Tante Melinda

Tante Melinda
Harus Belajar Banyak


__ADS_3

Minggu pagi di rumah ibunya Linda, ramai dengan suara Erli yang berteriak-teriak memanggil Danang. Sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Om nya itu.


Duk duk duk!


"Om... Om Danang!"


Erli melakukan hal itu karena, memang disuruh oleh simbah putrinya.


"Ketuk terus Sayang. Biar Om Danang cepat bangun. Masa jam segini beluk bangun juga! Cuma sholat subuh aja, terus balik tidur lagi."


Simbah putrinya itu ngomel-ngomel sendiri, karena anak perjaka satu-satunya masih tertidur jam delapan pagi. Padahal yang lainnya sudah bersiap-siap dengan kegiatan mereka minggu ini.


Ferry terlihat keluar dari dalam kamar, dengan Linda yang berjalan di belakangnya.


"Ada apa Bu?" tanya Linda, yang mendengar suara ribut antara Erli dan ibunya.


"Mama. Om Danang belum bangun!"


Erli mengadu kepada mamanya, karena memang ini tidak biasanya terjadi pada Danang. Karena meskipun hari minggu, Danang tetap terbiasa bangun pagi.


"Mungkin om Danang mengantuk Sayang. Erli mau apa? muter-muter dulu? sama Papa ya!" bujuk Linda pada anaknya, Erli.


Tapi ibunya Linda mencegah keinginan Linda, yang melarang Erli membangunkan Danang. "Biarin Lin. Ibu kok yang nyuruh Erli bangunin Danang. Liat deh! Udah jam berapa ini?" gerutu ibunya Linda, sambil menunjuk ke arah jam yang ada di dinding atas televisi berada.


"Bu. Yang penting kan dia sudah sholat subuh," sahut Linda dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali.


"Dia pulang jam berapa semalam Lin?" tanya ibunya kesal.


"Ibu kan yang bukain pintu, kok tanya Linda?"


"Ibu gak liat jam. Udah ngantuk banget."


"Hemmm... setengah sebelas kayaknya Bu," jelas Linda, yang sempat berbicara sebentar dengan adiknya.


Clek!


Sebelum mereka kembali berbicara, pintu kamar Danang terbuka. Sedangkan Danang menguap dan masih mengucek-ngucek mata.


"Ada apa?" tanya Danang heran, melihat ibu dan kakaknya ada di depan pintu kamarnya.


Erli dan Ferry, sudah tidak ada di depan pintu kamarnya. Karena mereka berdua sudah duduk di depan televisi. Mereka, Erli dan Ferry, sedang sarapan bersama dengan bapak Linda, sambil menyuapi anaknya juga.

__ADS_1


"Lho, sudah siang ternyata," ujar Danang tanpa rasa bersalah.


Tanpa menunggu lama, Danang langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Linda dan ibunya, saling pandang tanpa bersuara lagi.


Beberapa saat kemudian.


Danang sudah selesai mandi. Dia terlihat rapi, padahal dia sedang libur kerja.


"Mau ke mana Nang?" tanya ibunya, yang sedikit heran dengan sikap anaknya itu sejak tadi pagi.


"Gak ke mana-mana Bu. Paling pergi ke bengkel, mau servis motor." Danang memberikan penjelasan kepada ibunya.


"Om, Erli ikut ya!" pinta Erli, yang saat ini sedang nonton TV bersama dengan mamanya. Sedangkan papanya, Ferry, sudah berangkat kerja ke penggilingan padi.


"Ada mama di rumah Erli. Ngapain ikut Om ke bengkel? kotor banyak oli." Danang memberikan alasan, agar keponakannya itu tidak jadi ikut.


"Erli mau ikut..."


Tapi ternyata Erli merengek minta ikut. Dia tidak peduli dengan alasan yang dibuat oleh Danang tadi.


"Sayang. Mama mau buat kolak lho nanti, sama simbah. Erli gak mau ikutan bantu Mama?" Linda berusaha untuk mengalihkan perhatian Erli, agar tidak lagi minta ikut pergi bersama Danang.


"Nah itu! Nanti kolak_nya jangan dihabiskan ya! Sisihkan buat Om juga," pesan Danang, sambil menyambar kontak motor yang ada di atas meja, di samping TV.


