
Pagi ini, Ferry terlihat sibuk dengan urusan dapur. Dia sengaja bangun lebih awal, dan membiarkan Linda yang masih tidur.
Dia tampak menyunggingkan senyumnya sedari tadi, mengingat kembali kejadian semalam. Saat dirinya dan Linda kembali berbaikan, dan sepakat untuk tidak lagi menyingung soal mbak Nana.
"Senengnya... akhirnya istriku mau memberiku kesempatan lagi."
"Aku juga ingin memberikan adik untuk Erli, sama seperti yang dia inginkan kemarin."
Ferry bergumam seorang diri, sambil meracik masakan yang akan dia masak lagi ini. Meskipun dia seorang laki-laki, dia juga bisa memasak. Karena seorang mantan polisi yang juga anak rantau, tentu saja bisa melakukan apa saja sendirian.
Termasuk dengan urusan dapur.
Saat semuanya sudah matang, Ferry menata hasil masakannya tadi di meja makan. Kemudian tersenyum dengan puas, dengan hasil pekerjaannya pagi ini.
"Semoga saja enak!"
Kini, Ferry melangkah dengan cepat menuju ke arah kamar. Dia ingin membangunkan istrinya itu, supaya mandi dan sholat subuh.
Sejak renggangnya hubungan antara dirinya dengan Linda, Ferry jadi sosok yang religius. Tak pernah ketinggalan sholat lima waktu, meskipun tidak harus selalu berjamaah di masjid ataupun musholla.
"Dek. Dek Linda!"
Ferry mengelus-elus pipi istrinya, supaya Linda tidak kaget saat terbangun.
Cup cup cup!
Ferry mengecup bibir Linda berkali-kali, dengan cara cepat. Tapi nyatanya, justru dia sendiri yang tidak bisa menahan diri, sehingga kecupan singkat tadi beralih menjadi ciuman yang panjang.
"Emhhh... mmmh!"
Linda justru mengeluarkan suara yang menambah gairah Ferry di pagi ini.
Linda juga sudah membuka matanya, tapi melihat kelakuan suaminya, dia juga tidak bisa menolaknya. Karena dia sudah bertekad, untuk bisa melayani suaminya itu dalam keadaan apapun.
"Mas..."
"Dek... Mas sebenarnya sudah mandi, dan mau bangunin Kamu. Tapi... sekali lagi ya..."
Keinginan Ferry, sama seperti sebuah permohonan yang tidak bisa ditolak oleh Linda. Sehingga dia hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya itu.
"Jika Kamu mau apa-apa, atau belum puas, bilang ya Dek!"
Linda hanya mengangguk saja, karena sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sebab mulutnya sudah dibungkam dengan bibir suaminya.
Mereka berdua, akhirnya melakukan kegiatan panas mereka di pagi hari. Sebelum masuk waktu sholat subuh.
*****
__ADS_1
Waktunya sarapan pagi, tidak sama seperti biasanya. Karena kali ini, keluarga Linda bisa menikmati sarapan bersama. Hasil masakan Ferry sendiri.
Dan Linda, juga masih punya waktu untuk ikut sarapan pagi. Tidak sama seperti biasanya, saat dia harus berangkat kerja pagi-pagi.
"Ma. Mama gak kerja?" tanya Erli heran.
Dia tentunya merasa heran, karena biasanya, mamanya itu sudah berangkat kerja.
"Mama pindah gedung Sayang, kerjanya. Dan letak gedungnya jauh lebih dekat dengan gerbang, di banding dengan gedung yang lama." Terang Linda, pada Erli.
"Kamu pindah gedung? Kenapa?" tanya Ferry terkejut, sebab istrinya itu memang tidak pernah bercerita tentang pekerjaannya.
"Gak apa-apa Mas. Cuma di mutasi aja kok."
"Tapi... ini kan pakaian seragam untuk leader, bukan supervisor?" tanya Ferry bingung.
Dia memang paham dengan seragam pakaian kerja Linda, karena sebelumnya, Linda juga sudah pernah menjadi leader. Dengan seragam yang tentunya berbeda dengan seragam supervisor yang kemarin.
"Apa ada masalah di kerjaan?" tanya Ferry lagi, yang tidak mau jika terjadi sesuatu pada istrinya di tempat kerja.
