Tante Melinda

Tante Melinda
Awal Kehancuran


__ADS_3

Polisi Ferry datang lagi. Dan Linda, masih berharap jika, Romi akan segera datang untuk menyelamatkan dirinya, dari segala sesuatu yang tidak dia inginkan.


Sayangnya, Romi hanya bisa mengatakan maaf. Karena dua tidak bisa pulang ke kampung.


Hancur sudah hati Linda, karena harapan yang dia miliki untuk Romi, tidak ada kepastiannya. Dia tidak mungkin bisa, mengelak lagi dari lamarannya polisi Ferry kali ini.


Tapi, Linda tetap berusaha untuk bisa mendapatkan kesempatan, agar memiliki waktu untuk bisa menghubungi Romi terlebih dahulu, sebelum semuanya memang benar-benar sudah tidak bisa lagi diperjuangkan.


"Maaf, boleh Linda bicara sebentar. Hanya berdua saja," tanya Linda, meminta ijin pada ibu bapaknya, agar mereka berdua bisa di tinggal untuk sementara waktu.


Linda ingin mengajak polisi Ferry untuk bicara, sesuatu yang mungkin saja, bisa membuat polisi Ferry mundur dari niatannya, menjadikan dirinya sebagai seorang istri.


Setelah kedua orang tuanya pergi ke dalam rumah, dan tinggal Linda bersama dengan polisi Ferry sendiri, Linda mulai berbicara dengan perasaan yang tidak menentu.


Dengan pelan-pelan, Linda mulai berbicara tentang keadaan dirinya.


"Lin_Linda, sudah tidak perawan lagi. Apa polisi Ferry masih mau, menjadikan Linda sebagai seorang istri?"


Linda bernafas lega, setelah selesai mengatakan bahwa dia sudah tidak lagi perawan, pada polisi Ferry.


Dia berharap agar, polisi Ferry mundur dari niatannya,saat tahu jika, dia sudah tidak lagi perawan.


Wajah polisi Ferry terlihat merah menahan marah. Tapi, dia berusaha untuk tetap tenang, dan menghela nafas panjang.


Setelah bisa menahan diri untuk tidak marah, akhirnya polisi Ferry berkata, "Apa ini hanya untuk sekedar membuat diriku mundur? Jika iya, Mbak Linda salah. Saya akan tetap berusaha menerima keadaan Mbak Linda apa adanya."


Linda, yang mulanya merasa sangat yakin jika, polisi Ferry akan secepatnya pergi dari hadapannya, karena merasa kecewa, ternyata tidak melakukan apa yang diinginkan Linda.


Senyuman yang terasa canggung, tersunging di sudut bibir Linda.


Dia ingin berteriak kesal dan marah, tapi dia juga merasa senang, karena ada laki-laki yang bisa menerima dirinya, dalam keadaan apapun.


Meskipun sebenarnya, Linda sendiri tidak merasa yakin, jika dia sudah tidak lagi perawan.


Ini karena Linda memang tidak pernah melakukan hubungan intim, secara benar, sama sekali pasangan suami istri.


Tapi, dia juga tidak tahu, apakah darah virgin_nya masih tetap utuh, atau tidak akan bisa keluar, seandainya dia ada di dalam hubungan malam pertama.


Itulah sebabnya, dia hanya mengatakan jika, dia tidak lagi perawan, agar polisi Ferry, tidak merasa kecewa, saat darah tidak dia temukan pada pagi hari saat mereka berdua sudah menikah nanti.


Namun Linda tidak pernah tahu, jika apa yang dikatakan olehnya tadi, akan berakibat fatal pada seseorang yang dia cintai.


Bahkan, untuk kehidupannya sendiri di masa yang akan datang.


*****

__ADS_1


Di kota besar, kekacauan pekerjaan Romi, terus menerus ada, sehingga dia tidak bisa meninggalkan kota besar, dan pulang ke kampung.


Romi tidak bisa menemui Linda. Dan dia hanya bisa berkirim pesan atau mengutus adiknya, untuk bisa bicara dengan Linda, kekasihnya, yang akan dilamar oleh seorang polisi.


Tapi, naas tidak bisa dielakkan lagi. Semuanya, seperti datang ke nasib Romi.


Segerombolan preman, datang ke bengkel las Romi. Mereka meminta uang, untuk keamanan daerah, di mana Romi mendirikan bengkel las_nya.