Linda hanya tersenyum tipis, melihat drama yang dilakukan oleh anaknya itu.


Begitu juga dengan Simbah putri dan simbah kakungnya, yang baru saja datang ke dekan TV. Karena melihat Erli yang sedang ngambek dengan Danang.


"Ah, ya sudah kalau begitu. Om gak mau bawakan oleh-oleh sepulang dari bengkel."


Danang bukannya diam saja, tapi justru ikut-ikutan merajuk. Menggoda keponakannya yang menggemaskan itu.


"Wekkk!"


"Weee..."


Erli dan Danang sama-sama saling meledek. Sehingga membuat semua orang tertawa senang, melihat keduanya yang sama-sama bertingkah seperti anak kecil.


Jika Erli dimaklumi, karena memang masih kecil. Sedangkan Danang, hanya menyeimbangi kelakuan keponakannya saja.


*****

__ADS_1


Di pengilingan padi.


Ferry yang baru saja datang, di minta untuk ikut bersama dengan temannya, yaitu pemilik pengilingan padi.


"Mau ke mana Bos?" tanya Ferry, yang belum juga sampai di dalam gudang.


"Aku ada keperluan Fer. Dan tangan kiri ini sedang kebas sejak malam tadi. Jadi Aku gak bisa nyetir atau naik motor sendiri dengan baik. Ini saja tadi Aku ngojek kok."


"Kamu mau kan, antar Aku ke rumah kang Mus. Itu lho, saudara dari istrimu!"


Pemilik pengilingan padi, yang merupakan temannya Ferry, memang berteman juga dengan kang Mus. Bahkan keduanya juga bekerja sama dalam modal pengilingan padi yang dikelolanya ini.


"Iya-iya. Ayok!"


Akhirnya Ferry memboncengkan pemilik pengilingan padi, untuk mengantarkannya ke rumah kang Mus. Yang memang ada di desa lainnya. Tidak sama dengan desa mertuanya berada.


Di perjalanan menuju ke rumah kang Mus, pemilik pengilingan padi mengajaknya bicara tentang keadaan pengilingan padinya.


"Aku mau membuka pengilingan padi di tempat lain Fer. Kamu mau ikut gabung gak?"


"Maksudku modalnya gitu? sama seperti yang Aku lakukan bersama dengan kang Mus selama ini."


Ferry tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Karena dia harus berpikir jauh ke depannya. Sebab modal yang dia perlukan untuk ikut bergabung tentu tidak sedikit.


"Kamu pikir-pikir dulu Fer. Aku gak memaksa kok," lanjut pemilik pengilingan padi, memberikan penjelasan kepada Ferry.


Anggukan kepala Ferry, sudah mewakili jawaban yang diberikan kepada pemilik pengilingan padi tersebut. Karena saat ini, Ferry memang belum bisa menjawabnya dengan jawaban yang tepat.


Dia ingin membicarakan soal itu pada istrinya lebih dulu. Karena modal usahanya juga perlu persetujuan dari Linda.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah kang Mus.


Rumah yang cukup besar untuk ukuran orang-orang desa pada umumnya. Karena ternyata, usaha kang Mus memang sedang menanjak dengan cepat. Sehingga dia bisa membangun rumahnya yang dulu biasa-biasa saja, menjadi sebuah hunian yang lebih besar dengan fasilitas yang modern juga.


"Liat kang Mus. Dia itu pintar menginvestasikan uang yang dia miliki diberbagai bidang usaha. Dia gak cuma ikut bergabung dengan pengilingan padi milikku. Tapi dia juga punya beberapa usaha yang lainnya, yang tidak pernah Aku ketahui juga sih apa itu."


Ferry hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh pemilik pengilingan padi.


Dia juga tidak pernah tahu, jika kang Mus sekaya ini. Karena dia memang tidak begitu mengenal kang Mus. Yang masih ada pertalian darah dengan istrinya sendiri.


"Kamu bisa belajar banyak dari dia Fer, bagaimana cara menginvestasikan uang dan kekayaan yang Kamu punya."

__ADS_1


Ferry kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari temannya itu.


__ADS_2