Tante Melinda

Tante Melinda
Tidak Baik-baik Saja


__ADS_3

"Adiknya Linda? maksud Kamu Danang?"


Dengan sangat yakin, pak Komarudin mengangguk mengiyakan pertanyaan dari pak Rudi.


"Ya. Itu adalah Danang. Adiknya Linda sendiri."


Pak Komarudin, menjawab pertanyaan dari pak Rudi. Dengan sangat yakin. Karena dia memang paham betul, siapa itu Danang. Dan bagaimana wajahnya Danang, yang memang tidak sama seperti wajahnya Linda.


"Kok Aku bisa lupa, dan gak kepikiran tentang adiknya itu ya?"


"Lah pak Rudi sedang cemburu sih! gak bisa mikir makanya itu!" cela pak Komarudin, pada rekan kerja dan sahabatnya karibnya sedari dulu.


"Kalau begitu, Linda amankan saja pak Komar. Aku mau Kamu yang urus. Jika sudah, sama aja kayak dulu lagi."


'Ah, pak Rudi selalu mau enaknya saja. Dari dulu, Aku yang dimintai tolong urusan begini. Tapi tidak untuk kali ini. Aku gak mau melepaskan Linda lagi. Soalnya, Aku sudah kasih dia kesempatan. Malah Linda di taruh di devisi macan kayak sewing itu!'


Dalam hati, pak Komarudin mengerutu sendiri. Karena sifat keras dan mau menang sendiri dari pak Rudi.


Kali ini, jika dia berhasil membawa Linda ke gedungnya, pak Komarudin tidak akan memberikan kesempatan pada pak Rudi lagi. Agar bisa dekat dan menikmati Linda juga.


Pak Komarudin, mau membuat Linda hanya untuk dirinya sendiri. Dan tidak untuk orang lain, termasuk dengan pak Rudi juga.


Hanya untuk dirinya sendiri!


"Ayo kita ke HRD, dan meminta pada pak Yus."


Pak Komarudin, kaget saat mendengar ajakan pak Rudi. Karena dia tadi sedang dalam keadaan melamun.


"Ke HRD, mau ngapain Pak?" tanya pak Komarudin belum paham.


"Minta pad Pak Yus, agar memutasi Linda secepatnya! Mau apa lagi?"


"Ohhh..."


Mulut pak Komarudin, hanya membola saja. Karena tadi, dia memang benar-benar sedang tidak mendengarkan perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi. Karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Tapi, apa tidak terlalu cepat? Lagipula, di gedung ku, belum ada supervisor yang kosong."


Dengan cepat, pak Rudi mendelik ke arah pak Komarudin. Karena dia berpikir jika, mantan bawahannya ini hanya beralasan saja.

__ADS_1


"Hai! Kamu ini manager. Bisa memindahkan siapa saja yang ada di bawah mu. Kenapa pusing hanya dengan satu supervisor? Apa Kamu gak mau ambil Linda?"


Pertanyaan yang diajukan oleh pak Rudi, justru menjadi senjata pak Komarudin, untuk menekan pak Rudi.


"Ok, deal ya! Linda Saya ambil. Tapi ingat Pak Rudi, pak Rudi tidak bisa main ambil Linda begitu saja!"


Setelah berkata demikian, pak Komarudin segera berjalan menuju ke arah gedung HRD.


Sedang pak Rudi, melongo mendengar jawaban yang diberikan oleh pak Komarudin. Dia merasa jika, apa yang tadi dia tanyakan tidak ada yang salah. Tapi dia merasa heran, dengan jawaban yang diberikan oleh pak Komarudin. Karena jawaban tersebut, seakan-akan meminta pak Rudi untuk tidak mengusik apapun yang berkaitan dengan Linda.


"Hai Pak Komar! Apa maksudnya tadi?"


Dengan tergesa-gesa, pak Rudi mengejar langkah pak Komarudin. Dia menuntut sebuah jawaban yang sejelas-jelasnya.


Tapi pak Komarudin hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia tidak mau mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya ingin semuanya cepat selesai, sehingga tidak dikejar-kejar lagi sama pak Rudi.


Dan itu karena Linda. Sama seperti waktu dulu, di saat awal-awal Linda dekat dengannya.


*****


Di rumah ibunya Linda.


"Nitip Erli ya Bu Lek. Saya mau nyusul Bapak ke rumah sakit."


Untungnya, orang yang disebut dengan Bu Lek, mau menjaga Erli juga.