"Serahkan pajak keamanan pada kami. Cepat!"


"Uang keamanan? Apa ada?" tanya Romi bingung.


Dia memang baru sebulan ini ada di daerah tersebut. Dan bengkel las ini, lahannya dia sewa, dari penduduk setempat.


Bahkan, bangunan darurat yang ada untuk bengkel las_nya ini, hanya seadanya, untuk tempat tinggal Romi sendiri.


"Tentu saja ada bego! Mana ada daerah yang tidak ada uang keamanan."


Preman tadi, kembali membentak Romi. Bahkan, salah satu dari mereka, sudah mencekal lengannya.


Siap untuk menghajar, jika Romi sampai melakukan perlawanan pada mereka.


"Berapa uang keamanannya?" tanya Romi, yang tetap berusaha untuk tenang.


Dia berharap, ada seseorang yang datang dan menolong dirinya, dari preman-preman tersebut.


"Hah! Banyak sekali itu. Aku tidak punya," ucap Romi.


Dia tentunya merasa kaget, karena uang sebesar itu, bisa dia gunakan untuk membeli bahan-bahan produksi, yang dia gunakan untuk membuat pagar dan teralis.


Satu juta, waktu itu tentu bukan uang yang sedikit.


"Beri satu juta, atau alat-alat Kamu ini kami sita sebagai jaminan!"


Preman tadi, mengancam Romi, sama seperti seorang penagih hutang.


Padahal, Romi tidak memiliki hutang pada mereka. Kenal saja tidak.


"Aku tidak ada uang sebesar itu," jawab Romi, dengan rasa was-was.


Jika preman-preman itu sampai benar-benar mengambil alat-alat bengkel las_nya, dia juga tidak mungkin bisa bekerja.


Romi berpikir keras, bagaimana caranya dia lepas dari preman-preman itu.


Akhirnya, dia berinisiatif untuk memberikan uang sakunya, yang akan dia gunakan untuk pulang kampung.

__ADS_1


Untungnya, dia belum sempat beli tiket bus atau kereta, untuk kepulangannya besok.


Tapi, Romi juga ragu, karena jika uang tersebut dia berikan pada preman, dia tidak akan bisa pulang.


"Ini. Aku hanya punya uang segini."


Akhirnya, dengan sangat terpaksa, dan pertimbangan yang matang, Romi menyerahkan uang yang ada di saku celananya, pada preman-preman itu.


"Besok-besok Kami datang lagi, dan siapkan kekurangan uangnya!"


Setelah itu, preman-preman tersebut pergi dari bengkel las Romi, dengan membanting benda apa saja yang tadi sempat mereka pegang.


Romi bernafas lega, setelah preman tadi pergi dari hadapannya.


Sekarang, dia akan menghubungi Linda, kekasihnya, untuk mengabari, apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Kak Romi!" ...


..."Dek."...


..."Kakak sudah sampai di mana?" ...


Linda tentu merasa sangat senang, saat Romi menghubungi dirinya.


Linda pikir, Romi akan menjemput dirinya, dan pergi untuk memperjuangkan cinta mereka berdua.


..."Maaf Dek. Kakak tidak bisa pulang sekarang. Ada sesuatu yang terjadi pada Kakak."...


..."Kakak alasan terus. Hiks hiks hiks..."...


..."Bukan begitu Dek. Ini, ini benar-benar diluar dugaan Kakak sendiri."...


..."Kakak tidak mau memperjuangkan Linda, hiks hiks hiks..."...


..."Bukan. Ini karena Kakak habis di palak preman. Uang untuk pulang kampung, mereka minta." ...


..."Kakak jangan beralasan terus. Ini pasti Kakak punya pacar lagi kan di kota?" ...


Linda justru menuduh Romi punya pacar lagi di kota besar. Dan dia tidak mau menerima penjelasan yang diberikan oleh Romi, melalui panggilan telpon.


Sedang Romi sendiri, tidak tahu lagi, bagaimana caranya agar Linda percaya, dengan apa yang dia katakan tadi.

__ADS_1


..."Percayalah Dek. Kakak tidak berbohong. Ini benar-benar diluar dugaan Kakak sendiri. Tapi, jika Kamu masih tetap tidak percaya, Kakak pasrah saja, apa yang menjadi keputusan Adek." ...


**Bagaimana ini gaess Linda dan Romi? 😭😭😭


__ADS_2