erli dengan rasa kecewa. Dan itu tampak dari bibirnya yang sedang mengerucut.
Padahal Erli ingin bisa ikut masuk ke dalam rumah sakit, untuk melihat simbah Kakung nya. Karena sudah hampir lima hari tidak bertemu.
"Besok Erli ikut jemput Mbah Kung ya! Mau gak?" tanya Linda, dengan maksud merayu anaknya itu. Supaya tidak lagi ngambek.
"Beneran lho Ma!"
Linda mengangguk mengiyakan. Dan akhirnya, Erli tersenyum senang. Karena besok diijinkan untuk ikut serta, di saat menjemput Mbah Kung pulang ke rumah.
Akhirnya Linda menghubungi Danang. Mengatakan bahwa dia dan suaminya sudah ada di tempat parkir rumah sakit.
Sambil menunggu Danang keluar dari dalam, Linda bertanya pada suaminya. "Mas, ke luar kota nya dengan siapa?"
Ferry mengeryit heran. Karena tidak biasanya, istrinya ini ingin tahu apa dan bersama siapa dia pergi ke luar kota. Untuk menjadi supir, yang biasanya memang dia pakai untuk alasan.
"Deng... itu sama bos pengilingan padi. Seperti biasanya."
Jawaban yang diberikan oleh Ferry, agak tersendat. Mungkin dia gugup saat mengatakan alasannya. Karena sebenarnya bukan dengan pemilik pengilingan padi dia pergi. Tapi dengan mbak Nana.
"Oh..."
Tak lama kemudian, tampak Danang yang ke luar. Kemudian berjalan menuju ke tempat mereka berada.
"Erli sama om Danang dulu ya. Mama sama papa masuk ke dalam. Besok kan Erli ikut jemput Simbah, sedang papa gak ikut," tutur Linda. Memberikan pengertian kepada anaknya.
"Iya Ma," jawab Erli dengan tersenyum senang.
"Nang, nitip Erli ya! Mbak masuk dulu."
"Iya Mbak."
Danang pun mengangguk mengiyakan permintaan dari Linda. Kemudian mengajak Erli untuk pergi ke kedai es krim, yang tak jauh dari rumah sakit.
"Kita beli es krim yuk!"
"Horeee es krim!"
Tentu saja ajakan om nya itu membuat Erli semakin merasa sangat senang. Karena dia bisa makan es krim yang dia inginkan, sambil menunggu mama dan papanya menjenguk simbahnya.
*****
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Linda tampak menyusul adik dan anaknya ke kedai es krim.
Ternyata, Erli bersama dengan Danang memang masih berada di sana. Dan bukan hanya mangkok es krim saja yang ada di atas meja. Ada camilan kentang goreng, dan nuget yang ada di atas piring.
Linda mengeleng melihat Erli makan dengan lahapnya. Begitu juga saat menyendok es krim. Anaknya itu tampak bersemangat sekali.
"Lho Mbak, kok ke sini?" tanya Danang, di saat Linda duduk di kursi yang ada di depannya.
Erli meringis melihat kedatangan mamanya. Dia tidak bisa menyapa Linda, karena mulutnya penuh berisi makanan.
"Emhhh... sebenarnya ada yang ingin mbak tanyakan Nang. Tapi..."
Linda tidak menyelesaikan kalimat pertanyaan yang diajukan, karena melihat ke arah anaknya.
Tentu saja ini membuat Danang mengeryit heran.
Tapi tidak dengan Erli. Dia tetap saja makan dan sesekali menyendok es krim nya. Tanpa peduli dengan pembicaraan mama dan om nya itu.
"Besok saja mbak tanyakan. Ini, mbak juga mau tanya. Uang pelunasan pembayaran administrasi bapak bagiamana?"
"Oh, udah kok. Semua udah lunas. Tinggal pulang besoknya."
Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya. Padahal yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada Danang bukan masalah itu. Karena jika untuk urusan bapaknya, tadi sudah dia tanyakan pada ibunya di dalam.
Ada sesuatu yang ingin ditanyakan lebih jelas pada adiknya ini. Tapi mengingat tempat dan situasi yang ada, karena ada Erli, Linda pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Dia masih berusaha untuk bisa menahan diri agar bisa tetap terlihat tenang. Tidak ada sesuatu yang sedang dia pikirkan saat ini.
Tapi tentu saja tidak bagi Danang. Adik satu-satunya ini melihat keadaan kakaknya yang sedang gundah gulana. Terlihat dari pandangan matanya Linda, yang sedari tadi tidak fokus pada satu tempat.
Kegelisahan Linda, membuat Danang berpikir yang tidak-tidak.
'Mbak Linda kenapa ya? Apa ada yang sedang dia pikirkan? Apa yang tadi ingin dia tanyakan?' batin Danang bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh kakaknya itu.
Tapi sama seperti Linda, Danang pun mencoba untuk tidak bertanya langsung. Karena ada Erli di antara mereka berdua.
"Mas Ferry jadi ke luar kota Mbak?"
Akhirnya hanya pertanyaan itu saja yang bisa dia tanyakan, untuk mengurangi rasa was-was dan kegelisahan yang ada pada kakaknya.
"Eh iya, jadi kok."
Jawaban kakaknya itu, justru menambah rasa penasaran dan curiga di hatinya Danang.
__ADS_1