"Iya gak apa-apa Mas Ferry. Semoga Pak Dhe gak kenapa-kenapa ya."


Ferry mengangguk, dan berterima kasih. Setelah itu, dia bergegas pergi menuju ke rumah sakit.


Sayangnya, di tengah jalan handphone miliknya berdering. Ferry mengira jika itu adalah telpon dari istrinya.


Tapi ternyata dugaannya salah. Karena telpon tersebut, bukan dari Linda. Melainkan dari mbak Nana.


Karena Ferry terburu-buru, dia mengabaikan telpon tersebut. Dia tidak mau Linda menuggu lama di rumah sakit. Karena tadi, kabar terakhir yang dia terima dari istrinya itu, bapaknya sedang menjadi scan untuk kepalanya.


Entah apa yang sebenarnya terjadi pada bapak mertuanya itu. Karena hal ini pasti berhubungan dengan penyakitnya juga.


Dan Ferry juga merasa khawatir, dengan keadaan bapak mertuanya itu. Karena jika sampai terjadi sesuatu pada kepala nya, akan berakibat fatal.

__ADS_1


Itulah sebabnya, Linda juga mengiyakan saran dokter, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk bapaknya. Termasuk CT scan di kepala.


CT scan kepala biasanya digunakan untuk mendeteksi berbagai kondisi. Kelainan atau patah tulang tengkorak. Pembuluh darah abnormal. Atrofi jaringan otak.


Atrofi otak atau atrofi serebri merupakan kondisi medis berupa terjadinya penyusutan massa atau sel saraf otak yang dapat disebabkan oleh beragam faktor pencetus seperti, Proses penuaan. Penyakit Alzheimer, dan Stroke.


Brain Atrophy adalah sebuah penyakit yang menyerang bagian otak manusia. Penyakit tersebut menghambat pertumbuhan serta fungsi otak sehingga interaksi antar saraf pengidap menjadi terganggu.


Meskipun penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat pengendapan protein amiloid dan protein di dalam otak. Kondisi tersebut menyebabkan pengiriman sinyal antara sel-sel otak terganggu. Akibatnya, sel-sel otak tidak berfungsi dengan baik dan mengalami kerusakan. Salah satunya menyebabkan memory otak tidak lagi berfungsi dengan baik.


Ini biasanya, untuk orang awam di anggap biasa karena faktor usia. Jadi akhirnya menjadi pikun.


"Bapak bagaimana Dek?" tanya Ferry, begitu di tiba di depan rumah sakit.


Linda menuggu kedatangannya di depan, karena sekalian membeli air minum. Dan masih ada Danang serta ibunya, yang menjaga bapaknya.


"Bapak udah ditempatkan di ruang rawat inap. Tapi, hasil CT scan belum keluar."


Ferry mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda.


"Terus Erli bagaimana Mas?"


"Ada di rumah Bu Lek, yang samping rumah Ibu. kan ada anak kecil juga, jadi mereka bisa main sama-sama." Ferry menjelaskan tentang keadaan Erli, yang tadi dia tinggal.


"Syukurlah kalau begitu. Semoga gak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keadaan bapak. Karena tadi, dokter bilang jika bapak masih bisa selamat sampai rumah sakit, itu artinya baik-baik saja."


"Cuma, diperkirakan akan stroke dan tidak ingat apa-apa lagi."


Linda menitikkan air mata, di saat menceritakan tentang keadaan bapaknya. Padahal tadi, dia terlihat sangat tegar. Saat mendapatkan penjelasan dari dokter.


Meskipun dia adalah anak perempuan, tapi dia adalah anak pertama. Jadi, dia juga dekat dengan bapaknya. Meskipun sebenarnya, Linda juga tidak pernah mengeluhkan apapun pada bapaknya sedari dulu.


Bahkan tentang kejadian yang dia alami waktu masih kecil dulu.


Linda akan tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Karena dia tidak mau melihat orang lain tahu, bagaimana keadaan dirinya yang sebenarnya.


Karena belum tentu orang akan bersimpati dengan dirinya, jika tahu kebenaran yang sesungguhnya. Karena bisa jadi, mereka justru akan mencemooh.


Sesuatu yang tidak pernah diinginkan oleh Linda. Yang memang sudah tidak lagi percaya dengan orang lain. Karena sedari kecil, dia selalu dicurigai sebagai anak pungut. Dan bukan anak kandung kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2