"Biasa Mas. Cuma salah paham aja kok. Gak apa-apa. Tapi... ya gini konsekuensinya. Linda harus di mutasi, dengan posisi yang diturunkan juga. Dan yang pasti, gajinya juga tidak lagi sama seperti kemarin."
Ferry terdiam sejenak, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu.
"Jika Kamu sudah tidak nyaman kerja di sana, keluar saja Dek. Kerja bareng Mas saja di pengilingan padi."
"Gak Mas. Linda justru lebih tenang kok di tempat yang baru ini."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi, Kamu cerita saja. Gak usah dipendam sendiri."
"Iya Mas."
Erli hanya melihat dan mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, sambil menikmati makanan yang sudah disediakan.
Ini membuat Erli sangat senang. Karena bisa melihat kedua orang tuanya akur, berbicara dengan nyaman. Dan tidak hanya saling diam, sama seperti kemarin-kemarin.
*****
"Mama kerja dulu ya Sayang. Gak boleh nakal dan cengeng."
Linda berpamitan pada anaknya, sama seperti biasanya. Di saat dia mau berangkat kerja di pagi hari.
Erli dan Ferry, memang berangkat agak siang. Karena jam masuk sekolah Erli juga masih nanti, setengah delapan pagi.
Sedangkan Ferry, gudang pengilingan padi buka di jam delapan pagi. Jadi, dia dan Erli masih bisa bersantai di rumah terlebih dahulu. Sebelum jam keberangkatan mereka.
Di saat Linda sudah pergi, Erli bertanya pada papanya. "Pa. Mama sudah cantik ya, sejak kapan Pa?"
__ADS_1
Ferry menautkan kedua alisnya, mendengar pertanyaan anaknya. Yang tidak dia pahami.
"Maksudnya apa Sayang?"
"Mama sudah banyak senyum, dan tidak pendiam lagi seperti kemarin-kemarin Pa."
Kini Ferry sedikit paham, dengan apa yang ditanyakan oleh anaknya kali ini.
Yang dimaksud oleh Erli dengan kata cantik adalah, Linda tidak lagi murung dan mendiamkan papanya.
Jadi, selama ini Erli juga memperhatikan bagaimana kondisi kedua orang tuanya. Tapi karena dia masih kecil, jadi tidak bisa menjelaskan, dan memaparkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Sini!"
Erli mendekat ke tempat duduk papanya. "Ada apa Pa? Mama tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Erli, begitu duduk di dekat papanya.
Cup!
Ferry mengecup puncak kepala Erli, sambil tersenyum senang. Mendengar pertanyaan anaknya, yang ternyata cukup kritis menerjemahkan keadaan papa dan mamanya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Erli kan anak pintar, jadi, doain mama supaya tetap cantik ya! Jadi mama akan terus senyum setiap hari untuk kita."
Mendengar perkataan papanya, Erli mengangguk cepat. Dia juga ingin melihat mamanya tersenyum setiap hari, dan itu karena memang mamanya yang sedang ingin tersenyum. Bukan karena dipaksakan.
"Erli seneng Pa. Mama bisa cantik setiap hari. Kan Erli juga ikutan cantik ya Pa!"
Ferry mencubit hidung Erli dengan gemas.
"Anak siapa sih ini? gemes banget Papa jadinya!" gurau Ferry, dengan menciumi kedua pipi anaknya itu.
"Hhh... Papa geli! Papa... bedak Erli ilang kan!"
Bibir Erli mengerucut kesal, karena ciuman papanya yang sedang gemas itu, bisa membuat bedak bayi yang ada di wajahnya hilang dibagian pipi saja.
"Nanti Papa bedakin lagi. Salah sendiri bikin Papa gemes! Hhh...
"Hahaha... wkwkwk... Pah. Papah... hihihi..."
Erli kembali terkikik geli, saat Ferry kembali menciumi pipinya dengan gemasnya. Hingga Erli memperingatkan dirinya lagi.
"Pa. Papa... ihhh sudah!"
"Ayo berangkat Pa, nanti terlambat!"
"Hah! Emang sudah jam berapa?" tanya Ferry terkejut.
Tapi beberapa detik kemudian, Ferry tersadar. Saat Erli sudah pergi dari tempatnya. "Erli Sayang...Awas ya!"
__ADS_1
Ternyata Erli hanya ingin melepaskan diri, agar tidak kegelian lagi. Akibat ciuman-ciuman gemas yang dilakukan papanya tadi.